Perjuangan Sulastri.

Perjuangan Sulastri.
Bab 39


__ADS_3

"Ayo, kita pulang," seru Lastri, berjalan tapi bukan kearah lift namun ke arah pelaminan.


"Loh kok kesana lagi?" Arman bingung dibuatnya.


"Kita pamit dulu lah sama Dina, masak nggak pamit sih," sungut Tri.


"Iya, Iya... ternyata kamu sekarang gampang ngambek ya," Arman terkekeh.


"Diih... nggak salah ya? Bukanya dirimu sendiri yang sedikit-sedikit marah, cemburu," Tri mlengos ke samping. Namun mata Lastri membulat sempurna. Tatkala, matanya tertuju kepada seorang wanita setengah baya. Baju kebaya brokat yang harganya selangit. Rambut di sanggul sudah menjadi cirikasnya. Menylempang tas besar tidak pernah ketinggalan kipas di tangan.


Dan yang lebih mengejutkan beliau bukan datang bersama suaminya melainkan datang bersama Kinar. Ya, beliu adalah bu Sulis Ibu Arman siapa lagi. Wajar jika beliau mendapat undangan khusus, sebab bu Sulis besanan dengan Maryana dan Ahmadi, mamanya Dimas dan Dina.


"Tri... kok kamu bengong sih?" Arman menggerak-gerakkan telapak tangan di depan wajah Lastri yang sedang terpaku di tempat.


"Mas Ibu Mas" Tri menunjuk lalu Arman mengikuti arah telunjuk.


"Oh iya Tri, aku lupa bilang, Ibu memang di undang sama Om Ahmadi dan Tante Maryana," Arman menatap ibunya yang sedang berjalan ke arah pelaminan bersama Kinar. "Masih berani tuh cewek," Arman mengepalkan tangan.


Kring... kriing...


Telepon Arman berbunyi. "Tri aku angkat telepon duluĺ ya" kata Arman.


"Tapi jangan lama-lama ya, Mas" pesan Lastri tergambar jelas di wajah Tri ada rasa trauma untuk bertemu dengan bu Sulis.


"Nggak kok, kamu tunggu di sini, jangan temui Ibu dulu sebelum aku datang," pesan Arman sambil berlalu.


"Assalamualaikum...Ayah..." ternyata yang telepon Arman pak Burhan.


"Waalaikumsalam..." pak Burhan menjawab.


"Kamu lagi di mana Ar?" tanya pak Burhan kemudian.


"Masih di hotel Yah, di pesta pernikahan adiknya Dimas,"


"Berarti... kamu sudah bertemu Ibumu?"


"Ibu baru sampai Yah, Arman belum menemuinya, kenapa Ayah tidak ikut?"


"Tidak Ar, nanti saja, kalau kamu menikah dengan Lastri, Ayah akan ke rumahmu" pak Burhan mengira bahwa Tri menerima ide gila Arman.


"Oh iya Ar, mengenai rencana kita kemarin, apa Tri menyetujuinya?" Pak Burhan penuh harap.


"Tidak Ayah, Tri menolak tegas," lirih Arman ada keputusasaan tertangkap dari suaranya oleh pak Burhan.

__ADS_1


"Sudah Ayah duga Ar, Tri itu punya prinsip yang teguh, tidak akan mau menerima jika akan ada dampak negatif di belakangnya," Burhanuddin menjelaskan.


"Ya sudah Yah, sekarang aku temui ibu dulu ya, Arman khawatir, nanti ibu mempermalukan Lastri di depan umum lagi,"


"Kamu benar Ar, mendingan bawa Lastri minggir saja," pesan pak Burhan tidak kalah khawatir.


"Baik Yah" Arman menyudahi pembicaraan kemudian mematikan telepon.


********


"Selamat siang jeung," sapa bu Sulis mendekati Maryana. Kemudian memindah kipas dari tangan kanan ke tangan kiri, padahal jika disimpan di mobil pun kipas itu tidak mengapa, sebab di hotel ber AC. Mungkin kipas itu ada jin pelindung hanya bu Sulis yang tahu. Bu sulis kemudian berjabat tangan.


"Eh Mbak Yu, baru sampai? Mana Kang mas Burhan?" Maryana mengedarkan pandanganya.


"Oh iya, maaf Pak Ahmad, salam dari Mas Burhan, beliau tidak bisa datang, maklumlah kesibukanya semakin tua, semakin banyak, heem," bu Sulis geleng-geleng kepala terkesan pamer.


"Tidak apa-apa Mbak Yu, saya mengerti," pak Ahmadi menjawab singkat.


Disaat sedang berbincang-bincang Lastri datang hendak menyapa. Biar bagaimana pun bu Sulis ibunya Arman, jika sampai bu Sulis tahu lebih dulu melihat Lastri kemudian tidak segera menemui pasti akan dibilang orang yang sombong.


"Bismillahhirahmanirahim" Tri berdoa dalam hati agar pertemuanya dengan bu Sulis yang sudah 4 tahun tidak bertemu. Kali ini bu Sulis sudah berubah lebih baik. Hanya Allah yang bisa membolak balikkan hati manusia. Batin Tri. "Selamat siang Bu," Tri menyodorkan tangan ingin salaman. Alih-alih di jawab bu Sulis justeru melengos, membiarkan tangan Tri. Semua itu tidak lepas dari pandangan bu Maryana.


"Lastri kamu sudah mencicipi hidangan Nak?" Maryana memecah ketegangan.


"Oh iya Jeung, kenalkan ini calon menantu saya," bu Sulis memperkenalkan Kinar tidak perduli dengan keberadaan Lastri.


"Oh iya, siapa namanya?" bu Maryana tersenyum getir menatap Kinar, lalu beralih menatap sendu wajah Lastri.


"Nama saya Kinara Tante" Kinara menyalami bu Maryana.


"Oh, saya kira calonnya Arman itu Lastri? Sebab Arman cinta banget sih, sama Lastri," Maryana menatap Kinar dari penampilannya saja sudah tidak respek. Kinar menoleh Tri tidak suka.


"Hehehe... bukan level saya to Jeng," bu Sulis yang menjawab. "Yang selevel dengan keluarga Burhanuddin ya ini" bu Sulis merangkul pundak kinar.


"Oh iya Mbak Yu, kalau mau istirahat di kamar nomor 043 sudah saya siapkan, barangkali mau menyimpan kipas," sindir Maryana.


Maryana mengalihkan agar tidak terus menyindir Lastri sungguh hatinya tidak kuat. Bagi Maryana Lastri sudah seperti anak sendiri sering menginap di rumahnya saat SMK dulu.


"Oh terimakasih, begini ini, kalau berbesanan dengan orang kaya, kamar hotel saja, disediakan," bu Sulis menyindir Lastri, yang tidak berkata-kata lagi kepadanya.


"Ah Mbak Yu, berlebihan. Mbak Yu baru datang atau sejak kapan di Jakarta? Saya pikir mau datang kemarin," Maryana menatap bu Sulis terlihat segar tidak mungkin jika baru dari kota Y.


"Oh tadi malam saya menginap di rumahnya calon besan Jeng," bu Sulis kembali merangkul pundak Kinar.

__ADS_1


Maryana menatap Tri seolah berkata yang sabar ya Nak.


Tri tersenyum kecut tidak sepatah kata pun berbicara.


"Oh iya, kami belum memberi selamat" bu Sulis lalu naik ke atas pelaminan menyalami Bayu dan Dina.


Kemudian bu Maryana menghubungi panitia yang bertugas memegang pin hotel agar memberikan kepada bu Sulis.


Lastri masih terpaku di tempat memandangi bu Sulis yang sedang tersenyum kepada Bayu dan Dina.


"Lastri... kamu yang sabar ya Nak, anak baik seperti kamu, akan mendapatkan jodoh yang baik pula, semoga kamu dengan Arman, di beri jalan agar bisa bersatu, dan bu Sulis segera membuka matanya lebar-lebar," Marina menunjuk matanya sendiri.


"Bu Sulis pasti akan menyesal telah menyia-nyikan gadis sebaik kamu," hibur Maryana panjang lebar setelah bu Sulis di beri pin oleh petugas lalu menyingkir dari tempat itu.


"Saya tidak apa-apa kok Tante, hehehe..." Tri jurteru tertawa, bagi Tri menghadapi sikap bu Sulis yang seperti ini sudah biasa, ini belum seberapa, jika tante Maryana tahu, perlakuan bu Sulis yang sebelumnya, pasti tante Maryana ingin menyumpal mulut bu Sulis dengan segepok uang.


"Tri aku cari-cari ternyata kamu ada disini?" tanya Arman selesai telepon kemudian mencari Lastri.


"Habis menemui ibu Mas," Tri melirik bu Maryana agar tidak mengatakan apapun.


"Terus ibu kemana?" Arman memindai sekeliling tidak melihat ibunya.


"Ibumu sedang istirahat Arman, sebaiknya kamu antarkan Tri pulang, baru temui ibumu," saran Maryana tidak ingin Lastri bertemu bu Sulis dan lagi-lagi dihina, Maryana tidak tega.


"Sebaiknya Mas Arman temui ibu saja, biar saya pulang numpang angkutan." Tri menambahkan.


"Hus, kamu ini bicara apa? Kita tadi kesini berdua kan, pulang juga harus berdua" tentu Arman tidak mungkin membiarkan Tri pulang sendiri.


"Tante kalau gitu, saya permisi," Tri mencium tangan tante Marina kemudian menangkupkan tangan di depan dada pada om Ahmadi.


"Kalian hati-hati ya" om Ahmadi yang pendiam itu berpesan.


"Terimakasih Om, Tante" Arman pun akhirnya meninggalkan pesta.


"Ibu tadi bicara apa sama kamu?" tanya Arman ketika mobil sudah berjalan, hati Arman sejak tadi resah, sudah pasti ibunya menyakiti hati Lastri.


"Tidak bicara apa-apa aku salaman saja, kan Ibu lagi ngobrol sama Tante Maryana." Tri menjawab namun tidak menoleh Arman. Lastri menyenderkan kepalanya di kaca mobil tidak bicara lagi.


Sementara Arman sebentar-sebentar menoleh ke samping berharap Tri berbicara seperti saat berangkat tadi.


Arman berkali-kali menarik napas berat, membayangkan jika ibunya berkata yang menyakitkan Lastri. Keduanya saling diam hingga akhirnya Lastri sampai di depan rumah.


.

__ADS_1


__ADS_2