
PoV Arman.
Selesai mandi kemudian ke kamar, istriku yang baru aku nikahi tadi pagi sedang membuka koper miliku. Aku berdiri di belakangnya tanpa bersuara, melihat apa yang akan dia lakukan. Aku menahan tawa ketika ia mengendus baju aku.
"Hehehe..." Pada akhirnya tak kuat juga aku menahan tawa.
"I-ini ba-bajunya," ucapnya gugup mungkin menyembunyikan rasa malu karena kepergok telah mengendus baju dari koper.
"Terimakasih," aku ambil kaos yang ia serahkan padaku. Ya Allah... ternyata begini mempunyai istri, baju saja diambilkan, lagi-lagi aku tersenyum.
"Aahhh..." ia berlari terbirit-birit ke kamar mandi, aku memandangnya dari belakang dengan dahi berkerut. Kenapa sih Dia? Ketika menunduk ingin melepas handuk baru aku sadari ternyata puserku kemana-mana wajar jika ia masih malu.
Aku tersenyum memandanginya hingga ia menghilang di balik pintu. Setelah mengenakan kaos menunggunya di ranjang, mengapa mandinya lama sekali? Apakah begini jika perempuan mandi selalu selama ini. Pasalnya hampir 30 menit belum juga keluar. Aku merebahkan tubuhnya di kasur, tidak lama kemudian Dia menghampiri aku yang pura-pura tidur tanpa ia tahu. Aku intip sedikit karena mataku aku tutup dengan lengan. Ia menunduk memandangi wajahku lekat, tercium aroma sampoo dan sabun membuatku ingin memeluk nya. Ya ampun... jiwa kelelakian aku meronta.
"Aahh..." pekiknya ketika ku tarik tubuhnya hingga jatuh ke dadaku.
Aku dekap erat namun ia meronta-ronta justeru membuat salah satu anggota tubuhku menegang.
"Seeettt diam, biarkan aku begini, kita ini suami istri,"
"Aku nggak bisa napas," kilahnya.
Ia merosot ke saping ketika aku melonggarkan pelukan. Secepatnya kakiku mengunci pinggulnya hingga ia tidak bisa bergerak. Kami saling pandang baru kali ini bisa sedekat ini. Subhanallah... maha karya Tuhan yang sangat sempurna tidak hanya cantik hatinya tetapi juga wajahnya. Kami saling diam masih betah untuk saling melempar tatapan kagum. Ya Allah... jangan pisahkan kami, aku akan mempertahankan istriku agar tetap bersamaku hingga ajal menjemput siapapun yang akan berniat menjauhkan kami aku akan melawanya termasuk ibu aku sendiri.
"Mas... aku lapar, kita tadi makan jam sepuluh loh," ucapnya sambil mendorong dadaku entah hanya alasan atau memang benar, tapi nyatanya aku juga lapar.
"Baiklah kita ke lobby, cari makan," aku segera melepas kakiku tampak ia segera bangun cepat turun dari tempat tidur.
"Kamu kenapa sih... takut banget sama aku?" aku mendekatinya saat ia sedang ambil jaket lengan panjang untuk menutup kaosnya.
"Memang takut, Mas seram soanya,"
__ADS_1
"Haumm..." Aku menggodanya, mengangkat kedua tangan berlagak seperti Harimau yang ingin mencakar wajahnya.
Ia memundurkan wajah, wajahku pun terus maju seperti ingin menggigitnya.
"Mas... serem ihh! jangan suka cari kesempatan kenapa sih?" ia terus mundur hingga membentur tembok, bibirnya manyun langsung kedua tanganku mengunci tubuhnya agar tidak menjauh. "Mas... aahh..."
Kami berhadapan ia memejamkan mata membuatku tidak tahan langsung aku sambar bibirnya. Rupanya ia pun menikmati hingga beberapa saat kami menyudahi kemudian mengajaknya keluar.
Biar saja, jika ia masih takut melakukan malam pertama dengan begini toh kami bisa merasakan pacaran setelah menikah.
"Aku suapi ya" ucapku setelah kami ambil makan malam dan mencari tempat duduk yang hanya untuk kami berdua.
"Ciee... cieee" aku menoleh ke asal suara, ternyata Bayu dan Dina yang menghampiri kami.
"Dina... Kak Bayu... sudah makan belum? Kita makan bersama ya," istriku segera ambil kursi di sebelah kemudian meletakan di sampingnya.
"Jangan di kasih kursi, pengganggu mereka tuh," ucapku di sela-sela suapan.
"Lah-lah! Setelah loe berhasil menikah sama Lastri bilang gw pengganggu, enak saja! Kemarin-kemarin loe kalau curhat kemana?" Bayu melipat kedua tangannya di depan dada.
Lastri tersenyum mendengar candaanku dengan Bayu memang selalu begitu.
"Ayo Din, kita duduk di sana saja," Bayu mengait lengan Dina istrinya. Namun rupanya istriku menahanya.
"Hais, mau kemana? Kita makan bareng di sini saja" Tri mencekal tangan Dina.
Kami akhirnya makan bersama. "Yang lain pada kemana Yu?" selama di sini aku tidak melihat keluarga Lastri maupun keluargaku.
"Sudah pulang lah, gw juga mau pulang selesai makan, kecuali gw sama Dina tidur di kamar kalian," Bayu tertawa aku jitak pelan kepalanya. Setelah selesai makan mereka pulang lalu kami kembali ke kamar.
Sampai di kamar, seperti biasa aku sikat gigi dulu sebelum tidur, sementara Tri sudah melakukan lebih dulu. Aku lihat ia langsung merebahkan tubuhnya di kasur. Selesai dari kamar mandi aku lihat istriku ternyata sudah tidur memakai selimut. Aku kasihan mungkin ia merasa lelah tentu tidak ingin mengganggunya. Aku pun tidur di sebelahnya memeluknya. Oh my god...bahagianya aku bisa memeluk wanita yang aku cintai ini, tidak ada hentinya aku bersyukur, siapa yang tidak bahagia punya istri seperti Lastri. Aku tidur lelap hingga pagi.
__ADS_1
********
Ke esokan harinya Arman mengajak Lastri pulang ke rumahnya bukan kerumah Tri lagi. Arman memerintahkan mang Ujang, agar mengambil beberapa baju ganti milik istrinya dan kado-kado.
Mereka tiba di salah satu rumah berlantai dua di depan rumah tampak Asri. Beraneka tanaman hias namun yang paling banyak adalah Mawar dengan warna bunga yang berbeda. Tri terkesima melihat mawar yang sedang berkembang betapa tidak? Bunga mawar itulah bunga yang paling di sukai Lastri.
Melihat istrinya terpukau memandangi mawar. Arman tersenyum kemudian memetik beberapa kuntum.
"Ini untuk istri tercintaku," Arman tiba-tiba menopang badan dengan lutut di teras, kemudian memberikan bunga tersebut.
"Terimakasih suamiku..." Tri mambil bunga dari tangan Arman kemudian menciumnya. "Mas menaman Mawar ini sendiri?"
"Iya, bunga ini aku tanam sendiri, aku rawat, karena aku tahu kamu suka sekali dengan bunga mawar," jujur Arman. Arman sengaja menanam mawar ini special untuk Tri.
"Selamat datang di istana kita..."
Tok tok tok.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam...." wanita kira-kira seumuran dengan Arman membuka pintu.
"Eh Aden sudah pulang?" tanya wanita itu ternyata yang membuka pintu itu Mbak Inem pembantu Arman yang ia bawa dari daerahnya.
"Sudah Mbak, kenalkan ini istriku,"
"Oh ya Allah... istri Aden cantik sekali," kata Inem pembantu berbadan gendut itu menepuk pundak Tri kagum.
"Saya Lastri Mbak, Mbak bisa saja," Tri tersenyum.
"Den pakaianya yang dibawa Mang Ujang sudah saya simpan di kamar," kata Inem.
__ADS_1
"Ya" Arman menjawab singkat kemudian menggandeng tangan Lastri mengajaknya menapaki tangga.
Lastri mengerlingkan mata ke sekeliling ruangan rumah yang besarnya sama seperti rumah Lastri namun bedanya berlantai dua dan banyak fasilitas di dalam tentunya. Lastri berpikir di sini lah, ia akan menjani peran barunya sebagai istri Arman, dan menjadi keluarga samawa. "Semoga" doa Tri.