
Sore hari jalanan padat merayap Arman sudah tidak sabar, walaupun pada akhirnya sampai juga di hotel yang di tuju.
"Ar, loe bukannya tadi sudah pulang?" todong Dimas saat Arman keluar dari lift berpapasan dengannya.
"Memang loe nggak tahu Dim, jika mertua loe datang?" Arman berjalan cepat disusul Dimas.
"Ayah sama Ibu sudah sampai Ar, ya Allah... gw nggak tahu, kalau gw tahu, sudah temui dari tadi, terus... sekarang Ibu dimana?" cecar Dimas.
"Hanya Ibu, Ayah nggak ikut, gw mau temui di kamar hotel," Arman dan Dimas ngobrol sambil berjalan menuju kamar bu Sulis.
"Memang Rini kemana?" Arman terus melangkah tanpa menoleh.
"Lagi ngelonin, keponakan loe, rewel terus dari tadi, capek kali, sejak kemarin, dari tangan satu, pindah ke tangan yang lain," Dimas geleng-geleng.
"Oh, iya, Ar, terus Ibu ke sini sama Siapa? sama supir?" tanya Dimas kemudian.
"Tahu nggak loe, Ibu datang sama Kinar, kesel banget gw," Arman menghentikan langkahnya. "Lebih baik loe ketemu Ibu nanti saja, gw mau bicara berdua," Arman kembali berjalan meninggalkan Dimas.
Tok tok tok.
Arman mengetuk kamar 043. Tiga kali diketuk baru dibuka. "Mas, Arman?" Kinar ternyata yang membuka memberikan senyuman terbaiknya.
"Mana Ibu?!" sinis Arman.
"Ibu lagi di kamar mandi, masuk Mas," Kinar hendak melangkah namun tangan Arman, segera mencekal tangan Kinar.
"Sini loe, ikut gw!" Arman menarik tangan Kinar dengan kencang.
Membuat Kinar meringis. "Mas... sakit... lepas!" Kinar menggerak-gerakkan tangan agar lepas. Namun tenaga Kinar tentu tak seberapa jika dibandingkan Arman.
Arman melewati lorong-lorong hingga sampai di tempat yang sepi baru kemudian melepas tangan Kinar dengan kasar.
Arman menatap tajam Kinar, sementara Kinar tidak percaya jika pria yang akan dijodohkan dengannya adalah, pria yang angkuh dan kasar, menurut Kinar.
"Sudah berapa kali loe! Gw peringatkan Kinar! Jangan lagi loe, ganggu hidup gw? Tapi ternyata loe itu perempuan yang tidak punya malu!" sinis Arman.
__ADS_1
Lagi-lagi Kinar mendelik tak percaya, Arman ternyata pria yang kejam, bahkan mengatainya perempuan yang tak tahu malu.
Keduanya saling melemparkan kilat marah di mata masing-masing.
"Kenapa loe, jadi marah sama gw Arman? Dimana salah gw?!" Kinar tak lagi pakai embel-embel mas.
"Belum tahu salah loe, kenapa loe harus ikut Ibu gw ke sini?!" Arman menatap nyalang wajah Kinar yang tak kalah sinis menatapnya.
"Hahaha..." Kinar justeru tertawa.
"Tanyakan sendiri sama Ibu loe, Arman! Bu Sulis yang datang ke rumah sejak kemarin, bahkan sampai menginap di rumah gw," Kinar tak lagi ada rasa hormat sedikitpun pada Arman.
Arman menunduk malu, walaupun bagaimana seharusnya tanya dulu dengan ibunya tidak langsung menuding Kinar.
"Loe, perlu tahu Ar, gw sampai di sini, karena gw dipaksa untuk menemani Ibumu, padahal gw sudah membatalkan rencana yang lebih penting," kinar benar-benar marah.
"Tapi loe, seenaknya bilang bahwa gw wanita nggak tahu malu," Kinar ngos-ngosan saking kesalnya.
Arman kali ini menatap Kinar, tapi bukan marah seperti tadi, ia merasa bersalah.
"Dengar Arman, gw juga nggak mau mengemis hanya untuk dicintai pria macam loe, ngakunya Dosen, Guru, tapi kelakuan loe! Nol besar!" Kinar mengeluarkan isi hatinya yang selama ini ia tahan.
"Maaf Ar, gw menyesal pernah mencintai pria yang lembek seperti loe" pungkas Kinar, apa maksud perkataan itu, entahlah.
Kinar kembali ke kamar hotel membuka pintu yang tidak di kunci, menyandak tas di atas meja tidak perduli dengan bu Sulis yang sedang memandangnya bingung.
"Kinar, kamu mau kemana?" bu Sulis menahan tangan Kinar.
"Saya mau pulang Bu," jawabnya singkat.
"Tapi kenapa? Bukankah kita akan menginap di sini sampai besok?"
Kinar menatap bu Sulis. Untuk apa aku buang waktu, hanya untuk tidur satu ranjang, dengan wanita mata duwitan sepertimu! Nenek!
"Kinar," Bu Sulis memegangi pundak Kinar, dua manusia yang berbeda generasi itu berhadapan minta penjelasan.
__ADS_1
"Tanyakan sendiri pada Arman Bu, putra Ibu, sudah menyakiti hati saya. Saya permisi," Kinar keluar menabrak pundak Arman yang kebetulan Arman pun hendak masuk ke kamar.
Arman menoleh Kinar yang berjalan melenggang tidak terdengar suaranya lagi selain derap sepatu mahalnya yang beradu dengan lantai.
Arman kemudian menutup pintu menjatuhkan bokongnya di ranjang.
"Ibu apa kabar?" Arman bertanya sambil mencium tangan bu Sulis.
"Kenapa kamu usir Kinar Arman?" bukan menjawab pertanyaan Arman, bu Sulis justru bertanya dengan nada marah.
"Kenapa Ibu musti menginap di rumah orang lain sih, Bu? Bukanya Ibu di sini punya anak, dan anak Ibu itu aku, harusnya Ibu menginap di rumah aku Bu," Arman sungguh menyesalkan sikap ibunya.
"Kenapa kamu yang marah sih Ar, kan yang nyuruh Ibu menginap calon besan," bu Sulis tidak menyesal sedikitpun.
"Lain kali, Ibu jangan begitu, Arman malu Bu" Arman menjatuhkan tubuhnya di kasur.
"Loh, kenapa musti malu? Kalian ini kan calon suami istri," bu Sulis membetulkan sanggulnya yang terkoyak karena habis dari kamar mandi.
"Astagfirrullah... Bu. Arman mohon, Ibu jangan ambisi menjodohkan aku dengan wanita manapun Bu, termasuk Kinar," Arman rasanya ingin menangis menjelaskan pada Ibunya.
"Kenapa? Ar. Karena alasan wanita miskin pilihanmu itu kan?! Justeru kamu yang harus menjauhi, Dia. Wanita miskin itu, sudah membutakan hatimu Arman, jadi begini, kita selalu ribut gara-gara Dia terus," sungut bu Sulis mengingat Lastri rasanya pengen marah sejadi-jadinya.
"Jangan pernah mengatakan Lastri miskin Bu" Arman benar-benar tidak kuat, kala ibunya selalu mengatai Lastri miskin.
"Loh, memang nyatanya begitu kok," jawab bu Sulis menyebalkan.
"Lastri itu justru wanita paling kaya Bu, kaya hati, yang selalu menjaga perasaan orang lain, kaya Ilmu, dengan ilmunya kini ia sudah menjadi Sarjana bahkan menjadi teman seprofesi dengan Arman Bu,"
Mendengar penuturan Arman bu Sulis menghentikan kegiatannya menusuk-nusuk konde.
"Jadi Arman mohon Bu, jangan hina Lastri terus menerus, jangan semua Ibu ukur dengan uang," Arman bertutur sambil menatap bu Sulis. Namun bu Sulis seolah tidak mendengar.
"Lastri itu lebih kaya dari Arman, Bu. Ibu kan tahu, dulu Arman, sekolah selalu Ayah yang membiayai, sedangkan Lartri, dari SMP sampai sarjana, biaya sendiri Bu, Ibu nggak Bangga punya menantu seperti Dia?"
Arman bangun dari tidurnya memeluk Ibu yang sudah melahirkan nya itu dari belakang. Yang jarang sekali mereka lakukan selayaknya anak dan ibu. Tiap kali bertemu tak pernah ada kata damai ribut dan terus ribut.
__ADS_1
"Bu, Arman mohon sama Ibu, sekali... saja, tolong restui Arman untuk menikahi Tri, Bu" Arman merengek seperti anak kecil minta dibelikan permen.
.