
Alea mengajak Ardi untuk mencoba berbagai makanan yang ada di sana, kali ini Alea membeli snack yang cukup populer yaitu ciki kebul. Mereka hanya membeli satu porsi, di setiap makanan yang mereka inginkan dan di makan berdua.
"Tasya, lihat itu. Kenapa Alea dan pak Ardi terlihat begitu dekat." Kata Cantika sambil menunjuk Alea sedang menyuapi Ardi.
"Yaa, Aleakan keponakannya." Jawab Natasya.
"Lihat dengan benar. Mereka seperti sepasang kekasih." Kata Cantika kesal.
"Benar juga sih, aku jadi penasaran." Kata Natasya.
"Bagaimana kalau kita ikuti mereka." Kata Cantika.
"Untuk apa, ayo kita pulang saja! Kepalaku pusing." Kata Natasya sambil menarik tangan Cantika.
"Tapi, Tasya. Aku penasaran." Kata Cantika.
"Lain kali saja kita cari tahu, sekarang ayo kita pulang!" Kata Natasya.
"Iya iya." Kata Cantika pasrah.
.....
"Om, itu Rita dan Fani ada di sana, kita kesana yuk!" Kata Alea sambil menujuk kearah Rita dan Fani.
"Hai, kalian lagi apa?" Tanya Alea menghampiri Rita dan Fani.
"Kita lagi lihat jepit rambut, sini deh bagus-bagus loh." Jawab Fani.
"Om, cocok gak?" Tanya Alea sambil menempelkan jepit rambut pita berwarna pink.
"Tidak." Jawab Ardi.
"Kalau yang ini?" Tanya Alea lagi sambil menempelkan jepit rambut bunga berwarna kuning.
"Tidak juga." Jawab Ardi.
"Coba yang ini." Kata Ardi sambil menempelkan jepit rambut kupu-kupu berwarna biru muda.
"Cocok, beli yang ini saja." Kata Ardi sambil memberikan jepit rambut kepada Alea.
"Di pakai saja sekalian." Kata Ardi setelah membayarnya.
"Bagaimana, cantik?" Tanya Alea setelah memakai jepit rambut yang baru di beli.
"Tidak." Jawab Ardi.
Alea pun cemberut mendengar jawaban dari Ardi.
"Begini." Kata Ardi sambil melepas ikat rambut Alea dan merapikannya dengan rambut sebelah kanan di biarkan tergerai, sedangkan yang sebelah kiri di selipkan di telinga dengan di pakaikan jepit rambut tadi.
"Nah sekarang terlihat sangat cantik." Kata Ardi sambil tersenyum setelah selesai merapikan rambut Alea.
"Uuuh, pak Ardi perhatian banget sih sama Alea. Suami idaman." Kata Fani sambil memegang kedua pipinya.
"Sadar woe. Pak Ardi itu guru kita." Kata Rita sambil mencubit hidung Fani.
"Aduh, jangan nyubit-nyubit." Kata Fani kesal.
"Sudah, ayo kita pulang sekarang?" Kata Rita.
"Sebentar lagi." Kata Fani.
"Mau apa lagi, sampai Alea pulang pun kamu gak akan bisa bersama pak Ardi." Kata Rita.
"Setidaknyakan aku bisa melihatnya." Kata Fani.
__ADS_1
"Terserah, aku mau pulang." Kata Rita kemudian pergi meninggalkan Fani.
"Heh, kok aku di tinggal." Kata Fani kemudian berlari menyusul Rita.
"Seharusnya aku yang bersamamu, Al. Bukan pak Ardi." Kata Mico sambil melihat Alea dari jauh.
"Kenapa pak Ardi ikut segala sih, aku jadi tidak berani mendekatimu." Kata Mico lagi kesal.
"Percuma saja kalau begini, pulang sajalah." Kata Mico menyerah.
"Alea, ayo kita pulang, sudah malam!" Ajak Ardi.
"Nanti saja, mumpung aku punya kesempatan untuk bermain." Kata Alea.
"Memangnya mau apa lagi?" Tanya Ardi.
"Aku ingin bermain semuanya lagi." Jawab Alea.
"Memangnya kamu gak capek apa?" Tanya Ardi.
"Enggak." Jawab Alea.
"Kalau Om capek, tunggu di sini saja." Kata Alea.
"Enggak, Om gak capek." Kata Ardi.
"Kalau begitu ayo kita pergi, keburu tutup nanti." Kata Alea sambil menarik tangan Ardi.
Alea mengajak Ardi kembali mencoba berbagai permainan yang ada di sana bukan hanya sekali tapi berulang kali hingga Alea merasa puas.
"Alea makan apa sih, energinya gak habis-habis." Batin Ardi sudah mulai kelelahan.
"Alea, ayo kita pulang saja. Hujan akan turun." Kata Ardi merasakan ada tetesan air yang menimpanya.
"Iya, Om. Aku juga udah capek." Kata Alea.
Tak lama kemudian hujan turun, Alea dan Ardi pun kehujanan di sepanjang perjalanan mereka. Sesampainya di rumah mereka sudah basah kuyup, setelah mengganti pakaian Ardi langsung tidur kerena kelelahan. Sedangkan Alea masih sibuk mengeringkan rambutnya sambil melamun membayangkan kebersamaannya dengan Ardi di pasar malam tadi.
"Ternyata es batu itu bisa bersikap manis juga." Kata Alea sambil memegang jepit rambut pemberian Ardi tadi sambil membayangkan bagaimana sikap manisnya Ardi kepadanya yang menata rambutnya tadi.
Setelah selesai dengan lamunannya ia segera menyimpan jepit rambutnya dan pergi ke tempat tidur.
"Dia sudah tidur, mungkin kecapean karena aku ajakin main terus, hihi. Maaf ya, tapi terima kasih. Aku tidak pernah merasa sebahagia ini selama hidupku hingga sekarang. Aku bersyukur tuhan mempertemukanku dengan mu." Kata Alea pelan sambil berbaring di samping Ardi.
Mereka tidur satu ranjang sejak trauma Alea kambuh saat mati lampu beberapa waktu yang lalu.
.....
Keesokan harinya matahari sudah bersinar terang, namun belum ada satu pun yang bangun di antara mereka berdua. Hingga Alea terbangun dengan suara dering dari ponselnya.
"Hoaam. Sudah pagi ternyata." Kata Alea sambil duduk dan mengumpukan kesadarannya.
"Dia juga belum bangun." Kata Alea sambil menoleh ke arah Ardi yang masih tidur.
"Jam berapa sih." Kata Alea sambil mengambil ponselnya.
"Hah, sudah jam delapan." Kata Alea melihat jam di ponselnya.
"Om, bangun sudah pagi." Kata Alea sambil menggoyang-goyangkan badan Ardi.
"Om." Kata Alea mencoba membangunkan Ardi lagi.
"Hm." Jawab Ardi lirih.
"Dia kenapa." Kata Alea mendengar suara Ardi yang lirih.
__ADS_1
"Badannya panas, dia demam." Kata Alea memeriksanya dengan memegang dahinya.
"Pasti karena kehujanan tadi malam." Kata Alea kemudian pergi keluar kamar.
"Alea, Ardi mana?" Tanya Tantri melihat Alea datang ke dapur sendirian.
"Om Ardi demam, Bu." Jawab Alea.
"Demam, kok bisa, Al." Kata Tantri.
"Iya Bu, semalam kita pulang kehujanan, mungkin masuk angin." Kata Alea.
Mendengar itu pun Tantri langsung mengecek putranya ke kamar.
"Kamu sakit, Ar?" Tanya Tantri kepada Ardi sambil memegang dahinya.
"Alea, tolong ambilkan air hangat untuk mengompres." Kata Tantri kepada Alea.
"Iya, Bu." Kata Alea segera pergi ke dapur.
Tak butuh waktu lama bagi Alea untuk mengambil semangkok air hangat.
"Biar aku saja yang mengompresnya, Bu." Kata Alea meminta sapu tangan yang dipegang Tantri.
"Ya sudah kalo begitu, ibu akan mengambilkan obat penurun panas." Kata Tantri kemudian pergi dari sana.
"Iya, Bu." Kata Alea.
Alea dengan telaten merawat Ardi yang sedang sakit. Bahkan Alea juga yang menyuapi dan memberikan obat kepada Ardi.
"Kamu sudah makan atau belum?" Tanya Ardi dengan suar yang masih lemah.
"Belum." Jawab Alea.
"Kalau begitu makanlah, aku akan beristirahat." Kata Ardi.
"Iya." Kata Alea beranjak pergi sambil membawa nampan yang berisi piring dan gelas kosong.
"Tunggu!" Kata Ardi menghentikan langkah Alea.
"Ada apa." Tanya Alea sambil menoleh ke Ardi.
"Terima kasih." Ucap Ardi sambil tersenyum.
"Sama-sama." Jawab Alea sambil tersenyum manis kemudian melanjutkan langkahnya.
"Aleaa.. hiks hiks." Kata Ardi pelan sambil menangis.
"Ada apa, apa ada yang sakit, katakan?" Tanya Alea panik.
"Ituu." Jawab Ardi pelan sambil menunjuk ke arah meja dekat tempat tidur, yang terdapat seekor kecoa merayap ke arahnya.
Alea tepuk jidat kerena itu, dia pikir terjadi sesuatu kepada Ardi dan ternyata hanya karena ada seekor kecoa. Alea pun segera menangkap dan membuang kecoanya.
"Kecoanya sudah ku buang, apa perlu sesuatu?" Tanya Alea sambil duduk di samping Ardi.
"Iya." Jawab Ardi dengan nada manja
"Apa?" Tanya Alea lagi.
"Kemari mendekatlah!" Kata Ardi sambil menarik tangan Alea.
"Disini saja ya, temani aku." Kata Ardi manja sambil memeluk lengan Alea dan menyandarkan kepalanya ke bahu Alea.
"Apa demamnya belum turun. Sudah." Batin Alea sambil memegang dahi Ardi.
__ADS_1
"Tapi Apakah demam bisa mengubah kepribadian seseorang." Batin Alea heran dengan tingkah Ardi yang tiba-tiba berubah menjadi manja.
Bersambung.....