Perjuangan Sulastri.

Perjuangan Sulastri.
Bab 29


__ADS_3

Tri mencoba untuk tidur dengan susah payah akhirnya tidur juga. Keesokan harinya, sebelum subuh Tri sudah bangun melanjutkan menggunting bahan yang sudah ia buat pola kemarin sore. Ketika karyawannya datang nanti tinggal menjahit.


"Sambil diminum teh nya Nduk" bu Santi yang sedang membuat sarapan membuatkan teh untuk putrinya.


"Nanti Tri buat sendiri Bu" sahutnya. Tri tidak mau merepotkan ibunya dan bergantung pada orang lain, selagi bisa akan mengerjakan sendiri.


"Ndak apa-apa to Nduk" bu Santi menjawab lembut.


"Terimakasih Bu" Lastri kembali membentang kain berwarna biru muda untuk membuat baju muslim. Ia mendapat pesanan membuat seragam gamis ibu-ibu pengajian.


Hingga mendapat beberapa pola, mendengar adzan subuh Tri menundanya dulu. Menjalankan shalat subuh berjamaah bersama keluarga. Pak Suryo sebagai imam.


Hingga jam lima pagi Tri mandi terlebih dahulu sebelum ketiga adiknya akan berebut kamar mandi. 15 menit Tri mandi, benar saja. Catur sudah menunggu di depan kamar mandi.


"Kamu kuliah pagi Tur?" tanya Tri sambil menggosok-gosokkan telapak kakinya di atas keset depan kamar mandi.


"Masuk jam delapan Mbak" jawab Catur pendek sambil tergesa-gesa masuk ke kamar mandi, rupanya pria jangkung dan tampan mirip Tri itu, sudah kebelet.


Tri hanya tersenyum kemudian kembali ke kamar ganti pakaian setelah memilih baju atasan dan rok panjang. Baju yang rata-rata ia buat sendiri. Setelah rapi, Tri membersihkan wajah dengan pembersih mengenakan bedak tipis, menutup kepala dengan kerudung, kemudian sarapan bersama. Itulah rutinitas Tri setiap pagi.


Ponco dan Sapto berangkat bersama, mereka menggoes sepeda. Sepeda yang sudah lama karena mereka bawa dari kampung dulu.


Tri pun segera berangkat naik angkutan umun kali ini ia berangkat bersama Catur karena mereka satu arah. "Kata Ponco, Arman mengajar satu sekolah dengan Mbak Tri ya?" Catur memastikan.


"Iya, lucu ya Tur, dimana-mana kami bertemu," Tri tersenyum. Dan tidak lepas dari pandangan Catur.


"Mbak masih cinta sama Dia?" selidik Catur.


Tri menggeleng pelan entah apa maksudnya.


"Saya ingatkan Mbak, jangan sampai terluka lagi, Mbak Tri cantik kok, bisa mendapat pria yang jauh lebih segalanya dari Arman," Catur rupanya diam-diam peka apa yang terjadi. Membuat Tri terperangah, menoleh adiknya cepat. Namun tidak menjawab apapun.


Tidak terasa angkutan sampai di depan sekolah. "Tur, Mbak turun duluan ya," ucapnya sambil berdiri, lalu menunduk khawatir ke kejedot atap angkutan.


"Hati-hati ya Mbak" pesan Catur.

__ADS_1


"Iya Tur, kamu juga," Tri memijak kaki ke tanah, sedangkan angkutan kembali berjalan lambat. Tri masih memandangi angkutan yang di tumpangi Catur kuliahnya lebih jauh dari sekolah ini.


Tri berjalan santai anak-anak sudah datang menyambutnya dengan senang. "Selamat pagi Bu," ucap anak-anak menyalami tangan Tri bergantian.


"Selamat pagi," Tri tersenyum ramah. Namun senyumnya mendadak menghilang saat melihat dari kejauhan, wanita berwajah galak, yang baru turun dari mobil kecil berwarna merah hati berjalan berlenggak lenggok menuju ruang guru.


"Bella," ucap Tri dengan mulut menganga, dan didengar oleh anak-anak.


"Ibu mengenalnya?" tanya Najwa murid kelas 3 A.


"Iya, beliau dulu kakak kelas saya, waktu kuliah. Apa beliau mengajar di sini juga?" Tri menatap ketiga muridnya di depanya bergantian.


"Betul Bu, kalau saya dengar... bu Bella, tunangan Tuan Adnan pemilik yayasan ini," terang Najwa. Tri menggangguk paham. Padahal Tri sudah tahu sejak dulu.


"Dia itu selama mengajar disini, namanya sudah diganti Bu, bukan Bella lagi" Reyhan menyambung pembicaraan.


"Oh sudah ganti nama ya? Siapa?" Tri bertanya serius.


"Mak Lampir Bu. Hahaha..." Jony menyahut sambil terbahak-bahak di ikuti Reyhan dan Najwa.


"Hus! Kalian tidak boleh begitu," Tri menghentikan tawa mereka.


"Tunggu Tri"


Sebelum sampai tujuan, langkah Tri kembali berhenti saat namanya samar-samar dipanggil. Ia memutar bola matanya, sosok pria yang selalu membayangi kehidupannya jalan mendekat. Mendekat-mendekat hingga sampai tepat di hadapanya. Keduanya saling pandang diam tidak mampu berkata.


"Tri"


"Pak"


Keduanya saling menyapa.


"Bapak dulu, yang bicara" Tri berucap. Dalam hati ia berharap, Arman akan menjelaskan bahwa pernikahanya dengan Kinar tidak jadi dilaksankan. Dan doa Tri selama ini berharap agar bu Sulis berubah menjadi baik dikabulkan oleh Allah.


"Kamu dulu" Arman justeru berharap Tri yang menjelaskan mengapa ia pergi begitu saja tanpa memberi tahu. Padahal tanpa di jelaskan tentu Arman tahu alasanya, pasti karena bu Sulis.

__ADS_1


Keduanya kembali diam.


"Saya rasa, sedikit lagi jam masuk sekolah pak, saya duluan," Tri balik badan hendak menuju ruang guru.


"Tunggu Tri" baru beberapa langkah Arman memanggilnya. Tri pun berhenti namun tidak menoleh.


"Kamu sudah mendengar kabar? kalau Dina dan Bayu akan menikah?" tanya Arman. Membuat Tri kembali balik badan.


"Dina dan Mas Bayu akan menikah? Kapan?" tanya Lastri tersenyum senang. Saking senangnya, tanpa Tri sadari memegang telapak tangan Arman.


Arman menunduk menatap jari manis Lastri ternyata masih terselip cincin lamaran yang ia selipkan empat tahun yang lalu. Senyum terukhir di bibir Arman. Arman yakin masih ada secercah harapan untuk bisa memiliki gadis kecilnya.


"Maaf, saya terlalu senang karena Dina dan Mas Bayu akan menikah," Tri menarik tanganya cepat.


"Masih dua minggu lagi, nanti kita berangkat bersama ya," Arman antusias.


"Saya tidak di undang," Tri beralasan.


"Di undang kok, undangannya masih di rumah Dimas. Ya mau ya, nanti aku jemput," paksa Arman.


"Saya tidak janji Pak Arman, bagaimana nanti saja," Tri mengakhiri obrolan, kemudian berlalu kali ini benar-benar meninggalkan Arman.


"Assalamualaikum..."


Waalaikumsalam..." tampak semua guru sudah berkumpul hanya Arman dan Bella yang tidak ada. Tri kemudian duduk di kursi samping Sundusyah.


Mustofa serasa mendapat sebongkah berlian kala menatap gadis yang baru di kenal nya dua hari ini, rupanya, Mustofa jatuh cinta dalam pandangan pertama.


Sebelum bel berbunyi guru menyiapkan buku sesuai bidang studi masing-masing untuk bahan mengajar hari ini.


"Assalamualaikum..." Arman akhirnya masuk. Semua guru menjawa salam Arman, guru wanita yang masih lajang pun merasa betah memandang guru tampan itu.


"Tri, jika kamu bisa menundukkan Guru yang satu ini, walaupun kamu paling cantik, dan paling muda aku berani bertaruh," sesumbar bu Rosidah.


Tri yang sedang mengeluarkan buku dari tas menatap Rosidah guru yang berbadan gemuk hanya tersenyum tidak menimpali.

__ADS_1


"Tunggu bentar, kalau bahasa gaulnya, nanti Arman pasti akan nembak aku," Sundusyah menyahut.


Bu Dedeh guru yang paling tua hanya tersenyum mendengar obrolan konyol teman-teman nya.


__ADS_2