
Kilas balik.
Sulis masih bersembunyi menguping pembicaraan Burhan. Setelah tahu, bahwa Burhan adalah orang nomer satu di daerahnya. Sulis membulatkan mata terkejut.
"Yes" seru Sulis, dan masih terdengar oleh Burhan dan supir mereka saling pandang.
Tidak lama kemudian sulis keluar membawa nampan berisi dua gelas teh hangat. "Diminum Mas," ujarnya.
"Terimakasih"
Singkat cerita, mulai saat itu, Sulis merayu Burhan dengan berbagai cara. Cinta Burhan pun lambat laun tumbuh. Satu tahun kemudian mereka menikah dan tinggal di kota bersama orang tua Burhan. Selama 10 tahun Sulis menjadi istri Burhan, selama itu pula, Sulis tidak pernah bertemu Suryono.
Setelah kedua orang tua Burhan tiada. Burhan membangun rumah di perkebunan yang lain, lalu memboyong Sulis ke daerah asal dimana Sulis dilahirkan dan saat itu sudah dikaruniai dua orang anak, yakni Arman berumur tujuh tahun, dan Rini 4 tahun. Burhan diberikan kekuasaan mengelola perkebunan dimana saat ini mereka tinggal.
Di daerah itu, Sulis selalu memantau kehidupan rumah tangga Suryo dan Santi tanpa Burhan tahu.
Suryo dan Santi walaupun hidup serba kekurangan tapi mereka hidup bahagia. Hingga membuat Sulis semakin iri dengan kehidupan mereka.
Berbanding terbalik dengan kehidupan Sulis dan Burhan, walaupun harta banyak tapi pertengkaran kerap terjadi. Sebab sifat buruk Sulis semakin lama, semakin nyata. Namun Burhan selalu menyikapi secara dewasa hingga rumah tangga mereka bisa bertahan.
Jika Sulis hanya punya dua orang anak, Suryo mempunyai enam anak. Perekonomian Suryo semakin sulit.
Kesempatan itu di gunakan Sulis untuk melancarkan dendamnya yang Sulis ingin pernikahan Suryo dan Santi hancur. Berbagai macam cara Sulis berusaha keras agar Suryo mau bekerja di perkebunan suaminya.
Suryo akhirnya bekerja di perkebunan, tentu Suryo tidak tahu jika perkebunan buah itu milik Sulis karena tempat tinggal mereka berjauhan.
Mulai saat itu lah, Sulis membalas dendamnya kerap kali Suryo berniat meminjam uang pada Burhan bos nya. Namun dengan berbagai alasan Sulis membujuk suaminya agar tidak memberi pinjaman. Walaupun begitu tanpa sepengetahuan Sulis, Burhan yang hatinya baik kerap kali meminjamkan tanpa sepengetahuan istrinya.
Bertahun-tahun Suryo bekerja di situ tidak pernah tahu jika perkebunan buah itu milik Sulis. Setelah Eko lulus SD Eko turut bekerja. Sulis semakin bersorak karena anak Suryo yang pertama tidak melanjutkan sekolah.
Tahun berganti tahun Arman sudah lulus kuliah dan akhirnya mengajar di salah satu smp negeri dimana Sulastri saat itu sekolah. Lastri sekolah sambil bekerja mencuci gosok di rumah bu Susi orang tua tua Doni untuk biaya sekolah.
Dunia begitu sempit ternyata Arman jatuh cinta kepada gadis kecil dalam diam dan ketika Lastri kelas tiga smp cinta Arman terbalas. Saat itu Suryo tahu jika Arman ternyata anak Sulis, walaupun syok namun Suryono bukan orang egois tentu tidak melarang putrinya berhubungan dengan Arman.
__ADS_1
Lama kelamaan Sulis mengetahui jika anaknya mencintai anak Suryo semakin meradang. Sulis tidak ingin punya besan Suryo dan Santi.
**********
Burhanuddin.
Pak Burhan setelah turun dari pesawat langsung numpang taksi, tidak berniat telepon supir agar di jemput. Separuh pikirannya sudah di rumah ingin cepat bertemu Sulistyanengseh dan menginterogasi. Mengapa istrinya itu semakin gila sampai tega meneror menantunya.
Taksi ferrari melaju cepat hingga akhirnya sampai di rumah mewah milknya.
"Selamat sore Tuan," sapa mbok yang sedang mengepel teras.
"Sore Mbok. Ibu ada?" tanya pak Burhan sambil melepas sepatu pantofel kemudian meletakan di rak.
"Belum lama ini beliau keluar Tuan,"
Tidak menyahut simbok, Burhan segera masuk ke kamar membuka jas, kemeja, dan celana bahan, hanya menyisakan kaos dalam, dan celana pendek. Pria yang masih perkasa di usianya yang sudah 60 tahun itu segera ke kamar mandi.
Tidak lama kemudian kembali ke kamar netranya menangkap buku tebal berwarna merah marun.
Burhan rupanya tertarik dengan buku harian entah milik siapa. Pria lulusan sarjana kehutanan itu kemudain duduk di kasur membaca lembar demi lembar menceritakan tentang kisah cinta yang tak lain istrinya.
Wajah pak Burhan memerah kala membaca bait bait dan namanya juga tertulis di situ.
...*Kadang ada saatnya lelah hati ini untuk mendampingi kamu. Dan ada saatnya dimana aku harus merenung sendiri tanpamu, meskipun hati ini menangis, tak ada pilihan lain, selain tegar. ...
...Benarkah kita ini berjodoh? tapi nyatanya hati kita tidak bisa bersatu, bertengkar dan terus menerus bertengkar. ...
...Andai aku bisa memilikinya mungkin hidup aku tidak akan seperti ini. Mengukir cinta yang indah bersamanya tapi takdir berkata lain*....
Pak Burhan mengepalkan tangan, selama ini merasa dibohongi oleh istrinya sendiri. Bertahun-tahun mencoba untuk bersabar menghadapi sikap istrinya. Tetapi ternyata Sulis tidak mengerti. Bahkan istrinya selama ini mencintai pria lain.
Di buku itu terang-terangan Sulis menulis tentang cinta nya dengan Suryo yang tidak terbalas, dan tujuan awal mengapa ia menikah dengan Burhan.
__ADS_1
Burhan terus membaca tulisan itu hingga kurang lebih satu jam masih belum selesai, hingga akhirnya derit pintu terdengar, istrinya masuk ke kamar.
"Ayah sudah pulang?" tanya bu Sulis menutup pintu kembali, lalu meletakan tas dan kipas di atas meja sofa. Merasa pertanyaannya tidak di jawab, Sulis menatap mata suaminya yang sedang menatapnya tajam mengobarkan api kemarahan.
Braaak"
Burhan melemparkan buku harian Sulis ke tembok, dengan napas tersengal-sengal.
"Yah..." Sulis menoleh buku yang di lempar suaminya ternyata saat membaca tadi lupa menyimpannya kembali.
Sulis mundur ketakutan habis sudah riwayatnya saat pak Burhan mendekatinya.
Plak"
Satu tamparan mendarat di pipi Sulis. Sulis jatuh tersungkur di lantai dengan isak tangis.
Burhan mengamati telapak tangannya yang memerah saking kencangnya ia menampar. Walaupun sering bertengkar pak Burhan selama menikah dengan istrinya belum pernah memukul.
Ya... inilah realita, kesabaran seseorang akan ada batasnya. Seperti yang dialami pak Burhan. Emosinya kini sudah sampai puncaknya.
"Bangun Sulis!" pak Burhan mengangkat kerah baju kebaya istrinya rupanya bu Sulis baru pulang kondangan di lihat dari sofener yang ia pegang terpental ke lantai.
"Kuranghajar kamu Lis!" Burhan mengangkat telapak tangannya ingin menampar kembali.
"Pukul aku, Mas! Kalau kurang puas, bunuh aku, Mas!" Sulis pun berteriak menatap wajah suaminya.
Burhan menurunkan tanganya mendorong dada Sulis dengan tangan kiri hingga terhuyung.
Burhan ambil pakaian dari lemari membawanya ke ruangan yang biasanya ia gunakan untuk olah raga bersama Arman. Selesai mengenakan pakaian disana, Burhan kembali ke luar minta supir agar mengantarkan ke rumah lamanya di kota Y.
Di dalam mobil Burhanuddin tidak sepatah kata pun berbicara. Ia merenungi jalan hidupnya. Jika bukan karena anak-anak mungkin rumah tangganya dengan sulis sudah tidak bertahan sejak dulu.
Ternyata dirinya selama ini hanya di jadikan pelampiasan istrinya. Di usianya yang sudah tua seharusnya sudah berbahagia dengan ke hadiran cucu-cucu nya. Tapi kenyataannya ia masih menghadapi masalah yang tak kunjung berakhir.
__ADS_1
.