
Lastri merenung seorang diri di ruang tunggu pikiranya menggembara kemana-mana. Kisah cinta orang tuanya di masa yang lalu membuat bu Sulis membenci keluarganya.
Dan kini kedua mertuanya sedang sakit.
"Keluarga Nyonya Sulistyanengseh," panggilan itu membuyarkan lamunan Lastri. Lastri menghampiri perawat yang sedang menyembulkan kepala.
"Dokter menunggu Anda Nona," ucap perawat lalu masuk ke dalam diikuti Tri.
"Bagaimana keadaan Ibu Sulistyanengseh Dok?" tanya Tri setelah duduk di depan dokter merasa cemas.
"Ibu Anda membutuhkan donor darah golongan AB Nona, tapi sayangnya golongan darah tersebut tergolong langka, sehingga rumah sakit ini tidak ada stok. Kami mohon keluarga Anda untuk membantu kami mencari pendonor. Sebab jika tidak mendapatkan dalam jangan waktu 24 jam Ibu An-" dokter menghentikan ucapanya.
"Ambil darah saya Dok, karena golongan darah saya sama dengan Ibu Sulistyanengseh," potong Tri.
"Baiklah jika begitu, kami akan memeriksa kesehatan Anda, terlebih dahulu," kata dokter.
Lastri mengikuti dokter. Kemudian mengikuti serangkaian pemeriksaan. Setelah Lastri dinyatakan sehat, Tri mendonorkan darahnya.
Begitulah wanita yang bu Sulis benci telah menyelamatkan nyawanya. Darah Tri mengalir dalam tubuh Sulis. Lastri bukan wanita pendendam.
Dua jam kemudian, bu Sulis sadar dari pingsan nya. "Aku dimana?" lirih bu Sulis hampir tak terdengar.
"Di rumah sakit, Bu. Alhamdulillah... Ibu sudah sadar," ucap Tri lembut.
"Kamu?" Sulistyanengseh menatap wajah Tri yang duduk di sampingnya, tiba-tiba merasa dekat, dan ingin memeluk tubuh langsing itu.
"Kenapa aku bisa berada di sini? lalu kemana Ayah dan Arman?"
"Ayah masih di kota Bu, beliau sedang masuk angin lalu Mas Arman menemani," tutur Tri.
Bu Sulis memandangi pergelangan tangan yang di perban lalu ingat, mengapa ia bisa berada di sini.
Bu Sulis menunduk malu untuk menatap mata menantunya. Sambil menekan perut bagian bawah seperti ada yang di tahan.
Tri pun memperhatikan mertuanya rupanya cukup peka.
"Ibu mau ke kamar mandi? Mari saya antar," Tri menawarkan diri.
Bu Sulis hanya mengangguk. Lastri kemudian memapah mertuanya ke kamar mandi. Namun setelah buang air, bu Sulis sulit untuk membersihkan organ intim. Tangan kiri terluka dan belum boleh terkena air. Sedangkan tangan kanan masih di infus. Tentu bu Sulis malu untuk berucap.
__ADS_1
"Biar sama Tri ya Bu, maaf sebelumnya." Tri ambil alih selang dari tangan mertua.
"Tapi Tri," ujar bu Sulis Wajah nya merah menyembunyikan rasa malu.
"Ibu jangan pikirkan apapun," pungkas Lastri.
Dan pada akhirnya Lastri yang melakukan. Ya itulah, sesombong apapun manusia akan tetap membutuhkan pertolongan orang lain. Sikap arogan bu Sulis sedikit demi sedikit berkurang, dalam kurun satu hari bersama Lastri.
******
Tiga hari kemudian. Selama itu pula, Tri merawat Ibu mertuanya dengan telaten dan tulus, tidak pernah merasa sakit hati atas perlakuan bu Sulis sebelumnya. Memandikan, mengganti pakaianya, menyuapi dan lain sebagainya.
Ketika tengah malam, bu Sulis terbangun dari tidurnya. Mendapati menantunya yang sedang tidur telungkup di ranjang sebelahnya. Tangan bu Sulis terangkat ingin membelai rambutnya. Namun menarikya kembali hingga berkali-kali.
"Emm... Ibu kok belum tidur?" tanya Tri. Mengerjap-ngerjap kan mata, dengan suara kas bangun tidur.
"Sudah tidur," jawabnya singkat. Bu Sulis salting meremas jari jemarinya. Berhadapan dengan Lastri saat ini seperti berhadapan dengan seorang pria. Ketika jatuh cinta pertama kali.
"Ayah sama Arman kemana?" tanya bu Sulis.
"Itu sedang tidur di Sofa Bu," tunjuk Lastri. Pak Burhan memang sudah sembuh dan saat ini turut menunggui istrinya.
"Ibu mau kekamar mandi?" tanya Tri kemudian.
"Tidak... Ibu sudah bisa sendiri kok," tuturnya.
"Tri..." sapa bu Sulis. Pada akhirnya menyebut nama menantunya untuk yang pertama kali. Biasanya bu Sulis memanggilnya orang miskin.
Tentu membuat hati Lastri yang mendengar berbunga-bunga.
"Iya Bu," jawab Tri.
"Emm..." Bu Sulis sepertinya ada yang akan di ucapkan tapi lidahnya terasa kelu.
"Ada apa Bu, katakan saja, saya siap bantu," Tri penasaran apa yang akan diutarakan mertuanya itu.
"Boleh aku memelukmu Nak?" ucap Sulis saat ini menatap wajah menantunya. Ia baru sadar ternyata menantunya sangat cantik.
Tri pu terkejut menatap lekat wajah mertuanya. Kedua wanita berbeda generasi itu sesaat saling pandang. Bu Sulis lalu memeluk tubuh Tri.
__ADS_1
"Maafkan Ibu Nak," ucapnya di sela-sela isak tangis.
"Saya sudah memaafkan Ibu, Ibu tidak salah, yang Ibu lakukan sudah benar. Semua orang tua ingin anaknya hidup senang," tutur Lastri bijak.
Di sofa, dua pria anak dan bapak itu pun ternyata terbangun menyaksikan kedua wanita yang di cintanya berpelukan. Reflek keduanya pun saling berangkulan.
Terutama pak Burhan. Beliau terharu, hati istrinya rupanya sudah mulai lurus. Dan semoga tidak akan bengkok lagi. Doa pak Burhan.
Setelah Drama tengah malam, mereka menyambung mimpi kembali. Keesokan harinya bu Sulis sudah diijinkan pulang.
Kali ini mereka pulang bersama dalam satu mobil yang di kendarai oleh Parno. 15 menit kemudian sampai di kediamannya.
"Ibu istirahat dulu, nanti Tri akan memasak yang enak untuk Ibu," Lastri menyelimuti tubuh mertuanya saat ini sudah di kamar bu Sulis.
Bu Sulis menatap menantunya tak berkedip. Matanya berkaca-kaca. Mengapa tidak sejak dulu menerima Lastri menjadi menantunya? Lastri ternyata malaikat tak bersayap yang sudah meyelamatkan nyawanya.
"Ibu kok melihat aku gitu terus..." Tri merasa aneh.
"Oh tidak, Ibu hanya ingin makan tempe bacem buatan kamu," bu Sulis beralasan. Walau memang benar. Bu Sulis ingat ketika selamatan dulu menantunya memasak bacem enak sekali.
"Baik Bu, Tri ke dapur dulu,"
Lastri bergegas ke dapur, sampai di sana, mendapati Arman sedang membuka kulkas mencari minuman segar. Setelah mendapatkan langsung meneguk.
"Haus amat sih," Tri mengejutkan Arman. Arman seketika menoleh.
"Mau nggak?" Arman menyodorkan botol juce buah yang di buat mbok. Tri pun menyeruput sedikit. Pada akhirnya minum segelas berdua.
"Mau apa kamu?" tanya Arman ketika Tri mendorong tubuh suaminya yang menghalangi kulkas.
"Mau ambil tempe, tahu, untuk buatkan bacem Ibu," kata Tri sambil menelisik isi kulkas.
"Hais! Biar Mbok saja! Kamu belum pernah tidur di kamarku," secepat kilat Arman menggendong tubuh istrinya. Membawanya masuk ke dalam kamar.
"Iihh... Mas... mana ada pagi-pagi tidur sih... aku mau masak," Tri meronta ronta. Namun Arman tidak menghiraukan.
Arman merebahkan tubuh istrinya di ranjang kamarnya. Lalu menindih tubuh langsing itu. Wajah mereka beradu, hidung yang sama-sama mancung saling menempel dan saling pandang.
Arman bangun kembali mengunci pintu kamar kemudian mendekati Lastri. Terjadilah pergulatan ranjang dipagi hari.
__ADS_1
...Tamat....