
Taksi ferrari melaju cepat Lastri dan Arman sampai di pinggir gang. Arman membayar taksi sesuai yang berada di argo.
"Teimakasih Mas, tapi saya tidak ada kembalian," supir taksi menelisik uang pecahan 50 ribuan.
"Ambil saja Bang," ucapnya sambil berlalu menghampiri Lastri yang sedang membuka bagasi ingin ambil ransel.
"Alhamdulillah... akhirnya sampai..." Lastri tersenyum menatap rumah bilik bambu yang mungil. Namun saat ini lebih terawat. Rumah milik kedua orang tuanya ini, sekarang di tinggali Eko dan Istrinya.
"Assalamualaikum..." Tri mengetuk pintu. Sementara Arman memindai sekeliling. Pandanganya tertuju di bawah pohon mangga ketika tujuh tahun yang lalu melamar Lastri di tempat itu. Namun akhirnya pernikahannya gagal total.
"Ya Allah... kali ini, jangan pisahkan kami," doanya dalam hati.
Ceklak
Pintu dibuka, oleh wanita yang seumuran dengan Mbak Dwi tersenyum ramah.
"Lastri..." wanita itu terperangah.
"Mbak Murni," Lastri tersenyum pada Murni. Murni adalah istri Eko.
"Apa kabar Dek? Murni menjabat tangan adik ipar nya itu.
"Kabar aku baik Mbak, pasti Mbak Mur, belum kenal dengan calon suami aku kan? Kenalkan ini calon suami aku" kata Tri.
"Murni" Murni, menangkupkan tanganya di depan dada.
"Arman," jawab Arman sopan.
"Mari masuk Dek," Murni masuk lebih dulu, di ikuti Lastri dan juga Arman.
Arman pun mengedarkan pandanganya, tujuh tahun yang lalu terakhir ia masuk ke rumah ini, saat mencari Lastri.
Arman tidak tahu jika saat itu, Lastri pergi ke Jakarta dan menerima beasiswa yang di rekomendasi oleh keluarga Adnan. Karena Tri menjadi juara umum di SMK AL INAYAH saat itu.
"Duduk Kak Arman, Dek Tri," Murni mengejutkan lamunan Arman.
"Terimakasih" Arman duduk di kursi yang terbuat dari anyaman bambu. Kursi itu dulu pak Suryo yang membuat.
"Nggak usah repot Mbak, soalnya aku cuma sebentar," kata Lastri ketika Murni ke dapur hendak membuat minuman. Lastri kemudian menyusulnya setelah meletakkan rangsel di kursi.
"Aku mau buat teh hangat kok Dek, ditunggu sebentar," kata Murni sambil menuang air panas ke dalam poci peranti menyeduh teh.
"Aku cuma sebentar Mbak," Tri mengulangi.
"Memang Dek Tri mau kemana to? Kok terburu-buru?" tanya Murni dengan suara medok kas orang jawa.
__ADS_1
"Mbak Mur, aku kesini mau minta restu calon mertua, karena kami akan segera menikah Mbak," tutur Tri. Mereka ngobrol sambil berdiri di meja dapur.
"Alhamdulilah... semoga lancar ya Dek," Murni berbinar-binar.
"Aamiin..." jawab Tri.
"Mbak, memang Mbak Mur nggak kerja hari ini? Bukanya Mbak, sama Mas Eko, sama-sama menjaga tokonya bu Susi?" tanya Tri kemudian.
"Iya Dek, alhamdulillah... setelah Mas Eko keluar kerja dari perkebunan calon mertuamu, rezeki Mas Eko membaik, karena langsung di tawari kerja oleh BU Susi. Eh, Alhamdulillah nya lagi, aku juga langsung di tawari kerja Tri," tutur Murni terlukis kebahagiaan di wajahnya.
Betapa tidak? Setelah Eko keluar dari perkebunan pak Burhan, hanya enam bulan bekerja langsung menikahi Murni.
Jika Eko mulai bekerja jam delapan pagi, Murni diberi kelonggaran waktu. Masuk jam 10 pagi hingga Murni bisa mengerjakan pekerjaan rumah.
Setelah minum teh karena menghormati Murni, yang sudah repot membuatnya. Tri pamit ke rumah Arman.
"Aku nanti malam menginap disini kok Mbak, salam buat Mas Eko, nanti malam kita ngobrol lagi," pungkas Lastri.
*******
Dengan menumpang ojek, mereka menuju ke rumah Arman yang tinggalnya tidak jauh dari kabupaten di wilayah tersebut.
Hingga derung motor sampai di kediaman calon mertua Lastri.
"Oh, kalian baru sampai? Mampir ke rumah Suryo dulu ya?" tanya pak Burhan menyambut kedatangan Arman dan juga Lastri.
"Iya Pak, saya memang mengajak Mas Arman mampir dulu," Tri yang menjawab. Tri kemudian meletakkan buah tangan bakpia dan wingko babat. Kas masakan di daerah mereka.
"Waah... calon menantu sudah datang!" seru bu Sulis yang baru ke luar dari dalam.
"Teimakasih Bu," Lastri mencium punggung tangan bu Sulis.
Arman terkejut mendengar ibunya menyebut Lastri calon menantu, bukan gadis miskin seperti biasa. Membuat hati Arman bahagia. Bak tersiram air hujan kala teriknya matahari. Arman kemudian memeluk tubuh ibunya, walaupun tidak terbalas.
Namun berbeda dengan Tri, gurat tidak bersahabat tergambar jelas di wajah bu Sulis. Membuat Tri waspada.
"Duduk dulu Nak," kata Pak Burhan.
"Bu, maksud kedatangan aku kesini, selain kangen Ibu, juga ingin minta restu, dalam waktu dekat kami akan menikah," Arman membuka pembicaraan
"Kalian ini sebenarnya bukan minta restu Ar, tapi cuma memberi tahu ibu, karena Ayahmu sudah sekongkol untuk melawan Ibu!" ketus bu Sulis.
"Keputusan sudah bulat Ar, jika Ibumu tidak setuju juga, kamu ini kan laki-laki, yang penting ada wali, ya sudah, cepat menikah, tidak usah minta restu sama orang yang hatinya sekeras batu. Memang kamu ingin menjadi bujangan terus," pak Burhan menjawab lugas.
Bu Sulis pun tidak menjawab lagi, entah apa yang beliau pikirkan.
__ADS_1
Mereka pun berbincang-bincang, bu Sulis berbicara tampak normal tidak ketus dan tidak sinis seperti tadi.
"Tri kita ke kebun salak yuk," ajak Arman.
"Jangan Ar, kalau kalian berdua terus, kapan Ibu bisa mengenal Lastri," kata bu Sulis pada akhirnya.
"Baiklah" tanpa merasa curiga Arman meninggalkan Lastri menuju kebun salak pondoh yang sudah mulai panen, dan disusul oleh pak Burhan.
"Tri ikut aku," titah bu Sulis.
"Baik Bu," Tri membuntuti bu Sulis menuju dapur. Di dapur ada mbok yang sedang mencuci piring.
"Non Lastri... Den Arman sering cerita tentang kamu loh," sambar mbok, menatap Tri kagum. Arman ternyata pintar cari calon istri. Batin mbok.
"Oh gitu ya Mbok," sahut Tri.
Bu Sulis menyentak kepalanya ke kiri memberi kode simbok agar keluar dari dapur. Tidak banyak bicara simbok menurut.
"Tri, kamu sudah siap menjadi manantu saya?" tanya bu Sulis to the point.
"IsyaAllah, siap bu," tegas Tri mendengar bu Sulis sudah menyebut namanya dua kali, rasanya senang. Karena biasanya bu Sulis memanggilnya gadis miskin.
"Bagus! Tapi jangan senang dulu, ada persyaratan yang harus kamu kerjakan!" bu Sulis tersenyum miring.
"Persayaratan apa Bu?" Tri tidak gentar, menanggapi dengan santai.
"Jam tujuh malam nanti, saya akan mengundang tetangga, selamatan lamaran kalian kemarin, karena kamu sudah berani menantang saya. Saya akan memberimu hukuman!" tandas bu Sulis bersedekap dada.
Tri hanya mendengarkan, tidak berniat memotong ucapan calon mertuanya.
"Saya minta, kamu membuat nasi kotak tidak banyak kok, hanya 100 kotak," bu Sulis berkata enteng.
"Baik Bu," jawab Tri singkat.
"Tunggu dulu! Saya belum selesai bicara," tukas bu Sulis.
"Isi kotaknya berisi nasi timbel, opor ayam, rendang daging, tempe tahu bacem, urapan dan yang terakhir kerupuk," Bu Sulis tersenyum meremehkan.
"Siap Bu," Tri menatap jam saat ini sudah jam 11.
"Tunggu dulu, dari menyusun bok, mencuci piring, dan sampai dapur ini bersih, kamu harus lakukan sendiri, tidak boleh ada yang membantu. Jika kamu berhasil, saya akan merestui kalian! tetapi jika tidak, kamu harus segera mundur untuk menjadi kandidat menantu saya!" bu Sulis menatap Tri yang masih berdiri di depannya.
"Tidak hanya itu, masakan harus enak, jangan membuat malu keluarga Burhanudin," pungkas bu Sulis kemudian meninggalkan Lastri.
.
__ADS_1