Perjuangan Sulastri.

Perjuangan Sulastri.
Bab 59


__ADS_3

Lastri masuk ke kamar Arman yang pertama kali hidungnya langsung menghirup aroma parfum ruangan yang di sebarkan oleh AC membuat betah siapapun yang berada di kamar itu. Lastri kemudian duduk di sofa memindai sekeliling kamar.


Tetapi Tri merasa resah gelisah menunduk menopang dagu, menarik napas berat. Ia merasa delima. Betapa tidak? Ia boleh senang sekarang bisa menjadi istri Arman, tapi bagaimana dengan mertuanya?


Jika boleh memilih, Tri tentu tidak ingin tinggal di rumah Arman. Lebih baik tinggal di rumah sendiri, walaupun sangat sederhana, tetapi keluarganya sangat hangat tidak sekalipun ada konflik, berbanding terbalik dengan keluarga Arman yang selalu diwarnai ketegangan tiap kali berkumpul. Namun saat ini ia adalah istri Arman, dan harus ikut kemana pun suaminya pergi. Tetapi bagaimana jika bu Sulis suatu saat datang dan. Aahhh... pikiran Tri benar-benar penuh dengan pikiran negatif.


"Heee... kok kamu melamun?" Arman yang baru dari toilet mengusap kepala istrinya yang masih tertutup hijab.


"Ini kamar kita, kamu suka nggak? Kalau kamu nggak suka warna cat, dan lain sebagainya, nanti aku bisa rubah seperti yang kamu mau" kata Arman sambil melepas jaket kemudian menggantung nya dengan hanger.


"Nggak... aku suka kok," Tri menutupi ke kegundahan hatinya.


"Rumah ini yang beli Mas sendiri, atau Ayah?" pertanyaan ini terlontar dari mulut Tri, karena Lastri tidak ingin di anggap menantu yang menikmati fasilitas orang tua Arman dan ujung-ujungnya bu Sulis akan mengecap Tri menikah dengan Arman hanya ingin hartanya saja.


"Kenapa kamu tanyakan itu?" Arman duduk di sofa sebelah Lastri.


"Mas... terus terang aku mau jujur, apa tidak sebaiknya kita tinggal di rumah aku saja,"


"Apa?" potong Arman cepat.


"Bukan begitu Mas, aku takut jika tinggal di rumah Mas, nanti asumsi orang pasti akan mengira aku ini wanita materialistis, aku nggak mau Mas,"


"Asumsi orang siapa yang kamu maksud? Ibu kan?" tanya Arman.


Tri mengunci bibirnya rapat.


"Tri... wajar jika kamu tinggal bersamaku, karena aku ini suami kamu, yang benar saja. Masa, aku malah di suruh tinggal sama kamu," Arman geleng-geleng.


"Tapi, Mas..."


"Sayang... sudahlah..." potong Arman menyandarkan kepala Tri di pundaknya. "Jangan khawatir Tri, rumah ini aku beli sendiri dengan jerih payahku, kamu saja bisa kan membeli rumah bahkan sampai bisa menampung keluarga besarmu, masa aku sebagai kepala rumah tangga tidak bisa membeli rumah untuk istriku," tutur Arman.


"kamu tahu nggak? Ketika aku membeli rumah ini, rumah ini tidak layak pakai, seketika aku ingat kamu kemudian aku bongkar dan aku perbaiki seperti rumah impian kamu,"

__ADS_1


"Rumah impian aku? maksudnya," Lastri kaget lalu bangun dari pundak Arman.


"Kamu ingat nggak? Ketika kamu SMK, tas kamu jatuh dari meja, lalu isinya berantakan, dan saat kamu membereskan buku harian kamu tertinggal di kolong meja, terus aku ambil," Arman tersenyum mengingat kala itu.


"Apa?!" Tri terkejut. "Jadi... Mas, membaca buku harian aku?" Tri menatap Arman tidak percaya.


"Hahaha... iya, sebenarnya aku tidak berniat membaca, aku simpan buku itu. Tapi ketika kita gagal menikah 5 tahun yang lalu, aku rindu sama kamu Tri, karna kamu pergi tanpa jejak, saat itu aku mulai membaca buku harian kamu yang aku selalu simpan di tas,"


"Iihh... lancang!" Tri cemberut berarti Arman selama ini tahu rahasi pribadinya. Padahal buku itu kembanyakan ia tulis tentang kisah cinta nya dengan Arman Lastri malu mengingatnya.


"Sudah... jangan cemberut nanti aku gigit bibirku," Arman mengecup bibir istrinya lembut.


"Intinya, kamu pernah menulis, ingin bekerja keras, agar bisa membelikan rumah yang layak untuk ibu kamu. Nah, seketika aku membetulkan rumah ini dan aku buat sesuai keinginan kamu," tutur Arman panjang lebar. Awalnya rumah itu ingin Arman berikan kepada orang tua Lastri. Tetapi ketika Arman pulang berniat menemui keluarga pak Suryo, ternyata rumahnya di kampung sudah tidak ada penghuninya.


"Untung rumah ini tidak jadi Mas berikan, jika sampai itu terjadi, apa tanggapan Ibu tentang aku Mas," Tri merasa ngeri. Lagi pula keluarga Lastri tidak akan mungkin mau menerima.


"Ya sudah... sekarang kita jangan pikirkan macam-macam, yang penting kamu dan aku, jangan pikirkan orang lain,"


"Tri... maafkan ibu ya, sampai membuat kamu trauma seperti ini." Arman menatap Lastri sendu.


Melihat suaminya sedih Tri pun akhirnya mengalihkan pembicaraan. "Oh iya Mas, aku ke bawah dulu ya," tanpa menunggu jawaban Arman, Lastri kemudian meninggalkan Arman ke dapur.


"Non" sapa Inem yang sedang membereskan sayuran di kulkas mendengar tapak kaki lalu menoleh.


"Di kulkas ada apa Mbak? Saya mau memasak untuk makan siang," kata Lastri bersemangat.


"Banyak sih Non, tadi pagi-pagi sekali saya sudah belanja ke pasar, tapi biar saya saja yang memasak" kata Inem.


"Biar saja, mumpung masih libur, nanti kalau sudah mulai mengajar, mulai ke butik, waktu masak nggak ada Mbak," terang Lastri.


"Mas Arman suka masakan apa Mbak?" tanya Tri memindai kulkas.


"Gurami bakar, sambal terasi, terus lalap sayur yang di rebus, Non," jawab Inem.

__ADS_1


"Oh" jawab Lastri singkat kemudian memasak, satu jam kemudian sudah matang.


"Waah... makan masakan istri ini yang pertama pasti enak," Arman mengulas senyum.


"Kalau nggak enak bagaimana?" tanya Tri seraya menyendok nasi ke piring suaminya.


"Pasti enak, jangankan hanya ikan goreng, kamu masak yang susah saja bisa," maksud Arman ketika Lastri diberi persyaratan oleh ibunya dua bulan yang lalu.


Meraka kemudian makan dengan lahap, Arman sampai nambah.


Sore harinya pasutri itupun membuka kado di kamar sambil tertawa geli ketika Arman membuka kado lingerie dari Sundusyah.


Tibalah saatnya Lastri membuka kado dari mertuanya yang di berikan ketika dua bulan yang lalu. "Mas aku takut, kira-kira apa isinya ini" Tri membolak balikkan kado dengan perasaan cemas.


"Buka saja Tri, kalau kamu takut, sini aku yang buka,"


"Bismillahhirahmanirahim..." Tri merobek kertas kado yang berwarna keemasan itu, sedikit demi sedikit hingga tampak kardus di dalamnya, kemudian membuka lakban.


Brak!


"Maaass..." Tri melempar kado ke tembok kemudian merangkul tubuh Arman.


"Ada apa sayang? Apa isi kado dari Ibu?" Arman memandangi kado yang tergeletak.


"Aku takut Mas, apa maksud ibu?" Tri melepas rangkulannya, kemudian Arman ambil kado tersebut lalu membuka hingga lebar.


"Astagfirrullah... apa sih, maksud Ibu?" Arman tidak mengerti sebab isi kado tersebut berisi tikus yang sudah mengering. Jika di buka ketika itu, tikus tersebut entah sudah dalam keadaan bangkai atau masih hidup hanya bu Sulis yang tahu.


"Apa artinya ini Mas? Apa salahku, Mas?" Tri menggoyang tangan Arman, air mata nya tidak bisa ia bendung. Gadis yang biasa kuat dan tegar siap menghadapi tantangan apapun kini merasa terhina.


Tri mengoreksi diri, apakah ia manusia yang sama dengan Tikus? pertanyaan itu bermunculan di benak Tri. Tiikus adalah binatang menjijikan, sering membawa penyakit, licik, suka mencuri, dan di kenal rakus, merugikan banyak orang. Tri hanya orang kecil bukan koruptor, dan tidak pernah mencuri milik orang lain, lalu mengapa diberi kado binatang itu.


"Maafkan Ibu Tri," Arman tidak tega kemudian kembali memeluk istrinya.

__ADS_1


__ADS_2