Perjuangan Sulastri.

Perjuangan Sulastri.
Bab 54


__ADS_3

Tiga hari sudah Lastri berada di kampung halaman. Selama itu pula Tri menginap di rumahnya berkumpul bersama Dwi dan Eko.


"Mas Eko. Mas nggak ingin ikut aku ke Jakarta?" tanya Tri saat ini ia sudah siap-siap ingin kembali ke Jakarta. "Disana ada kok, lowongan di garmen miliku," saran Lastri.


"Tidak Dek, biar aku menunggu rumah Bapak, kalau nanti aku punya rezeki, akan aku rapikan," Eko tidak ingin meninggalkan tempat itu.


"Mas Joko, juga nggak mau ikut?" Lastri beralih menatap Joko yang sedang menyuapi putranya.


"Nggak Dek, kamu kan tahu, Ibu aku sudah sakit-sakitan, tidak mungkin kan aku meninggalkan beliau," jawab Joko memang benar adanya.


"Kami di sini saja Dek, menunggu keprabon, kalau ada waktu senggang, kami akan menjenguk Ibu," Murni yang baru selesai menyiapkan sarapan bersama Dwi menimbrung pembicaraan.


"Em... nanti kalau kalian menikah, kami isyaAllah akan datang kok Tri," Dwi yang sedang mengeringkan rambut dengan handuk baru selesai mandi menghampiri.


"Baiklah Mbak, Mas," Tri mengalah. Mereka sarapan pagi bersama, sambil bercerita tentang keadaan mereka masing-masing selama tidak bertemu. Lastri kemudian pamit pulang setelah Arman datang menjemput.


Arman menjemput Lastri dengan motor, karena sesuai rencana yang mereka sepakati sebelum berangkat ke bandara akan pamit orang tua Arman dulu.


"Tanganya itu sekali-kali begini loh," Arman menarik kedua telapak tangan Tri lalu melingkarkan ke perutnya sambil tertawa menggodanya.


"Ih! Kebiasaan banget ya," Tri memukul punggung Arman yang sudah berada di atas motor.


"Cepat jalan, jangan modus," Lastri menekan bahu Arman dengan telapak tangan. Arman tersenyum lalu menjalankan motornya perlahan.


Arman senang, momen naik motor berdua seperti ini ingin salalu Arman lalui. Ketika ada gajlugan kerap kali kening Tri membentur punggungnya sungguh membuat Arman bahagia.


Sepanjang perjalanan Arman tidak ada bosanya, memandangi wajah kekasihnya dari kaca spion. Membuat Lastri tersipu malu.


Waktu terasa cepat mereka sampai di depan rumah Arman.


"Assalamualaikum..." ucap Tri. Tanpa di persilakan langsung masuk ke halaman rumah menghampiri bu Sulis, meraih tangan yang sudah hampir keriput itu mengecupnya sambil terpejam.


"Waalaikumsalam..." bu Sulis yang sedang duduk di teras rumah membiarkan tanganya di cium Tri, namun tidak berniat menatapnya justru pandangan bu Sulis tertuju kepada Arman yang sedang memasukkan motor ke garasi.


"Bu... kami minta izin kembali ke Jakarta," ucap Tri.


"Ya kembali saja! Saya juga tidak mengundang kamu datang kemari!" ketus bu Sulis melengos jengkel.

__ADS_1


Deg. Hati Tri terasa terpahat sekuat tenaga.


"Oh maaf Bu, jika kehadiran saya mengganggu Ibu, tapi alangkah tidak sopan, jika saya ingin menjadi istri Mas Arman, tetapi tidak minta restu Ibu. Bu, kami mohon, restui kami," Tri menatap bu Sulis yang entah mendengarkan kata-katanya atau tidak.


"Tidak! Jika kalian sudah ngebet ingin menikah silahkan saja! Tapi jangan harap saya akan hadir di pernikahan kalian nanti!"


Tri hanya diam tidak ingin lagi berdebat, ternyata sulit sekali melenturkan hati calon mertuanya yang sekeras batu.


"Ayah kemana Bu?" Arman yang baru masuk memecah ketegangan.


"Ada di dalam," jawab bu Sulis singkat.


"Bentar ya Tri, aku ambil koper dulu," kata Arman menatap wajah Tri terlukis rasa kecewa yang mendalam.


"Iya Mas,"


Bu Sulis pun beranjak meninggalkan Tri membuntuti Arman.


"Tri, kamu jadi berangkat sekarang, Nak?" tanya pak Burhan yang baru keluar.


"Hehe... ya ndak to Nduk, pernikahan kamu kan masih dua bulan lagi, kalau sudah kurang seminggu lagi, baru Ayah kesana," jawab pak Burhan.


"Tapi... Bapak datang bersama Ibu kan?" cecar Lastri khawatir akan ucapan bu Sulis tadi.


"Tentu to Nduk, masa anaknya mau menikah, ndak datang, memangnya kenapa to? Kok kamu bertanya begitu?" pak Burhan merasa aneh dengan pertanyaan Tri.


"Oh tidak Pak, saya hanya ingin memastikan saja," Lastri tersenyum menyembunyikan kegetiran hati.


"Let's go," Arman sudah menarik koper.


"Hati-hati ya Le. Nduk," pak Burhan mengantar Arman dan Lastri sampai di depan pagar.


"Iya Pak, terimakasih," Lastri yang menjawab kemudian masuk ke dalam mobil pak Burhan, ternyata supir pak Burhan sudah menunggu di luar pagar.


Supir melajukan mobil menuju bandara. Lastri tampak diam bersandar di jok, dengan mata terpejam, melipat kedua tangannya di depan dada.


Membayangkan calon mertuanya jika saat hari h nanti benar-benar membuktikan ucapanya, tidak datang di acara pernikahanya yang IsyaAllah akan mereka lakukan hanya sekali seumur hidup. Sudah barang tentu bukan hanya Lastri yang merasa kecewa, tetapi juga kedua orang tuanya.

__ADS_1


Tri menarik napas berat. Ia pikir setelah berhasil menjalankan perintah bu Sulis. Bu Sulis konsisten dengan apa yang beliau janjikan, tetapi ternyata bu Sulis mengingkari.


"Tri," Arman mengejutkan lamunan Lastri. Ia menatap lekat wajah Tri, yang berwarna merah, karena wajah putihnya tadi terkena sinar matahari.


"Apa," sahutnya. Terpaan napas halus mengenai wajah Tri. Tri lantas membuka mata terkejut, karena wajah Arman berada tepat di depan wajahnya. Tri kemudian bergeser ke pintu mobil.


"Hehehe...." Arman terkekeh menatap semburat merah di wajah Tri. Lastri tersipu malu.


Tri menjadi ingat dulu, ketika masih sekolah. Di balik sikap tegasnya Arman ketika menjadi pemimpin di restoran maupun di Cafe miliknya. Tentu berbeda jika sedang mengajar. Arman kadang bisa besikap tegas namun kadang membuat murid-murid merasa terhibur karena gurauan Arman.


Arman merapat hingga duduk satu kursi dengan Lastri.


"Iiihh! Mas... sempit tahu," Tri beralasan padahal jantungnya berdebar-debar.


Sang supir hanya tersenyum menatap kedua sejoli yang sedang kasmaran itu.


Tidak terasa mobil sampai di bandara, Arman dan Lastri langsung check in, setelah pamit pada supir.


Satu jam mereka menunggu pesawat terbang jurusan Jakarta lepas landas. Tri segera memasang sabuk pengaman begitu juga dengan Arman.


"Tri, aku tadi mendapat titipan dari Ibu," Arman mengeluarkan kotak yang di bungkus kado, berwarna kuning ke emasan dari saku jaket lalu memberikan kepada Tri.


Lastri memandangi kado dengan dahi berkerut. "Apa itu, Mas?" dada Tri bergemuruh, titipan apa yang dimaksud Arman, pikiran negatif bermunculan di benak Tri. Betapa tidak? Belum ada lima belas menit, bu Sulis membuat keputusan yang membuat Tri tercengang, tapi kini bu Sulis menitipkan sesuatu.


"Ini pemberian Ibu, katanya hadiah pernikahan kita," Arman menyerahkan benda tersebut.


Namun Tri bergeming. "Ha-hadiah pernikahan, Mas? Lalu apa isinya?" Lastri ragu untuk menerima benda tersebut. Bagaimana jika bu Sulis memberi penegasan agar tidak jadi menikah dengan Arman? Tri menggeleng pelan.


"Tri terima ini," Arman mengulangi.


"Tapi... aku takut Mas?" Lastri rasanya takut untuk menerima apa lagi sampai membuka kado tersebut.


Arman pun menggeleng. "Lebih baik, kita buka sama-sama,"


.


********

__ADS_1


__ADS_2