
"Coba sini, aku baluri minyak urut," Arman mengeluarkan botol gepeng dari kantong plastik. Membuka tutupnya lalu menuangkan ke telapak tangan berniat mengurut kaki Tri.
"Jangan, aku bisa sendiri," Tri ambil botol dari tangan Arman, kemudian meneteskan minyak yang terasa hangat itu ke tempat yang sakit, lalu memijitnya. "Astagfirrullah..." Tri istighfar sambil meringis, rasanya sakit sekali.
"Makanya... nurut, kaki keseleo seperti ini, tidak asal urut, harus tau teorinya, jika salah, justeru membengkak," tutur Arman kemudian memijat pelan kaki yang bengkak.
"Ini begini caranya... aku sering kok, ngurut kaki Ayah." Arman mengurut pelan kaki Tri.
"Tahan sedikit ya... rileks... tahan..." kata Arman. Tri pun tidak terlalu merasa sakit seperti ketika ia mengurut sendiri.
Tri akhirnya membiarkan saja, kakinya di pijat oleh Arman. Tri diam-diam mencuri pandang ke wajah Arman yang terlihat dari samping. Seiring bertambahnya usia, pria ini semakin tampan saja, tidak hanya itu, Arman sebenarnya pria yang baik. Namun nyatanya selama ini ia hanya bisa mengagumi. Tri tidak akan mampu menjebol dinding tebal yakni hati bu Sulis yang sulit Tri tembus.
"Sudah agak lemas belum?" tanya Arman, setelah 15 menit kemudian. Namun tidak ada jawaban dari Tri. Arman mengangkat kepalanya memergoki Tri yang sedang menatapnya lekat. Arman tersenyum senang.
"Sudah lebih baik belum?" Arman mengulangi pertanyaannya. Arman menangkap tatapan Lastri kepadanya, ia bisa menyimpulkan bahwa perasaan Tri kepadanya pun masih sama seperti perasaannya kini.
"Eeemmm ... Bapak, Mas, tanya apa barusan?" gugup Tri.
"Coba gerakan kaki kamu," titah Arman.
Tri mencoba mengangkat kakinya kemudian menggerak-gerakkan. "Oh iya, sudah mendingan Mas, terimakasih ya," Tri tersenyum menatap Arman.
"Sama-sama. Coba buat jalan," Arman membantu Lastri berjalan memapah pundaknya. Tri pun sudah bisa berjalan walaupun sendinya masih sedikit terasa nyeri.
"Sudah enak kan kok, tinggal sedikit lagi," Tri menjawab menunduk mengamati kakinya.
"Sini-sini, duduk lagi," Arman kembali membaluri minyak, jempol terampil nya kembali berputar diantara mata kaki dan tumit.
"Minyak apa ini Mas? Kok ajaib?" Tri mengangkat botol menelisik nya.
"Sebenarnya... bukan minyak nya, yang ajaib, tapi yang ngurut pakai jampe-jampe, hahaha... tapi, sayang ya, jampe-jampe aku tidak bisa memelet gadis kecilku hingga rambut aku mulai memutih." kelakar Arman.
__ADS_1
"Iiiihhh... serius nih?" sungut Tri.
"Hahaha... iya, Iya. Aku bercanda," Arman tertawa melihat Tri saat kesal begini menggemaskan.
"Minyak ini ampuh, kalau aku habis latihan tinju sama Ayah, selalu di baluri minyak ini. Untuk keseleo, memar, patah tulang, hanya patah hati yang nggak bisa di obati dengan minyak ini," Arman terkekeh, menatap Tri yang sedang menatapnya juga.
"Kamu harus tahu Tri, patah hati aku hanya kamu yang bisa mengobati loh" Arman serius.
"Huh! dari tadi jago banget nggombal sih?!" Tri melengos.
"Loh-loh, siapa yang nggombal? Aku serius kok," Arman pun bertutur panjang lebar.
Suasana kembali mencair mereka pun ngobrol tentang kisah cinta manis mereka berdua dulu.
"Oh iya, kamu ingat nggak? kita dulu kan pernah menulis di goa ini, kita cari yuk," kata Arman, menuntun Tri masuk ke dalam goa, mencari diantara banyaknya coretan yang di goreskan para remaja yang bertindih-tindih namun tulisan mereka masih terpampang nyata.
"Love you" 💘 Tri & Arman.
Keduanya tersenyum saling pandang Arman menulis ini, saat Tri masih kelas dua SMK.
Flashback
"Tri... jika lulus nanti, kita segera menikah ya," kata Arman pada Tri. Tri baru pulang sekolah masih mengenakan seragam putih abu-abu, sedangkan Arman membuka seragam guru dan hanya mengenakan kaos, kemudian singgah di tempat itu.
"Nggak mau, aku kan ingin kuliah dulu Mas" tolak Tri.
"Tri... nggak baik loh, kita kesana kemari berdua, walaupun aku berjanji akan menjaga kamu, untuk tidak melakukan apapun, tapi aku ini pria normal, aku takut hilap" jujur Arman.
"Tapi..." Tri tidak melanjutkan ucapanya. Yang ia maksud pasti bu Sulis tidak akan merestuinya, tapi Arman beranggapan lain.
"Kenapa? masalah kuliah... aku pasti akan mendukung kamu kok, jangan khawatir," terang Arman. Benar yang dikatakan Arman walaupun Tri baru menginjak 17 tahun. Tapi Arman sudah 25 tahun.
__ADS_1
"Baiklah... tapi aku takut, Ibu Mas Arman, pasti tidak akan memberi restu," jawab Tri pesimis.
"Tenang saja, masalah Ibu, menjadi urusanku, setelah menikah nanti aku akan membawamu pergi, hidup tenang, mempunyai anak yang lucu, dengan hadirnya seorang anak pasti hati Ibu akan luluh dan bisa merestui pernikahan kita,"
Flashback off.
"Tri kita wujutkan impian kita, kita menikah, ya" Arman membujuknya. Tri menggeleng cepat.
"Kenapa Tri?" Arman menatap mata Tri mencari jawaban.
"Aku ingin fokus kuliah dulu, Mas," tampak jelas tergambar di wajah Tri mempunyai semangat yang tinggi.
"Kuliah? Bukankah kamu sudah selesai kuliah?" wajah Arman berkerut-kerut.
"Kebetulan aku mendapat beasiswa lanjut S2, Mas. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini,"
Arman menatap Tri bangga, gadis kecilnya dulu benar-benar mewujudkan impiannya. Tapi ada rasa takut. Takut kehilangan dirinya. Tri cantik, banyak yang menyukainya, walaupun jodoh tidak kemana toh harus di perjuangkan.
"Tri, aku akan dukung sampai kapanpun kamu mengejar cita-cintamu, tapi ijinkan aku berada di sampingmu, mengantarmu ketika kamu berangkat, menjemputmu ketika kamu pulang, dan ijinkan aku untuk melamarmu, menikahi kamu, melihat kamu saat aku bangun tidur," tutur Arman jujur.
"Aku tahu Mas, tapi sudah tiga kali loh, Mas mengucap kata itu, tapi apa? Gagal dan gagal lagi," keluh Tri memang benar apa yang di ucapkan. Sudah yang ketiga kali ini, Arman berkata seperti itu dan pada akhirnya tidak terwujut, lantaran setatus sosial yang menjadi hambatan bagi mereka.
"Sekarang jawab dulu, kamu mau nggak, menjadi irtri aku?" Arman menoleh ke kiri dimana Lastri duduk yang sedang salting memainkan botol minyak.
"Mau... tapi biarkan aku menyelesaikan pendidikan S2 dulu Mas. Aku tidak bisa memenuhi kriteria Ibumu untuk menjadi wanita kaya seperti beliau, tapi setidaknya aku merasa pastas untuk mendampingi kamu, tidak memalukan jika sedang bersamamu atau bersama Ibumu," jawab Tri ada rasa trauma yang mendalam terlukis di wajahnya.
"Sekarang aku mau pulang Mas, sudah sore, pasti Bapak sama Ibu menunggu," Tri beranjak berjalan pincang namun baru dua langkah Arman menahan.
"Tunggu Tri aku antar kamu" Arman menahan lengan Tri.
"Aku numpang angkutan saja, Mas."
__ADS_1
"Tri... jangan keras kepala, kamu pikir aku tega membiarkan kamu pulang dalam keadaan kaki pincang seperti ini? Ayo, jangan membantah," spontan Arman mengangkat tubuh Tri. Tri terperangah tak urung membiarkan Arman membawanya ketempat parkir motor.
Kemudian, Arman mengantar Tri pulang ke rumah.