Pernikahan Rahasia Murid Dan Guru

Pernikahan Rahasia Murid Dan Guru
Martabak dengan cinta


__ADS_3

Saking asiknya berbincang-bincang dengan Ardi, Erika baru ingat setelah Ardi pergi meninggalkannya jika ingin pergi menemui ayahnya yang bersama Alea di ruang tamu, setelah ingat ia pun bergegas pergi kesana namun sebelum sampai di sana ia melihat Alea bersama Ardi sedang berbisik-bisik sambil melihat ke arah ayahnya berada.


"Sedang apa mereka berdua disana?" Batin Erika.


"Tunggu sebentar, tadi kenapa tiba-tiba Ardi jadi ramah padaku? Oh jadi dia membantu Alea untuk memprovokasi ayah rupanya." Batin Erika menduga apa yang mereka lakukan. Setelah Alea dan Ardi pergi, Erika langsung menemui ayahnya.


"Ayah! Apa yang Alea katakan pada, Ayah?" Tanya Erika sambil duduk di samping Eko.


"Kenapa kamu bertanya?" Tanya Eko.


"Mungkin saja dia mencoba memprovokasi Ayah, mungkin dia menginginkan sesuatu atau apa gitu untuk balas dendam karena dia sudah di nikahkan paksa." Jawab Erika.


"Menginginkan apa? Lagi pula dia terlihat bahagia bersama Ardi." Kata Eko.


"Ya, kitakan tidak tahu apa yang dia rencanakan. Jangan terlalu percaya padanya, Yah. Mungkin saja dia menginginkan warisan atau yang lainnya." Kata Erika.


"Jika masalah harta, aku yakin sudah terpenuhi di sana. Meski suaminya hanya seorang guru tapi ayah mertuanya itu punya perusahaan tidak seperti ayah yang bekerja di perusahaan orang." Jelas Eko.


"Ya, namanya orang serakah mana tahu." Kata Erika.


"Bukannya yang lebih suka duit itu kamu ketimbang Alea." Batin Eko.


"Tapi dia sudah banyak berubah, Er." Kata Eko.


"Bagaimana Ayah bisa yakin, dia baru kemarin malam di sini, kita tidak tahu seperti apa dia." Kata Erika.


"Jangan percaya dulu, Yah!" Kata Erika lagi.


Eko hanya menatap Erika sebentar kemudian pandangannya lurus kedepan sambil berfikir.


"Apakah memang Alea menginginkan sesuatu? Kalau di pikir-pikir sebenarnya dia itu anak yang baik, tapi...."


"Hah entahlah, sepertinya kamu memang benar, untuk apa aku memikirkan bocah itu, aku punya banyak pekerjaan yang belum aku selesaikan, lagi pula dia bukan anakku." Kata Eko kemudian pergi meninggalkan Erika.


"Baguslah, ayah tidak terpengaruh oleh omongan Alea. Ayah lebih percaya padaku." Kata Erika sambil tersenyum senang.


....


Alea bersama Ardi sedang mengobrol di kamarnya sambil duduk di sofa.


"Jadi apa yang kamu bicarakan dengan ayah tadi?" Tanya Ardi.


"Aku meminta maaf kepadanya dan memintanya untuk lebih peduli dengan ibu." Jawab Alea.


"Hmm ternyata istri kecilku ini sudah mulai dewasa." Kata Ardi memuji Alea sambil mengacungkan dua jempol. Sedangkan Alea hanya tersenyum menanggapinya.


"Setengah jam lagi kita akan kembali, ayo kita berkemas!" Kata Alea.


"Iya."


Setelah selesai berkemas Alea pergi keluar kamar untuk mencari ibunya, ia mendapati ibunya di dapur sedang sibuk mengeluarkan belanjaan.


"Ibu, dari mana?" Tanya Alea menghampiri ibunya.


"Habis belanja." Jawab Yuli.


"Oh iya, Bu. Aku dan om Ardi akan kembali sekarang." Kata Alea.


"Kenapa buru-buru sekali, sebentar dulu ibu baru saja ingin membuatkan martabak untukmu." Kata Yuli.


"Tidah usah repot-repot, Bu. Jadi Ibu tadi beli bahan martabak ya." Kata Alea.


"Iya, jadi tunggulah dulu." Kata Yuli.


"Ya sudah kalau Ibu memaksa, Alea bantu ya." Kata Alea ingin membantu ibunya.

__ADS_1


"Eh, tidak usah ini sangat mudah, kamu tunggu saja di situ!" Kata Yuli sambil menunjuk kursi di dekat meja makan. Sedangkan Alea hanya tersenyum dan menuruti kata ibunya, ia duduk sambil memerhatikan ibunya membuat martabak untuknya dengan senyuman terukir dari bibirnya karena Yuli membuat martabak itu dengan cinta.


.....


"Kenapa Alea lama sekali?" Kata Ardi setelah lama menunggu Alea dan pergi mencarinya.


"Ardi, kamu mau kemana?" Tanya Erika.


"Lihat Alea tidak, Kak." Kata Ardi.


"Tidak." Kata Erika.


"Mungkin ada di dapur." Batin Ardi kemudian pergi meninggalkan Erika.


"Eh, tunggu!" Kata Erika ingin menghentikan langkah Ardi namun tidak di respon.


"Ih, nyebelin banget sih." Gurutu Erika karena di abaikan oleh Ardi.


"Alea, ternyata kamu ada disini. Sedang apa?" Tanya Ardi datang menghampiri Alea.


"Menunggu ibu." Jawab Alea.


"Kita harus segera berangkat, taxinya sudah datang sejak tadi kasihan menunggu lama." Kata Ardi.


"Kalian naik taxi, kenapa tidak bersama Tantri dan Rama?" Tanya Yuli.


"Mereka sudah pulang lebih dulu, Bu. Ada pekerjaan yang harus di selesaiakan oleh ayah." Jawab Ardi.


"Oh begitu, sebentar ya, tunggu sebentar lagi." Kata Yuli.


"Iya, Bu. Tidak usah buru-buru, kami tunggu." Kata Ardi melihat ibu mertuanya sedang sibuk membuat martabak, ia mengerti jika ibu mertuanya membuat martabak itu untuk Alea.


"Ibu, martabaknya di bungkus saja ya. Nanti akan aku makan di perjalanan." Kata Alea sambil mencari wadah untuk mebungkus martabak tersebut.


Setelah acara bungkus membungkus itu selesai, Yuli mengantar Alea dan Ardi hingga ke teras rumah.


"Terima kasih ya, karena sudah mengunjungi ibu." Ucap Yuli.


"Iya, Bu. Sama-sama." Ucap Alea sambil tersenyum.


"Kalau begitu kami pamit, assalamualaikum." Ucap Ardi kemudian pergi lebih dulu.


"Waalaikumsalam, hati-hati di jalan." Ucap Yuli.


"Ibu, jaga diri baik-baik ya." Kata Alea sambil memeluk ibunya. Ia memeluk ibunya begitu erat, rasanya berat jika harus meninggalkan ibunya. Tanpa ia sadari air matanya mengalir begitu saja, masih dalam pelukan ibunya.


"Iya, tentu saja ibu akan jaga diri dengan baik. Jangan menangis, ibu akan baik-baik saja. Kasihan itu Ardi menunggu lama." Kata Yuli sambil mengelus kepala Alea. Sedangakan Alea masih setia memeluknya.


Setelah puas memeluk ibunya Alea pun segera melepas pelukannya dan menghapus air matanya.


"Pergilah, rumah ini selalu terbuka untukmu dan ibu akan setia menunggu kedatanganmu." Kata Yuli sambil tersenyum. Sedangkan Alea hanya mengangguk dan tersenyum menangapinya, kemudian menyusul Ardi ke mobil. Setelah sampai di mobil Alea melambaikan tangan kepada ibunya, begitu pun dengan Yuli, ia membalas lambaian tangan dari putrinya dan melihat taxi yang di tumpangi putri dan menantunya itu hingga tidak terlihat lagi, setelah itu barulah ia kembali masuk rumah.


"Mereka sudah berangkat." Kata Eko datar kepada Yuli.


"Sudah, Mas." Kata Yuli.


"Tolong buatkan aku kopi!" Kata Eko.


"Iya, Mas." Kata Yuli kemudian berjalan menuju dapur dan di ikuti oleh Eko di belakangnya.


"Kamu membuat martabak untuk Alea." Kata Eko melihat dua potong martabak yang tersisa di piring, karena tidak muat di masukkan semua di kotak yang Alea bawa.


"Iya, Mas. Kenapa, Mas mau juga?" Tanya Yuli.


"Iya." Jawab Eko.

__ADS_1


"Sebentar aku buatkan, ini kopinya, Mas." Kata Yuli sambil meletakkan secangkir kopi hitam panas di depan suaminya.


"Kenapa sepi, bocah ingusan itu sudah berangkat ya?" Tanya Erika tiba-tiba datang dan duduk di depan ayahnya.


"Ibu membuatkannya martabak, kenapa Ibu begitu peduli padanya?" Tanya Erika lagi sambil mengambil sepotong martabak yang tersisa.


"Kenapa memangnya, Alea putri ibu." Jawab Yuli sambil sibuk membuat martabak.


"Iya-iya, hanya Alea putri ibu." Kata Erika ketus.


"Kamu ini kenapa?" Tanya Yuli heran.


"Ibu lebih sayang Anak haram itu dari pada aku." Jawab Erika kesal.


"Erika! Kenapa kamu menyebut Alea seperti itu?" Tanya Yuli.


"Memang benarkan." Jawab Erika kesal.


"Sudah cukup! Selama ini ayah dan ibumu memberikanmu kasih sayang sepenuhnya dari pada Alea, apa itu masih belum cukup? Belajarlah jadi orang dewasa, lihat dirimu usiamu sudah 23 tahun bukan anak-anak lagi." Kata Eko.


"Kenapa ayah juga membela Alea?" Tanya Erika tidak terima.


"Aku tidak membela Alea, tapi menasehatimu." Jawab Eko.


"Terserahlah." Kata Erika kemudian pergi dari sana.


"Kenapa dia tidak berubah, apa aku salah mendidiknya? Apa aku perlu menikahkan dia juga?" Tanya Eko kepada Yuli namun tidak mendapat respon.


"Alea dan Erika itu berbeda, Mas." Jawab Yuli setelah diam beberapa saat. Sedangka Eko berfikir mencerna ucapan dari istrinya itu.


"Kalau di pikir-pikir memang benar, hati Erika lebih keras jika di banding dengan Alea." Batin Eko sambil mengingat bagaimana Alea memeluk ibunya di teras rumah tadi sebelum Alea pergi, secara diam-diam Eko memperhatikannya karena penasaran dengan Alea.


"Ini martabaknya, Mas." Kata Yuli sambil meletakkan sepiring martabak di hadapan suaminya.


"Iya."


"Kamu mau kemana?" Tanya Eko melihat istrinya akan pergi.


"Mau mandi, Mas." Jawab Yuli.


"Tunggu dulu, sini temani aku makan." Kata Eko.


"Iya, Mas."


"Kenapa kamu hanya melihat? Ikut makan!" Kata Eko.


"Iya, Mas."


"Hmm, martabak ini enak." Kata Eko sambil menikmati martabak itu.


"Tentu saja itukan martabak dengan cinta." Kata Yuli sambil tersenyum.


"Sebentar." Kata Eko sambil mengusap coklat di bibir Yuli dengan ibu jarinya.


Yuli pun tersenyum malu karena perlakuan suaminya itu. Begitu pun juga dengan Eko, ia juga tersenyum senang melihatnya.


"Mas Eko! Mas!" Kata Yuli sambil melambaikan tangannya di depan wajah suaminya yang sedang melamun sambil tersenyum.


"Eh, iya." Kata Eko setelah sadar dari lamunanya.


"Ini martabaknya sudah matang, aku tinggal dulu ya." Kata Yuli sambil menunjuk martabak di hadapan suaminya, kemudian pamit pergi meninggalkannya.


"Ternyata cuma hayalanku saja. Aku rindu saat-saat kita berdua dulu, Yul." Batin Eko.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2