
"Pegangan yang kuat, aku mau ngebut," Arman melingkarkan kedua tangan Tri ke perutnya.
"Aaahh... nyebelin! Tadi katanya malu sama anak-anak, bagaimana sih?! aku turun nih!" ancam Tri, segera menarik tanganya cepat dari perut Arman, lalu memukul pelan punggung pria dewasa itu.
"Iya, iya. Aku bercanda, pakai helm nya ini" kata Arman terkekeh menatap wajah Tri dari kaca spion, lalu menjalankan motornya setelah Tri memakai helm.
Hati Arman berbunga-bunga betapa tidak? Momen seperti ini ia selalu tunggu-tunggu. Inilah saatnya harus bisa memperjuangkan cinta nya yang sempat terkoyak.
Motor melaju sedang hingga sampai di taman dimana dulu sering mereka kunjungi ketika Lastri masih SMK. Taman ini tidak jauh dari yayasan AL INAYAH.
"Kita sampai," kata Arman lalu melepas helm menyangkutkan di motor.
Tri membulatkan mata terkejut, memindai sekeliling, memorinya bersama Arman dulu telah kembali. Saat menjalani hari-hari bahagia bersama pria yang kini berada di depannya.
"Aku buka helm nya ya," Arman memegang helm yang masih menyangkut di kepala Tri.
"Jangan... saya bisa sendiri!" Tri mundur kebelakang kemudian membuka helm sendiri. Arman mengambil alih dari tangan Tri benda tersebut kemudian meletakan di spion sebelah.
"Ayo" ajak Arman sebab Tri bergeming. Mereka berjalan bersebelahan.
"Kita duduk di sini saja" Arman mengajak Lastri duduk di depan air mancur, memandangi gemericik air dan ikan berwarna warni.
Keduanya masih saling diam bingung ingin memulai bicara.
"Bagaimana kabar Ibu?" tanya Arman dan Tri bersamaan. Lalu keduanya tersenyum.
"Ibu saya baik," Tri menjawab pendek.
Sedangkan Arman menatap seksama wajah Tri dari samping. Walaupun Tri sering terluka karena ucapan bu Sulis, tapi Tri masih menanyakan tentang keadaan ibunya.
"Kamu masih suka ke sini?" Arman ingin tahu apakah Tri masih bernostalgia mendatangi tempat ini, sedangkan Arman hampir seminggu sekali kesini, untuk sekedar mengingat kenangan manis mereka berdua.
"Tidak, tinggal saya kan jauh dari sini," jawab Lastri. Memang benar lagi pula tidak ada waktu bagi Lastri untuk sekedar bermain walaupun sebenarnya ia membutuhkan piknik.
"Tri, aku boleh tanya?" Arman menoleh ke samping dimana Tri duduk. Tri pun menoleh pupil mata mereka saling bertemu. Tri kemudian membuang pandangannya ke depan.
__ADS_1
"Mau tanya apa, bukankah Pak Arman tadi mengajak saya kesini, karena akan bicara sesuatu? Lalu mengapa justeru bertanya kepada saya," Tri menatap Arman skeptis.
"Maksud aku, kenapa kamu pergi begitu saja, sudah tidak adakah sedikit... saja, rasa di hati kamu, tentang masa-masa indah kita?" Arman menunjukkan ujung kuku.
Tri tersenyum kecut. "Sebenarnya tidak usah pak Arman tanyakan. Bapak sudah tahu jawabannya" Sungut Tri.
"Apa karena Kinar?" pada akhirnya pertanyaan yang di nanti Tri keluar dari mulut Arman.
"Salah satunya," wajah Tri berubah sendu.
Arman kemudian merapat. "Tri... saat kamu pergi dari rumah, tiga tahun yang lalu, aku bukan tidak mencari kamu. Tapi aku sedang sakit,"
"Saya tahu," potong Tri cepat.
"Kamu tahu kalau aku sakit?" Arman menunjuk dadanya.
"Saya tahu, bahkan saya berniat menengok Bapak, tapi saya diusir seperti maling!" terlukis di wajah, bahwa Tri memendam luka yang dalam di hatinya.
"Siapa yang mengusir kamu? Ibu?" Arman terperangah.
"Siapa lagi, kalau bukan tunangan kamu itu!" sinis Lastri memanggil Arman kamu, karena mungkin sudah kesal.
"Haha... dulu dengan Mbak Arshi, dan sekarang dengan Kinar," Tri tertawa meledek. Memikirkan kedua wanita yang sama-sama tidak bermoral keduanya pilihan bu Sulis.
"Tri..." ucap Arman nyaris tak terdengar.
"Tri, aku tidak pernah berniat menikahi wanita pilihan Ibu, yang ada di hati aku hanya kamu. Dari dulu hingga sekarang." kata Arman. Tri kemudian menatap mata Arman ada kejujuran disana.
"Gombal!" Tri mencebik.
"Setelah aku sembuh dirawat selama tiga hari, aku diantar Rini dengan kursi roda menjenguk Bapak, menurut Ibumu, kamu sudah kembali ke Jakarta," ada raut kecewa di wajah Arman.
"Saat pulang, aku bertengkar dengan Ibu, karena dengan tegas aku menolak perjodohan itu." Arman menjelaskan panjang lebar. Saat itu bu Sulis kekeh ingin melanjutkan pertunangan Arman dengan Kinar. Tapi bukan hanya Arman yang menolak, pak Burhan dan Rini pun turut mendukung Arman.
"Setelah itu aku kembali ke Jakarta, ternyata kamu sudah pindah dari kampus, bahkan aku mencari ke kontrakan kamu pun sudah di isi oleh orang lain," Arman sedih mengingat itu.
__ADS_1
Kali ini justeru Lastri yang diam mencerna kata demi kata yang di ucap Arman.
"Selama tiga tahun Tri, aku seperti orang gila mencari kamu. Ternyata Allah telah mempertemukan kita, ini bukan satu kebetulan, tiba-tiba kamu datang sendiri," ada binar bahagia di mata Arman.
"Tri" Arman memutar pundak Tri agar menatap nya. Keduanya saling pandang.
"Cinta aku sama kamu dari dulu, masih tetap sama," jujur Arman.
"Bohong!" Tri mendadak berdiri berjalan meninggalkan Arman. Namun, mata Arman menangkap senyum Tri tampak jelas terlihat dari samping.
"Yes" Arman bergumam lalu mengejar Tri yang sedang berjalan menuju goa di mana dulu mereka sering menghabiskan waktu.
"Tri tunggu dong, jalannya cepat amat, lihat nih aku sampai berkeringat?" Arman sudah berada tepat di samping Tri, dan menunjukan keringat di wajahnya.
"Lagian... siapa suruh ngejar, aku mau sendiri, jangan ngikutin" Tri kembali berjalan.
Arman kembali tersenyum, ternyata Tri sudah merubah panggil dengan kata aku.
Tri berjalan berlari-lari kecil menjauh dari Arman padahal ia menggunakan rok panjang.
Bruk
"Astagfirrullah..." Tri meringis memegangi lututnya yang terasa perih mungkin memar, karena tertutup rok, dan tidak hanya itu, mata kakinya terasa sakit.
"Lastri... kamu jatuh? Mana yang sakit?" Arman tampak khawatir menyingkirkan tangan Lastri yang mengusap mata kakinya.
"Ya Allah... ini sih keseleo Tri" Arman menatap kaki Lastri yang tampak membengkak dan merah. Arman memijit pelan kaki Tri.
"Astagfirrullah... sakit!" Tri rupanya benar-benar merasakan sakit ketika mata kakinya ditekan Arman.
"Kita minggir dulu ya, nanti aku urut sedikit biar lemas," Arman membantu Lastri berdiri namun ketika ingin menapak. "Astagfirrullah..." Tri kembali jatuh terduduk.
Secepatnya Arman mengangkat tubuh Tri menggendongnya lalu membawanya ke depan goa.
"Kamu duduk di sini dulu, aku beli minyak urut sebentar," Titah Arman Tanpa menunggu jawabban Tri. Arman berlari ke parkiran menjalakan motornya mencari apoteker terdekat. Setelah menemukan Arman membeli minyak urut dan obat anti nyeri.
__ADS_1
Setelah mendapat semuanya Arman segera kembali dimana Lastri duduk.
.