
"Aku kedalam dulu ya Pak, mau membantu Ayu" pamit Tri kepada pak Suryo yang masih termenung.
"Apa kamu nggak capek Nak?" tanya pak Suryo.
"Tidak Pak" sahut Tri pendek, padahal hanya untuk melegakan hati bapak nya. Jika di tanya capek, jelas luar biasa capek. Namun Tri harus semangat.
Pak Suryo menatap langkah putrinya sendu, andai saja, bisa merubah takdir yang sudah di gariskan. Ia akan menjadi bapak yang bisa mencukupi kebutuhan anak-anaknya. Pak Suryo meremas rambutnya gusar. Ia merasa telah merampas kebahagiaan anak-anaknya. Tapi apa boleh di kata, ia hanya punya ijazah SD, dan hanya bisa menjadi kuli atau berjualan seperti sekarang.
"Pak, kenapa?" bu Santi duduk di sebelah suaminya yang sedang murung.
"Tidak Bu" elaknya.
"Bapak mendingan istirahat, ayo" bu Santi mengajak suminya beristirahat ke kamar. Melewati Tri yang sedang membuat pola.
Pak Suryo menurut karena memang kakinya terasa pegal habis jalan kaki setengah hari, beliau pun tidur.
Bu Santi memandangi wajah suaminya yang sudah mulai menua. Wajar, jarak bu Santi dengan suaminya hampir 9 tahun. Bu Santi tahu, jika begini pasti suaminya sedang memikirkan anak-anak. 30 tahun sudah Santi mendampingi pak Suryo, tentu tahu apa yang dirasakan suaminya.
Santi keluar dari kamar kemudian ke dapur melihat kedua anaknya Ponco dan Sapto, sedang merajang pisang dan singkong. Santi kemudian menggorengnya untuk jualan pak Suryo besok.
********
Siang berganti malam, lelah menyerang. Tri merebahkan tubuhnya di kasur setelah seharian bekerja. Namun matanya tidak bisa terpejam.
Tri membuka laci membuka surat cinta dari Arman saat SMK dulu, ia kembali membacanya sambil tersenyum.
Jujur Tri ingin sekali seperti dulu, mengulang masa-masa manis seperti dulu. Namun apalah daya.
Flashback on.
Setelah menerima penghinaan bu Sulis dan menghadapi kenyataan bahwa Arman akan bertunangan, Tri kembali pulang ke rumah. Ia pasrah kalau memang bukan jodohnya mau apa lagi. Tri mengumpulkan kepingan hati yang sudah hancur, lebih baik menyibukan diri memasak untuk ketiga adiknya ketika pulang sekolah nanti sudah matang.
Tri berjalan ke sumur menimba air, kemudian mencuci ayam yang ia beli di pasar tadi. Sekali-kali ia ingin memanjakan adiknya makan ayam goreng yang jarang mereka makan jika bukan mendapat rezeki lebih, tentu bapak tidak mampu membelinya.
Setelah matang, Tri menyiapkan bekal untuk bu Santi dan Mas Eko yang sedang menunggui pak Suryo di rumah sakit.
Dengan menggoes sepeda ponix, Tri sampai di rumah sakit, cari tempat parkir khusus sepeda, kemudian menemui bu Santi.
__ADS_1
"Ibu sama Mas Eko, sudah makan?" tanya Tri. Ia segera mengeluarkan bekal yang ia bawa, saat ini mereka sudah di ruang rawat.
"Belum Nduk, kamu memasak sendiri?" bu Santi menatap Tri masih tampak sembab baru habis menangis terkejut lalu menatap Eko yang tidak kalah terkejut. Pasalnya saat pulang tadi putrinya biasa-biasa saja.
"Kamu kenapa Nduk?" Santi menahan tangan Tri yang sedang menata rantang.
"Nggak apa-apa Bu, ayo makan dulu, ini aku masak sendiri sekalian buat adik-adik," Tri mengalihkan pembicaraan ibunya. Lalu mengeluarkan orek tempe, oseng kangkung dan dua potong ayam goreng.
"Waah... kamu memasak ayam goreng?" Eko tersenyum dipaksakan sebenarnya hanya ingin menghibur adiknya yang tidak baik-baik saja.
"Iya Mas, ayo makan" mereka makan walaupun tidak semangat.
Mereka menunggu pak Suryo hingga malam tiba. Saat isya Tri shalat berjamaah di masjid rumah sakit bersama Mas Eko dan juga para penunggu pasien yang lain.
Mereka berbincang-bincang hingga jam 10 malam.
"Mas Eko, sebaiknya pulang saja, malam ini... biar aku yang menemani Ibu, lagi pula besok kan Mas Eko harus kerja" kata Tri, selagi di sini ingin menemani Ibu. Kasihan kakaknya sudah beberapa hari tidak istirahat.
"Mulai besok... aku nggak mau lagi kerja, di rumah pak Arman" ujar Eko ada gurat kesal di wajah nya ketika ingat penghinaan bu Sulis. Sudah bekerja puluhan tahun, ketika terdesak ingin meminjam uang untuk biaya operasi pak Suryo justeru caci maki yang Eko dapat. Namun, Eko tidak mau bicara ketika di cecar pertanyaan oleh Tri, apa alasanya sampai tidak mau lagi bekerja di perkebunan pak Burhan.
Eko akhirnya pulang setidaknya untuk malam ini. Sementara Tri, setelah kepergian Eko segera keluar dari masjid ingin keruang rawat menemani Ibu.
Melihat kehadiran bu Sulis yang sedang panik, perasaan Tri tidak enak lalu menguping pembicaraan beliu dengan Dokter.
"Ada yang bisa saya bantu Bu?" dokter menghampiri bu Sulis.
"Dok, tolong cepat tangani anak saya, sudah satu jam loh, anak saya di UGD" napas bu Sulis tersengal-sengal menahan emosi.
"Jika kalian takut tidak dibayar, saya bayar, di muka!" sinis bu Sulis.
"Baik Bu, kebetulan Dokter jaga sedang menangani banyak pasien jadi harus menunggu giliran," suster yang menjelaskan.
"Apa kamu bilang?! Anak saya saat ini sedang sekarat, tapi di suruh menunggu giliran, kamu bilang?!" sinis bu Sulis.
"Mas Arman? Gumam Tri, mendengar kata sekarat hatinya mencelos. Tri menyesal karena tadi siang sedang kesal padanya lalu meninggalkan begitu saja, tanpa mendengarkan penjelasan Arman.
Derap langkah kaki dokter dan bu Sulis melintas di depan Tri menuju UGD. Tri mengikuti agak jauh dari belakang.
__ADS_1
Sampai di depan UGD tampak Rini, pak Burhan, dan Kinara sedang tegang di depan gorden pembatas antara pasien satu ke pasien lain, yang belum mendapatkan ruang inap. Dokter kemudian masuk ke ruangan tersebut diikuti bu Sulis.
Dengan langkah cepat Tri mendekati keluarga Arman lalu semua menoleh.
"Lastri," sapa pak Burhan, Rini dan juga Kinar bersamaan.
"Pak, Mas Arman kenapa Pak, Mbak Rini?" air mata Lastri bercucuran.
"Tenang Nduk, Arman sedang diperiksa Dokter," pak Burhan menenangkan. "Betul Tri, yang sabar ya, semoga Kak Arman baik-baik saja," sambung Rini lalu memeluk Tri.
"Mau apa kamu kesini?!" sinis bu Sulis menatap Tri nyalang. Mendengar suara gadis yang dibenci bu Sulis langsung ke luar.
"Bu, tahan emosi kamu! ini rumah sakit," cegah pak Burhan.
"Pergi kamu dari sini! Pergi...! Kamu yang menyebabkan Arman sakit, kamu juga yang mengajari Arman selalu membantah perintahku!" tuding bu Sulis, berapi api seraya mendorong-dorong tubuh Tri yang hanya diam seribu bahasa. "Kinar, usir Dia!" sambungnya.
Kinar seraya mendapat angin Surga, langsung menarik kasar tubuh Tri hingga keluar UGD.
"Jangan dorong-dorong terus, saya bisa jalan sendiri!" Tri menepis tangan Kinar.
"Heh kamu! wanita nggak tahu malu, sudah tidak dianggap masih juga mendekati Arman!" Kinar tak kalah sinis dengan bu Sulis padahal wajahnya terlihat kalem.
"Hahaha... yang tidak tahu malu itu siapa sih?! Aku atau kamu, hai... wanita yang bernama Kinar?!" Tri tertawa meledek, menekan dada Kinar dengan telunjuk.
"Perlu kamu tahu Kinar, kalau saya tadi siang datang kerumah Arman itu, karena atas perintah bu Sulis." Tri melipat dua tangan di depat dada tidak gentar.
"Aku bukan wanita seperti kamu, wanita yang bukan muhrim tapi menginap di rumah pria yang baru di kenal. Oh tidaaakk..." Tri mencibir.
"Kamu?!" Kinan ingin melayangkan telapak tangan ke wajah Tri. Namun segera ditangkap Tri.
"Jangan main-main Kinar, kamu pikir aku wanita lemah, jika saya mengalah dengan bu Sulis, karena beliu orang tua yang harus di hormati, tapi tidak untuk wanita seperti kamu," kata-kata Tri membuat mulut kinar seperti tersumpal.
"Kinar, perlu kamu tahu, aku berhubungan dengan Arman bukan hanya dengan hitungan hari, bulan, tapi selama 4 tahun, bahkan sudah hampir menikah. Tapi belum pernah sekalipun saya datang ke rumahnya apa lagi sampai menginap,"
Flashback off.
Tri menarik napas panjang lalu meutup laci meja kemudian mencoba untuk tidur.
__ADS_1
.