
"Sebentar lagi magrib Yah, sebaiknya kita pulang," Arman beranjak dari duduk nya. "Ya Allah... tidak terasa lima jam sudah aku di sini," Arman geleng-geleng kepala. Seketika Arman ingat Lastri, saat ini pasti ia sedang menunggunya di rumah.
"Ayo, Ibumu tadi kemana?" tanya pak Burhan mengedarkan pandanganya sejauh mata memandang banyaknya pohon salak pondoh yang cara menanamnya tertata rapi.
"Ibu sudah pulang duluan kali. Yah," Arman memijak gundukan pembatas petakan tanah, ke petakan satu, pindah ke petakan yang lain, hingga akhirnya sampai di rumah.
"Kok sepi Yah, Tri kemana ya?" tanya Arman.
"Mungkin Lastri sedang mandi," jawab pak Burhan.
Arman mencari Lastri ke ruang tamu, ruang keluarga, ke lantai atas, tapi tidak menemukan. Hingga akhirnya Arman mencari ke dua kamar mandi tapi nihil. Langkah terakhir Arman ke dapur.
Arman membulatkan mata terkejut, ketika Lastri sedang kelelahan, dan meringkuk di tikar dapur diantara beberapa baskom yang berisi masakan dan karton-karton.
Arman segera mematikan kompor gas yang masih menyala lalu membuka penutup dangdang ternyata isinya nasi yang sudah matang.
Arman kemudian membuka 4 baskom yang berisi masakan satu persatu. Arman lalu menatap wajah kekasihnya lekat, hatinya mencelos. Arman segera menyimpulkan bahwa yang memasak ini semua adalah Lastri dan sudah pasti ini ulah Ibunya.
Arman menyesal mengapa ia tadi di perkebunan terlalu lama karena ngobrol kepada para pekerja di perkebunan ayahnya.
Dengan menahan marah, Arman segera mengetuk pintu kamar simbok.
Ceklak.
"Em... Den Arman, ada apa Den?" tanya simbok yang baru selesai mandi.
"Yang memasak di dapur tadi siapa Mbok?" tergambar jelas mimik kesal di wajah Arman
"A-annu Den," simbok menunduk meremas jari jemarinya.
Tanpa melanjutkan pertanyaannya pun Arman sudah tahu dari jawaban simbok yang tidak berani menatap matanya sudah pasti yang memasak semua itu tadi Lastri.
"Kenapa Simbok tidak membantunya?!" cecar Arman.
"Sa-saya..." Simbok ingin jujur tapi takut jika bu Sulis marah padanya.
"Ikut saya Mbok," Arman menurunkan intonasi suara.
"Iya Den" simbok pun membuntuti Arman menuju dapur.
Sementara Lastri di dapur membuka matanya pelahan. "Astagfirrullah... ketiduran," Ia menyipitkan mata melihat jam sudah jam 6. Itu artinya ia tidur selama satu jam.
__ADS_1
Lastri menoleh kompor ternyata sudah di matikan entah siapa yang mematikan. Pikir Tri.
Secepat kilat ia beranjak. "Duh jangan-jangan... bu Sulis tadi yang mematikan kompor" gumamnya.
Lastri kemudian ambil bakul menuang nasi ke dalamnya ia aduk-aduk lalu mengangkat nya ke tikar.
Lastri kembali melipat kardus. "Ah acaranya kan masih habis isya," Tri menyemangati diri sendiri.
"Lastri... maaf ya, aku nggak tahu kalau kamu sedang kerepotan," Arman duduk bersila di depan Lastri lalu menyandak karton kemudian melipatanya.
Sementara simbok pun ingin membantu memasukan makanan ke dalam box yang sudah Lastri pasang baru beberapa.
"Eh, jangan ada yang membantu, keluar-keluar," usir Lastri panik. Ia sudah bekerja setengah hari jika sampai ketahuan bu Sulis ada yang membantunya bisa gagal total.
"Simbok, Mas Arman, tolong keluar," Tri mengulangi karena Arman tidak menanggapi.
"Kenapa sih Tri, orang mau di bantu kok, kamu malah marah," Arman mengerutkan dahi.
"Cek! Mas nggak ngerti juga ya," Tri berdecak lalu menarik tangan Arman agar berdiri.
"Sana keluar-keluar," Tri mendorong-dorong tubuh Arman dari belakang.
"Simbok juga keluar Mbok," titah Tri setelah berhasil mengusir Arman.
"Mbok cepat keluar! Mbok senang, kalau sampai aku di marahi bu Sulis?" tanya Tri kemudian.
"Baik Non," simbok pun mengalah keluar meninggalkan Lastri.
"Sebenarnya ada apa Mbok?" bisik Arman yang masih menatap Tri dari lubang kunci.
"Em, begini Tuan," simbok menceritakan semuanya, syarat yang di ajukan bu Sulis jika Tri ingin menjadi menantunya.
"Keterlaluan Ibu," ucap Arman sambil berlalu meninggalkan simbok.
Tok tok tok
Arman mengetuk kamar ibunya tidak lama kemudian, bu Sulis menyembulkan kepalanya beliau baru selesai mandi dilihat dari penampilannya.
"Apa yang Ibu lakukan terhadap calon istriku Bu?!" Arman sebenarnya ingin marah, namun ia mencoba meredam kemarahannya
"Apa? Ngadu apa Dia sama kamu?" bu Sulis mengembalikan pertanyaan.
__ADS_1
"Dia tidak ngadu apa-apa, Bu, aku hanya menerka-nerka, Dia sedang kerepotan di dapur, tapi mau dibantu Arman tidak mau. Aku rasa, Dia pasti mendapat tekanan dari Ibu, hingga Dia ketakutan. Iya kan Bu?" Arman masih bersikap sopan walaupun bagaimana beliau adalah ibu yang melahirkan.
"Kamu ini Ar! Ibu kan hanya mengajari calon menantuku," kilah bu Sulis lalu masuk ke kamar.
"Lastri itu tidak usah perlu kita ajari, sudah pasti bisa segalanya Bu," Arman mengekori ibunya.
"Yo wes lah Ar, mendingan kamu siap-siap sebentar lagi ada acara loh," bu Sulis mengalihkan sambil bercermin.
"Ada acara? Acara apa Bu?" Arman menatap bu Sulis dari pantulan kaca.
"Habis isya, Ibu mau undang tetangga Ar, kamu kemarin kan sudah melamar Lastri, jadi mau syukuran gitu, biar tahu lah, kalau kalian sebentar lagi menikah." tutur bu Sulis.
"Jadi... Ibu merestui kami Bu?" Arman tersenyum menatap bu Sulis dari cermin.
"Ya tergantung," jawab bu Sulis membuat senyum Arman, tiba-tiba menghilang.
"Tergantung, maksudnya apa?" Arman duduk di ranjang orang tuanya.
"Tergantung ujian yang Ibu berikan untuk calon istrimu, lulus tidak? Jika Dia berhasil menyelesaikan masakan yang Ibu tugaskan maka kalian akan segera menikah," tegas bu Sulis.
"Ibu ini mau menikah saja, kok ribet banget, pakai acara ujian segala," Arman menyugar rambut klimisnya gusar.
"Pokoknya Arman tidak mau lagi mengalah, sama Ibu, jika Ibu tidak merestui tidak usah pakai persyaratan segala," tukas Arman lalu keluar dari kamar bu Sulis.
"Huh! Dasar anak nggak punya sopan santun!" gerutu bu Sulis.
Sementara Arman melihat di dapur tidak ada Lastri disana. Arman memandangi box yang sudah selesai di lipat tetapi belum diisi. "Ya Allah... Lastri," Arman merasa bersalah.
Arman meninggalkan dapur ambil air wudhu hendak menjalankan shalat maghrib.
Ketika hendak ke kamarnya berpapasan dengan Lastri.
"Tri, kamu sudah shalat?" tanya Arman memandang Lastri yang sedang membawa mukena di lengan.
"Sudah," jawabnya sambil berlalu melewati Arman.
"Eh tunggu, kamu shalat dimana tadi?" cecar Arman.
"Di bawah tangga," Lastri segera memasukan mukena di ransel, kemudian ke dapur tidak ingin membuang waktu. Ia segera memasukan makanan ke dalam box.
Tepat jam tujuh malam semua masakan sudah selesai di masukkan ke dalam box. "Alhamdulillah... Ya Allah...." Tri kemudian bersujut di tikar dapur. Lastri mengangkat kepalanya menatap box yang sudah ia susun dengan rapi, memang seratus bukanlah jumlah yang banyak, tetapi isi dari box tersebut semua masakan yang ribet hingga membutuhkan perjuangan.
__ADS_1
Lastri kemudian keluar meninggalkan dapur ambil handuk di dalam rangsel hendak membersihkan tumbuhnya yang sudah lengket.
.