Perjuangan Sulastri.

Perjuangan Sulastri.
Bab 45


__ADS_3

Mobil Arman melaju sedang selap selip mencari jalan yang tidak macet hingga akhirnya mereka sampai di salah satu komplek mewah.


"Mas, ini rumah siapa sih? Main rahasia-rahasiakan deh," kata Tri ketika mobil sudah parkir.


"Nanti kamu juga tahu," jawaban Arman tetap sama.


"Tin... tiin... tiiinnn..." Arman membunyikan klakson, keluarlah seorang wanita setengah baya membuka pintu gerbang beliau ART di rumah itu.


"Ayo masuk," Arman hendak menggandeng tangan Tri, mamun dengan cepat Tri menyembunyikan tanganya


"Assalamualaikum..." ucap Tri.


"Waalaikumsalam..."


"Eh calon kakak ipar sudah sampai," Rini menyambut Tri dengan senyuman.


"Kak Rini? Ini rumah kakak?" tanya Tri memindai sekeliling.


"Bukan sih, tepatnya rumah Mas Dimas?" Rini menjawab enteng. "Duduk Tri" sambungnya.


"Kak Rini ada-ada saja, rumah Kak Dimas, ya rumah Kakak juga lah," Tri tersenyum.


"Betul Tri, yang namanya sudah menikah, milikku milikmu, tetapi berbeda dengan hati kamu, walaupun kita belum menikah kamu adalah milikku," Arman menaik turunkan alis mata.


Tri menanggapinya melengos, membuat Rini ikut tertawa.


"Ayah kemana Rin?" tanya Arman.


"Ayah di taman belakang sedang ngobrol dengan Mas Dimas," Rini menjawab sambil berjalan ke belakang.


"Ayah? Berarti Pak Burhan berada di sini?" Lastri terkejut.


"Iya Tri, makanya aku mengajak kamu ke sini, katanya Ayah ingin bertemu calon menantunya," Arman sengaja tidak memberi tahu Lastri khawatir ia menolak.


Mereka langsung ke taman belakang menemui pak Burhan.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..." mendengar suara familiar, pak Burhan dan juga Dimas menoleh bersama.


"Lastri, bagaiamana kabar kamu Nak?" pak Burhan tersenyum menatap calon menantu yang sedang menjabat tangannya.


"Baik Pak, Ibu tidak di ajak ke sini?" Tri mengedarkan pandanganya ke sekeliling taman.

__ADS_1


"Bapak langsung dari perkebunan pusat Nduk, tidak pulang dulu, Ibu malah nggak tahu kalau saya kemari," tutur pak Burhan panjang lebar.


"Nduk, apa tidak sebaiknya kalian segera menikah, Bapak itu berharap secepatnya kalian menikah," pak Burhan menatap Tri penuh harap. Sementara Arman ia pikir sudah kehabisan kata-kata untuk mengajak Tri menikah.


"Mohon maaf Pak, biarkan saya mengejar cita-cita saya dulu," pungkas Lastri. Rini datang dengan menyuguhkan kudapan dan minuman disitu mereka berbincang-bincang hingga menjelang maghrib Tri lantas pulang.


*********


Hari berganti, minggu, bulan, bahkan tahun. Dua tahun sudah Lastri berjuang di kampus, mengajar, menjahit. Selama itu pula, Sulastri menjalankan rutinitasnya tanpa mengenal lelah. Doa dan dukungan dari kedua orang tua, dan orang-orang yang ia sayangi menambah semangatnya semakin berkobar.


Ia telah berhasil menyelesaikan pendidikan S2, dengan hasil yang tidak mengecewakan dari pihak kampus yang sudah memberikan kesempatan untuk meraih sukses.


Tidak hanya itu, hari ini tepat usia Lastri genap 25 tahun.


"Ibu Lastri, kami mohon, segera naik ke atas panggung," MC memberi aba-aba.


Tampak kue tar berbentuk jago melambangkan kiprah Sulastri, semangat seperti jago, mengepak sayapnya mencari makan, tidak pernah menyerah melawan orang-orang yang berniat menggagalkan cita-citanya, seperti jago akan melawan hingga tetes penghabisan.


"Assalamualaikum wr wb. Pertama saya ucapkan terimakasih kepada Bapak, dan Ibu saya, yang selalu mendukung setiap langkah saya," Tri menitikkan air mata untuk kedua orangnya yang selalu menyayanginya.


"Untuk Ibu Santi dan Bapak Suryo kami mohon segera naik ke atas panggung." MC kembali memanggil kedua orang tua Lastri.


Kedua orang tua Lastri pun naik ke atas panggung. "Selamat dan sukses selalu anakku," pak Suryo dan bu Santi memeluk tubuh putrinya dengan tangis haru. Begitu juga para hadirin pun larut dalam tangis.


Plok plok plok.


Tepuk tangan meriah dari keluarga besar Lastri, guru-guru, dan para karyawan konveksi. Kini Lastri sudah mempunyai 50 orang karyawan khusus untuk menjahit. Total karyawan sudah ada 100 orang sekaligus karyawan butik, potong benang, pasang kancing dan bersih-bersih.


"Selamat ulang Tri, sukses selalu ya," Sundusyah memberi ucapan di ikuti guru-guru yang lain.


"Terimakasih Sun," Lastri berbinar-binar saat ini mereka sudah berada di atas panggung hendak melakukan pemotongan kue.


"Potong kuenya. Potong kuenya" sorak sorai dari para hadirin menjadikan suasana potong kue semakin meriah.


"Terimakasih Mas, kamu sudah selalu mensupport aku selama ini," Tri memberikan potongan kue kepada Arman.


"Terimakasih ya, sukses selalu, aku selalu mencintai kamu," ucap Arman.


Plok plok plok.


Kini hubungan Arman dengan Lastri sudah bukan rahasia lagi. Sundusyah yang awalnya tidak ridho pun akhirnya mendukung sahabatnya.


Tidak hanya merayakan hari jadinya, Tri saat ini juga meresmikan pembukaan butik. Ruko dua lantai milik Mbak Nina, yang lantai atas ia jadikan garmen, dan yang lantai bawah, ia gunakan untuk memamerkan hasil karyanya yaitu koleksi berbagai macam gaun, kemeja, dan berbagai model pakaian.

__ADS_1


Selanjutnya di adakan pemotongan pita.Tidak hanya para guru yang hadir, sahabat-sahabat Lastri, Widodo, Yuyun, Fera, Tio, Nando juga berada di situ. Karena mereka semua pun saat ini menjadi rekan kerja selalu mencari klien membuat konveksi Lastri bertambah besar.


Para pengunjung antusias memilih pakaian yang diskon 35 persen untuk pembukaan butik. Sedangkan untuk garmen sudah berjalan selama satu tahun yang lalu.


Tampak tamu satu keluarga yang baru datang turun dari mobil, beliau segera masuk ke dalam ruko setelah di persilakan oleh satpam.


"Selamat sayang... kami bangga sama kamu," tante Fatimah memeluk tubuh ramping Lastri.


"Terimakasih Tante, semua yang saya raih ini tidak lepas dari doa dan dukungan Tante," ucap Tri tersenyum.


"Selamat Nak" ucap Om Rachmad pendek.


"Terimakasih Om, Om sudah menyempatkan waktu untuk datang kesini."


"Om Tante, cicipi hidangan seadanya ya," ucap Tri.


"Baiklah, saya juga ingin berkenalan dengan Ayahmu, seperti apa sih? Sampai bisa mendidik putrinya hingga menjadi seperti sekarang ini," tutur Om Rachmad bangga.


"Om ini, berlebihan," Tri tampak malu-malu.


Om Rachmad dan tante Fatimah segera menemui Pak Suryo dan bu Santi.


"Tri... sukses selalu ya," Adnan mengulas senyum.


"Terimakasih Kak Adnan, Bella," Lastri menatap Bella yang tampak menatapnya angkuh, kemudian melengos menjauh meninggalkan Lastri dan juga Adnan.


"Sudah Tri, jangan hiraukan Dia," Adnan pun tampak tidak perduli dengan kepergian Bella.


"Susul Bella, Kak, ajak makan gih," titah Tri.


"Ogah!" ketus Adnan.


"Kak, nggak boleh begitu, kalau memang Kakak, tidak mencitai Bella, jangan di gantung terus, kasihan kan Bella," Tri menasehati.


Adnan menarik napas panjang. Andai kamu tahu Tri, yang ada di hati aku dari dulu hingga sekarang, hanya kamu,"


"Apa bedanya dengan kamu Tri, cepatlah menikah dengan Pak Arman, jujur, walaupun sampai saat ini aku masih tetap mencitai kamu, tapi aku ingin kamu dengan pak Arman segera meikah dan hidup bahagia," ucap Adnan lirih.


"Eeheeemm..."


Saat keduanya sedang serius deheman seseorang mengejutkan mereka.


.

__ADS_1


__ADS_2