
"Ngajar Kak, apa aku bisa?" Tri rupanya kurang percaya diri.
"Tri, apa yang tidak bisa kamu lakukan, kamu ini wanita hebat yang bisa melakukan apapun," puji Adnan. Memang benar adanya. Adnan mengenal Tri lebih dari Arman. Lastri perempuan tidak mengenal lelah, saat sekolah SMK pun Tri bekerja sambil sekolah.
"Ah! Kakak berlebihan" Tri hanya tersenyum.
"Ya, mau ya Tri. Sayang kan kamu mendapat Indeks Prestasi (IP) tertinggi, jika tidak kamu bagi ke orang lain," Adnan meyakinkan.
"Tapi bagaimana aku membagi waktu Kak? sebab aku mendapat beasiswa lanjut S2. Dan kesempatan ini tidak akan aku sia-siakan" Tri bersemangat.
"Aku tahu Kok, masalah itu... kamu tinggal atur waktu, Al INNAYAH kan ada kelas sore kamu tinggal atur Jadwal." kukuh Adnan.
Tri kemudian mengangguk. "Tunggu Kak, darimana Kak Adnan tahu, kalau IP aku tertinggi?" Lastri merasa aneh, padahal Tri belum cerita.
"Aku tahu semuanya, selama kamu kuliah di situ, tapi yang aku tidak tahu justru ketika kamu keluar dari kampus yang dulu" Adnan penasaran akan hal ini.
"Tri, kenapa kamu tiba-tiba pindah dari kampus Papa aku. Padahal, kamu waktu itu sudah mendapat satu semester? apa karena Arman?" pertanyaan ini sudah Adnan pendam selama tiga tahun lebih.
Mendengar Arman disebut, Tri bergeming. Walaupun memang benar itu salah satunya penyebab Tri memilih pindah. Tri tidak ingin berbagi dengan siapapun termasuk Adnan yang sudah Tri anggap seperti kakaknya sendiri.
"Tidak ada apa-apa Kak, aku hanya merasa tidak pantas kuliah di tempat itu" wajah Tri, berubah sendu, jika mengingat ketidak adilan di kampus tersebut.
Awalnya Tri mencoba melawan orang yang bertindak semena-mena. Namun walau bagaiamana, Tri tetap wanita biasa, walaupun bersikap seperti super women. Toh, tidak akan mampu mengubah sifat manusia yang sudah tidak punya akhlak baik sejak lahir.
"Sebenarnya bukan tidak pantas kamu kuliah di situ, tapi kamu sendiri yang merasa seperti itu.Tahu nggak Tri, setelah kamu pindah tidak hanya aku yang merasa kehilangan." Adnan menatap Lastri yang mendengarkan dengan seksama.
"Baru beberapa bulan kamu kuliah di sana, kamu membangkitkan kepercayaan diri para mahasiswa yang lain, karena kamu berani menegakkan kebenaran." tutur Adnan panjang lebar.
"Aku rasa, tidak usah membicarakan hal ini lagi, Kak, yang jelas, selama aku kuliah di kampus yang lain, aku merasa di orangkan," Lastri mengakhiri obrolan karena waktu sudah sore Adnan pun pamit pulang.
******
Dua minggu kemudian, Tri berbicara dengan ketiga karyawannya yang membantunya menjahit. Ia membicarakan niatnya untuk mengajar.
"Jadi... kita berhenti menjahit Mbak?" Ayu tampak sedih.
__ADS_1
"Tentu tidak Yu, jahitan ini saya percayakan pada kalian, jika perlu, cari orang satu lagi untuk menggantikan saya" titah Tri.
"Alhamdulillah... saya pikir saya di suruh berhenti" kata Herman.
"Hehe... kalian ini, tidak mungkin lah. Menjahit adalah; cita-cita saya sejak kecil, dengan mesin ini bisa mengantarkan saya menjadi seperti sekarang, akan berpikir seribu kali jika saya meninggalkan profesi saya ini" tutur Tri seraya mengusap besi tua yang pertama kali ia gunakan untuk mencari rezeki. Besi pemberian bu Yani dimana ia kontrak rumah dulu.
Mengingat bu Yani. Tri menjadi kangen dan suatu hari nanti akan berkunjung kerumahnya.
"Saya akan membantu kalian dari belakang, mencari klien semoga suatu saat nanti kita bisa mendirikan konveksi" doa Tri bersemangat.
"Tapi... Mbak Tri, masih sempat membuat pola kan? Kami tidak bisa menggambar, loh" jujur Ayu.
"Jangan berkata tidak bisa Yu, tapi belum bisa. Jika kamu berkata tidak bisa, itu artinya kalian memang benar-benar tidak bisa. Tapi kalau belum bisa, sekarang lah saatnya kalian harus belajar, gunakan waktu kalian selagi masih muda! Ngerti kan maksud saya" nasehat Tri.
"Ngerti Mbak." jawab mereka serentak.
Keesokan harinya dengan semangat 45. Tri naik angkutan umum menuju sekolah. Hari ini tiba lah saatnya. Ia terjun ke dunia yang belum pernah ia lakukan. Tekatnya sudah bulat akan menjadi guru yang profesional.
"Assalamualaikum..." saat Tri masuk ke ruang guru ternyata sudah banyak guru yang berkumpul, karena hari ini hari senin akan mengadakan upacara.
"Kamu bukanya alumni SMK sini ya?" tanya bu Dedeh. Guru senior yang sudah belasan tahun mengajar di sini. Beliau dulu pernah menjadi wali kelas Lastri.
"Betul Bu Dedeh, saya Sulastri." Tri tersenyum ramah kontan menatap semua guru yang rata-rata mengenakan seragam.
Sementara Lastri karena belum mendapatkan seragam. Walaupun baju yang ia kenakan bukan baju yang mahal. Ia cukup percaya diri, berkenalan, dan menyalami semua guru perempuan satu persatu, dan menangkupkan tangan untuk guru laki-laki.
"Kamu lulusan tahun berapa?" tanya salah satu guru yang belum lama menjadi guru di yayasan ini, yang bernama Sundusyah.
"Tahun 1999 Bu" jawab Tri.
Bu Sundus hanya mengangguk-angguk.
"Waah... cantik banget" kata Mustofa, guru matematika yang tidak jauh dari tempat itu ia duduk berhadapan dengan Nuryahman guru akidah.
"Ah Ente" sahut Nuryahman yang mengenakan baju koko dan kopiah beliau mengajar di pondok pula.
__ADS_1
Mustofa terkekeh namun matanya tidak ingin berpaling dari wajah Tri.
Merasa diperhatikan Tri mengalihkan pandangan ke samping.
"Bu Lastri, Pak kepala Yayasan ingin berbincang-bincang dengan Ibu" kata guru bk yang baru saja masuk.
"Baik Pak. Saya tinggal dulu Bu" pamitnya kepada bu Dedeh dan bu Sundusyah, dan hanya di iyakan oleh keduanya. Lastri melangkah gontai mencari ruangan kepala yayasan.
Ia menelisik satu persatu ruangan dan hanya ruangan HRD yang pernah ia kunjungi saat tempo hari di wawancarai. Walaupun Tri menjadi guru di sini putra pemilik yayasan yang membawa. Namun Tri harus tetap mengikuti prosedur yang berlaku di sekolah ini.
Setelah menemukan ruangan kepala yayasan, Tri masuk ke ruangan.
"Assalamualaikum..." Lastri berdiri di depan pak kepala yayasan, pria yang sudah tua. Wajar, saat Tri SMK pun pak kepala yayasan memang sudah tua.
"Waalaikumsalam" pak kepala mendongak, manatap Tri lalu beliau mempersilahkan duduk dan mengajukan beberapa pertanyaan.
Puas dengan jawaban Tri, apa tujuannya mengajar dan apa yang harus di lakukan. Kepala yayasan mempersilahkan Tri keluar.
Ceklak.
Tri baru menginjak satu lantai, ketika keluar dari pintu. Sosok pria berusia 31 tahun yang pernah mengisi ruang hatinya, dan sudah hampir 4 tahun tidak ia jumpai kini berdiri di hadapannya. Siapa lagi jika bukan Arman.
Keduanya saling diam terpaku di tempat masing-masing. Yah dunia ternyata memang sempit. Tri tahu, jika sejak dulu memang Arman pernah mengajar di sini, dan sempat menjadi wali kelas. Tidak hanya itu Arman yang telah berhasil melelehkan hatinya. Namun tidak Tri sangka ia kembali bertemu di sini.
"Oh berpikir apa aku? bukankah Arman sudah menikah? batin Tri.
"Bu Lastri mengajar di kelas 3, A. Ya?" Mustofa memecah kesunyian.
"Betul, Pak Mus" jawab Tri gugup.
"Kebetulan, kelas kita bersebelahan mari Bu"
Mereka berjalan bersama menuju kelas yang di tuju. Meninggalkan Arman yang bergeming.
.
__ADS_1