
Parno supir pak Burhan sampai di depan rumah bu Sulis. Begitu mobil berhenti secepat kilat Arman berlari. Lastri belum tahu apa yang terjadi melihat kepanikan suaminya segera mengejarnya. Namun tidak berani bertanya apapun mengingat wajah Arman yang tampak sedih.
Sampai di depan kamar ibunya tampak mbok dan pak Tono sedang berusaha mencongkel pintu namun karena pintu kayu jati yang kekar tenaga Tono kalah kuat.
"Ibu kenapa Mbok?" tanya Arman yang masih ngos ngosan berdiri di depan pintu.
Simbok kemudian menceritakan dengan kata tersendat-sendat pada tuan mudanya. Jika tadi Sulis ngamuk, tapi setelah itu tidak ada suara, simbok tampak khawatir jika nyonya mengalami sesuatu hal yang tak diinginkan.
"Minggir Pak Tono," titah Arman.
Brak.
Brakk.
Arman mendobrak pintu, dobrakkan yang ketiga pintu pun roboh. Tubuh kekar yang sering dilatih tinju sejak SD oleh pak Burhan tentu tidak sia-sia.
"Mbok ada apa?" tanya Tri yang baru saja sampai.
Belum sampai dijawab mbok begitu Arman lari masuk ke dalam kamar yang lebarnya dua kali lebih besar dari kamar pada umumnya. Lastri segera menyusul suaminya.
Betapa terkejutnya Arman, kala mendapati kamar yang berantakan. Barang-barang ibunya di kamar di obrak abrik. Kosmetik, figura ibu dan ayahnya, semua hancur.
"Bu... ibu dimana? Arman memindai sekeliling. Jantungnya seraya ingin copot sebab di depan cermin Sulis tergeletak bersimbah darah.
"Ibuuuu..." pekik Arman kemudian bersimpuh di lantai memangku kepala Sulis darah mengucur dari pergelangan tangannya, membasahi baju Arman.
"Ibuuu.... huuuu... kenapa bisa seperti ini? Huuuu..." Arman menangis sejadi-jadinya. Kini Arman benar-benar dalam titik terendah.
"Astagfirrullah...." Tubuh Tri terasa lemas, tapi setidaknya ia masih bisa berpikir. Tri berlari ke depan pintu dimana mbok dan Tono masih di situ.
"Mbok, ada P3K?"
"Ada Non,"
"Cepat ambil Mbok," titah Tri. Tri kemudian berlari ke dalam mendekati suaminya. Arman seolah otaknya ngebleng bukan mencari cara menghentikan darah namun justru meraung-raung.
__ADS_1
"Mas... segera kita bawa Ibu kerumah sakit," ucap Tri menyadarkan Arman.
"Non ini obatnya," mbok masuk bersama Tono.
Tidak banyak bicara, Tri ambil kain kasa membebat pergelangan tangan Sulis setidaknya mengurangi kucuran darah walaupun darah sudah keluar terlalu banyak.
"Mas ayo cepat angkat Ibu," Tri pun memekik karena Arman bergeming.
"Mari saya bantu Den," Tono berniat membantu. Namun secepat kilat Arman membopong tubuh Sulis berlari menuruni tangga.
"Mbok di rumah saja, tolong bereskan barang-barang kamar Ibu tapi hati-hati banyak pecahan kaca," ucap Tri sambil berjalan cepat.
"Baik Non," Mbok menatap kepergian Lastri yang sempat memungut sebuah buku milik mertuanya yang tergeletak di dekat pintu, tidak tahu buku apa itu namun Tri rupanya tertarik kemudian memasukan ke dalam tas.
"Non Lastri... Non memang orang baik, walaupun sering di sakiti tetap menolong Nyonya. Mbok berbicara sendiri, kemudian mulai membereskan kamar.
Semetara Lastri segara masuk ke dalam mobil duduk di sebelah Arman yang memangku kepala Sulis.
Tri mengangkat pergelangan tangan mertuanya tetesan darah sudah agak berkurang ia sedikit lega. Namun ketika memandangi wajah bu Sulis yang sudah pucat. Lastri hanya bisa berdoa.
Parno segera mengendarai mobil ngebut, jika tidak, nyawa Sulis bisa-bisa tidak tertolong.
"Mas... yang sabar..." Tri menghibur suaminya. Ia sedih suaminya sejak tadi mondar mandir di depan pintu dimana Ibu nya di tangani oleh dokter.
"Mas... sekarang duduk di sini, lebih baik berdoa, jika Mas mondar mandir begini, tidak akan membantu apapun," Tri berkata lembut mengusap-usap pundak Arman.
"Kenapa dokter lama sekali Tri," keluh Arman mengacak rambutnya sendiri.
"Bagaimana jika sampai terjadi apa-apa sama Ibu Tri. Aku takut Tri," Arman benar-benar sedih, selama ini hubunganya dengan ibunya tidak pernah akur jika sampai terjadi apa-apa Arman belum sempat minta maaf.
Ya, walaupun bagaimana yang namanya orang tua tetaplah orang tua. Walaupun kadang anak marah tentu tidak sampai ke hati apalagi hingga dendam.
"Aku tahu Mas, tapi tidak ada yang bisa kita lakukan selain sabar dan terus berdoa,"
Tri menatap mata suaminya sendu. Selama ini belum pernah melihat Arman seperti ini.
__ADS_1
"Tri, kira-kira ibu kenapa sampai berdarah begitu?" Arman belum bisa mencerna apa yang terjadi.
"Kita tunggu hasil pemeriksaan dokter Mas," jawab Tri.
Jika Arman saat ini tidak bisa berpikir, berbeda dengan Lastri, yang sudah bisa menyimpulkan, jika di lihat dari luka di pergelangan tangan mertuanya, sudah pasti Sulis melakukan percobaan bunuh diri. Namun Tri tidak ingin memberi tahu suaminya, biar saja dokter yang menjelaskan.
"Den Arman," Parno datang tergopoh-gopoh.
"Ada apa lagi Pak Parno?" Tri dan Arman segera berdiri.
"Tuan besar masuk rumah sakit Den," ujar Parno hati-hati menyampaikan.
"Astagfirrullah... ada apa lagi ini..." Arman menjatuhkan bokongnya di kursi, memijit pelipisnya saking banyaknya yang ia pikirkan.
"Mas... sebaiknya Mas di antar Pak Parno, menjenguk keadaan Ayah, biar Ibu aku yang menunggu di sini," usul Tri.
"Tapi..." Arman menatap Lastri lekat.
"Sekarang kita bagi tugas Mas. Mas sebaiknya menjaga Ayah, jika nanti sudah ada kabar dari dokter mengenai Ibu aku hubungi Mas,"
"Kamu benar sayang... terimakasih, aku berangkat," Arman mencium pipi istrinya kemudian berangkat.
"Yang kuat Mas, kenapa ujian kamu datang bersamaan," guman Tri menarik napas berat.
Tri seorang diri menunggu mertuanya sudah satu jam namun belum juga dokter keluar dari ruangan. Ia terasa haus. Wajar Tri terakhir minum saat makan siang tadi sedangkan saat ini sudah hampir magrib. Tri ambil botol air mineral dari dalam tas.
Pluk.
Sebuah buku bersampul merah marun yang ia simpan di tas jatuh ke lantai. Tri menelisik buku di lihat dari cover adalah sebuah buku harian.
Apa sebaiknya aku buka saja, tapi ini kan rahasia ibu.
Bukan bermaksud lancang karena telah membuka buku harian mertuanya. Tapi Lastri punya keyakinan mungkin buku ini yang bisa menyibak rahasia mengapa mertuanya sampai berniat melakukan bunuh diri. Walaupun ini baru pemikirin otak cerdas Tri.
Tri menimbang-nimbang perang di dalam hatinya sendiri. Buka enggak? Buka enggak? Dan pada akhirnya kata buka berada di penghujung. Dengan tangan gemetar Tri membuka lembar demi lembar buku dan membacanya.
__ADS_1
Bak disambar petir ternyata buku ini ada sangkut pautnya dengan kedua orang tuanya. Tri mengigit bibir bawahnya. Selama ini hanya mertua pria yang selalu baik kepadanya. Tetapi dengan kejadian ini akankah mertuanya masih akan terus bersikap baik kepada keluarganya? Tri membayangkan betapa sakitnya hati pak Burhan selama bertahun-tahun di bohongi.
"Ya Allah..." Lastri terus menyebut nama Allah.