
"Maafkan Ibu Tri," Arman merengkuh istrinya mendekapnya erat, mengusap rambut panjang dan hitam Lastri. Ia tidak habis pikir, apa maksud ibunya sampai tega meneror wanita yang di cintai.
"Mas... apa salah aku sama Ibu? Aku berjuang keras sampai sekarang hanya demi beliau, agar aku merasa pantas untuk mendampingi Mas, tapi ternyata semua yang aku lakukan masih belum bisa membuat hati ibu luluh," kekecewaan terlukis di wajahnya.
"Tri..." Arman merasa bersalah.
Suasana menjadi hening mereka bertanya-tanya dalam hati.
"Aku mandi dulu Mas," Tri segera bangkit, lalu ke kamar mandi.
Arman menatap Tri yang sedang berjalan gontai kekamar mandi, hatinya terasa tersayat. Mengapa wanita sebaik dia harus selalu di sakiti hatinya, terlebih orang itu adalah ibunya sendiri.
Arman pun lantas berdiri memasukan lagi tikus ke tempat lalu membuangnya ke luar.
Ia duduk di sofa dengan kasar, tanganya mengepal gusar.
"Mau di buatkan minum, Den?" Inem mendekatinya.
"Tidak usah Nem," ucapnya tidak menatap lawan bicaranya.
Arman ambil handphone yang tergeletak di meja, kemudian mencari nama ayah, lalu klik tombol telepon.
Ayah "Assalamualaikum..."
Arman "Waalaikumsalam...,"
"Ayah masih di Jakarta?" tanya Arman setelah dari hotel belum bertemu beliau kembali.
"Ayah sudah di bandara Ar. Ada apa?" tanya Ayah.
Arman menceritakan pada ayahnya tentang kelakuan buruk ibunya.
"Apa? Jadi Ibu kamu memberi kado menantuku Tikus?!" terdengar suara marah pak Burhan.
"Begitulah ceritanya Yah"
"Baiklah Ar, hibur istrimu agar tidak sedih, Ayah nanti yang akan bicara dengan ibumu," pak Burhan menutup pembicaraan.
*******
PoV Sulistyanengseh.
Bu Sulis di dalam kamar hanya seorang diri memandangi foto pernikahan putranya yang dikirimkan oleh Rini adik Arman. Jemari tanganya menelusuri wajah Arman.
Ia sebenarnya ingin hadir saat pernikahan putranya, tapi ingat jika wanita yang berdiri di samping Arman bukan wanita yang di kehendaki ia menatap foto wajah menantunya gusar.
Di dalam foto tersebut tampak pak Burhan, Rini, dan suami, kedua mempelai pria, wanita, yakni Arman dan Lastri menantunya. Sulis sebenarnya sedih tidak ikut foto bersama, tapi dendam masa lalu mendominasi hatinya.
__ADS_1
"Kenapa kamu harus memilih dia, Ar?! Ibu kecewa sama kamu Ar!" beliau marah berbicara sendiri.
"Ini semua gara-gara kamu! Suryo!" Sulistyanengseh berteriak geram. Ia merobek foto yang bagian Lastri, lalu menghancurkan hingga tak berbentuk.
Flashback on.
"Mas Suryo, ini aku bawakan makan siang," seorang gadis mungil mengenakan kaos yang di masukan ke dalam celana jins selutut, rambut di kuncir kuda membawa rantang ke sawah, dimana Suryono sedang membantu bapak nya mencangkul.
"Nggak usah repot-repot Dek, Lis," tolak Suryo halus mengangkat kepala cepat saat mendengar gadis yang selalu mengejarnya.
"Nggak repot kok Mas, ini aku bawakan rendang, opor, tempe tahu bacem, sama urap," Sulis tersenyum manis.
Suryo tertegun menatap Sulis. Gadis itu memang perhatian.
Tetapi Suryo tidak mencintai Sulis, apa lagi Suryo sudah dijodohkan dengan Santi, gadis tinggi semampai, cantik dan juga baik dan solehah berbanding terbalik dengan Sulis yang notabene cewek tomboy. Tentu tidak ada pria yang bisa menolak pesoana Santi, apa lagi Santi adalah bunga desa.
"Dek Sulis, saya minta maaf," Suryo tidak tega ingin berkata yang sejujurnya.
"Mas Suryo, saya di suruh Ibu mengantarkan makan siang," datang lagi seorang gadis. Ia adalah Santi wanita berkulit putih dan berhijab itu pun membawa rantang juga.
"Terimakasih Dek Santi, kapan kamu ke rumah?" tanya Suryo mengulas senyum menatap kagum gadis yang sedang berdiri di depanya. Melupakan Sulis yang sedang memandangnya kesal.
"Barusan, Mas, aku bawa makanan ini ke gubuk dulu ya," jawab Santi lembut.
"Iya Dek" Suryo segera menyingkirkan cangkul.
"Mari Mbak," ucap Santi sopan kepada Sulis, namun Sulis menatap nyalang gadis yang sudah mengacaukan rencananya. Pikir Sulis.
"Dek Sulis, mari kita makan bersama," ajak Suryo tidak tahu jika Sulis sedang marah besar. Suryono justeru menghampiri Sulis yang sudah bisa mencerna apa hubungan pria yang di dicintainya itu pada Santi.
"Siapa Dia Mas?!" sarkas Sulis, menatap tajam pria di depanya.
"Dia calon istriku Dek," jujur Suryo.
Praaaannnkk..."
Sulis menendang rantang yang ia letakan di pinggir sawah hingga isinya berhamburan entah kemana.
"Dek Sulis," Suryo ternganga.
"Kamu sudah menyakiti aku Suryo! Hati aku sakit Suryo!" Sulis menumpahkan segala kekesalannya menahan air mata jangan sampai tumpah.
"Sulis..." Suryo tidak menyangka jika marah Sulis akan sekasar itu.
"Catat! Kata-kataku Suryo! Aku akan balas sakit hati aku, aku sumpahin hidupmu tidak akan bahagia!" Sulis mengutuk Suryo yang masih bergeming kemudian pergi.
Sulis pergi membawa sakit hati, pria yang di dicintainya terang-terangan menolak. Gadis tomboy itu menyusuri jalan setapak melewati perkebunan kelapa yang tinggi-tinggi, seraya menendang-nendang sampah dedauan kering. Dalam hati mengumpat kasar.
__ADS_1
"Klontaaanng..." Sulis menendang kaleng hingga melayang.
"Astagfirrullah..." suara pria putra pemilik perkebenunan itu terkena sasaran kaleng tempat obat anti rayap yang sudah berkarat.
Sulis yang awalnya jalan menunduk seketika mendongak menatap pria tinggi dan gagah yang sedang meringis memegangi mata kakinya yang terluka
"Maaf" ucap Sulis mendekati pria itu.
"Maaf! Maaf! Lihat tuh berdarah! Dasar cewek tomboy," ketus pria gagah dan berwibawa itu.
"Maaf Mas, mari singgah ke rumah saya, nanti saya obati," Sulis membantu pria itu berdiri.
"Saya bisa sendiri!" ketus pria itu menepis tangan Sulis.
"Auw" pria itu meringis kesakitan ketika hendak berjalan.
"Makanya Mas, tadi kan mau saya bantu," Sulis tersenyum miring. Laki-laki jutek yang ia temui ini ternyata menjadi hiburan bagi Sulis bisa sedikit mengurangi rasa marahnya kepada Suryono.
Sulis memapah pria yang beraroma wangi itu mengajaknya kerumah. "Masuk Mas" Sulis membantu pria itu duduk di kursi bambu.
"Orang tua kamu kemana?" pria itu pada akhirnya bertanya.
"Ibu sedang ke pasar Mas, kalau Bapak sedang ke ladang," tutur Sulis. "Bentar Mas, saya ambil obat," Sulis ambil air hangat dengan wasslap meletakan di depan pria itu kemudian keluar ambil tanaman obat tradisional yang di tanam di kebun tidak lama kemudian kembali.
"Saya obati," Sulis membersihkan luka dengan air. Pria itu hanya mengamati saja. Setelah selesai sulis mengoleskan gelas obat tradisional itu.
"Auw! Perih tahu! kamu obati apa kaki saya nanti malah tambah infeksi!" omel pria itu kemudian menjauhkan kakinya dari tangan sulis.
"Memang awalnya perih Mas, tapi lama-lama adem," kata Sulis.
"Sudah diam!" bentak pria itu kemudian telepon supir, agar membawa perlengkapan P3k dari mobil.
Kemudain Sulis ke dapur akan membuat minuman.
"Den Burhan kenapa?" supir masuk tergesa-gesa khawatir bos nya terjadi sesuatu.
"Tidak apa-apa No, tolong obati kaki saya,"
"Baik Den," Parno sang supir mengobati luka Burhan sambil bercerita.
Sulis mendengarkan perbincangan itu dari balik tripleks pembatas antara ruang makan dan ruang tamu.
Astaga... jadi dia itu pemilik perkebunan itu? Aku harus bisa merebut hati pria itu. Bukankah dia orang kaya? walaupun dia tidak tampan seperti Suryo tapi setidaknya dia pria kaya. Jika nanti berhasil mendekatinya akan aku jadikan dia ajang balas dendam aku kepada Suryono. Sulis menyeringai licik.
Ya pria gagah itu ternyata Burhanuddin saat ini menjadi ayah Arman.
Flashback off.
__ADS_1