
"Mendingan Kakak cepat melamar Tri Kak, nanti keburu diambil orang loh, Kakak kan tahu, dari SMP Tri itu banyak yang suka" saran Rini sudah kembali duduk di samping Arman.
"Bagaimana mau melamar? Di dekati saja sulit!" Arman pesimis.
"Yang penting... Kakak harus percaya diri dulu, itu kuncinya" Rini menatap Dimas yang sedang tersenyum kepadanya ingat dulu ketika pdkt pada istrinya.
"Dekati terus... jangan menyerah, setiap kali berdekatan, pastikan Kakak memperhatikan dirinya, tunjukan kalau Kakak mencintai nya setulus hati, dan berikan rasa nyaman" nasehat Rini seperti menasehati teman.
"Tapi... ada tapi nya Kak, jangan perlihatkan kalau Kakak itu terlalu ngebet, justeru dia merasa tidak nyaman, terus kabur deh," Rini kembali menatap Dimas.
"Seperti gw, contohnya, Ar" Dimas terkekeh menatap Rini dan menunjuk dirinya.
"Huh" Rini yang menyahut mlengos.
"Ah, bertele-tele Rin, gw cabut" Arman langsung berdiri.
"Yeee... Kakak, di bilangin!" sungut Rini, di ajak bicara malah kabur.
"Mau kemana Ar?" tanya Dimas mengejar Arman ke depan.
"Mau ke kampus" ucapnya lalu kembali ke mobil menuju kampus.
*******
Di dalam mobil silver, dua manusia yang berlainan jenis pun sedang berdebat.
"Kenapa Kak Adnan nggak bilang, kalau Arman masih ngajar di situ sih?!" sungut Tri. Jika tahu Arman masih mengajar di sekolah itu akan berpikir dua kali untuk menerima tawaran Adnan. Namun semua sudah berjalan, tidak ada pilihan bagi Tri selain harus profesional, membedakan urusan pribadi dan pekerjaan.
"Cieee... cieee... manggilnya sudah nggak pakai embel-embel. Armaaan... jleb, hatikuuu..." Adnan terkekeh.
"Iiihh... Kakak! serius iih" Tri merengut, membuang wajahnya ke samping.
"Tapi kamu senang kan... bisa berdekatan terus dengan pujaan hati? Hayo, ngaku?" cecar Adnan tersenyum menaik turunkan alis mata.
"Pujaan hati?! huh! Lebai?!" Lastri melengos.
"Oh iya Kak. Kakak pernah dengar nggak, pak Arman itu sudah... sudaah..." Tri tidak melanjutkan pertanyaan rasanya bibir nya sulit untuk berucap.
"Sudah menikah belum, gitu kan maksud kamu?" tebakan Adnan jitu. Lalu di angguki oleh Tri. Tri, walaupun kesal namun penasaran juga.
__ADS_1
"Alaaah... Tri... Tri. Kalau masih cinta itu, bilang cinta, jangan jinak-jinak merpati," sindir Adnan.
"Au ah, cepet jawab Kak, apa susahnya, sih?!"
"Aku rasa belum, selama ini, belum ada laporan ke pihak sekolah mengenai pernikahan pak Arman" Adnan melirik sekilas tergambar jelas di wajah Tri ada kelegaan di sana.
Keduanya saling diam tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Adnan menghela nafas. Jujur, nama Tri selalu terlukis di hatinya tidak pernah luntur meskipun di makan waktu. Selama tujuh tahun bukan waktu yang singkat untuk mencintai gadis desa yang lugu di sampingnya.
Namun Adnan harus terima kenyataan bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan. Adnan sudah mencoba membuka hati untuk orang lain, agar bisa melupakan Tri. Dari wanita baik yang bernama Rara. Bahkan sampai menerima bertunangan dengan perempuan binal yang bernama Bella. Namun belum ada yang bisa menggantikan nama Tri di hatinya.
Adnan melirik Tri yang bersandar di kursi dengan mata terpejam kembali menarik napas berat. Tidak ada jalan bagi Adnan selain merelakan Tri bersama Arman sang guru maupun dosen yang selalu Adnan hormati. Jujur Adnan sengaja mempertemukan mereka, walaupun hatinya sakit ketika melihat Tri berdekatan dengan Arman. Yang penting gadis yang dicintai dan guru yang selalu di hormati selalu bahagia.
Tidak terasa mobil sampai di depan komplek perumahan, Adnan menghentikan laju kendaraan. "Bu Guru, sudah sampai" panggil Adnan.Tapi tidak ada jawaban. Adnan melepas sabuk pengaman lalu mendekat, ternyata Tri tertidur.
"Bu Guru... sudah sampai..." suaranya Adnan pelan. Tri terkejut memutar bola matanya menangkap Adnan sedang tersenyum kepadanya.
"Ohh... sudah sampai ya, Kak" Tri tersipu malu, karena sampai ketiduran.
"Sudah... aku langsung saja, ya, salam buat Bapak sama Ibu" Adnan kembali ke posisi semula kemudian memasang sabuk pengaman.
"Lain kali saja" jawab Adnan pendek. "Assalamualaikum... BU Guru..." Adnan mengurai senyum, melambaikan tangan setelah Tri turun.
"Waalaikumsalam..." Tri memandangi mobil Adnan hingga berbelok tidak terlihat lagi.
"Tri segera masuk ke dalam rumah setelah mengucap salam, jika sedang menjahit pintu tidak pernah di tutup. Bu Santi menyambut putrinya dengan senyum kas nya.
"Bagaimana pertama kali mengajar Nak?" di ciumnya lembut dahi putrinya setelah Tri mencium tangan.
"Alhamdulillah... berkat doa Ibu, lancar" sahut Tri.
"Sekarang makan dulu, Ibu masakin sayur lodeh kesukaan kamu, Nak" titah bu Santi.
"Terimakasih Bu, aku salin baju dulu. Oh iya, adik-adik belum pulang ya Bu?" yang dimaksud Tri adalah Ponco dan Sapto.
"Belum Nak, biasa... kalau siang begini kan jalanan macet," jawab bu Santi mengikuti Tri dari belakang. Tri langsung ke kamar mandi setelah meletakkan tas di kamar.
"Assalamualaikum..."
__ADS_1
"Waalaikumsalam..." tidak lama kemudian, kedua adik Tri, yang mengenakan baju seragam putih biru dan putih abu-abu, yang baru saja di tanyakan sudah tiba di rumah.
"Panjang umur ya kalian... baru saja, kita omongin" kata Tri menepuk pundak kedua adiknya bergantian.
Ketiga adik Lastri melanjutkan sekolah SMP dan SMK, di sini. Sedangkan Catur saat ini sedang duduk di bangku kuliah. Biasanya ia pulang malam. Sebab ketika sore Catur merangkap bekerja menjaga foto kopi di kampus dimana Catur kuliah.
Begitulah keluarga Lastri tidak ada yang malu melakukan pekerjaan apapun, yang penting halal.
"Waah... ada Bu Guru baru rupanya," Ponco yang baru saja meletakkan sepatu di rak tersenyum sumringah menatap kakaknya lekat. Ponco senang dengan mengajar setidaknya kakaknya tidak mengerjakan pekerjaan yang terlalu berat.
Ponco sedih, dan kasian, kadang Tri bangun terlalu pagi membuat kue dan tidur hingga larut merampungkan jahitan demi adik-adik nya. Ponco berkaca-kaca. Andai saja, Ponco bisa menggantikan pekerjaan itu akan mengambil alih, dan membiarkan kakaknya agar bisa sedikit merasakan senang sekedar bermain dengan teman sebayanya. Namun hanya sedikit yang bisa Ponco lakukan untuk membantu kakak nya menemani ketika malam.
"Eh sana, salin baju terus kita makan! kok malah bengong," Tri membuyarkan lamunan Ponco.
"Iya Mbak. Ayo dek" Ponco bersama Sapto ganti pakain.
"Assalamualaikum..." Pak Suryo meletakkan gerobak di sudut teras, beliau baru pulang jualan kue kering yang dijajakan keliling komplek.
"Waalaikumsalam..."
"Bapak baru pulang? Tri menyambut pak Suryo di teras rumah.
"Iya Nak, habisnya... Bapak tadi mau pulang tanggung, tinggal sedikit, eh sekali putaran langsung habis," tutur pak Suryo senang.
"Alhamdulillah... tapi Bapak, jangan terlalu capek" Tri, merasa kasihan. Sebenarnya Tri tidak mengizinkan bapaknya berjualan tapi beliau memaksa.
Setelah berkumpul mereka makan siang lesehan berasama, termasuk Herman, Ayu, dan Indah.
"Nduk, bagaimana pertama kali kamu mengajar, ada kendala nggak?" tanya pak Suryo, seperti pertanyaan bu Santi tadi. Setelah makan ngobrol di teras rumah.
"Lancar Pak, tapi..." Lastri tidak melanjutkan ucapanya.
"Tapi kenapa Nak?" pak Suryo memegang pundak Tri.
"Ternyata... Pak Arman, masih mengajar di sekolah itu Pak" Lirih Tri.
Pak Suryo mengangkat kepalanya cepat mendengar kata Arman di sebut ada kepedihan di hatinya. Sebagai orang tua, jika anaknya terluka ikut merasakan. Sudah terlalu banyak luka yang di goreskan ke hati putrinya oleh bu Sulis.
.
__ADS_1