Perjuangan Sulastri.

Perjuangan Sulastri.
Bab 62


__ADS_3

30 menit terasa lama bagi pak Burhan, dan pada akhirnya supir menghentikan laju kendaraan karena sudah sampai di rumah yang luas peninggalan almarhum ayahnya.


Burhan segera masuk ke kamar, melewati dua orang art yang sedang beres-beres di sore hari. Pak Burhan masuk ke kamar kali ini ia ingin sendiri.


*******


Malam semakin larut bintang-bintang bertaburan di langit cerah. Di dalam kamar yang hanya di sinari lampu temaram, dua pasutri sedang menjalankan ibadah suami istri.


"Mas..." bisik Tri di telinga Arman, mereka sampai ******* dalam penyatuan hingga berulang kali.


"Terimakasih sayang..." ucap Arman.


Namun tidak ada jawaban dari Lastri. Ia mengigit bibir bawahnya, menangis bahagia, selama ini bisa menjaga kesucian dan menyerahkan kepada orang yang dicintai.


Sementara Arman sudah merosot kesamping memeluk tubuh istrinya. Jika Arman terlelap dalam tidurnya, berbeda dengan Lastri. Ia menyingkirkan tangan Arman pelan, kemudian ke kamar mandi, mengguyur tubuhnya padahal sudah dini hari.


Selama 15 menit, Tri bermain air, kemudian keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk. Setelah mengeringkan rambut, dan mengenakan piama, Lastri baru bisa tidur.


*****


Pagi hari setelah subuh, Lastri ke dapur berniat memasak untuk sarapan pagi. Pagi ini ia harus mengajar karena sudah beberapa hari ia ijin.


Arman membuka mata, meraba ranjang di sebelah, namun istri nya entah kemana.


Arman menatap jam weker ternyata sudah jam lima. Wajar jika istrinya sudah tidak ada.


Arman pun segera bangun menarik seprai yang berantakan. Netranya menangkap bercak darah di seprai tersenyum mengembang. Ia kemudian menggulung seprai khawatir Inem melihatnya. Sebelum akhirnya ke kamar mandi.


Sementara Lastri di dapur, tidak membuat sarapan yang sulit. Cukup membuat STMJ untuk Arman. Mengembalikan stamina suaminya yang terkuras, sebab semalam hingga lima ronde. Sementara sarapan untuk Tri sendiri cukup membuat sereal.


Tak tak tak.


Arman turun dari tangga sudah mengenakan kemeja lengkap, celana bahan. Membuat Tri sketika menoleh ke arah suara lalu menarik kursi meja makan untuk suaminya.


"Ini, aku buatkan minuman sehat untuk Mas, atau Mas mau makan roti juga? Aku buatkan," Tri meletakkan minuman di depan suami tampan nya.


"Tidak usah, ini sudah cukup," jawab Arman menyeruput minuman buatan istrinya itu. "Waah... minuman apa ini Tri? Enak, segar? ada rasa hangat, manis, pokonya jempol," puji Arman.


"Ini resep minuman rahasia aku. Kalau aku ceritakan, pasti nanti Mas mencuri resep ini untuk menambah minuman di Cafe," seloroh Tri, padahal minuman seperti ini sudah turun temurun sejak nenek moyang terdahulu.


"Istri pintar," Arman mencium pipi Tri dari samping.


"Kita berangkat Mas, nanti takutnya macet," ucap Tri selesai sarapan, kembali ke kamar ambil tas kemudian berangkat.

__ADS_1


"Mas, bahan untuk aku ngajar hari ini, masih di rumah, terus bagaimana ini?" Tri masih diam di pintu depan, sambil menunggu Arman.


"Kita ambil saja dulu, gitu saja, kok repot," Arman menjawab enteng sambil mengenakan sepatu. Toh saat ini masih jam enam.


"Mang Jajang... kita mampir ke rumah Tri, dulu ya," Arman menarik jemari Tri. Lalu masuk ke dalam mobil.


"Baik Den" jawab mang Jajang.


"Mas, aku kok grogi ya, mau bertemu teman-teman,"


"Kenapa?" Arman menoleh.


Tri hanya menggeleng. Ia berpikir di sekolah nanti pasti akan di goda teman-teman. Pasalnya saat ini ia berangkat bersama Arman.


Kring... kring... kriiing..."


Telepon genggam Arman berbunyi, Arman segera mengangkatnya bicara singkat. Tri memperhatikan wajah Arman setelah terima telepon suaminya mendadak diam seperti ada yang dipikirkan.


"Kenapa Mas?" tanya Tri kemudian.


"Ayah sakit Tri, padahal kemarin waktu berangkat pulang, aku telepon baik-baik saja," Arman menjadi curiga.


"Ya Allah.... kecapek-an kali Mas, terus rencana Mas, apa?" tanya Tri.


"Kalau selesai ngajar nanti, kita pulang menjenguk Ayah, kamu kelelahan nggak?" Arman bertanya hati-hati.


Mereka sampai di rumah Tri, keadaan rumah sangat sepi, memang biasa begitu, sebab adik-adik nya sudah berangkat kuliah, dan sekolah.


"Tri, kamu pulang Nak?" bu Santi terkejut, karena putrinya tiba-tiba nongol di dapur.


"Iya Bu, aku sudah ucap salam, tapi ibu tidak dengar" jawabnya sambil berlalu ke kamar.


"Oh mesin air bunyi soalnya, jadi Ibu ndak dengar."Santi meletakkan botol.


"Kamu datang sendiri Nak?" bu Santi mengejar ke kamar.


"Sama Mas Arman, maaf Bu, nggak bisa ngobrol lama, terburu-buru soalnya, cuma ambil buku," Tri menunjukkan buku yang sudah di tangan.


"Iya Nak, hati-hati," bu Santi mengejar langkah Tri keluar.


"Oh iya Bu, nanti siang, aku pamit mau menjenguk Ayah," Tri menghentikan langkahnya.


"Pulang? Bukankah baru kemarin bertemu?" bu Santi keheranan.

__ADS_1


"Ayah sakit Bu,"


"Oh, ya Allah... semoga cepat sembuh," pungkas bu Santi. Santi mengantar putrinya sampai pagar. Di dalam mobil Arman menurunkan kaca. "Maaf Bu, saya tidak turun, terburu-buru soalnya,"


"Tidak apa-apa Nak"


Tri pun kembali masuk ke dalam mobil, lalu berangkat.


Santi memandangi mobil Arman hingga menjauh "Ya Allah... semoga rumah tangga mereka langgeng sampai maut memisahkan," Santi meraup wajahnya.


Flashback on.


5 tahun yang lalu, ketika Tri dengan Arman mau menikah dan akhirnya gagal.


"Ingat Santi! Sampai kapanpun Sulistyanengseh, tidak akan pernah merestui anak kalian, untuk masuk ke kehidupan keluarga Burhanudin!" sinisnya.


"Sudahlah Mbak Yu, lupakan masalalu, kita ini sudah sama-sama tua, tidak ada yang lebih membahagiakan kita, selain melihat anak-anak kita bahagia," kata Santi lembut.


"Ya, Arman pasti akan bahagia, tapi bukan dengan anak perempuan perebut, seperti kamu!" jawab Sulis congak.


Flashback off.


Santi menghela nafas berat. Ia hanya bisa berharap putrinya akan bahagia, jika di tanya setuju atau tidak, putrinya menikah dengan anak Sulis orang yang selalu mendzolimi keluarganya, jika bukan karena memikirkan perasaan anaknya tentu Santi akan memilih orang lain. Namun Santi bukan orang yang pendendam, dan berpikirin cetek. Mungkin dengan bersatunya Arman dengan Lastri akan memperbaiki silaturahmi dengan besan nya.


"Tadi seperti mendengar suara Tri Bu?" tanya pak Suryo ternyata beliau tadi sedang mandi.


"Iya Pak, cuma ambil buku, mau ngajar katanya," jawab Santi sambil membawa botol yang sudah diisi air untuk bekal suaminya jualan.


"Ini air nya Pak, jualanya ndak usah ngoyo, ndak usah jauh-jauh, walaupun belum habis, kalau sudah siang, terus pulang," pesan Santi seperti pesan Tri, tiap kali pak Suryo mau jualan.


"Iya Bu," Suryo, di bantu Santi, merapikan keripik di gerobak agar menarik konsumen di jalanan nanti.


"Pak, kata Tri, besan sakit, padahal kemarin pulang dari sini kan segar bugar," Santi merasa aneh.


"Namanya juga penyakit Bu, kadang datang tiba-tiba, Pak Burhan masuk angin kali, Bapak juga kan sering begitu," Suryo berkata santai.


"Iya juga sih".


"Pak, kira-kira... Sulis nanti, lama-lama menerima Lastri nggak ya?" Santi tampak resah. "Terus, aku khawatir Pak, kalau sampai anak-anak, dan juga Pak Burhan tahu, masalah kita, dan Sulis dimasa lalu," imbuh Santi.


"Nggak tahu juga Bu, tidak usah dipikirkan, lagian kan kita tidak salah apa-apa, sudahlah Bu, aku berangkat," pak Suryo mendorong gerobak ke luar pagar.


"Hati-hati Pak,"

__ADS_1


"Iya Bu,"


.


__ADS_2