Perjuangan Sulastri.

Perjuangan Sulastri.
Bab 43


__ADS_3

Tri memberikan secarik kertas berisi alamat lengkap kepada Widodo. "Wid, aku pulang ya, sampai ketemu besok," Tri hendak menghampiri mobil Arman.


"Tri tunggu," Widodo menahan tangan Lastri. "Kamu sama Pak Arman, masih berhubungan? Bukanya kalian sudah putus?" Widodo tercengang.


"Iya tapi ketemu lagi," Lastri setengah berbisik.


"Ya ampun... kamu ini ya, sudah seperti romeo and juliet," Widodo berdecak kagum akan cinta sahabat dan gurunya itu.


Arman turun dari mobil membuka pintu untuk Lastri. "Sudah... ngobrolnya besok lagi Tri, sekarang kan kamu terburu-buru," titah Arman memang benar adanya.


"Okay..." Tri segera masuk ke dalam mobil duduk di sebelah pengemudi.


"Assalamualaikum Pak Arman," Widodo menghampiri guru SMP nya dulu itu, kemudian menyambar tanganya memberi salam


"Waalaikumsalam..." Arman yang awalnya cuek begitu mendengar Widodo menyebut namanya. Arman menatap lekat wajah Widodo.


"Itu Widodo Mas, muridmu SMP dulu, lupa ya? Lihatnya sampai begitu," Tri memperhatikan tatapan Arman, sepertinya mengingat-ingat.


"Oh, kamu kuliah di kampus ini juga Wid? Kebetulan, tolong titip jagain Lastri ya, jika Lastri genit sama yang lain, segera lapor saya," kelakar Arman seketika kena tatapan tajam oleh Tri.


"Siap Pak," Widodo menatap Arman dan Lastri yang sudah berada di mobil. Hingga mobil Arman menjauh, Widodo masih tidak berkedip.


Widodo merasa iri, dengan pak Arman, sejak dulu Lastri tidak berpaling darinya, pria mana yang tidak ingin di cintai oleh wanita seperti Lastri yang cantik luar dalam itu.


"Ah aku ini mikir apa sih," gumam Widodo kemudian kembali ke asrama.


*********._


Sementara Lastri dan Arman di dalam mobil masih membahas Widodo.


"Sepertinya Widodo suka juga sama kamu," Arman melirik Tri sekilas yang sedang menatap jalanan.


Tri menoleh Arman cepat. "Widodo? Hihihi..." Tri cekikikan.


"Kok kamu malah tertawa sih? Nggak lihat apa, tatapan Widodo ke kamu," Arman tampak posesif.

__ADS_1


"Lagian... Mas Arman ini, ada-ada saja, aku sama Widodo itu, sudah seperti aku sama Catur, jadi mana mungkin? Widodo jatuh cinta," Tri menghabiskan sisa tawanya.


"Iya itu kan kamu yang bilang Tri, tentu berbeda dengan pemikiran Widodo," Arman menoleh gemas, melihat Tri yang tidak peka.


"Widodo itu seorang pria, dan saat ini sudah dewasa, bukan seperti anak SMP lagi, bukan tidak mungkin kan. Widodo tidak ada rasa sama kamu," dengus Arman kembali lurus ke depan.


"Ada sih, rasa sayang tapi hanya sebagai sahabat," Lastri masih tidak percaya dengan ucapan Arman.


Mobil Arman akhirnya sampai di dekat sekolah. "Mas, aku turun di sini saja," Tri menylempang tas, yang awalnya ia letakkan di pangkuannya.


"Ngapain turun di sini? Sebentar lagi sampai di parkiran," Arman terus melaju.


"Mas, aku turun di sini saja, nggak enak kan dengan bu Sundusyah, dia bisa curiga nanti, kalau kita jalan satu mobil." rengek Lastri.


"Memang kenapa kalau kita jalan satu mobil? Atau... Jangan-jangan kamu takut ketahuan Mustofa, karena Mustofa itu kan suka sama kamu," Arman mengerlingkan mata.


"Ih, kalau nggak mau berhenti, mulai besok, aku nggak mau lagi di jemput sama Mas," ancam Tri.


Arman menarik nafas berat tapi akhirnya menurut juga, ia menurunkan Lastri walaupun sebenarnya sudah hampir dekat dengan parkiran.


Sementara Arman, menatap kekasihnya dari dalam mobil hanya menggeleng, padahal ia ingin hubungannya dengan Lastri agar segera di ketahui oleh teman-temanya. Jika tidak, ia akan selalu di makan api cemburu. Pasalnya banyak pria yang mengaggumi Lastri dimanapun berada.


Arman pun melaju ke tempat parkir, setelah mencari tempat yang pas, ia mematikan mesin, mencucinya lalu turun.


Arman berjalan gontai, menuju ruang guru. Namun baru beberapa pijakan terdengar suara memanggilnya.


"Pak Arman?" sapa seorang wanita, membuat Arman menghentikan langkahnya. Ternyata Bella orangnya.


Arman tidak menjawab justru kembali berjalan. Namun, Bella mempercepat jalanya, sengaja menyejajari kaki Arman merapat di sebelahnya.


"Pak Arman ternyata ada hubungan dengan Lastri ya?" Tanya Bella.


Bella menyeringai, rupanya wanita yang beralis tebal dan terkesan galak itu, tadi mengintai Arman dengan Lastri.


Arman menoleh Bella tapi tetap tidak menjawab.

__ADS_1


"Pak Arman, kenapa sih, mau sama gadis kampung macam Dia? Sudah miskin, hanya modal cantik doang!" Bella berkata sinis.


Arman langsung mendelik, jangankan orang lain yang menghina Lastri, orang tuanya sendiri saja Arman tidak rela.


"Jangan suka menghina orang lain Bella, jika ingin menilai orang lain, sebaiknya kamu berkaca pada dirimu sendiri dulu," walaupun perkataan Arman pelan tapi rasanya mengunci mulut Bella.


"Pak Arman kenapa sih? Saya kasih tahu bukan terimakasih. Perlu Pak Arman tahu, Lastri itu gagal mendapatkan Adnan pria kaya, karena Adnan sudah menjadi tunangan saya. Eh, Lastri rupanya menggaet Bapak juga," Bella memprovokasi.


"Jangan pernah menghina Lastri Bella, karena saya tidak pernah akan membiarkan siapa pun menyakiti hatinya, jika sampai itu terjadi, kamu akan berhadapan dengan saya! Camkan itu, Bella!" Ancam Arman tidak main-main kemudian belok arah tidak lagi berniat ke kantor guru melainkan langsung ke kelas.


"Huh! kenapa sih?! semua orang nggak dulu, nggak sekarang, selalu membela gadis miskin itu," gerutu Bella sambil berjalan menuju ruang guru.


Di ruang guru tampak sepi, hanya Tri yang sedang menyiapkan buku berisi bahan untuk mengajar hari ini.


"Heh perempuan ganjen!" sapa Bella kepada Lastri, dengan perasaan marah yang ingin meledak, karena mendengar pembelaan Arman tadi membuat Bella semakin marah dan kesal.


"Kamu jangan besar kepala di sini, karena kamu salah satu guru yang di senangi murid-murid, tapi saya tidak akan tinggal diam aku akan membujuk Papa Rochmat agar segera memecatmu," sarkas Bella.


Lastri yang sudah hafal suara siapa itu, sama sekali tidak menyahut maupun menatapnya.


"Heh kamu budek ya? di panggil tidak menjawab, malah pura-pura sibuk!" Bella mencekal tangan Tri.


"Oh bu Bella menyapa saya? Saya pikir bukan, soalnya nama saya bukan heh! Yang seperti bu Bella panggil, tapi nama saya Lastri," Tri menyindir.


"Kurang ajar!" Bella mencekal tangan Tri dengan kuat. Tapi Tri dengan tenaga yang lebih kuat menangkisnya.


"Belajarlah untuk bersikap seperti selayaknya guru Bu Bella, jangan seperti orang urakan," Tri tidak merasa takut memegang kuat lengan Bella.


"Apa lagi, jika Anda ingin dihormati murid-murid, anda harus bisa menjaga sikap," Tri melepas tangan Bella.


Bella meniup-niup lenganya yang memerah bekas cengkeraman Lastri.


"Bu Bella, Anda bisa bersikap semena-mena terhadap orang lain, tapi tidak dengan saya, karena saya tidak akan merasa takut dengan Anda atau siapapun," pungkas Lastri kemudian keluar meninggalkan Bella.


.

__ADS_1


__ADS_2