
"Kita buka sama-sama ya," kuku tajam Arman hendak merobek bungkus kado yang agak berat tersebut.
"Jangan!" cegah Tri membuat Arman terkesiap, lantas tidak sengaja menjatuhkan benda kuning keemasan tersebut.
"Kenapa? Bukankah kamu penasaran dengan isinya?" kata Arman sambil menunduk tanganya menyandak benda tersebut yang menimpa kakinya.
"Ini kan untuk hadiah pernikahan kita, jadi kita buka nanti saja, ya," Lastri ambil barang itu kemudian memasukkan ke dalam tas jinjing.
Lastri takut, jika isi kotak tersebut adalah barang yang tidak sepatutnya. Bukanya maksud Tri berburuk sangka. Namun, kata-kata bu Sulis yang menentang pernikahannya ketika sebelum berangkat tadi masih terngiang-ngiang di telinga.
Tidak ada pilihan bagi Arman selain menyetujui permintaan Lastri. Satu jam dalam pesawat bukan waktu yang lama mereka sampai bandara di Jakarta.
"Mang Jajang sudah lama?" tanya Arman pada supirnya yang sudah menjemput.
"Baru menunggu 10 menit Tuan," jawab Mang Jajang seraya menarik koper Arman memasukkan ke dalam garasi yang sudah ia buka.
"Kenalkan Mang, ini calon istri saya," Arman memperkenalkan Lastri.
"Lastri Mang," Tri mengangguk sopan seraya tersenyum.
"Waah... Si Eneng teh, geulis pisan," puji mang Ujang dengan logat yang kas jawa barat.
"Hais... Si Mamang, nggak boleh muji-muji calon istri saya, Mamang tuh cocoknya sama bibi yang di rumah," kelakar Arman bibi yang bekerja di rumah Arman, bertubuh besar dan hitam.
Mang Jajang terkekeh kemudian setarter mobil.
"Masuk Tri," Arman membukakan pintu tengah. Setelah Lastri duduk ia mengikuti.
Mamang menjalankan mobilnya 30 menit kemudian sampai di depan Rumah Lastri.
"Aku nggak mampir ya Tri," kata Arman ketika Tri membuka pintu mobil.
"Nggak apa-apa Mas, sampai ketemu besok di sekolah," ucap Tri yang sudah turun dari mobil. Lastri melambaikan tangan, setelah di balas Arman, Tri kemudian membuka selot pagar dari luar.
Dengan menggendong ransel dan membawa oleh-oleh titipan Murni dan Dwi, Lastri berjalan cepat ingin segera bertemu dengan ibunya. Tri kemudian mengetuk pintu rumah.
Dulu ketika Lastri sebelum punya garmen rumah ini tidak pernah di tutup, kecuali ketika sudah tidur dan karyawan penjahit nya sudah pulang. Tapi kali ini selalu rapat jika hanya bu Santi sendiri yang tinggal di rumah.
Ceklak.
__ADS_1
"Tri... kamu sudah pulang Nduk?" bu Santi pun memeluk tubuh putrinya di tengah pintu. Kemudian mengambil alih tas yang di pegang Lastri.
"Sudah Bu, Ibu sehat?" Tri mencium lembut tangan bu Santi. Kemudian mengikuti langkah beliau menuju meja makan.
"Di buka oleh-oleh nya Bu, ini titipan Mbak Murni dan Dwi," ucap Tri ketika Ibunya meletakkan tas di meja makan. Tri kemudian mengambil kado pemberian bu Sulis.
"Oh iya Nduk, Mbak sama Mas Mu baik-baik saja kan?" tanya Santi seraya membuka gudeg komplet buatan Murni. Memang Murni pintar memasak. "Murni belum hamil juga Nduk? Santi selalu berdoa agar pernikahan putra pertamanya segera di beri momongan karena sudah berjalan dua tahun Murni belum juga hamil.
"Belum Bu, tapi kabar mereka semua baik, dan kirim salam buat Bapak sama Ibu,"
"Ibu jadi kangen sama cucu Ibu," bu Santi terakhir bertemu Dwi, sudah 4 tahun yang lalu saat cucu pertamanya masih berusia 2 tahun.
"Tenang saja Bu, dua bulan lagi pasti mereka kesini,"
Lastri kemudian minta ijin ke kamar mandi, namun sebelumya Tri masuk kamar dulu, meletakan ransel dan juga menyimpan kado pemberian calon mertuanya di dalam laci lemari. Beberapa menit kemudian ia kembali menghampiri ibunya di depan televisi.
"Nak, terus... bagaimana? Apakah Sulis merestui kalian?" bu Santi menoleh putrinya yang baru saja duduk.
"IsyaAllah Bu," Lastri tersenyum kecut.
"Loh... kok IsyaAllah... itu artinya Sulis tidak menerima kamu?" wajah Santi berubah sedih, mengusap pipi putih Tri.
Santi menatap putrinya yang sedang mantengin televisi, hatinya tersayat, betapa tidak? Hingga usianya yang sudah ke 25 tahun belum juga menikah lantaran menunggu Arman. Namun tergambar jelas di wajah Tri, bahwa Sulis sepertinya belum merestuinya walaupun Lastri tidak menceritakan secara detail, tentu sebagai seorang ibu Santi merasakan kegetiran putrinya.
********
Dua bulan kemudian, sebelum di adakan resepsi pernikahan di hotel yang mewah, di masjid sedang di gelar ijab kabul. Wanita cantik dengan mengenakan dress muslim sedang berjalan menuju depan penghulu di dampingi Fera dan Yuyun melangkah anggun.
Banyak mata yang terpukau memandangnya wanita yang menjadi pusat perhatian itu adalah Sulastri.
Terjadi patah hati berjamaah disana, bukan hanya Adnan, tetapi juga Widodo sahabat Tri ketika SMP, dan juga Mustofa teman mengajar.
Di depan penghulu, sudah ada calon pengantin pria yang menunggu, yang tak lain adalah Arman Jaya Putra walaupun usianya terpaut 8 tahun namun masih terlihat seperti 25 tahun.
"Arman Jaya Putra, saya nikahkan dan kawinkan Engkau, dengan Ananda Sulastri binti Suryono dengan mas kawin seperangkat perhiasan tunai,"
"Saya terima nikah dan kawinya Sulastri binti Suryono dengan mas tersebut tunai,"
"Sah"
__ADS_1
"Sah"
Lastri mencium punggung tangan pria yang sudah sah menjadi suaminya. Setelah sekian lama mereka saling mencintai dan sulit sekali untuk bersatu.
Karena doa dan perjuangannya bertahun-tahun Lastri bersyukur sebab Allah telah mempersatukan mereka.
Begitu juga dengan Arman menatap wanita yang bertahun-tahun menggetarkan hatinya dan hingga merasa enggan untuk berpaling kini telah menjadi miliknya.
"Aku mencintaimu," Arman mencicipi bibir ranum istrinya yang sudah bertahun-tahun ia menahan gejolak ini, akhirnya bisa ********** tanpa takut akan dosa.
"Ihh... malu," Tri menundukkan kepala sebab para hadirin gemuruh mentertawakan pengantin pria yang sudah tidak sabar.
Arman hanya terkekeh menatap wajah istrinya yang memerah.
Acara demi acara pernikahan telah di lakukan sesua ritual hingga tibalah saatnya mereka sungkeman.
Setelah sungkem pada kedua orang tuanya Tri hendak sungkem pada mertuanya. Namun mata Tri tiba-tiba mengembun kala pak Burhanuddin hanya duduk seorang diri. Itu Artinya bu Sulis membuktikan ucapanya beliau tidak hadir di acara yang sakral ini.
Tri menjatuhkan keningnya di lutut sang mertua pria tangisnya pecah.
Menyadari jika menantunya sedang tidak baik-baik saja pak Burhan membangunkan pundak sang menantu.
"Maatkan Ibu Nak," pak Burhan pun menitikkan air mata.
Para hadirin yang rata-rata keluarga dekat, dari pihak Lastri maupun pihak Arman pun baru menyadari jika mertua perempuannya tidak datang.
Kecuali Rini dan Dimas yang tahu akan hal itu turut menangis.
Pernikahan yang awalnya penuh tangis haru kini berubah menjadi tangis kesedihan.
Dengan tertatih-tatih Lastri meninggalkan masjid terlebih dahulu. Dulu ia sering di sakiti bu Sulis namun ia menanggapinya dengan santai. Tetapi mengapa kini hatinya terasa tersayat? Bukanya perlakuan seperti ini sudah sering ia terima?
Lastri pulang ke rumah nya yang tidak jauh dari masjid. Sampai di rumah tampak sepi Lastri menuju kamar pengantin yang sudah harum semerbak wangi melati.
Tri menatap ranjang pengantin yang dihias sedemikian rupa sehingga tampak memanjakan dirinya. Namun demikian, seolah semua itu tidak ada artinya bagi Lastri tanpa restu orang tua. ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜.
Tok tok tok
Ketukan pintu membuyarkan lamunan Lastri namun kali ini ia ingin sendiri.
__ADS_1
.