Perjuangan Sulastri.

Perjuangan Sulastri.
Bab 37


__ADS_3

"Kamu pinter banget sih" Arman menatap mantan muridnya dulu bisa berpikir sejauh itu.


"Siapa dulu dong Gurunya" Tri tersenyum membuat hati Arman lagi-lagi semakin mencintainya.


"Kamu mau makan apa lagi?" Arman beniat mengambilkan.


"Cukup Mas, memang perut aku karet apa?" Tri terkikik.


"Karet macam mana? Cuma makan baso tiga bulatan, sama jus seteguk loh," Arman heran porsi makan Lastri dari dulu hanya sedikit, pantas saja bisa menstabilkan berat badan.


"Berhentilah makan sebelum kenyang, dan jadikan makanan untuk hidup, bukan hidup untuk makan, bukan begitu Pak Guru?" Tri mengaduk-aduk jus lalu menyeruput sedikit. Arman di buat bungkam setiap kata yang di ucap Tri membuat Arman sekak mat.


"Seperti itu ya" Arman melirik wanita gemuk, yang sedang menyantap sepiring nasi di tambah lauk pauk, belum lagi di tambah kerupuk, membuat piring itu tidak terlihat.


"Iiihh... usil." Lastri mencubit lengan Arman. Arman menangkap tangan Lastri kemudian menciumnya. Secepat kilat Tri menarik tanganya. "Malu tahu!" sungut Tri.


Saat sedang berbincang-bincang satu wanita dan satu pria duduk di dekat Tri.


"Sreeett


Bocah berusia lima tahun itu menarik kursi di samping Lastri, hingga ice cream yang ia pegang mengenai baju Tri.


"Astagfirrullah... Yoga... hati-hati dong, baju kakak jadi kotor tuh," wanita itu memberi peringatan anaknya. Dengan sigap Arman membersihkan baju Lastri dengan tissue.


"Tidak apa-apa Tante." Tri menjawab santun. Mendengar suara gadis itu wanita tersebut mendongak menatap Tri.


"Lastri?"


"Mbak Nina?"


Keduanya terkejut kemudian memeluknya.


"Arman apa kabar?" Om Dadang suami Mbak Nina menjabat tangan Arman.


"Baik Om" Arman menjawab kemudian berlanjut obrolan.


Mbak Nina adalah kakak kandung Bayu, yang menolong Tri saat terlunta-lunta delapan tahun yang lalu. Ketika Lastri pertama kali datang ke Jakarta berkat mbak Nina Tri bisa masuk SMK melalui jalur beasiswa.


Tri menjadi pembantu rumah tangga, di rumah Mbak Nina wanita yang baik hati itu.


"Kamu cantik banget Tri" puji Mbak Nina menatap wajah Lastri sambil tersenyum.

__ADS_1


"Mbak Nina bisa saja" Tri tersenyum malu sejak tadi Mbak Nina memujinya terus.


"Kamu sekarang kerja apa Tri"


"Menjadi tukang jahit Mbak, lumayan kan bisa menopang hidup," Tri merendah.


"Oh, kamu terima jahitan baju apa saja?" Mbak Nina menatap Tri bangga.


"Apa saja Mbak, pria, wanita saya terima semuanya."


"Oh, dimana kamu buka jahitan?" selidik Mbak Nina.


"Sementara ini di rumah Mbak, ya gitu deh, keadaan rumah jadi berantakan." jujur Tri.


"Kebetulan Tri di dekat rumah Bayu ada kios nganggur, awalnya Mas Dadang buka bengkel di situ karena krisis moneter, sekarang tutup."


"Saat ini saya belum mampu sewa Mbak," Tri menjawab.


"Nggak usah sewa Tri, kamu ini seperti siapa saja," itulah Mbak Nina orang yang selalu menolong sesama.


"Kamu tinggal dimana sekarang?" tanya Mbak Nina yang tinggal di pasar rebo itu.


"Saya tinggal di pasar minggu Mbak"


"Tentu boleh Mbak" sahut Tri. Mereka ngobrol panjang lebar, Mbak Nina juga menceritakan saat ini ia ketar ketir sebab Bank dimana ia bekerja akan di likuidasi.


Om Dadang bersama Arman pun menceritakan masalah yang terjadi di Indonesia saat ini. Penjarahan dimana-mana. Mall tidak sedikit yang di bakar


Hingga Yoga mengantuk, Mbak Nina mengajak nya, ke kamar hotel yang di Sewa keluarga nya.


"Mas masih suka main ke rumah Mbak Nina?" kata Tri di sela-sela menghabiskan minuman.


"Nggak pernah, Bayu kan jarang kesana."


******


Sementara pria tampan mengenakan baju batik baru turun dari mobil. Ia bergegas bersama salah satu temanya masuk ke dalam lift berdesakan di antara para undangan yang lain.


"Lastri kira-kira datang nggak ya Bob?" tanya Adnan ketika mereka sampai di ballroom hotel. Ia memindai sekeliling mencari pujaan hati.


"Katanya loe mau relakan Tri sama Pak Arman? tapi loe merecoki hubungan mereka terus," Bobby mencebik.

__ADS_1


"Yah namanya juga jatuh cinta, Bobby, sudah bisa lihat saja, sudah senang, cinta itu tidak harus memeliki," kata Adnan bijak.


"Huekk..." Bobby merahagakan seperti muntah.


"Gw cukur pala loe biar plontos baru rasa loh," tangan kekar itu menoyor jidat Bobby. Mereka akhirnya sampai di pelaminan.


"Selamat Kak Bayu, Dina," Adnan menyalami Bayu dan menangkupkan tangan di depan dada untuk Dina.


"Waah... satu kehormatan Kak Adnan datang," Dina merasa bangga. Di datangi kakak kelasnya dulu, terlebih kakak kelasnya pemilik yayasan dimana Dina mondok di situ selama tiga tahun.


"Jangan lebai loe" Adnan melirik Bayu tampaknya tidak suka dengan ucapan Dina Adnan segera meninggalkan pelaminan.


Adnan memindai sekeliling mencari sosok pujaan hati. Begitu melihatnya Adnan tersenyum.


"Kita kesana Bobby," ajak Adnan tergesa-gesa.


"Waah... jeli mata loe Nan, ciee... cieee... bajunya cuple," ledek Bobby. Adnan tidak sengaja mengenakan batik yang sama dengan Tri. Batik Adnan jahitan Tri oleh-oleh dari kampung sudah 4 tahun yang lalu.


"Selamat siang Pak," Adnan mengejutkan Arman yang sedang bersenda gurau dengan Tri. Arman tercengang menatap baju Adnan kemudian beralih ke baju Tri. Ada rasa cemburu di hati Arman. Arman pikir Lastri dengan Adnan janjian mengenakan batik tersebut.


"Siang" ucap Arman dingin. Seolah ingin Adnan pergi dari tempat itu.


"Kok baju kita sama sih Kak," Tri merasa tidak enak dengan Arman. Sebab Arman menatap Adnan tidak suka.


"Nggak tahu ini kan baju yang kamu buatkan dulu," jujur Adnan. Membuat Arman semakin cemburu. Alih-alih menyadiri bahwa, Arman tidak suka, karena kehadiran nya mengganggu. Adnan justeru duduk di depan Arman.


Arman kesal segitu dekatnya mereka sampai baju saja samaan.


"Tri, kamu sudah makan?" tanya Adnan.


"Sudah" jawab Tri pendek.


"Kalau gitu aku cari makanan dulu ya"


"Iya, Kak"


Melihat suasana menegang, Adnan menarik tangan Bobby, bergegas menuju prasmanan. "Rasain loe, Pak Arman marah kan," Bobby mencebik.


"Jangan bacot, nanti mulut loe gw sumpah pakai paha ayam." kata Adnan ketika sampai di meja prasmanan.


"Kamu membuat baju cuple?" tanya Arman dingin.

__ADS_1


"Nggak sih... cuma waktu pulang kampung, untuk membalas budi baik Adnan, yang selalu ada buat aku, selalu membantu aku, lalu apa salahnya jika aku memberi ucapan terimakasih," tutur Tri.


"Sudahlah jangan cemberut kelihatan semakin tua, nanti aku buat lagi baju yang sama buat kita. kita pulang yuk," Tri beranjak lebih dulu, lalu Arman menyusul.


__ADS_2