
"Aku akan menikahi Lastri tanpa sepengetahuan Ibu, toh keluarga Lastri semua ada di sini," kata Arman pada Rini sang adik, dan juga Dimas adik iparnya. Arman tidak ada pilihan lain, sebab Ia juga ingin bahagia.
"Jadi, maksudnya mau kawin lari Ar?" Dimas menatap sahabat sekaligus kakak Iparnya tidak percaya akan ide gilanya terlebih sang Istri mendukung.
"Bukan kawin lari dodol! kan sudah di restui Ayah," Arman menoyor jidat Dimas.
"Siapa yang akan kawin lari Mas?" Lastri yang baru kembali dari toilet bertanya serius.
"Bukan siapa-siapa, kita temui mempelai yuk" Arman mengalihkan, kemudian beranjak.
"Ayo Kak Rini" Lastri menunggu Rini.
"Aku sudah tiga kali ke sini, Tri, bosan nanti Dina aku salami terus," Rini tertawa. Memang benar Rini bolak balik dari pagi membantu mertuanya menyiapkan ini itu.
"Hehehe iya juga sih, aku tinggal Kak," Tri bersama Arman, menuju pelaminan melewati karpet panjang merah marun, kemudian ikut antri hendak memberi ucapan kedua mempelai.
"Selamat menempuh hidup baru sahabatku" Tri mengurai senyum.
"Lastri... kamu?" Dina terperangah tidak menyangka sahabatnya akan hadir di sini. Kontan Dina memeluknya.
"Gw ngga di peluk Tri," kelakar Bayu.
Lastri mengurai pelukan menatap kedua nya. "Kalian jahat, nggak mau undang aku!" Tri mencebik.
"Bagaimana mau undang loe, Tri. Loe itu kaya jelangkung, tiba-tiba ilang, terus datang tiba-tiba, pula" cicit Dina.
"Loe sombong Tri, kalau loe sengaja kabur dari Pak Arman, setidaknya loe kabari gw kek!" sungut Dina. Menatap Arman yang hanya diam.
"Bukan begitu Din, aku hanya ingin fokus satu hal. Nah, sekarang kan kita sudah bertemu, nanti loe gw kasih alamat terus nginep lagi di rumah," kata Tri tidak tahu reaksi Bayu yang kesal, membuat Arman terkekeh.
"Huh enak saja! Sekarang ini, Dina sudah punya laki, berarti nggak boleh lagi nginep-nginep!" potong Bayu.
"Iya, iya. Kak, pelit amat!" Tri melengos.
"Selamat Bay, Dina," Arman yang di belakang Lastri menepuk pundak Bayu.
"Thanks" jawab Bayu singkat. "Segerakan Ar, keburu kabur lagi tuh," bisik Bayu ketika Lastri sudah turun dari pelaminan.
"Pastilah, doakan, ya" Arman kemudian menyusul Lastri.
"Kita cari makan yuk, kamu mau makan apa?" tanya Arman melirik Tri di sampingnya.
"Mas mau makan apa?" Tri balik bertanya.
__ADS_1
"Aku akan makan favorit kamu, baso tanpa mie," Arman ingat dulu mereka sering makan baso bersama.
"Ayo" Arman memindai ruangan yang agak sepi, kemudian duduk di sana. "Kamu di sini saja, aku yang antri baso,"
"Ya" Tri menjawab pendek. Arman pun meninggalkan Tri. Mata Tri tertuju kepada 4 sosok pria, dan wanita, yang dikenal nya yaitu teman-teman SMK nya dulu.
"Tri tersenyum senang kemudian menghampiri mereka. "Assalamualaikum..." Lastri mengucap salam.
"Waalaikumsalam..." kontan mereka menoleh. Keempatnya menatap Tri seksama mengingat-ingat wajah familiar di depanya.
"Lastri..." pekik Yuyun. Sahabat karibnya. Fera, Aldo dan Tio pun mendekat.
"Buset deh, gw hampir nggak mengenali loe," kata Fera.
"Semakin cantik loe Tri" Yuyun menimpali.
"Teimakasih... kita cari tempat duduk yuk, kita ngobrol-ngobrol, sudah lama loh kita nggak bertemu" Tri mengajaknya duduk lupa dengan Arman yang sedang mencarinya.
"Apa kegiatan loe sekarang Tri? loe itu teman yang paling susah di temui." kata Yuyun.
"Aku menjahit, mengajar, kuliah," Tri absen kesibukanya.
"Waah... hebat ya loe, kita-kita ini dampak krisis moneter, kena phk semua," keluh Aldo.
"Iya, tapi yang menjadi masalah di dunia pendidikan saat ini, dampak krisis banyak orang tua yang kena phk, ya gitu deh, otomatis kan biaya pendidikan menjadi terhambat," jawab Tri.
"Oh iya, aku kan membuka jahitan di rumah, dan sudah banyak klien aku, sekarang kita kerja sama cari klien, nanti kita bagi hasil. Bagaimana?" Tri memberi penawaran.
"Ide yang bagus" jawab mereka kopak lantas tukar nomor hp nokiyem.
Mereka ngobrol panjang lebar sambil tetawa-tawa.
Sementara Arman menunggu Tri hingga baso dingin tidak juga datang. "Kemana sih Tri" Arman bergumam sendiri. Lalu netranya menangkap sosok yang di cari-cari sedang asyik tertawa-tawa. Arman berjalan mendekati mantan murid-muridnya itu.
"Pak Arman?" seru mereka seketika berdiri dan memberi salam kepada guru idolanya yang semakin tampan hingga kini.
"Oh iya aku lupa," Tri tersenyum menatap Arman yang sedang terlihat kesal. Spontan Tri memegangi tangan Arman. Arman melirik tanganya yang di pegang, marahnya seketika menghilang.
"Hai... semua... aku tinggal ya," Tri melambaikan tangan kemudian menjauh.
"Basonya dingin tuh, kamu sih kelamaan." kata Arman ketika sudah duduk di tempat semula.
"Maaf... ketemu teman-teman, masa nggak nyapa sih Mas," kata Lastri mencicipi kuah baso sedikit, tanpa menatap Arman.
__ADS_1
"Sudah, Mas... dimakan, jangan cemberut begitu cepat tua loh, eh memang sudah tua sih," ledek Tri.
"Mulai berani kamu ya," Arman menggenggam tangan Tri, keduanya saling pandang, empat mata saling bertemu.Tampak gelora cinta yang membuncah.
Tri, kemudian menarik tanganya, suasana menjadi hening mereka pun menikmati baso hingga habis.
"Tri ada yang ingin aku bicarakan," Arman akhirnya bicara serius.
"Mau bicara apa? Serius banget?" Tri meletakkan gelas yang berisi juce buah di depanya. Menanti apa yang akan Arman bicarakan.
"Aku sudah minta restu Ayah, hendak menikahi kamu," jujur Arman.
"Oh gitu... berarti, Ibu sudah merestui kita ya Mas?" tampak binar di wajah Tri.
"Belum, jika kita menunggu restu Ibu, sampai tua pun Ibu tidak akan memberi restu," Arman menunduk lesu.
"Terus..." Tri menatap Arman, bingung.
"Kita akan menikah tanpa setahu Ibu, dan dalam waktu dekat Ayah akan melamarmu datang kesini," tutur Arman enteng.
"Tidak! aku tidak setuju," tolak Tri cepat.
"Loh memang kenapa? menikah itu yang penting ada wali, Bapak juga ada di sini, kita akan menikah sederhana dulu, yang penting sah," Arman sudah yakin akan keputusan nya.
"Please Tri aku tidak ingin kehilangan kamu," Arman memelas.
"Sudah aku bilang, tidak sutuju kan Mas, aku kecewa sama Mas, mana sikap Guru dan Dosen yang selalu menjadi panutan," tandas Tri.
"Menikah itu bukan antara aku dan kamu, tapi menyatukan dua keluarga, dengan restu mereka, kita akan menjalani hidup tenang," Tri berbicara bijak.
"Tapi sampai kapan Tri?" Arman tampak menyerah.
"Biarkan kita jalani dulu Mas, jika kita berjodoh tidak akan kemana, aku masih muda, umurku belum genap 23 tahun, tidak ingin terburu-buru," tegas Tri.
"Tanpa menikah dengan Mas, bahkan aku jarang sekali bertemu ibu pun, sudah banyak luka di hati aku Mas, jadi aku tidak ingin menambah luka aku semakin dalam lagi, aku ingin hidup aku tenang, seperti sekarang," Tri ingat semua kata hinaan bu Sulis wajahnya berubah sedih.
"Aku tidak ingin aneh-aneh sudah cukup punya keluarga yang selalu mendukung aku," Tri ingat keluarganya yang selalu menyayanginya tersenyum sendiri.
"Mas pikir, dengan kita menikah tanpa setahu Ibu, hidup kita akan tenang Mas, ridho seorang ibu, adalah ridho Allah, aku ingin mempunyai mertua yang menyayangi aku seperti, orangtua aku sendiri," Tri berbicara yakin.
"Lastri..." Arman mengangkat kepalanya menatap gadis kecilnya, dulu ternyata benar sudah dewasa.
.
__ADS_1