Perjuangan Sulastri.

Perjuangan Sulastri.
Bab 33


__ADS_3

"Tunggu sebentar ya, aku nyalakan motor dulu" Arman menurunkan Lastri dari gendongan di parkiran. Setelah starter motor, kemudian membantu Tri naik. "Hati-Hati" sambung Arman.


Tri naik ke atas motor, reflek satu tanganya memegang pundak Arman. Jangan ditanya, Arman bak tersiram air hujan kala teriknya matahari.


Motor melaju sedang setelah sampai di depan yayasan AL INAYAH yang sudah tampak sepi. Arman berhenti, karena Arman lupa menanyakan alamat Tri.


"Dimana alamat rumahmu?" tanya Arman menoleh ke belakang.


"Di perum pasar minggu," Tri menjelaskan alamat lengkap.


"Tancaaap.... cuuuusss..." desis Arman, kembali melanjutkan perjalanan. Sepanjang jalan tidak lelah tersenyum menatap Tri dari kaca spion, walaupun tertutup helm, tapi masih terlihat mata sayunya.


Hingga motor pun sampai di kediaman Lastri. Arman membantunya turun, kemudian memapahnya. Tangan kekar itu tampak kesulitan membuka pagar rumah, karena di selot dari dalam.


"Lastri..." pekik pak Suryo, dan bu Santi, yang sedang khawatir menunggu putrinya di teras rumah. Tidak biasanya putri ketiganya itu pulang terlambat. Melihat yang di tunggu datang segera berlari ke depan pagar dengan tergesa-gesa bu Santi membuka pagar.


"Assalamualaikum..." Arman mengucap salam.


"Waalaikumsalam..." pak Suryo yang menjawab.


"Tri... kamu kenapa Nak?" Mata bu Santi mengembun kala melihat anaknya berjalan pincang. Dengan cepat, Bu Santi ambil alih putrinya dari tangan Arman. Sampai lupa tidak menyapa putra pemilik perkebunan nomer satu di daerahnya itu.


"Terkilir Bu, tapi sudah tidak apa-apa," jawab Tri sambil berjalan di gandeng bu Santi masuk ke dalam rumah.


Lalu pak Suryo memandangi Arman bingung ingin berkata apa. Pria yang sering membuat hati putrinya menangis, bahkan membuat keluarga nya hengkang dari tanah kelahirannya itu, berdiri di hadapannya.


"Bapak apa kabar?" Arman menyalami tangan pak Suryo yang masih bergeming.


"Kabar baik Nak, masuk," titah Pak Suryo berjalan di samping Arman. Begitulah pak Suryo, walaupun hatinya terasa sakit tidak lantas membalasnya, dan tidak mempunyai dendam. Maka keluarga pak Suryo selalu hidup tentram walapun tidak memiliki apapun keluarganya lah harta yang paling berharga baginya.


"Kalian darimana? Pulang sampai sore, sudah gitu... Tri sampai pincang begitu?" cecar pak Suryo dengan beberapa pertanyaan.


Arman pun menceritakan apa yang terjadi. Pak Suryo mengangguk-angguk mendengarkan dengan seksama.


Sementara di dalam. "Kamu kenapa bisa sampai begini Nduk?" Bu Santi membantu merebahkan tubuh putrinya di kasur.


Tri pun sama dengan Arman menceritakan pada ibunya.


"Oh, jadi... Arman yang urut kakimu? terus... di pijat-pijat sama yang bukan muhrim begitu?" sindir bu Santi geleng-geleng kepala, seraya mengusap-usap mata kaki putrinya yang masih merah dengan telunjuk. Anaknya sudah kesekian kalinya terluka karena Ibu Arman masih belum kapok juga.

__ADS_1


"Ibu... tadi kan sedang urgent," kilah Lastri walaupun tidak seluruhnya berbohong.


"Uh, masih bisa menjawab," bu Santi menyentuh ujung hidung mancung putrinya yang mirip dengan nya itu, keduanya lantas tertawa.


"Oh, jadi kalian jadian lagi nih? Heemm... putus nyambung-putus nyambung, kaya lagunya siapa tuh?" bu Santi tampak berpikir.


"Ah Ibu..." Tri tersipu malu.


"Nduk, Ibu sih tidak melarang kamu mau berdekatan dengan siapapun, termasuk Arman. Tapi apa sudah kamu pikirkan resiko yang harus kamu ambil, sudah kesekian kalinya loh, kalian bertengkar dan sudah tahu apa masalahnya," nasehat bu Santi bijak.


Tri hanya diam tidak menyahut, namun mendengarkan nasehat ibunya.


"Yaa... Ibu sih... hanya bisa berdoa Nduk, anak-anak Bapak, sama Ibu, mau berjodoh dengan siapapun yang penting kalian bahagia," bu Santi mengakhiri obrolan lalu menyelimuti putrinya agar tidur.


Bu Santi kemudian keluar dari kamar Tri, menuju dapur membuatkan teh untuk Arman dan suaminya.


"Nak Arman, tehnya di minum ya. Maaf... ibu tadi tidak menyapa kamu, soalnya panik lihat Tri," tutur bu Santi kemudian menurunkan dua gelas teh hangat di depan Arman dan juga suaminya.


"Tidak apa-apa Bu, maaf gara-gara saya Tri jadi terluka," kata Arman sopan.


"Kita doakan saja, Tri cepat pulih" doa bu Santi. Mereka pun ngobrol panjang lebar menanyakan keluarga Arman dan juga menyinggung hubungan Arman dengan Lastri.


"Waah... ada Kak Arman?" sapa Ponco dan Sapto menyenderkan kedua sepedanya di tembok dalam pagar.


"Kalian baru pulang?" imbuh Arman.


"Ia Kak, ada kegiatan di sekolah, jadi sampai sore," jawab mereka.


"Saya masuk dulu Kak" pamit mereka sopan.


"Tunggu bentar dek," Arman merogoh dompet ambil uang jajan lalu memberikan kepada kedua anak SMP dan SMK itu. Ponco dan Sapto menatap kedua orang tuanya minta pendapat.


"Tenang saja dek, Bapak sama Ibu boleh kok" Arman meyakinkan. Ponco dan Sapto pun menerima uang jajan yang diberikan oleh Arman.


*******


Keesokan harinya dengan semangat. Arman mengendarai mobilnya menuju kediaman Tri. Ingin memberi kejutan menjemputnya berangkat ke sekolah bersama. Musik mengalun lembut, Arman bersenandung riang jemarinya mengetuk-ketuk setir.


Ia membayangkan kebersamaannya dengan gadis kecilnya kemarin, senyumnya merekah. Namun, senyum itu seketika menghilang kala gadis kecilnya sudah lebih dulu ada yang menjemput.

__ADS_1


Arman menepikan mobilnya tidak jauh dari tempat itu mengamati pujaan hatinya yang masih agak pincang di tuntun sang Ibu masuk ke dalam mobil yang tak lain mobil Adnan.


Arman menenggelamkan wajahnya di pegangan stir hingga beberapa saat. Ia bisa benar-benar kehilangan Tri jika hanya berdiam diri seperti ini. Pikir Arman. "Aku harus berbuat sesuatu," gumamnya.


"Tiiin... tiiiinn... tiiiinnn..." klakson bersautan menyadarkan Arman. Pria tampan itu segera pergi meninggalkan lokasi, menuju sekolah.


*******


"Jadi... kamu kemarin jalan-jalan sama Pak Arman? Cieee.... cieee..." goda Adnan. Tersenyum menoleh ke kiri sekilas lalu kembali fokus ke stir.


"Iya Kak" jawab Tri singkat karena tadi sudah menceritakan pada Adnan kebersamaanya dengan Arman kemarin.


"Oh iya Kak, boleh aku lancang bicara sesuatu," Tri berkata hati-hati mengalihkan pembicaraan.


"Elaah, Tri... kaya mau bicara sama bos saja, sampai takut begitu? Santai..." ujar Adnan melirik sekilas.


"Memang kali ini aku akan bicara antara bos dengan bawahan Kak, bukan sebagai sahabat," Tri bicara serius.


"Apa sih Tri, cepat dong! Jangan berbelit-belit," Adnan penasaran.


"Kak, aku tahu, sudah menjadi konsekuensinya para wali murid, masuk sekolah harus membayar SPP sesuai yang telah disepakati." Tri berbicara santun.


"Jika para wali murid melanggar kesepakatan, dan tidak mau membayar sesuai waktu yang sudah di tentukan, sudah pasti pihak yayasan berhak menindak tegas," Tri mengangkat tangan.


"Iya benar Tri, terus..." potong Adnan, tetap fokus menyetir.


"Tetapi... apakah pihak yayasan tidak ada pertimbangan lain bagi Siswa, siswi, yang terkena musibah misalnya," Tri ingat Sabrina menjadi sedih.


"Ceritakan Tri, nanti aku akan bicara dengan pihak yayasan jika ada yang kurang memuaskan," Adnan menanggapi. Tri menceritakan perihal Sabrina.


"Oh, jadi... Sabrina akan di keluarkan dari sekolah?" Adnan terkejut. Lastri mengangguk.


"Pasti ini ulah Bella Tri, besok kami akan mengadakan rapat yayasan."


"Terimakasih Kak. Oh iya Kak, aku turun di sini saja, nanti kalau Bella tahu saya di antar Kakak, habis deh aku," Tri bergidik ngeri.


"Takut ketahuan Arman, atau takut ketahuan Bella?" kelakar Adnan.


"Dua-duanya, hihihi..." jawab Tri cekikikan. Keduanya kemudian turun, karena mobil Adnan sampai di pelataran parkir.

__ADS_1


Bersamaan dengan itu mobil Arman pun berhenti di sebelah, rupanya Arman mengikuti dari belakang.


.


__ADS_2