Perjuangan Sulastri.

Perjuangan Sulastri.
Bab 40.


__ADS_3

Mobil yang di kendarai Arman sudah sampai di depan rumah Lastri. Tri segera turun dari mobil.


"Teimakasih ya Mas," ucap Tri ketika sudah di luar menatap Arman dari kaca pintu mobil.


"Sama-sama, maaf ya, aku nggak bisa mampir, salam buat Bapak sama Ibu," kata Arman dengan sangat menyesal, sebab ia buru-buru ingin segera menemui Ibunya dan ingin segera bertanya mengapa harus membawa Kinar ke pesta itu yang sudah jelas tidak ada hubunganya.


"Nggak apa-apa Mas, nanti saya sampaikan, hati-hati... jangan ngebut," pesan Tri, membuat Arman merasa bersemangat untuk menjalankan mobilnya.


Tri menatap mobil Arman hingga menjauh kemudian menarik napas panjang.


SULASTRI PoV


Aku harus kuat, karena aku bukan wanita lemah dan cengeng. Akulah yang akan melanjutkan cita-cita Kartini. Wanita tidak boleh di tindas, dan tidak boleh menyerah begitu saja dengan keadaan.


Setiap satu kata penghinaan Ibu Sulistyaningseh adalah, satu cambukan yang kuat, membuat aku bergerak maju untuk meraih sukses.


Aku harus bangkit, pendidikan S1 sudah aku raih, seminggu lagi perkuliahan S2 sudah mulai masuk. Akan aku gengam titel (M.E) Ya Allah lancarkanlah.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..."


"Eh Mbak Tri, sudah pulang?" tanya Ayu yang sibuk dengan jahitan bersama Herman dan Eti.


"Sudah Yu, Ibu kemana?" tanyaku sambil meneliti jahitan yang Eti buat, Eti masih penjahit baru jadi masih perlu bimbingan.


"Ada di dapur Mbak" Ayu menjawab sambil melipat satu gamis yang sudah selesai dia buat.


"Eti, hasil jahitan kamu sudah lumayan rapi, tapi di ketiak di perbaiki lagi ya, kayaknya agak kesempitan, jangan sampai yang memakainya nanti tidak nyaman, lalu kecewa," nasehatku pada Eti.


"Baik Mbak, terimakasih atas pelajarannya. Saya akan perbaiki," jawab Eti, justeru semangat tidak merasa marah ketika aku tegur.


Aku melangkahkan kaki ke dapur tampak ketiga adikku sedang berkumpul membantu Ibu membungkus keripik yang akan di jual bapak besok.


"Ciee cieee... yang sedang pergi berdua... baru pulang..." kelakar Ponco adikku yang masih SMK. Lantas semua menoleh saat aku, baru menginjakkan kaki ke dapur.

__ADS_1


"Meledek..." Aku remas rambut adikku gemas.


"Aaahhh... Mbak Tri jahil..." ucapnya berlebihan. Sementara Catur dan Sapto tertawa ngakak.


"Kamu baru pulang, Nduk?" tanya Ibu sambil menakar keripik tempe di masukkan ke dalam plastik.


"Iya Bu" Aku langsung bergelayut manja memeluk Ibu dari belakang, membuat Ibu terkekeh.


"Halaaah... orang masih manja begitu sih, pengen kawin," kali ini Catur yang meledek.


"Siapa juga, yang mau kawin sih Tur, ngacok," aku lempar adikku yang kata orang mirip aku itu, dengan kantong plastik yang aku buat gumpalan seperti bola.


"Oh iya, Kak Arman nggak mampir Mbak?" Sapto memetong candaan kami.


"Nggak, kenapa memang?" aku pandangi adikku yang wajahnya paling berbeda dengan kami, kata orang dia mirip kakek dari bapak.


"Yah... kalau mampir kan aku di kasih uang jajan Mbak, buat besok,"


"Apa? Seketika aku berdiri. "Jangan-jangan kalau Kak Arman ke sini, kamu suka minta jajan ya?" tudingku. Aku tidak pernah mengajari adik-adikku untuk meminta-minta.


"Bukan minta, tapi di kasih kok, iya kan kak Ponco?" Sapto minta dukungan.


Aku pandangi Sapto dan Ponco bergantian dengan mimik wajah kecewa.


"Rasain... kalian di omelin Mbak Tri kan?!" Catur meledek.


"Sudahlah Nduk, Ibu juga lihat kok, adikmu nggak minta, tapi dia memang dikasih," Ibu menengahi. "Ibu juga nggak pernah ajari anak-anak Ibu untuk minta-minta,"


Aku menarik napas berat. "Bukan begitu Bu, Tri hanya ingin, adik-adik tidak minta belas kasihan dari olang lain. Selagi kita kuat, harus berjuang dek, apapun yang kita dapatkan harus kita dapat dari keringat sendiri,"


"Benar tuh, kayak aku, nggak pernah kan? Aku minta-minta malah aku kerja sambil kuliah," potong Catur.


"Bukan begitu juga sih, Tur, kalau aku mengijinkan kamu kerja sambil kuliah, itu karena kamu memang sudah dewasa. Tapi aku nggak mau Ponco dan Sapto, bekerja kok, fokus belajar kalau pinter kamu bisa sekolah gratis, seperti aku, kan sekolah nggak pernah bayar dek,"


"Iya Mbak" kedua adikku semua menyesal.

__ADS_1


"Kalau masalah uang jajan, aku rasa kalian nggak pernah kurang deh, aku kasih tiap hari, Bapak juga. Mas Catur kadang-kadang juga ngasih kok," aku tatap adikku lama-lama kasihan juga, jika dipikir, anak dikasih uang jajan itu sudah biasa, tapi yang tidak, jika bu Sulis tahu bahwa keluargaku terima uang dari Arman seperak pun pasti akan mencak-mencak.


"Ya sudah, aku minta maaf ya, Mbak mau salin baju dulu," aku beranjak.


"Sama-sama Mbak" ketiga adikku kompak menjawab.


"Bapak kok belum pulang ya Bu? Ini kan sudah mau ashar?" aku baru ingat tidak ada bapak di rumah.


"Oh, Bapak sudah pulang Nduk, tapi tadi di undang genduren di rumah pak Dede, katanya syukuran anaknya," jawab Ibu membuatku lega. Aku ke kamar mandi, membersihkan badan yang terasa lengket, kemudian masuk ke dalam kamar, mengganti bajuku, setelah ashar nanti aku akan membuat pola.


Setelah rapi aku lihat jam masih jam setengah empat aku merebahkan tubuhnya padahal hari ini cuma ke undangan tidak kemana-mana, namun kenapa terasa capek sekali.


Tok tok tok.


"Masuk" ada yang mengetuk pintu, rupanya ibu yang masuk.


"Eh kamu mau tidur ya Nduk, kalau gitu... Ibu nggak jadi masuk deh," Ibu ingin kembali keluar.


"Bu, nggak kok. Sini-sini, aku cuma mau rebahan sebentar, terus, bantu anak-anak potong kain," Ibu kemudian duduk di samping ranjang di elus-elus tanganku dengan rasa sayang.


"Nduk, kamu ada apa? Tidak mungkin jika tidak ada apa-apa, kamu tadi memarahi adik-adikmu?" Ibu bertanya lembut, beliau pikir aku sedang ada masalah.


"Nggak ada apa-apa kok, Bu, memang aku tadi marah-marah? kan cuma menasehati,"


"Bukan begitu Nduk, soalnya tadi Dwi telepon catur, katanya Ibunya Arman ke Jakarta, apa mungki? Kamu tadi bertemu Dia?" feling seorang Ibu ternyata memang tepat.


"Ketemu sih Bu, tapi cuma sebentar, nggak sempat ngobrol sama beliau, soalnya pas aku mau pulang, BU Sulis, baru datang." aku menutupi tidak ingin Ibu berpikir macam-macam.


"Oh iya Bu, ngomong-ngomong Mbak Dwi, aku jadi kangen sama dia, kenapa... Mas Joko itu, nggak pernah ngajak dia kemari?" selama 4 tahun aku belum pernah bertemu Mbak Dwi lagi, bahkan dia lahiran saja, aku belum pernah bertemu anaknya.


"Ya Ndak bisa begitu Nduk, yang namanya sudah berumah tangga itu, harus menurut kata suami. Ndak boleh seenaknya," nasehat Ibu memang benar adanya.


"Apa lagi, pengasilan Joko itu, kan pas-pasan, Nduk." Ibu menyingkirkan rambutku di daun telinga, membuatku ingin menjadi anak kecil lagi.


"Beda lah, kalau sama Mas mu Eko, kalau dia sering mengajak istrinya mengunjungi Ibu, karena Mas mu itu yang punya kemauan.

__ADS_1


"Iya Bu,"


.


__ADS_2