Perjuangan Sulastri.

Perjuangan Sulastri.
Bab 51


__ADS_3

Setelah kepergian bu Sulis. Tri tidak ingin banyak berpikir, waktu yang singkat ini, harus ia gunakan dengan semaksimal mungkin agar semua selesai tepat waktu.


Mengapa perjalanan cintanya seperti kisah dalam dongeng dimana seorang pria yang ingin mendapatkan cinta seorang wanita, namun harus membuat bendungan dalam waktu semalam?


Lastri membuka kulkas mengeluarkan satu baskom daging, dan satu baskom ayam. Tri masih bersyukur kedua bahan masakan ini sudah dalam keadaan bersih.


Tri meletakkan baskom kemudian keluar sebentar melalui pintu belakang. Matanya memindai sekeliling. Lastri tersenyum kala mata jelinya menangkap pohon pepaya tinggi memang. Tri mengangkat rok panjangnya ke atas hingga tampak celana panjang di dalam rok.


Dengan pohon yang bergoyang karena lentur, Tri tidak gentar memanjat pohon tersebut. Setelah sampai di atas, Tri memetik tiga lembar daun pepaya yang agak muda, kemudian merosot ke bawah.


Tri kembali ke dapur segera mencuci daun pepaya agar hilang debunya lalu membungkus daging agar cepat empuk.


Tri mengeluarkan tiga butir kelapa kemudian berjalan ke rak piring mencari parut dan baskom. Setelah membaluri ayam kampung dengan jeruk nipis.


"Semangat Tri," ia menyemangati dirinya sendiri.


Tangan putihnya segera memarut kelapa, memeras santannya memisahkan yang encer dan yang kental.


Tri melirik jam sudah jam 12 siang berarti sudah satu jam ia bergijabu di dapur.


Tri segera mengupas bawang merah, bawang putih, jahe, kunyit kemudian menambahkan rempah yang lain.


Tri menumbuknya setelah halus, memindahkan bumbu ke dalam mangkok. Dua mangkok bumbu opor dan rendang ia pisahkan. Tri kembali menatap jam sudah jam 12 lebih 15 menit.


Tri meninggalkan dapur ke ruang tamu tampak sepi. Ia ambil mukena dari rangsel kemudian menjalankan shalat dzuhur dulu dengan khusyu.


Selesai sholat, Lastri kembali ke dapur ambil dua penggorengan meletakan di atas kompor kemudian ambil spatula.


Ia mengedarkan pandangan mencari bahan yang bisa untuk menutup bajunya agar tidak kotor. Tri tersenyum sendiri kala menatap celmek yang di sangkutkan di paku entah milik siapa. Ia segera menyandak benda tersebut kemudian memakainya.


Dengan semangat 45 Lastri kemudian menumis bumbu memasukan daging setelah wangi, ia tambahkan bumbu yang dimemarkan kemudian menuangkan santan encer.

__ADS_1


Menunggu daging mendidih Lastri menumis bumbu opor memasukkan ayam cara memasaknya hampir mirip dengan rendang tadi.


Setelah dua masakan nangkring di atas kompor dan mendidih Lastri mengecilkan api.


Tri tidak tahu jika dibalik tembok, Simbok sedang mengintai dengan perasaan iba. Tetapi simbok sudah di ancam oleh bu Sulis agar jangan membantunya.


"Ah sebaiknya aku temui Den Arman," gumam simbok sambil melangkah ingin ke perkebunan. Simbok berniat memberi tahu Arman agar membujuk bu Sulis, semoga simbok diijinkan membantu Tri.


Namun gumaman simbok terdengar bu Sulis.


"Mau kemana Mbok?!" todong bu Sulis menghalangi langkah simbok.


"Em... anu, anu Nyonya," simbok gugup menjawabnya.


"Jangan coba-coba memberi tahu Arman, jika kamu masih ingin bekerja di sini!" ancam bu Sulis.


"Baik. Nyonya," simbok pun masuk, merasa ngeri menatap mata bu Sulis. Simbok memilih kembali ke ruang setrika melanjutkan pekerjaannya.


Bu Sulis kemudian keluar menyusul anak, dan suaminya akan mengulur waktu agar Arman dan suaminya tidak cepat pulang. Jika ketahuan ia mengerjai Lastri ia pasti akan kena damprat oleh keduanya.


Sementara Lastri di dapur, ia sudah selesai membuat bumbu bacem, lalu memotong tempe, dan tahu, menyusunnya kedalam kwali. Ia letakkan bumbu di atasnya, kemudian di tuangi air.


Tri sempat bingung masak ayam dan daging agar empuk dan menyerap bumbu paling tidak dua jam. Sedangkan tempe bacem pun memakan waktu yang cukup lama. Sementara kompor nya hanya dua tungku.


Lastri menatap kompor, beralih menatap kwali merasa gusar. Jika sudah begini Tri harus keluar dulu agar dapat inspirasi.


Lastri keluar kembali membuka pintu belakang. Mata sayunya menangkap tumpulan bata. Bukan Tri, jika tidak mempunyai akal. Lastri berjalan mendekati bata.


Ia ambil beberapa bata, kemudian menyusun kiri kanan menyerupai tungku. Lastri ambil kayu bakar yang ditumpuk di belakang rumah, lalu meletakakan kayu bakar di tengah tungku.


Lastri kembali ke dapur mencari-cari korek, setelah menemukan benda tersebut, ia kembali ke belakang menyalakan kayu. Setelah menyala, Lastri ambil sabun colek dari kamar mandi yang terletak di dapur.

__ADS_1


Lastri mengoleskan sabun colek ke pantat kwali agar memudahkan untuk mencucinya agar kembali bersih. Jika sampai kwalinya cemong tentu ia akan kena damprat bu Sulis.


Tri menangkringkan kwali ke atas bata senyumya merekah.


Tiga masakan sudah dalam proses, Lastri meninggalkan dapur menunggu bacem sesekali membetulkan posisi kayu bakar agar jangan sampai mati, dan jika kayu sudah hampir habis Lastri menambahkan.


Lastri memang selayaknya super women bolak balik samping rumah dan dapur agar masakan tidak ada yang gosong sambil menyiapkan sayuran untuk urap dan membuat bumbu.


Dua jam kemudian, jam tiga sore tiga masakan sudah matang. Tri kemudian kembali ke dapur membuat bumbu urap dan merebus sayuran.


Setelah matang Tri menggoreng kerupuk dan bacem. Meletakan bacem yang sudah kekuningan ke dalam baskom.


Tetap jam empat sore semua masakan sudah matang Tri melaksanakan shalat ashar. Namun keadaan ruang tamu masih sepi. Entah kemana perginya Arman sejak jam 11 tadi tidak menampakkan batang hidungnya.


"Alhamdulillah... semua masakan akhirnya selesai juga," Lastri tersenyum berbicara sendir sambil memandangin hasil karyanya yang sudah ia dinginkan ke dalam baskom.


Paling akhir Lastri menanak nasi, untuk memudahkan ia menyalakan dua kompor sekaligus. Yang satu untuk mengukus beras dan satu lagi untuk merebus air.


Sambil menunggu nasi matang, Lastri kemudian mencuci semua perabot dapur, yang menggunung, ditambah lagi semuanya berlemak bekas rendang, opor, bacem, urap yang semuanya mengandung kelapa. Jika ditanya capek? Tidak perlu diucapkan tentu sudah pasti. Namun inilah bentuk dari perjuangan cinta nya.


Semua piring bersih Tri lantas mengelar tikar di dapur saat ini sudah jam lima sore sedangkan kardus masih belum di bentuk kubus.


Lastri melipat kardus untuk nasi box. Namun mengapa setelah duduk kantuk menyerang.


Lastri menyandarkan kepalanya di tiang rumah kayu jati yang tebal kemudian memejamkan mata.


Bayangkan saja ketika di Jakarta sebelum ia tinggal ke kampung halaman. Lastri harus mengecek laporan tentang keuangan butik, dan konveksi hingga larut, belum lagi, ia bangun pagi-pagi sekali dan sama sekali belum istirahat.


******


Akankah? Lastri mampu menyelesaikan tugasnya?? 😭😭😭. Jangan kemana mana dulu gaes. Ikuti terus.💪💪💪

__ADS_1


.


__ADS_2