Perjuangan Sulastri.

Perjuangan Sulastri.
Bab 49


__ADS_3

Bu Sulis segera ke dapur menyusul simbok yang sedang mencuci belanjaan di wastavel.


"Daging sama Ayam nya mau dimasak apa Nyonya?" tanya Mbok menoleh bu Sulis yang sedang melipat tanganya ke belakang, meneliti hasil cucian Mbok, bersih atau tidak.


"Yang penting sudah bersih, simpan saja di kulkas, saya nanti akan memberikan kejutan kepada calon menantu, Mbok," bu Sulis menyeringai entah apa maksudnya.


"Kejutan? Bukanya kalau memberi kejutan itu, semua makanan sudah tersaji di meja makan, Nyonya," entah keberanian darimana sampai ART bu Sulis yang sudah bekerja sejak Arman kecil itu, berani berucap.


"Hus! jangan banyak bicara, Mbok, lakukan saja perintah saya," sarkas bu Sulis.


"Baik Nyonya," jawab Mbok, kemudian membuka kulkas memasukkan sayuran dan yang lainya.


Bu Sulis lantas meninggalkan Mbok. Simbok menoleh majikanya dari belakang. "Hii... wajahnya sedang mengerikan," gumam mbok.


*******


Tepat jam delapan pagi pasangan yang selalu putus nyambung itu baru turun dari pesawat. "Tri, kita sarapan dulu ya, aku lapar," ucapnya memang mereka belum sempat sarapan.


"Mau sarapan apa?" Lastri menyejajarkan langkah Arman yang tergesa-gesa.


"Di luar bandara ada opor ayam yang enak, kita makan di restoran itu ya," kata Arman kemudian memakai topinya yang ia tenteng sejak turun dari pesawat. Topi itu Lastri yang membuat khusus untuk calon suaminya.


"Okay... tapi aku ke toilet bentar ya," kata Tri.


"Iya, aku juga mau ke toilet kok," jawab Arman.


Mereka yang masih di dalam bandara segera ke toilet. Ternyata Tri yang keluar lebih dulu. Lastri menunggu Arman di pintu exit banyak sekali orang yang sedang menjemput keluarganya.


"Hai... kamu pulang darimana?" tanya seorang pria, melirik Tri dari samping.


"Saya dari Jakarta," jawab Tri singkat. Pria itu menelisik wajah Tri lebih dekat, rupanya ia mengenal.


"Lastri ya?" tanya pria itu.


Lastri menoleh cepat. "Kak Doni?" Tri dan Doni saling tunjuk.


"Hahaha... aku sebenarnya tadi ikuti kamu sejak keluar dari toilet, penasaran saja, benar kamu atau bukan? Eh nggak tahu nya benar kan, dugaanku," tutur Doni senang.


"Dasar! Kak Doni pengintai," seloroh Tri.

__ADS_1


Mata Lastri tidak sengaja menangkap perut Doni. "Eh. Kak Doni, setelah menikah, perutnya buncit, hihihi..." kikik Tri menutup mulutnya. Ia sampai nggak mengenali mantan majikanya itu jika Doni tidak menyapa.


"Itu artinya... aku bahagia setelah menikah kan," jawab Doni mengulas senyum.


Doni adalah tetangga Lastri. Dia orang kaya 11 12 dengan Arman, tapi keluarga Doni keluarga yang baik hati. Ketika SMP dulu Tri pernah bekerja di rumah bu Susi, yakni orang tua Doni. Keluarga Doni sering menolong keluarga Tri jika sedang kesusahan.


"Syukurlah Kak, aku turut senang. Oh iya Kak, Kak Doni disini menjemput siapa?" Tri sampai lupa bertanya.


"Menjemput Mama, Mama juga sedang undangan ke Jakarta." tutur Doni.


"Oh" Tri hanya menjawab begitu saja. "Kak Doni, Mas Eko kan sekarang katanya kerja di rumah Kakak? Bagaimana kabarnya?" Tri sudah tidak sabar ingin tahu kabar, Eko, walaupun sebentar lagi akan bertemu.


"Kakak mu baik-baik saja, Dia itu menjaga Toko sembako, milik Mama," tutur Doni lalu diangguki oleh Tri.


"Tri selamat ya, kamu ternyata sekarang sudah sukses, hebat kamu," puji Doni, kagum. Lastri yang dulu ketika kecil ingusan tidak pernah sembuh kini menjadi wanita sukses.


"Jangan berlebihan Kak, aku ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Kakak," Lastri merasa risi jika dikatakan wanita sukses.


"Ingat Nggak Tri? Waktu kamu kecil, selalu sakit pilek yang tidak sembuh-sembuh, terus hidungmu sampai merah, karena sering diusap dengan kaos yang kamu pakai? Ahahaha..." kali ini Doni yang meledek.


"Senang banget kalian? Jangan-jangan CLBK ya?" Arman tiba-tiba datang, merasa cemburu ketika Lastri ngobrol dengan Doni sampai tertawa tawa.


"Pak Arman?" sapa Doni.


Arman hanya diam seraya menunduk membuka lipatan celana panjangnya yang ia gulung ke atas sedikit, ketika ke toilet tadi.


"Sudah yuk, katanya mau sarapan," Lastri Mencairkan suasana tegang, di wajah Arman.


"Kak Doni aku duluan ya," kata Tri sambil berjalan.


"Iya" Doni menjawab singkat.


Arman segera mengejar Lastri yang sudah berjalan lebih dulu, tanpa menyapa Doni. Doni dan Arman dulu musuh bebuyutan ketika Lastri masih SMP keduanya sering dilanda api cemburu.


Doni menatap kepergian Arman hanya menggeleng. Saat ini Doni sudah punya istri pun masih di cemburui oleh Arman.


Sementara Arman berhasil mengejar Tri yang sudah dekat dengan restoran. Sampai di restoran Arman memesan makanan kesukaannya, yakni opor ayam.


"Kamu pesan opor juga ya?" tanya Arman menunjukkan buku menu.

__ADS_1


"Aku bubur kacang hijau saja, Mas, masa pagi-pagi sudah makan-makanan yang terlalu berat," tolak Tri.


"Okay... kacang hijau pakai roti nggak?" Arman hendak menulis di buku cacatan kecil yang ia ambil di atas meja.


"Nggak usah, bubur saja, ditambah mutiara," celoteh Lastri.


Arman pun memesan dua menu sarapan pagi sesuai selera mereka. Selama menunggu, Lastri banyak diam membuat Arman bertanya-tanya. Tidak lama kemudian pesanan datang.Tri menyeruput dengan sendok bubur kacang hijau yang banyak terasa jahe.


Sementara Arman mulai memotong opor ayam dengan garpu mereka, makan dalam diam.


"Mas" ucap Tri, di sela-sela menyuap kacang hijau, sedangkan Arman sudah habis lebih dulu.


"Heem..." Arman mengangkat kepala menatap Tri, tanganya menarik tisu kemudian mengusap mulutnya.


"Kamu yakin nggak sih... kalau kamu sudah siap menikahi aku?" tanya Tri seraya mengaduk-aduk bubur di mangkok.


"Pertanyaan macam apa itu? Apa kamu masih meragukan aku?" Arman terkesiap.


"Bukan aku yang meragukan Mas, tapi Mas yang justru masih meragukan aku,"


"Maksudnya apa?" Arman menatap seksama wajah Tri.


"Kalau memang Mas sudah yakin, ya sudah, percaya sama aku, jangan dikit-dikit cemburu, ngambek, curiga, mutungan," tandas Lastri.


Arman menyugar rambut klimis-nya. Tidak menjawab kata-kata Lastri. Arman memang selalu cemburu tiap kali Lastri berdekatan dengan pria lain, sebab pria itu rata-rata menyukai calon istrinya.


"Tujuan kita kesini itu kan, karena ingin meyakinkan Ibu, tapi Mas sendiri malah nggak yakin," Tri tidak habis pikir calon suaminya ini sudah 33 tahun tapi sikapnya masih seperti anak


abg.


"Mulai sekarang... Mas harus bisa menyikapi dengan bijak,"


"Iya Bu Guru, aku minta maaf," Arman terkekeh.


"Aku serius Mas, jangan tertawa," Lastri melotot tajam.


"Iya, Iya. Aku percaya," Arman mengangkat dua jari.


"Mas harus percaya sama aku, kalau memang aku ada rasa dengan mereka, mengapa tidak aku terima sejak dulu, padahal diantara mereka, orang tuanya, sayang sama aku. Itu karena... cinta aku hanya untuk Mas," Pungkas Tri.

__ADS_1


Setelah suasana kembali mencair mereka kembali melanjutkan perjalanan, menyetop taksi di pinggir jalan.


.


__ADS_2