Perjuangan Sulastri.

Perjuangan Sulastri.
Bab 48


__ADS_3

"Sudah siap?" tanya Arman yang sedang ngobrol dengan pak Suryo, melihat Tri keluar kemudian berdiri.


Arman memandang penampilan Tri, kaos panjang dipadukan dengan rok panjang, dan jilbab bergo terlihat santai namun semakin menunjang penampilannya.


"Sudah Mas." jawab Lastri singkat.


"Pak, aku berangkat ya," Tri mencium punggung tangan pak Suryo.


"Hati-hati ya Nduk," pak Suryo mengusap kepala putrinya.


"Nak Arman... jaga putri saya," pak Suryo menatap Arman penuh keyakinan.


"Tentu Pak, kami permisi," Arman keluar di ikuti Lastri yang menggendong ransel di belakang.


"Nduk... dompet kamu ketinggalan," bu Santi berjalan setengah berlari membawa dompet.


"Ya Allah..." Lastri tepuk jidat. Padahal dompet itu berisi surat-surat penting. Sangking banyak yang dipikirkan hingga lupa menbawa dompet yang sudah ia siapkan di meja rias.


"Terimakasih Bu, untung masih disini," Lastri tersenyum.


Tri segera naik, ke dalam taksi yang sudah di pesan Arman. Lastri melambaikan tangan, kepada kedua orang tuanya dan juga ketiga adiknya yang mengantar sampai pagar.


Taksi pun segera berangkat menuju bandara.


"Tri," panggil Arman menoleh ke samping dimana Lastri duduk.


"Apa?" Lastri pun menoleh. Pandangan mereka saling bertemu, hingga beberapa saat keduanya terdiam.


"Apa," Tri tersipu malu merasa di pandangi Arman yang tidak berkedip.


"Kamu cantik banget," Arman terkekeh.


"Huh! mulai deh, ada apa ini? Pasti kalau merayu gitu, ada maunya," tebak Lastri.


"Banyak mau aku. Aku ingin kita segera menikah, membina keluarga yang Samawa, mempunyai anak sedikitnya tiga," Arman melempar senyum tergambar jelas di wajahnya. Banyak harapan ketika hidup bersama wanita yang dicintainya itu. Wanita yang tidak hanya cantik di luar, tetapi yang terpenting cantik di dalam. Wanita yang saat ini duduk di sebelahnya.


"Wee... malah senyum-senyum sendiri, jangan-jangan... Mas Arman demam ya?" Tri menempelkan punggung tangannya ke dahi Arman.

__ADS_1


"Memang aku sedang demam. Demam karena cintamu," Arman menggenggam tangan Tri.


Tri segera melepas tangan Arman.


"Kamu ini, tiap aku pegang tangan kamu saja, selalu menolak?" protes Arman menarik bibirnya ke samping.


"Aku hanya ingin menunggu saatnya tiba, menyerahkan tubuhku untuk suamiku," jujur Tri.


"Masa pegang tangan saja, tunggu sah sih?" Arman tak mau kalah.


"Mas tahu nggak? banyak terjadi kehamilan di luar nikah itu karena apa?" Lastri melirik Arman sebenarnya merasa tabu untuk membicarakan masalah ini, tapi Tri harus menyampaikan alasanya mengapa selama ini selalu menghindari kontak fisik dengan pria.


"Wanita dan pria yang belum sah, maaf nih, awalnya hanya pegangan tangan, terasa nyaman, lalu minta lebih, pegang ini, pegang itu." Tri menggerak-gerakkan tangan.


"Hingga akhirnya terbakar api asmara yang tidak bisa dipadamkan lagi" Tri bergidik ngeri.


"Nah... saat itulah setan masuk menggoda mereka, hanya karna setitik kenikmatan dunia, bisa menyebabakan bencana, sesal tiada akhir," Tri berkata panjang lebar.


Arman tertegun mendengarkan ceramah Lastri. Begitu juga dengan supir taksi yang sedang di depan memperhatikan kata-kata yang di ucap Tri, memang benar adanya. Supir taksi mengangguk-angguk kan kepala sendiri.


"Yuuurrr.... sayuuuurrrr..." Di depan rumah bu Sulis, rumah yang paling mencolok di antara rumah-rumah tetangga yang lain. Tukang sayur memanggilnya nyaring.


Bu Sulis yang baru selesai mandi berdandan, tidak lupa sanggul yang sudah menempel bulat di kepala segera ke depan.


"Pesanan saya ada Yu?" tanya bu Sulis pada tukang sayur, yang sudah di dikerubuti tetangga, yang rata-rata memakai daster.


"Oh ada Bu, ini Ayam kampung, terus ini daging sapi, tempe tahu, ini sayuran bakal urap plus kelapa, ada dalam satu kantong, Bu," tukang sayur menyerahkan tiga kantong plastik.


"Waah Bu Sulis... kok belanja nya banyak sekali, memang mau ada acara ya?" tanya salah satu tetangga.


"Biasa Mbak, Arman kan mau pulang, sudah pasti saya akan siapkan makanan kesukaan Dia," jawab bu Sulis sambil mengecek isi kantong.


"Oh iya Bu Sulis, saya dengar calon Arman yang tinggalnya di pelosok desa, sekarang hebat loh, sudah mempunyai konveksi sama butik, pasti bu Sulis akan menyambut kedatangan calon menantunya kan?" cecar salah satu ibu.


Bu Sulis, mengangkat kepalanya cepat. "Mbak ini, sok tahu!" bantah bu Sulis melengos jengkel.


"Benar Bu, berita tentang keberhasilan Lastri yang awalnya gadis susah dan saat ini menjadi sukses sampai masuk ke televisi loh, kemarin kan saya menonton," salah satu ibu tersenyum bangga.

__ADS_1


"Mbak, Mbak ini, perlu tahu ya, Lastri itu bisa seperti yang ibu bilang tadi, karena dia kuliah Arman yang membiayai, Lastri punya butik sama konveksi juga Arman yang memberi modal!" sinis bu Sulis.


"Masa sih... tapi kan di berita tidak begitu ya Ibu-Ibu," ketiga orang Ibu itu saling pandang dan mengangguk membenarkan berita hangat di televisi.


"Huh! Kalian ini dikasih tahu nya susah sekali ya, kalau tidak percaya ya sudah! Saya mau masuk, paling satu jam lagi anak saya sampai, kalian ini mengganggu waktu saya saja!" bu Sulis menggerutu.


"Mbooookkk... tolong angkat belanjaan!" seru bu Sulis dari luar.


"Iya Nyonya," Simbok pun bergegas keluar mengangkat belanjaan.


Pak Burhan yang bersembunyi mendengar kata-kata istrinya geleng-geleng kepala. Kemudian beliau masuk ke dalam duduk di kursi ruang keluarga. Menunggu istrinya selesai bergibah, akan memberi ceramah sedikit.


"Tunggu Bu," cegah pak Burhan, ketika bu Sulis hendak menyusul simbok.


"Opo to, Yah?" bu Sulis menghentikan langkahnya.


"Duduk! Aku mau bicara," kata pak Burhan menunjuk kursi di sebelahnya.


"Ibu barusan bicara apa dengan tetangga?!" pak Burhan menatap istrinya tajam.


Bu Sulis kali ini menurut kata-kata suaminya menjatuhkan pantatnya dengan kasar, tapi tidak menjawab, justeru melengos melempar tatapan ke luar rumah.


"Yang dikatakan tetangga tadi itu benar Bu, Lastri bisa seperti sekarang tidak ada campur tangan Arman," tandas pak Burhan.


"Tri itu anak yang baik dan cerdas Bu, dan Dia, bekerja keras demi siapa? Perlu kamu tahu, Lastri jungkir balik meraih cita-cita karena apa? Karena ingin membuktikan ucapan Ibu yang tidak lelah menghinanya," pak Burhan berubah geram.


"Bu, jika nanti Lastri sampai di rumah, jangan pernah berkata apapun yang bisa membuatnya sakit hati, jika Ibu tidak mendengarkan kata-kata aku. Jangan harap Ibu akan menyaksikan pernikahan Arman," ancam pak Burhan berkata tegas.


"Ayah mengancam aku?!" bu Sulis menatap nyalang suaminya.


"Yah, bisa dibilang begitu," pak Burhan menyeruput kopi pahit yang dibuat Simbok.


"Ayah malu sama keluarga Suryo Bu, dari muda dulu, sampai saat ini, ketika kita sama-sama tua, Ibu selalu membenci keluarganya, sebenarnya ada dendam apa Ibu kepada mereka?" pak Burhan mengerutkan kening.


"Jangan menyinggung masalalu, aku paling benci!" sarkas bu Sulis lalu beranjak meninggalkan suaminya yang hanya menatap heran dari belakang.


.

__ADS_1


__ADS_2