Perjuangan Sulastri.

Perjuangan Sulastri.
Bab 46


__ADS_3

"Eheemm..." suara deheman saat Tri dan Adnan berbincang-bincang mengejutkan mereka.


"Pak Arman," Adnan menghindari tatapan Arman yang sedang menatapnya horor.


"Kamu ini mantan murid yang tidak tahu sopan santun ya, mengganggu calon istri gurunya," Arman menjewer telinga Adnan, tentu tidak sungguh-sungguh.


"Ampun Pak Arman, aduh... aduh..." kelakar Adnan padahal tidak sakit.


"Hihihi..." Tri terkikik geli.


"Awas! sekali lagi kamu merayu Lastri, aku hukum kamu menyikat seluruh toilet di kawasan ruko ini, sampai kinclong," ancam Arman.


"Kabuuuur..." Adnan berlari bergabung dengan Yuyun dkk.


Lastri kembali terkikik, menatap kepergian Adnan.


"Kak Adnan, ngapain ngos-ngosan begitu?" Yuyun menatap Adnan yang ruku di depannya, menekan lutut sambil menunduk.


"Nggak apa-apa... kita cari makan yuk," Adnan menarik tangan Tio, dan Nando, di susul Yuyun, juga Fera.


Mereka makan bersama sambil bercerita. "Kak Adnan, kok tunangan Kakak tampak galak begitu sih?" Fera yang berwajah imut itu bergidik ngeri menatap Bella yang duduk sendirian.


"Lebih tepatnya tunangan ortu, bukan tunangan gw," jawab Adnan sambil meneguk minuman. Fera dan kawan-kawan saling pandang.


"Loe itu paling bisa mencela orang Fer," potong Tio.


"Lihat apa noh, mukanya asam seperti mangga mengkel," Fera menambahkah, lantas tertawa.


"Hus! dosa tahu! mencela orang, mendingan kita membantu karyawan Lastri, sepertinya mereka kerepotan," Yuyun beranjak semua lantas mengikuti.


********


"Bu Santi... aku bangga sekali sama Nak Lastri, Dia itu anaknya baik, sopan, dan setiap melakukan apapun selalu serius," puji tante Fatimah menatap Tri yang sedang duduk di tempat yang agak jauh sedang ngobrol bersama Arman.


"Heheh... Nyonya ini berlebihan," jawab bu Santi merasa malu, sejak tadi tante Fatimah memuji Tri terus.


"Apa lagi saya Bu Santi, penasaran sekali sama ini loh, Bapaknya Lastri," Om Rachmad, menepuk pundak pak Suryo. Pak Suryo pun hanya tersenyum.


"Mari Tuan, Nyonya, dicicipi dulu hidangan nya" bu Santi mengalihkan.


"Panggil saja Fatimah, Bu Santi, tidak usah pakai embel-embel Nyonya," Fatimah merasa risi bu Santi memanggilnya nyonya.


Mereka berbincang-bincang akrab, kemudian menuju prasmanan.

__ADS_1


*******


"Mas. Mas Widodo sudah punya pacar?" tanya Catur, mereka sedang asyik ngobrol.


"Hahaha... pernah sih, mencintai seseorang, tapi cinta aku tidak di sambut," Widodo tersenyum kecut.


"Aku tahu, Mas Wid, suka sama siapa?" Ponco menyela.


"Sok tahu, Kamu nggak kenal sama Dia. Lagian, kamu ini masih kecil, belum tahu soal jatuh cinta," bantah Widodo.


"Ahahah..." Ponco terbahak-terbahak dibilang tidak punya pacar. Hingga para tamu melirik ke arahnya termasuk Lastri yang sedang menemui teman-teman-nya.


"Kok kamu malah tertawa sih Co?" Widodo menyentil telinga Ponco.


"Ahaha..." Sapto ikut tertawa.


"Ini apa bocah! ikut-ikutan tertawa," Widodo geleng-geleng menyeringai ke arah Sapto.


"Lagian... Mas Wid lucu, masa Mas Ponco dibilang masih kecil. Dia ini playboy kampus Mas," Sapto kembali tertawa.


"Sapto! mulutnya!" Ponco menatap Sapto tajam.


"Nahlo! ketahuan kan? Kamu ini ternyata playboy kampus," Widodo merasa menang.


"Ponco," Catur kedip-kedip, kasihan menatap Widodo yang terdesak sejak tadi diledek terus menerus.


"Apa sih ini? Kalian pada ngomongin aku ya?" Lastri dan Arman pun menghampiri mereka.


"Adik-adikmu itu Tri, pada nggak jelas," Widodo kemudian menyingkir merasa tidak nyaman dengan Arman jika mereka keceplosan menyinggung tentang perasaanya kepada Lastri.


"Kita ikut membantu karyawan Mbak Lastri yuk, mereka kayaknya kerepotan," Catur mengajak kedua adiknya menyingkir juga.


"Yee... kita datang malah pada kabur," Tri keheranan menatap Widodo dan ketiga adiknya.


"Tri aku mau bicara," Arman berkata serius.


"Bicara apa, dari tadi juga kita sudah ngobrol, kan,"


"Makanya, ayo. Kita butuh privasi untuk berdua," Arman mengajak Lastri duduk di bangku paling pojok.


"Tri... kamu pernah berjanji kan? Mau menerima lamaran aku ketika kamu sudah berhasil menyelesaikan pendidikan S2 kamu," Arman menatap kekasihnya lekat. Ia menagih janji Lastri yang pernah Arman dengar.


Tri masih bergeming sungguh ia pun ingin menepati janjinya, tetapi apakah bu Sulis nantinya sudah pasti akan menerima dirinya.

__ADS_1


"Mas," Tri pun menatap wajah pria yang ia cintai itu, ada perasaan bersalah. Arman saat ini sudah berumur 33 tahun, waktu yang sudah matang untuk berumah tangga.


Akankah ia selalu menunda dan terus menunda? Lalu sampai kapan?


"Tri... jawab iya, atau tidak?" tanya Arman serius.


"Terima... terima... terima,"


Suara gemuruh bermunculan, semua guru, sahabat Lastri, adiknya Lastri, dan juga para karyawan semua melingkari Arman dan Lastri. Lastri menoleh kesana kemari tampak bingung dan juga terharu. Ternyata mereka sudah merencanakan ini semua.


"Nduk, Bapak rasa sudah saatnya kalian bahagia Nak," pak Suryo duduk di samping putrinya.


"Betul, apa kata Bapak kamu Nduk, Ibu rasa kamu sudah memeliki semua, apa lagi yang akan kamu tunggu?" bu Santi pun memeluk tubuh putrinya dari belakang.


"Bapak... Ibu... " Tri berkaca-kaca kedua sisi tanganya merangkul pundak Bapak dan Ibu nya.


"Lastri... Ayah ingin, kamu menepati janji kamu Nak, tidak hanya dengan Arman, tapi kamu juga sudah berjanji pada Ayah, kan?" pak Burhan pun tiba-tiba hadir.


"Pak Burhan?" Tri menatap Pak Burhan, tidak percaya beliau akan hadir di sini pula. Tetapi yang membuat Tri bertanya-tanya, mengapa bu Sulis tidak ikut hadir, padahal Lastri menginginkan calon mertuanya itu merestuinya.


Lastri melepas tanganya dari pundak Bapak dan Ibu kemudian beranjak memberi salam pak Burhanuddin.


"Tri... Ayah tahu, pasti kamu bingung mengapa Ibunya Arman tidak hadir di sini kan Nak? Jangan khawatir, Ayah yang akan bertanggungjawab." pak Burhan memohon.


Arman meneguk saliva berkali-kali ia merasa banyak sekali yang membantunya.


"Tri, aku rasa semua orang di tempat ini mendukung kita, mau ya? Kamu menjadi istriku," Arman memelas.


Lantri mendongak menatap tubuh jangkung Arman kemudian mengangguk.


"Terimakasih," Arman menyelipkan cincin lamaran, inilah sudah yang kedua kali. Dalam hati Arman seraya berdoa agar jangan di pisahkan lagi. Arman mencium jari manis Lastri yang sudah terpasang cincin


Tepuk tangan meriah dari para tamu.


Lastri terharu ternyata semua sudah merencenakan ini semua, bola matanya berputar mengerling kiri kanan, semua mata tertuju kepadanya.


Tri tersipu malu, merasa di perhatikan banyak orang.


Di dekat pintu sepasang mata menatap Tri seksama. Entah senang atau sedih yang ia rasakan kini. Yang jelas, ia merasa pupus sudah harapannya.


Ia adalah Adnan. Adnan meninggalkan tempat itu begitu saja. Bahkan tidak pamit pada kedua orang tuanya yang saat ini masih di dalam. Mobil silver berjalan menjauh meninggalkan ruko


.

__ADS_1


__ADS_2