
Arman hanya bisa bersabar, dan harus mempunyai stok kesabaran yang berlipat untuk bisa meluluhkan hati kekasihnya seperti dulu. Ia menjalankan mobilnya meninggalkan sekolah dengan perasaan campur aduk. Arman senang bisa bertemu Tri yang sudah ia cari-cari keberadaan nya hingga hampir 4 tahun tidak ada kata menyerah.
Dan pada akhirnya justru sang pujaan hati datang sendiri. Namun sedih karena kali ini Arman akan lebih sulit lagi untuk mendekati Tri. Lagi-lagi dia kalah dengan Adnan mantan muridnya yang sejak dulu mencintai Tri.
"Ah... andai saja saat itu tidak terjadi kesalah pahaman" gumam Arman sambil memukul stir mobil.
Flashback on.
Saat kejadian Arman kalah tanding tinju, melawan sang ayah. Ia tertidur di lantai tanpa alas di tempat olah raga hingga melewatkan shalat magrib.
Sedangkan di luar, acara lamaran akan segera di mulai. Keluarga Kinara sudah hadir sambil menunggu Arman mereka menikmati kudapan.
"Jeung Sulis, kemana perginya Nak Arman? kok tidak segera datang?" tanya mama Kinara wanita yang akan di jodohkan dengan Arman. Sudah satu jam menunggu.
"Mungkin masih di masjid jeung, Arman itu kalau shalat sering ke masjid," jawab bu Sulis, mengira Arman ke masjid. Karena jika di rumah memang benar adanya.
Sedangkan pak Burhan karena tidak menyetujui lamaran ini, beliau tidak memberi komentar apapun. Pak Burhan mengira Arman menyusul Tri yang kabur dan minta maaf kepadanya.
Jam berjalan, hingga jam sembilan malam. Arman tidak kunjung datang. Keluarga Kinara kembali ke hotel. Mereka sepakat acara akan di lanjutkan esok hari. Namun Kinara tetap berencana menginap di situ.
"Menurut saya, sebaiknya Nak Kinara di ajak menginap di hotel saja Mas, jika menginap di sini kesanya kok tidak pantas ya, apa kata tetangga nanti jika mereka melihatnya? mereka kan belum menikah." tolak pak Burhan, secara halus.
"Yah... biar saja, Kinar menginap di sini, jangan pedulikan kata tetangga!" potong bu Sulis.
Lagi-lagi pak Burhan mengalah, jika tidak. Sudah pasti bertengkar dengan istrinya. Orang tua Kinar pun akhirnya pamit pulang.
Setelah mengantar calon besan ke halaman rumah, bu Sulis semakin marah. Akhirnya kembali ke dalam rumah, meninggalkan Pak Burhan yang menunggu Arman di gazebo hingga jam 10 malam. Namun tidak juga datang membuat pikiran pak Burhan tidak tenang kemudian masuk ke ruang olah raga.
Pak Burhan melebarkan mata, kala menemukan anak sulungnya terkapar di lantai. Dengan perasaan berasalah pak Burhan mendekati putranya.
"Arman... bangun, huh! payah kamu, bukanya mengejar Tri, malah tidur di sini!" gerutu pak Burhan.
"Heeemm..." sahut Arman. Menggeliat.
__ADS_1
"Arman?" pak Burhan terkejut saat menepuk pelan pipi Arman terasa panas kemudian pindah ke dahi, memang benar-benar panas.
Pak Burhan merasa bersalah karena telah menghajar anaknya. Sebenarnya bertinju dengan Arman sudah beliau lakukan sejak Arman masih SMP agar Arman tidak manjadi pria lemah. Jika sebelumnya Arman selalu menang ketika bertanding denganya, tapi kini Arman tidak berdaya. Mungkin banyak yang di pikirkan Arman hingga tidak mampu berkonsentrasi.
"Bu, Arman sakit, ayo kita bawa ke rumah sakit" pak Burhan menemui bu Sulis di dalam kamar sekaligus ambil kunci mobil.
"Arman sakit, Yah? Sakit apa, bukanya tadi berlatih tinju sama Ayah?" cecar bu Sulis, yang sedang kesal karena gagal melamar Kinara malam ini pun mendengar anaknya sakit kepanikan terlukis di wajahnya.
"Panas, sebaiknya kita segera bawa ke rumah sakit" pak Burhan segera keluar di ikuti bu Sulis di ruang tamu berpapasan dengan Kinara.
"Ada apa, Ayah... Ibu?" tanya Kinara dengan pedenya memanggil ayah. Membuat pak Burhan melengos, tidak menghiraukan Kinara. Beliau segera memapah Arman ke mobil.
"Arman sakit Nak" bu Sulis yang menyahut.
"Kakak sakit Bu?" tanya Rini, mendengar derap langkah cepat. Rini yang sedang di kamar menghampiri ibunya.
"Iya Rin, Ibu mau ke rumah sakit dulu ya" Bu Sulis segera menyusul suaminya.
"Saya juga" Begitu juga dengan Kinara.
Semua ikut mengantar Arman ke rumah sakit kecuali Simbok. Arman di bawa kerumah sakit di mana Pak Suryo bapak Lastri menjalai rawat inap.
Flashback off.
Tok tok tok
Ceklak.
"Arman? ngapain loe hari kerja kesini? mau curhat kan loe, ada masah apa loe?" cecar Dimas adik ipar nya yakni suami Rini. Ternyata Rini sudah menikah dengan Dimas adiknya Arman.
"Dasar, adik ipar nggak punya sopan santun, Kakaknya datang kok. Loe-loe!" Arman menirukan kata-kata Dimas.
"Ahahah... ada apa Kakak ipar? mau curhat kan pastinya?" Dimas mengulangi. Arman langsung menjatuhkan bokongnya di sofa dan bersandar sambil terpejam tidak segera menjawab pertanyaan Dimas. Dimas geleng-geleng menatap Arman.
__ADS_1
"Siapa Mas?" Rini yang menggendong anak umur satu tahun keluar dari kamar.
"Kakak Mu nih, siapa lagi" Dimas lalu mengambil alih putranya.
"Oh Kakak? memang nggak ngajar sore ya Kak?" pertanyaan Rini pun sama lalu duduk di samping Arman. Mereka tahu biasanya setiap hari senin selesai mengajar, Arman segera mengajar di kampus.
"Mam, mam, maam..." celoteh Aksa. Membuat Arman membuka mata. Arman sayang sekali dengan keponakan itu.
"Yuk di gendong sama Om" Arman menggendong keponakanya.
"Kak, kak, kak" Aksa tertawa memamerkan empat gigi depanya ketika di cium Arman bagian ketiaknya. Membuat Arman merasa terhibur.
"Ar, sebenarnya ada apa?" Dimas kali ini bertanya serius. Memang begitu Dimas selalu memanggil Arman sahabatnya. Walaupun sudah menjadi kakak ipar, tidak bisa merubah panggilan karena lidahnya merasa kaku.
"Gw sudah ketemu sama Tri" lirih Arman. Sambil memeluk Aksa.
"Kakak sudah bertemu Lastri? terus dimana Kak, bagaimana kabarnya?" cecar Rini berbinar-binar. "Kalau sudah ketemu, kenapa Kakak bukanya senang justeru merengut begitu?" sambung Rini.
"Lastri sudah menikah ya Ar?" Dimas menduga-duga. Arman menggeleng.
"Terus..." imbuh Dimas.
Arman pun menceritakan pertemuanya dengan Lastri hari ini di sekolah.
"Jadi... Tri sudah menjadi Sarjana, dan menjadi Guru Kak? Ya Allah.... itu yang aku suka dari Tri. Gadis itu berjuang keras dari nol hingga mencapai cita-citanya" Rini berdecak kagum. Lain Rini lain Dimas justeru meledek sahabatnya.
"Ahahaha..." Dimas tertawa ngakak. "Jadi loe kalah bersaing Ar, huh dasar cemen, loe! terus loe ngalah begitu saja?" tandas Dimas.
"Heh! diem loe!" mereka berdua berbicara selayaknya sahabat tidak ingat lagi jika mereka sekarang adik kakak. Rini segera mengangkat Aksa dari gendongan Arman. Bahasa kakak dan suaminya sudah tidak bagus di dengar putranya. Kemudian Rini menidurkan Aksa di box di temani baby sitter.
"Menurut aku cepat dekati Tri Kak, sebelum di ambil orang" Rini kembali duduk di sebelah Arman.
.
__ADS_1