Perjuangan Sulastri.

Perjuangan Sulastri.
Bab 34


__ADS_3

"Selamat pagi Pak Arman," sapa Adnan mengurai senyum, menganggukkan kepala sopan.


"Selamat pagi!" ucap Arman, kemudian mengedarkan pandangan.


"Kemana Lastri?" Arman merasa heran, perasaan hanya di tinggal menutup pintu mobil sebentar, tapi Tri sudah menghilang.


"Itu Dia Pak," Adnan menunjuk Tri yang sudah berjalan ke arah ruang guru dengan keadaan masih sedikit pincang.


"Oh, saya duluan Adnan" ucap Arman kemudian mengejar Tri. Adnan tersenyum menatap Arman dari belakang. "Semoga berjodoh dengan Lastri Pak Arman, cukup saya saja, yang menerima pernikahan paksa," Adnan berbicara lirih tentu tidak ada yang mendengar lalu masuk ke dalam mobil.


*******


"Tri, kamu sakit ya?" tanya Sundusyah. Sundus sengaja menunggu Lastri, ketika Lastri berjalan ke arah yang sama, terlihat dari kejauhan.


"Keseleo sedikit Sun" Jawab Lastri. Mereka kini berteman, jika tidak ada murid-murid mereka memanggil nama seperti teman pada umumnya.


"Lihat Tri, pangeran tampan, aku datang," cicit Sundus menunjuk Arman yang sedang berjalan cepat kearahnya.


Tri hanya, tersenyum tidak menimpali.


"Tri, menurutmu... kalau perempuan nembak cowok, pantas nggak, sih?" Sundus menoleh Tri yang sedang berjalan bersamaan.


"Tergantung Sun, setiap orang mempunyai persepsi yang berbeda. Wanita itu kodratnya menunggu, jadi gengsi kalau mengutarakan lebih dulu. Maka mereka lebih memilih memendam perasaannya," Tri berpendapat.


"Tapi... tidak sedikit pula, wanita yang mengakui terang terangan.Toh tidak ada salahnya kan, jika wanita itu mengungkapkan perasaan cinta lebih dulu," tutur Tri panjang.


"Nah, untuk kamu sendiri, bagaimana?" tanya Sundusyah.


"Kalau aku sendiri, lebih baik menunggu, karena aku lebih senang dicintai, daripada mencintai, tapi... Kalau bisa sih, saling" tegas Tri.


"Waah... berarti, kamu akan menerima cinta nya Pak Mus dong," tebak Sundusyah. Tri menjawab dengan senyum.


"Berarti... nggak apa-apa ya, kalau aku nembak Arman?" tanya Sundus tersipu malu.


"Silahkan saja," jawab Tri. Tidak terasa mereka sampai tujuan.


"Assalamualaikum..." dengan tertatih-tatih Tri menghampiri guru yang lain, Sundus mengekor.


"Waalaikumsalam..."


"Bu Tri, kenapa kaki nya?" Mustofa terperangah, kala menatap pujaan hati, kakinya di perban, apa lagi sampai pincang. Mustofa bertanya seraya berjalan cepat menghampiri Lastri.

__ADS_1


"Iya, kok sampai pincang begitu?" imbuh Nuryahman.


"Kekilir, tapi sudah lebih baik kok pak, Bu," Tri menyahut, ketika Mustofa ingin membantunya duduk, Tri menghindar.


"Sudah ke dokter, Tri?" bu Dedeh pun mendekat.


"Tidak Bu Dedeh, sudah di urut kok, tukang urutnya hebat, selesai di urut langsung bisa buat jalan, padahal tadinya kaku, tidak bisa memijak" tutur Tri ingat tukang urutnya seraya tersenyum.


Tri di kerubungi para guru pria dan wanita,


tanpa Tri sadari, Arman yang baru masuk mendengar pujian itu merasa di awang-awang. Arman tersenyum menatap kerumunan kemudian berjalan menuju loker meletakkan buku.


"Kalau masih sakit, kenapa masuk Tri?" pak kepsek yang sejak tadi diam turut bertanya.


"Kasihan anak-anak Pak, lagian sudah tidak ada masalah," kata Lastri. Selagi masih bisa melakukan aktifitas Tri tipikal wanita yang kuat dan tidak manja.


Tak tak tak.


Derap langkah kaki beralaskan sepatu berjalan cepat, tanpa mengucap salam. Suasana menjadi tegang. Semua guru tahu, Bella adalah tunangan Adnan putra pemilik sekolah. Hingga semua guru tidak ada yang berani basa basi kepadanya.


"Ada apa ini? Bergerombol seperti menonton topeng monyet," Sinis Bella melirik Tri geram. Semua guru lantas berdiri ketakutan, tidak ada yang berani menjawab.


Lastri pun turut beranjak, tapi bukan karena takut dengan Bella. Melainkan ingin segera masuk kelas karena sebentar lagi bel berbunyi.


Bella berjalan ke arah kursi yang biasa ia duduki. Ia sengaja menabrak Sundusyah, yang bertubuh kurus itu dengan pundak. Namun, Sundus berhasil menghindar, dan justru Bella yang menabrak kursi di belakang Sundus.


Bruk.


Bella jatuh tersungkur, dahinya membentur kursi. Semua mata pun menatapnya termasuk Tri dan juga Arman.


"Kurang ajar! kamu Sun, berani mendorong saya!" tuding Bella. Arman yang sudah duduk di dekat pak Mustofa menatap tingkah Bella, geleng-geleng kepala. Rupanya mantan mahasiswi nya ini tidak bisa merubah sifat aroganya.


Sundus tidak berani menjawab, tatapan mata Bella yang terlihat horor menciutkan nyali Sundus. Ternyata tidak hanya di kampus Bella selalu di takuti. Tetapi di sekolah pun sama.


"Apa benar kamu mendorong Bella Sun?" Kepsek memecah ketegangan.


"A-annu, Pak" Sundusyah terbata-bata rasanya ingin jujur, tapi takut berurusan dengan Bella sudah pasti berbuntut panjang.


"Sundus, katakan," tegas Kepsek.


"Benar Pak, dia sudah berani mendorong saya, saya akan laporkan agar wanita krempeng ini di pecat!" Bella bangun, mengusap-usap bokongnya yang terjerembab di lantai, lantas memegangi dahinya yang membentur kursi.

__ADS_1


"Bu Bella bohong Pak, yang dikatakan itu tidak benar," Tri menjawab dengan lantang.


"Kamu!" sinis Bella menatap Lastri tajam.


"Benar Pak, saya yang melihat kejadian yang sebenarnya, tadi Bella yang justru menabrak bu Sun." Tri menambahkan.


"Benar Pak, tadi saya juga melihatnya," Arman menimpali. Bella merasa kesal kemudian membawa buku keluar dari ruangan. Semua guru pun menuju kelas masing-masing.


********


"Kenapa sih Pa, Bella harus diberi kepercayaan memegang yayasan?" Adnan berdebat dengan sang papa di mansion.


"Memang kenapa Adnan? Toh Bella itu calon istrimu, lagi pula, kalian sebentar lagi akan nenikah," Achmad menjawab.


"Papa harus tahu, Bella menekan semua guru, dan Siswa, jika Papa tidak cepat ambil tindakan kita akan kehilangan banyak Guru," tegas Adnan. Sudah ada lima guru yang keluar lantaran tidak kuat dengan sikap Bella yang sok berkuasa.


"Nah, itu tugas kamu Adnan, harus bisa merubah Bella, menjadi wanita yang baik," Achmad menjawab enteng.


"Merubah Bella Pa? Tidak semudah yang Papa bayangkan, Bella itu seperti ular, dipegang kepala ekornya melilit, dipegang ekornya, kepalanya menggigit," tukas adnan.


"Ada apa sih ini... tiap hari berdebat terus..." mama Fatimah, wanita anggun berhijab syari itu membawa kudapan untuk suami dan putranya.


"Papa ini Ma, gara-gara Bella, Papa sekarang berubah, mana Papa aku yang welas asih, mengagungkan kemanusian?" cecar Adnan.


"Apa maksudnya Adnan?" tanya mama Fatimah lembut.


"Karena Papa mempercayakan yayasan pada wanita seperti Bella. Bella merubah aturan yang sudah ada Ma," Adnan benar-benar kesal.


"Hanya karena ingin mendapat keuntungan banyak, Bella mengeluarkan beberapa siswa, padahal semua tahu, karena krisis moneter banyak karyawan yang kena PHK Ma," adu Adnan pada mamanya.


"Benar begitu Pa?" mama Fatimah bertanya lembut.


"Jelas Papa tidak akan bisa menjawab Ma, Adnan malu, menurut laporan TU, karena ada salah satu guru yang tidak ingin siswinya di keluarkan, ia rela melunasi tagihan SPP dengan uang pribadinya padahal Dia sendiri kesusahan." Adnan memijit pelipisnya.


"Dan Mama harus tahu, guru itu adalah Lastri."


"Lastri?" mama Fatimah terkejut.


"Iya Ma, padahal Mama tahu sendiri, Lastri yang begitu kekurangan uang, ia sampai merelakan tabungannya yang harusnya untuk membiayai ketiga adiknya Ma,"


Mama Fatimah menatap suaminya hatinya mencelos, jika bukan karena berhutang nyawa dengan Papa Bella. Mama akan menentang keras perjodohan putranya. Yang sudah membuat keluarganya yang adem ayem kini menjadi panas setiap hari.

__ADS_1


.


__ADS_2