
Tri bersama Mustofa berjalan bersama hendak menuju kelas. Namun langkah Tri berhenti saat anak-anak berlarian menuju lapangan hendak mengikuti upacara hari senin.
"Ada apa Bu Tri, kok berhenti?" Mustofa balik badan menatap Lastri.
"Kenapa Pak Mus hendak masuk kelas? kita kan mengikuti upacara dulu" Tri berucap.
"Astagfirrullah... iya, kenapa saya sampai lupa ya," pak Mus menepuk dahi dengan telapak tangannya sambil menggeleng. Ia memandang Tri yang sudah berjalan lebih dulu kemudian mempercepat langkahnya. "Sulastri, kamu sungguh menghipnotis aku" Mustofa berbicara sendiri sambil geleng-geleng.
"Bu Tri, nanti pulang sama siapa?" tanya Mustofa setelah mendekat.
"Sendiri Pak" Tri memperlambat langkahnya. Kali ini mereka berjalan bersebelahan.
"Naik apa?" selidik Mustofa, melirik Tri di sampingnya.
"Naik angkot?" jawab Tri pendek.
Pak Mus bersorak dalam hati. Inilah kesempatan emas untuk bisa mengantar Tri berboncengan naik motor hanya berdua. Pak Mus tersenyum, sudah menyusun rencana padahal jam pelajaran saja belum di mulai.
Tri yang kebetulan menoleh menatap Mustofa yang sedang tersenyum sendiri. Tri mengerutkan dahi. "Lagi membayangkan pacarnya kali? batin Tri.
"Bu Lastri, nanti pulang bareng ya" kata itu terucap juga dari bibir Mustofa.
"Bagaimana nanti saja, Pak Mus" alasan Tri santun.
"Yes" Mustofa mundur tanpa Lastri tahu mengangkat tangan ke atas kemudian menariknya ke belakang. Namun gumaman Mus, masih di dengar Tri. Mereka berdua sampai di lapangan sebagian guru sudah berbaris.
Tampak Arman melempar pandang kearah Tri begitu juga sebaliknya. Namun Lastri buru-buru membuang pandangan ke tempat lain.
Mustofa kemudian berdiri di sebelah Arman. "Pak Arman, aku sudah kenalan sama Guru yang baru tadi loh, namanya Sulastri sederhana sih, tapi... wajahnya itu loh, heeemm" Mustofa berceloteh.
Sementara Arman tidak menanggapi. Ia melipat tanganya ke belakang sambil mengawasi murid-murid yang mulai berisik membicarakan guru yang baru saja bergabung berdiri di antara bu Dedeh dan Sundusyah.
"Waah... kalau guru cantik begitu, gw betah di kelas" celetuk salah satu murid.
"Gw juga berani nembak, walaupun lebih tua dari gw, nggak apa-apa dech" murid di sebelahnya menyahut. Suasana menjadi ramai dan berisik ternyata tidak hanya guru, para siswa pun mengaggumi guru barunya yang tak lain adalah Tri.
"Harap tenang-harap tenang" pak Arman berdiri di depan siswa yang berisik. Otomatis Arman justeru berhadapan dengan wanita yang di dicintainya.
__ADS_1
Kali ini keduanya tidak lagi terbawa suasana, upacara bendera segera dimulai dan berlangsung dengan tertib.
Pak kepala sekolah memberikan sambutan tentang bagaimana agar anak-anak didiknya meningkatkan prestasi belajar.
"Saya beri salah satu contoh, di sekolah ini, dulu ada salah satu siswi. Yah... katakanlah dia berasal dari keluarga yang tidak mampu. Namun, karena rajin belajar dan mendapatkan nilai yang luar biasa bagus. Dia mendapatkan beasiswa memajukan sekolah ini, dengan kemampuannya di bidang akademik. Dia mengikuti cerdas cermat hingga ke tingkat nasional. Dan saat ini pun beliu bergabung di sini, dan akan membagikan ilmunya yang beliau miliki kepada kalian."
Beliau adalah Bu Guru kalian yang baru. Bernama Sulastri,"
Plok plok plok
"Bu Sulastri kami harap maju ke depan" titah pak kepsek. Membuat Tri terperangah.
Namun, Dengan senyum ramah yang kas. Tri segera maju kedepan menyembunyikan kegugupan nya kepada guru-guru seprofesi dan juga kepada calon anak didiknya.
Semua mata tertuju padanya, siswa yang mengantuk karena mendengarkan sambutan, kini menjadi segar.
Arman berkaca-kaca menatap kekasihnya sejak SMK itu kini tampak menjadi sorotan. Atas kerja kerasnya kini gadis kecilnya dulu telah tumbuh dewasa.
Arman tahu, sejak menjadi gurunya saat SMP. Tri wanita yang kuat, walaupun banyak cobaan tidak pernah menjatuhkan air mata. Namun, ketika menjadi kekasihnya kerap kali ia memergoki Tri sedang menangis.
Arman menarik nafas berat, cintanya kepada Tri, sungguh luar biasa. Namun mengapa sulit sekali untuk mereka bersatu? Otak Arman berputar kembali ke masa lalu saat kebersamaannya, dan pada akhirnya mereka berpisah karena Arman merasa menjadi pria pengecut.
Upacara telah usai, Arman berjalan bersama guru-guru yang lain, pandangannya menangkap Mustofa yang selalu mendekati Lastri. Walaupun hatinya merasa tidak rela. Arman rasanya sudah tidak ada lagi keberanian untuk menyapa gadis yang masih memenuhi ruang hatinya.
Semua guru masuk kelas masing-masing termasuk Tri, ia mengajar kelas 3. A.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
Semua murid yang pria khususnya terperangah. Guru cantik yang menjadi perbincangan di lapangan tadi kini hadir di hadapanya.
"Selamat pagi anak-anak..." Tri berdiri di depan kelas.
"Selamat pagi Bu Guru..." anak-anak menjawab antusias.
"Mungkin saya tidak perlu memperkenalkan diri, pasti kalian sudah tahu siapa nama saya ketika di lapangan upacara tadi." Tri berjalan di samping murid-murid nya, yang duduk dengan tertib.
__ADS_1
"Ibu... cantik-cantik kok, namanya Sulastri?" tanya anak yang berwajah tampan, bernama Anwar.
"Huuu..." seru anak-anak, yang awalnya tertib menjadi gaduh karena memprotes Anwar, karena mengatai nama guru idolanya.
"Anak-anak... mohon tenang ya, tidak ada yang salah kan? dengan nama saya, nama saya ini pemberian dari Bapak saya loh" Lastri seketika mengingat cerita pak Suryo.
"Nama Sulastri ini berasal dari bahasa jawa, yang artinya malam yang baik. Menurut cerita orang tua saya, saya dulu di lahirkan tepat tengah malam" tutur Lastri.
Setelah berkenalan Tri menyampaikan materi ia mengajar kewirausahaan.
*******
Waktu sudah siang, saat ini Tri masih mengajar pagi, karena liburan kampus masih dua bulan lagi baru nanti ia akan mulai kuliah. Dan akan menyesuaikan jadwal meminta persetujuan kurikulum tentunya.
Setelah shalat berjamaah di masjid pondok pesantren Al Inayah, Tri bergegas ke tepi jalan menunggu angkutan umum.
Mengetahui Tri ingin pulang, Arman berjalan cepat hendak mengejar Lastri, berniat mengantar pulang ingin tahu dimana ia tinggal.
Begitu juga dengan Mustofa, setengah berlari ia menuju parkiran motor. Saking terburu-buru khawatir di tinggal. Mustofa hingga menabrak Arman.
"Astagfirrullah... Pak Mus, jalan hati-hati" titah Arman karena Arman hingga terhuyung.
"Maaf Pak Arman, saya terburu-buru" terkekeh, lastas bergegas mengambil motor.
Sementara Lastri di pinggir jalan menunggu angkutan umum sejak tadi selalu penuh. Kakinya terasa gatal karena lama berdiri.
Ciiiitttt... mobil berwarna silver berhenti di depanya. "Selamat siang. Bu Guru..." goda Adnan memberikan senyum terbaliknya.
"Kak Adnan" Tri terkejut.
"Cepat naik, aku ke sini sengaja menjemput, Bu Guru loh" Adnan terus menggoda. Tri menurut segera masuk ke dalam mobil yang sudah di bukakan pintu oleh sang pemilik. Tri tidak tahu sepasang mata menatapnya nelangsa.
Arman hanya bisa bermimpi untuk mengantar Tri, ia hanya menatap mobil yang di kendarai Adnan berjalan lambat karena di depan sekolah jalanan padat merayap. Wajar, yayasan ini terdiri dari SD, SMP dan SMK, SMA.
"Lah-lah, bu Tri mana Pak Arman? cepat sekali?" Mustofa pun gigit jari, karena rencananya gagal. Sedangkan Arman tidak menimpali Mustofa segera meninggalkan tempat itu.
.
__ADS_1