
Vita setia mengikuti Natasya dan Cantika yang terus mengawasi Alea dan menguping pembicaraan mereka.
"Alea sekarang sendiri, ayo kita pergi menghampirinya!" Ajak Natasya.
"Sekarang aku harus pergi kemana, mereka semua pergi meninggalkan aku." Kata Alea bingung.
"Seneng ya di perhatiin dua cowok, mana bintang idola semua lagi." Kata Natasya.
"Apa maksudmu?" Tanya Alea.
"Mico dan pak Ardi itukan sama-sama bintang idola. Entah bagaimana mereka berdua sangat peduli denganmu." Kata Cantika.
"Ya Mico itukan temanku, sedangkan pak Ardi omku. Tentu saja mereka peduli." Kata Alea.
"Tapi reaksi mereka itu berlebihan dan kamu selalu saja mencari perhatian ke pada mereka tidak tahu malu. Bukannya kamu sudah menolak Mico dan pak Ardi itu adalah ommu." Kata Natasya.
"Apa salahnya mencari perhatian kepada omnya sendiri?" Tanya Alea.
"Tentu saja salah, sikapmu itu terlalu berlebihan." Jawab Cantika.
"Kenapa memangnya, iri bilang aja." Kata Alea.
"Sombong banget ya jadi cewek." Kata Cantika.
"Sabar, Can." Kata Natasya menenangkan Cantika yang mulai emosi.
"Akan aku jelaskan, sikapmu kepada pak Ardi itu memang berlebihan dan pak Ardi juga begitu. Kalian itu bertingkah seakan-akan tidak selayaknya seperti om dan keponakannya, melainkan seperti pasangan kekasih. Terlebih kamu menolak Mico, sudah di pastikan karena pak Ardi kan." Jelas Natasya.
"Sepertinya mereka mulai curiga, aku harus lebih berhati-hati lagi. Jangan sampai rahasia ini terbongkar." Batin Alea.
"Jangan sok tahu jadi orang, aku tahu kalian itu iri padaku. Tidak perlu mengarang cerita seperti itu, hanya karena kalian tidak bisa dekat dengan orang yang kalian suka." Kata Alea tidak mau kalah.
"Iri kepada orang yang sombong seperti dirimu, yang benar saja." Kata Natasya.
"Halah, ngaku aja deh. Kalian itu memang iri padaku. Aku beri tahu ya, jika ingin di hargai maka hargailah orang lain. Mico itu tahu mana orang yang baik dan mana orang yang jahat, ya tentu saja dia tidak mau berteman dengan orang jahat seperti dirimu." Kata Alea.
"Apa katamu, kamu itu yang jahat." Kata Natasya mulai emosi.
"Sabar-sabar, jangan gampang marah, nanti cepat tua lo." Kata Alea.
"Kamu ini." Kata Natasya marah ingin menjambak rambut Alea namun, tidak jadi karena sadar ia berada di sekolah.
"Eh ini di sekolah, jangan ribut. Nanti bisa masuk ruang bk lo. Eh tapi gak apa-apa sih buat Cantika, nanti bisa bertemu pak Ardi. Di marahi maksudnya." Kata Alea meledek.
"Diam kau." Kata Cantika kesal.
"Baiklah, aku rasa perdebatan kita sudah cukup. Aku pergi dulu, daaa sampai jumpa lagi." Kata Alea sambil melambaikan tangan dan pergi meninggalkan Natasya dan Cantika.
__ADS_1
"Lihat saja kamu, Al. Aku pasti akan menyingkirkanmu, tunggu saja nanti." Kata Natasya kesal.
"Aku juga pasti akan membalasmu kerena sudah meledekku." Cantika kesal juga.
"Hmm, kalau di pikir-pikir benar juga kata Natasya. Alea dan pak Ardi itu terlalu dekat, saat acara api unggun di camp waktu itu pak Ardi tiba-tiba marah. Dan di saat itu Alea sangat dekat dengan Mico, mungkin saja pak Ardi cemburu. Saat di persawahan mereka juga sangat asik bermain bersama. Apa benar mereka memang punya hubungan, aku penasaran." Batin Vita yang menguping pembicaraan Natasya tadi.
"Permisi, boleh aku bergabung." Kata Vita menghampiri Natasya dan Cantika.
"Siapa kamu?" Tanya Cantika.
"Kenalin namaku Vita." Kata Vita sambil mengulurkan tangan, namun diabaiakan oleh Cantika.
"Aku sudah tahu kalau namamu itu Vita." Kata Cantika.
"Dasar sombong, sudah tahu pake nanya lagi." Batin Vita.
"Aku Natasya dan ini temanku Cantika." Kata Natasya sambil menyalami Vita.
"Jadi apa benar, kamu yang mendorong Alea ke jurang?" Tanya Natasya.
"Ya, itu benar." Jawab Vita.
"Kenapa kamu melakukan itu?" Tanya Natasya lagi.
"Panjang ceritanya, yang jelas dia itu dulu preman sekolah dan sering kali merundungku. Aku pindah sekolah pun dia juga mengikuti ku, aku sangat benci padanya. Rasanya aku ingin melenyapkan dia saja." Jelas Vita.
"Cantika!" Kata Natasya menghentikan Cantika.
"Kenapa dia begitu menyebalkan." Batin Vita.
"Oke, entah apa pun alasannya yang jelas kamu itu dendam kepada Alea. Benar begitu." Kata Natasya lagi.
"Iya, kurang lebih begitu." Kata Vita.
"Lalu kenapa kamu tadi berteman dengannya?" Tanya Natasya.
"Sebenarnya aku ingin menjebaknya dengan menggunakan teman-temanku untuk membencinya, tapi sayangnya aku terjebak olehnya." Jawab Vita.
"Lalu sekarang apa yang ingin kamu lakukan?" Tanya Natasya.
"Aku ingin membuat Alea menjadi penjahat seperti yang aku rencanakan sebelumnya, tapi aku membutuhkan bantuan." Jawab Vita.
"Aku tidak mau bekerja sama denganmu." Kata Cantika.
"Lagi pula aku tidak bicara denganmu." Kata Vita tidak mau kalah.
"Aku bisa membantumu." Kata Natasya.
__ADS_1
"Apa, kamu serius ingin bekerja sama dengannya?" Tanya Cantika.
"Kenapa?" Kata Natasya bertanya kembali.
"Kita tidak tahu dia itu orang yang seperti apa." Jawab Cantika.
"Tapi dia juga membenci Alea, apa salahnya jika bekerja sama dengannya?" Tanya Natasya.
"Terserah kamu sajalah, yang jelas aku tidak mau bekerja sama dengannya." Jawab Cantika kemudian pergi meninggalkan Natasya.
"Cantika, tunggu! Kamu mau kemana?" Tanya Natasya namun tidak di respon oleh Cantika.
"Sepertinya dia tidak menyukaiku." Kata Vita.
"Hah, sudahlah biarkan saja dia. Cantika memang begitu. Nanti aku akan bicara dengannya." Kata Natasya.
"Jadi apa rencananya?" Tanya Natasya.
.....
Alea pergi ke kelas menyusul teman temannya dan ternyata hanya ada Mico di sana, Mico duduk di bangku yang biasa ia tempati bersama Alea sambil bermain ponsel.
"Mico, kenapa hanya sendiri, yang lain kemana?" Tanya Alea sambil duduk di samping Mico.
"Tidak tahu." Jawab Mico sambil fokus bermain ponsel.
"Mico, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud mempermainkan perasanmu, aku hanya ingin membuatmu tidak terlalu hawatir padaku." Kata Alea.
"Hm." Tanggapan Mico tetap fokus pada ponselnya.
"Hanya hm." Kata Alea tidak percaya.
"Apa kamu masih marah padaku?" Tanya Alea namun tidak di respon.
"Hah, iya aku memang salah. Aku minta maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi." Kata Alea dengan nada sedih, namun tetap saja tidak di respon oleh Mico.
"Bercandaku tadi terlalu berlebihan ya, aku menyakiti hati Mico lagi. Kenapa aku bisa lupa tentang perasaannya kepadaku. Sekarang bagaimana." Batin Alea sambil bersandar di kursi dan pandangnnya lurus kedepan.
Sedangkan Mico sama sekali tidak peduli, ia hanya fokus pada ponselnya saja.
"Sampai kapan dia akan mendiamkan aku. Lainnya pada kemana sih, sepi sekali." Batin Alea masih dalam posisi yang sama.
"Membosankan sekali, apa Mico tidak lelah bermain ponsel terus." Batin Alea sambil melihat Mico masih sibuk bermain ponsel.
"Kenapa dia masih diam saja, mungkin masih marah padaku." Batin Alea sambil menyandarkan kepalanya di atas meja dengan bertumpu menggunakan kedua tangannya.
"Emang enak di kerjai, makanya jangan jahil." Batin Mico melihat Alea sebentar sambil tersenyum.
__ADS_1
Bersambung......