
Acara wisuda telah selesai, beberapa buket bunga sudah dalam pelukan Sulastri. Kedua tanganya hingga tidak sanggup untuk membawa saking banyaknya, padahal sudah dibantu bapak dan ibunya. "Mari Pak, Bu, kita naik taksi saja" ucapnya tidak mungkin dengan banyaknya barang seperti ini naik angkutan umum.
"Tri" seru seseorang dari dalam mobil berwarna silver, berhenti tepat di depan kampus dimana Lastri menunggu taksi. "Kak Adnan?" Lastri terkejut menatap kakak kelasnya pemilik kampus yang terdahulu, tersenyum kepadanya.
"Ayo naik" titah Adnan segera turun dari mobil menghampiri Tri. Walaupun sudah 3 tahun lebih tidak pernah bertemu. Namun, Adnan masih seperti dulu, selalu ramah dan santun, memperlakukan Lastri tidak memandang status walaupun dia dan Lastri ibarat bumi dan langit.
"Terimakasih Kak, saya pesan taksi saja" tolaknya. "Oh iya Kak, kenalkan ini Bapak dan Ibu aku"
"Selamat siang Om, Tante" Adnan menyalami kedua orang tua Lastri.
"Selamat siang Nak, kalian kenal dimana?" cecar Pak Suryo, karena selama tinggal bersama Lastri, Pak Suryo belum pernah melihat wajah pria berwajah Arab itu, bermain kerumah. Adnan memang keturunan Jakarta dan Arab.
"Pak, Kak Adnan ini dulu kakak kelas aku saat SMK, dan waktu kuliah di kampus yang dulu" tutur Lastri. Pak Suryo mengangguk-angguk.
"Pak, Bu, ngobrolnya di mobil saja, silahkan masuk" Adnan membuka pintu untuk kedua orang tua Lastri. Pak Suryo dan bu Santi menatap Lastri minta pendapat.
Lastri mengangguk setuju. Kemudian masuk ke dalam mobil, yang hanya pas untuk 4 orang termasuk pengemudi yang tak lain Adnan sendiri.
"Tri, kamu duduknya di depan saja" kata Adnan, ketika Lastri berdesak-desakan bersama bapak dan ibunya di belakang.
"Tapi Kak" Lastri tampak ragu-ragu, menatap Adnan. Ia belum sempat bertanya apakah Adnan sudah menikah dengan Bella atau belum, jika sudah, akan menjadi masalah besar tentunya, jika ia berdekatan dengan Adnan. Sebab, Bella adalah tunangannya.
"Tri" seru Adnan yang masih di luar mobil menunggu Lastri pindah ke depan.
"Tidak apa-apa Nduk, sepertinya Nak Adnan baik" bisik pak Suryo memecah kebuntuan. Pada akhirnya Lastri mengangguk lalu pindah duduk di depan bersama pria tampan itu.
Mobil berjalan sedang menuju komplek kelas menengah ke bawah. Lastri terkejut tanpa bertanya alamat rumah barunya. Adnan rupanya sudah tahu. Otak cerdas Lastri lalu berpikir, jangan-jangan Adnan selama ini mengikuti dirinya tanpa Lastri tahu. Lantas apa maksudnya?
"Kakak tahu darimana jika saya tinggal di komplek ini?" pertanyaan itu pun meluncur dari mulut Tri, seraya mengerutkan kening.
__ADS_1
Adnan menoleh sekilas lalu terkekeh.
"Kok malah tertawa? serius nih!" tandas Tri.
"Sudah, jangan dipirkan" kata Adnan.
Lastri tidak lagi membahasnya. Entah harus memberi julukan apa yang tepat untuk pria di sebelahnya ini. Malaikat penolong, atau Dewa penolong? yang jelas, Adnan selalu menolong, tiap Tri kesusahan. Selalu menghibur saat Tri sedih, dan datang dengan tiba-tiba saat Tri sedang terjadi masalah dan membantu memecahkan masalah tersebut.
"Nduk, sudah sampai, Nduk" bu Santi memanggil Lastri yang sedang melamun menatap ke luar mobil. "Eh iya, sudah sampai" Lastri malu karena semua sudah turun dan hanya di sambut kekehan oleh Adnan.
"Masuk Nak" kata pak Suryo, beliau masuk lebih dulu, karena pintu tidak di tutup. Di ikuti Tri, bu santi, dan di susul Adnan.
Adnan memindai sekeliling ruangan, di ruang tengah terdapat empat mesin jahit, dan sedang di goes dua wanita dan satu pria, yang satu lagi mesin lagi kosong mungkin itu yang biasa Tri gunakan.
"Duduk dulu Kak, beginilah keadaanya, rumah aku selalu berantakan, maklum aku belum bisa menyewa rumah untuk membuka jahitan sendiri," ujar Tri. Membuat pandangan Adnan beralih kepadanya.
"Ya jelas berantakan Tri, rupanya kamu menerima pesananan jahitan berjumlah banyak" Adnan kagum menatap tumpukan kain berwarna hijau dan batik motip hijau putih.
Rumah satu lantai tipe 60 terdapat dua kamar, satu kamar untuknya, dan satu kamar lagi untuk kedua orang tua Lastri.
Sementara, Catur, Ponco, dan Sapto tiga adik Tri yang keseluruhan laki-laki jika malam menggelar karpet di samping mesin jahit, tampak seperti pepes ikan.
Ceklak.
Lastri keluar dari kamar menatap bu Santi rupanya sedang membuat teh dan kudapan untuk Adnan.
"Biar Tri saja Bu" Lastri menghampiri bu Santi.
"Tidak usah Nduk, biar Ibu saja, kamu temani temanmu saja, gih" titah bu Santi dan di iyakan Tri. Tri segera ke depan menatap Adnan yang sedang asyik dengan gawai di tangan.
__ADS_1
"Asik banget Kak, chat siapa? istrimu ya," tebak Tri lalu duduk di depan Adnan. Adnan mengangkat kepala cepat.
"Istri dari mana, calon istriku kan yang sedang duduk di depan ku sekarang, berkali-kali aku tembak, tapi belum tepat sasaran, meleset terus. Hahaha" Adnan mentertawakan kata-katanya sendiri, lantas geleng-geleng.
"Jangan bercanda Kak, aku tanya serius nih, Kak Adnan kan tunangan dengan Bella sejak lama, memang belum menikah juga?" tanya Lastri. "Jujur, aku takut Kak, jika kita berdekatan walaupun kita hanya sebagai teman, Kakak kan tahu sendiri," Tri saat ini sudah tenang tidak ingin ada masalah lagi. Ia sudah lelah dengan berbagai macam masalah yang dulu melilit nya.
"Lupakan, kita bahas yang lain saja" jawab Adnan santai.
"Minumnya Nak" bu Santi menyuguhkan dua cangkir teh di depan Adnan, dan juga putrinya yang sedang menopang pelipis dengan siku yang menempel di kursi.
"Terimakasih Tante" Adnan mengangguk hormat.
"Saya tinggal ya Nak, mau ngerok Bapak dulu, tadi ngeluh pusing" kata bu Santi.
"Bapak sakit Bu?" Tri mendadak panik.
"Nggak sakit... biasa kan Bapakmu, kalau kena AC suka masuk angin" jawab bu Santi geleng-geleng lalu masuk kekamar setelah meletakan nampan di dapur.
Tri bernapas lega.
"Jadi Bapak nggak kuat AC ya Tri, tahu gitu, tadi aku matikan" Adnan merasa bersalah.
"Nggak apa-apa Kak, diminum teh nya" Tri mendekatkan teh dan juga cemilan kripik singkong yang bu Santi buat sendiri.
"Tri, kamu mau mengajar nggak?" Adnan membicarakan hal lain.
"Ngajar Kak? Dimana?" Lastri terperangah.
"Di sekolah kita dulu Tri, kami minta, kamu mau bergabung untuk memajukan sekolah itu. Di SMK Al INAYAH, membutuhkan Guru seperti kamu Tri, selain cerdas, kamu juga bertanggungjawab." puji Adnan, memang benar adanya.
__ADS_1
.