
Waktu begitu cepat berlalu akhir pekan sudah datang lagi, jika minggu lalu Alea berkunjung kerumah ibunya, hari ini ia berencana mengajak Ardi untuk menemaninya jalan-jalan ke mall. Sebelum itu seperti biasa Alea membantu ibu mertuanya memasak di dapur sedangkan Ardi mengobrol dengan ayahnya sambil minum kopi di ruang keluarga.
"Ardi, bantu ayah mengelola perusahaan." Kata Rama membuka obrolan.
"Aku tidak tertarik dalam dunia bisnis, Yah. Lagi pula aku sudah bilang sama Ayah, jika nanti biar cucu ayah yang membantu." Jelas Ardi.
"Ayah sudah semakin tua, lagi pula Alea masih sekolah, mau nunggu berapa tahun lagi." Kata Rama.
"Lagian gaji kamu sebagai guru berapa coba, sekarang kamu sudah punya tanggung jawab memenuhi kebutuhan istri, gimana nanti kamu biayai kuliahnya Alea. Masa minta ke ayah." Jelas Rama.
"Iya juga, mungkin memang gajiku gak cukup." Kata Ardi.
"Maka dari itu, kamukan cuma anak tunggal. Seandainya ibumu bisa punya anak lagi, ayah gak akan maksa kamu, Ar." Lanjut Rama.
"Iya, nanti aku pikir-pikir dulu." Kata Ardi santay.
"Halah kelamaan mikir kamu tuh, iyakan saja. Kamu cuma satu-satunya anak ayah, apa kamu gak kasihan sama ayah. Ayah sudah bekerja keras untuk membiayai pendidikanmu, lagi pula semua harta ayah juga bakal ayah wariskan ke kamu." Jelas Rama lagi.
"Bener juga ya, ayah sudah bekerja keras untukku tapi aku tidak pernah membantunya." Batin Ardi.
"Iya, Ayah. Ardi minta maaf selama ini aku hanya sibuk dengan urusanku sendiri tanpa membantu Ayah." Kata Ardi menyadari keegoisannya selama ini.
"Nah, gitu dong. Lihat nih kulit ayah mulai keriput sudah waktunya nimang cucu, tapi sayangnya istrimu masih kecil. Tapi tidak apa-apa jika kamu membantu mengelola perusahaan, beban ayah jadi berkurang." Kata Rama.
"Iya, Ayah. Ardi akan bantu." Kata Ardi.
.....
"Bu Mira mana ya kok belum datang, biasanya sudah datang jam segini." Kata Tantri sambil memotong sayuran.
"Apa tidak ngasih kabar, Bu?" Tanya Alea sambil menyiapkan bumbu.
"Tidak, mungkin ada urusan mendadak." Jawab Tantri.
Mira, adalah jasa bersih-bersih yang di percaya untuk bekerja di rumah itu, ia datang setiap pagi dan sore hari untuk membersihkan rumah sekaligus mencuci dan menyetrika. Mereka tidak membutuhkan Art yang menetap di sana karena itu permintaan dari Tantri sendiri. Meski Rama punya perusahaan tapi rumahnya tidak terlalu besar dan mewah, karena Rama dan Tantri lebih suka kesederhanaan, jadi hanya perlu satu orang saja untuk membersihkan rumah tersebut.
Ting tong
Suara bel rumah berbunyi.
"Sepertinya itu bu Mira." Kata Alea.
"Iya, sebentar ibu lihat dulu." Kata Tantri menghentikan aktivitasnya kemudian pergi membukaan pintu.
"Assalamualaikum, Bu." Ucap seorang wanita memakai celana jeans dengan atasan kaos lengan pendek dan memakai make up menor serta rambutnya di biarkan tergerai begitu saja.
"Waalaikimsalam, loh Ririn." Kata Tantri setelah melihat siapa yang memencet bel tadi.
"Iya, Bu. Saya kesini untuk menggantikan bu Mira, dia sedang sakit." Kata Wanita yang di panggil Ririn oleh Tantri.
"Begitu, kenapa bu Mira tidak ngasih kabar. Ya sudah kalau begitu, ayo ikut aku akan aku beri tahu caranya!" Kata Tantri mengajak Ririn untuk mengerjakan tugasnya.
"Iya, Bu." Kata Ririn mengikuti Tantri dari belakang.
__ADS_1
Ririn adalah wanita genit yang suka menggoda Ardi, waktu di perjalanan pulang saat Alea jalan-jalan keliling komplek bersama Ardi dan akhirnya malah main bola sama anak-anak beberapa bulan yang lalu.
....
Setelah sarapan Ardi pergi ke kamarnya untuk mandi, namun saat sampai di kamar ia di kejutkan dengan sosok wanita mirip ondel-ondel sedang merapikan tempat tidurnya.
"Kenapa ada ondel-ondel di kamarku." Batin Ardi melihat Ririn.
"Eh, Mas Ardi." Kata Ririn setelah melihat Ardi.
"Mbak, sudah selesai apa belum bersih-bersihnya? Saya mau mandi." Tanya Ardi.
"Belum, Mas. Kalau mau mandi silahkan saja, aku gak ngintip kok." Jawab Ririn sambil tersenyum genit.
Sedangkan Ardi memutar bola matanya malas mendengar ucapan Ririn, kemudian ia mengambil handuk dan baju ganti lalu membawanya keluar kamar.
"Loh katanya mau mandi, kok keluar. Mau mandi dimana" Kata Ririn melihat Ardi pergi begitu saja.
Ardi pergi ke kamar Alea untuk numpang mandi disana, sesampainya di sana ia melihat Alea sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ia pun perlahan menghampirinya dan berdiri di belakangnya.
"Al.." Kata Ardi terpotong karena tiba-tiba saja Alea mengibaskan rambutnya yang mengenai wajahnya namun, Ardi malah tersenyum sambil menghirup aroma sampo di rambut Alea.
"Eh, astaghfurulloh." Ucap Alea terkejut setelah membalikkan badannya.
"Ngapain di situ, ngagetin aja?" Tanya Alea.
"Aku mau numpang mandi di sini." Jawab Ardi.
"Kamarku sedang di bersihkan sama mbak Ririn." Jawab Ardi.
"Oh."
"Katanya mau mandi, kenapa melihatku terus?" Tanya Alea karena Ardi masih berdiri di tempatnya sambil memandanginya dengan tersenyum.
"Soalnya kamu cantik, seperti bidadari habis mandi." Jawab Ardi.
"Kaya udah pernah lihat bidadari aja." Kata Alea sambil menunduk malu.
"Pernah, nih ada di depanku." Kata Ardi.
"Apaan sih, udah mandi sana. Nanti kalau mbak Ririn dengar gimana." Kata Alea sambil mendorong Ardi.
"Iya, Sayang." Kata Ardi berbisik.
"Apa iya aku secantik bidadari?" Batin Alea sambil bercermin
"Iya, aku memang cantik." Kata Alea sambil memiring-miringkan kepalanya dengan tersenyum seperti orang gila.
"Kenapa aku ini, seperi orang gila saja." Batin Alea setelah sadar.
"Alea, jangan keluar dulu ya. Tunggu aku sampai selesai." Kata Ardi dari dalam kamar mandi.
"Kenapa memangnya?" Tanya Alea heran.
__ADS_1
"Kamu tahu sendirikan ada ondel-ondel di rumah ini." Jawab Ardi.
"Hah, ondel-ondel, emangnya ada ondel-ondel masuk ke rumah ini." Kata Alea heran.
"Ada, tadi yang lagi bersih-bersih." Kata Ardi.
"Hahaha, mbak Ririn maksudnya." Kata Alea terkekeh mendengar perkataan Ardi.
"Iya tenang aja, nanti akan aku hajar jika dia macam-macam." Kata Alea.
Alea menunggu Ardi selesai mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan hair dryer kemudian mengucirnya seperti biasa setelah kering.
Ceklek
Suara pintu terbuka.
Ardi keluar dari kamar mandi sudah memakai pakaian lengkap, kemudian berjalan menghampiri Alea dan mengambil sisir untuk menyisir rambutnya. Sedangkan Alea memperhatikannya sejak tadi tanpa berkedip, saking begitu indahnya pemandangan yang ia lihat.
"Kamu mau berangkat sekarang, atau masih ingin memandangiku." Kata Ardi sambil membungkuk mendekatkan wajahnya dengan wajah Alea.
"E-Iya kita berangkat sekarang, keburu siang nanti." Kata Alea setelah sadar.
"Iya sebentar, aku ambil dompet dan hpku dulu di kamar." Kata Ardi berjalan keluar kamar lebih dulu dan di ikuti Alea di belakangnya.
Sesampainya di kamar ternyata Ririn masih ada di sana sedang mengepel.
"Ada mas Ardi pura-pura kepleset ah." Kata Ririn melirik Ardi memasuki kamar.
"Aaaa." Teriak Ririn hampir terjatuh karena terpeleset, untungnya saja ada yang menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.
"Hmm sudah ku duga, pasti mas Ardi nolongin aku." Batin Ririn sambi memejamkan matanya.
"Hati-hati, Mbak." Kata seseorang yang menahan badan Ririn.
"Heh kok kamu." Kata Ririn terkejut melihat siapa yang menahan badannya, ternyata Alea bukannya Ardi. Sedangkan Ardi tersenyum menahan tawa melihatnya.
"Memangnya Mbak pikir siapa?" Tanya Alea heran.
"Kenapa keponakannya harus nonggol, gagal deh rencanaku." Gerutu Ririn dalam hati.
"Gak kok, bukan siapa-siapa." Jawab Ririn.
"Haaah." Ucap Ririn melihat lantai yang baru saja ia pel sudah kotor lagi karena di injak-injak oleh Alea dan Ardi.
"Eh maaf, Mbak. Jadi kotor lagi lantainya, aku akan pergi saja kalau begitu." Kata Alea menanggapi reaksi Ririn, kemudian pergi dari sana.
"Ayo Om, kita berangkat!" Ajak Alea sambil menggandeng tangan Ardi.
"Kalian mau pergi kemana, aku udah dandan cantik-cantik begini malah di tinggal." Kata Ririn kesal sambil menghentakkan kakinya, namun malah terpeleset.
"Aduh. Kenapa malah kepleset beneran."
Bersambung.....
__ADS_1