Perjuangan Sulastri.

Perjuangan Sulastri.
Bab 53


__ADS_3

Setelah isya tetangga sekitar sudah bekumpul mendoakan Arman dengan Lastri, agar lancar hingga sampai hari pernikahan nanti, dan juga menjadi suami istri yang langgeng hingga maut memisahkan.


"Bu Sulis, pesan nasi box nya dimana? Enak sekali," puji bu Harun yang rumahnya bersebelahan dengan bu Sulis. Setelah selesai pengajian mereka makan nasi kotak tersebut. Sambil berbincang-bincang.


"He em... dagingnya empuk, menyerap bumbu, opor ayamnya juga empuk dan enak," bu Tuti menambahkan.


"Oh ya jelas saya yang memasak," jawab bu Sulis tanpa perasaan. Padahal Lastri duduk di sebelah mereka.


Lastri menoleh cepat menatap bu Sulis, tidak menyangka calon mertuanya bisa bicara begitu. Namun ya sudahlah, bagi Lastri mau di publikasi atau tidak masakanya yang penting sudah di restui untuk menikah dengan Arman saja sudah bersyukur. Karena inilah tujuan awal Lastri jauh-jauh datang kesini.


"Masa?" bu Harun tidak percaya, jika tetangganya ini bisa memasak seenak ini.


"Bu harun tidak percaya to, kalau makanan ini saya yang memasak." bu Sulis menatap bu Harun yang terkesan meremehkan, bu Sulis pun kesal.


"Bukan begitu, kalau yang memasak bukan bu Sulis, kalau ada acara nanti, saya mau pesan," sambung bu Harun.


Bu Sulis pun mendadak bungkam membuat bu Harun tertawa dalam hati.


"Nak Lastri, nanti menginap disini?" bu Harun mengalihkan.


"Tidak Bu, sebentar lagi saya mau pulang," jawab Tri sopan.


"Loh memang kenapa kalau menginap di sini?" tanya bu Harun lagi.


"Ya belum boleh lah... mereka kan belum menikah," bu Sulis yang menyahut.


"Oh soalnya, biasanya kan bu Sulis sering mengajak wanita menginap di sini," sindir bu Harun.


Bu Sulis melengos jengkel.


Melihat situasi yang semakin memanas debat antara bu Sulis dan bu Harun. Lastri kemudian mundur dari duduk nya menjauh dari tempat itu.


Lastri kemudian menulis sms pada Arman, minta ijin pulang, karena saat ini hampir jam sembilan malam, tidak banyak waktu ia harus bertemu dengan Eko dan Mbak Dwi, karena lusa sudah kembali ke Jakarta.


"Tri... kamu yakin? Mau pulang?" Arman tidak menyangka bahwa Lastri ingin pulang. Arman pikir, calon istrinya ini akan menginap di rumahnya.


"Iya Mas, aku sudah telepon Mas Eko, sebentar lagi Dia datang menjemputku," terang Lastri.


"Loh kamu ini! Kenapa musti telepon Mas Eko sih, cepat batalkan, aku antar pulang," Arman tak mau dibantah.

__ADS_1


"Ih nggak mau, aku pulang sama Mas Eko saja, lagian Mas Arman masih banyak tamu, tentu tidak sopan jika Mas meninggalkan mereka," Lastri beralasan.


"Cek! Kamu kenapa nggak menginap di sini saja sih Tri, pakai acara pulang segala," gerutu Arman tidak rela Lastri pulang. "Ya, menginap di sini ya, jangan khawatir, aku nggak akan ganggu kamu. Kamu nanti tidur di kamar Rini," Arman membujuknya.


"Sudah ihh, jangan ngedumel terus, tolong ambilkan ransel aku," Lastri terpaksa minta tolong, karena mau lewat banyak bapak-bapak. Ransel milik Lastri masih ia letakkan di kursi sofa saat datang tadi pagi.


Dengan terpaksa Arman ambil ransel milik Lastri tidak lama kemudian kembali dan menyerahkan kepadanya.


"Aku pulang ya, sampai besok," ucap Tri.


"Ih kamu! Sayang dulu dong, dikiit... saja," Arman memejamkan mata tepat di depan wajah kekasihnya. Tri kemudian menempelkan ransel ke wajah Arman sambil cekikikan.


"Uh kamu," Arman pura-pura kesal.


Lastri tidak lagi menghiraukan Arman, lalu mendekati bu Sulis. "Bu, saya pamit pulang dulu," Tri menyalami tangan bu Sulis.


"Iya, kalau mau membawa makanan untuk oleh-oleh Mbak mu, ambil saja di dapur," titah bu Sulis.


Lastri tersenyum senang mendengar perkataan bu Sulis. Bukan masalah makanan namun masalah perhatiannya. "Terimakasih Bu," Lastri lalu keluar lewat pintu belakang di ikuti Arman.


"Mas sampai besok," Tri melambaikan tangan ternyata Eko sudah menunggu di depan pagar.


"Maaf Pak Arman, bukanya saya tidak sopan, soalnya di dalam banyak orang, saya malu," jawab Eko apa adanya.


"Nggak apa-apa Mas," Arman menjawab singkat.


Setelah ngobrol sebentar Eko menjalankan motornya. "Pak Arman saya pamit, salam buat Bapak," kata Eko yang dimaksud adalah pak Burhan, mantan majikanya.


"Ya, nanti saya sampaikan, titip calon istriku ya," ucap Arman dan diangguki Eko kemudian berlalu.


"Mas Eko, ini motor siapa?" tanya Tri diantara suara derung motor.


"Punya Joko,"


"Em... berarti Mbak Dwi sudah di rumah ya?"


"Iya, Dia mau menginap, setelah di kabari Murni kamu datang Dwi langsung ke rumah,"


"Yai..." Lastri kegirangan.

__ADS_1


Mereka ngobrol ngalor ngidul sambil tertawa-rawa hingga akhirnya sampai di rumah.


"Mbak Dwi..." Lastri langsung memeluk kakak kandungnya hingga beberapa saat. Wajar jika mereka saling kangen, sudah enam tahun yang lalu mereka tidak bertemu. Lastri mengurai pelukan kemudian menyalami Joko suaminya Dwi.


"Mas Joko, apa kabar?"


"Alhamdulillah... baik Tri,"


"Mana keponakan aku?" Tri menanyakan anak Joko dan Dwi.


"Sudah bobo Dia," jawab Dwi. "Kamu kenapa nggak pernah pulang?" Dwi mendorong kening adiknya dengan jari. "Sejak bapak sakit ketika itu umur kamu baru 19 tahun loh, sampai sekarang menjadi perawan tua hihihi...." kelakar Dwi.


"Huh, Mbak Dwi yang kenapa? Nggak pernah nengok Bapak Ibu! Anak durhaka!" Tri memukul pelan lengan Dwi.


Mereka pun ngobrol panjang lebar.


"Ayo makan dulu, kami sengaja menunggu kamu loh," sela Murni di antara obrolan.


"Kruukk... kruukk..." suara perut Tri, keroncongan membuat gelak tawa kakaknya.


Tri baru ingat, ia hanya makan tadi pagi di bandara tentu perutnya lapar. Walaupun memasak setengah hari Lastri sudah tidak ingin makan di rumah Arman.


"Tadi Murni, masak sayur lodeh, kesukaan kamu Tri," Eko menambahkan.


"Baiklah aku juga lapar kok," Lastri beranjak di susul Murni, mereka makan lesehan di tikar.


"Oh iya aku sampai lupa," Tri ambil baju dalam tas.


"Ini aku buatkan baju untuk kalian," Tri memberikan kemeja yang ia jahit sendiri untuk Eko dan Joko, kemudian gamis untuk Dwi dan Murni.


"Terimakasih ya Dek," seru mereka masing-masing mencoba pakaian.


"Sama-sama. Oh iya nanti kalau aku nikah Mbak sama Mas harus datang loh, nanti sewa mobil saja dari dini, terus sampai di Jakarta aku yang bayar," Tri bersemangat.


"Memang kapan kalian mau menikah?" Eko menatap Tri ada rasa haru, setelah sekian lama adik perempuan keduanya ini akhirnya akan menikah juga.


"Sekitar dua bulan lagi," Lastri menutup obrolan. Mereka lantas tidur.


Tri merebahkan tubuhnya di kasur lepek, masih yang dulu, seharusnya sudah tidak layak untuk di pakai. Namun Tri senantiasa bersyukur atas rezeki yang Allah berikan.

__ADS_1


.


__ADS_2