
Karena sudah merasa lama dan lelah berjalan-jalan keliling komplek mereka pun segera pulang, lagi pula hari juga semakin siang dan matahari terasa semakin panas.
"Huh, panas deh. Jadi haus." Kata Alea sambil duduk dan menyandarkan dirinya di sofa ruang tamu.
"Iya." Sahut Ardi sambil duduk dan bersandar di sofa samping Alea.
"Kamu mau minum apa? Biar ku ambilkan." Tanya Alea sambil menoleh ke arah Ardi.
"Apa aja yang penting seger." Jawab Ardi sambil menoleh ke Alea juga.
"Oke. Sebentar ya." Kata Alea sambil berdiri kemudian pergi ke dapur mencari sesuatu yang bisa melegakan dahaga, ia melihat ada sebotol sirup rasa melon di rak dapur. Ia pun segera mengambilnya dan menuangkannya ke dalam satu gelas berukuran besar, lalu ia memasukkan beberapa es batu dan air dingin. Setelah itu ia mengambil dua sedotan dan langsung membawanya ke tempat Ardi.
Ardi sedang sibuk memainkan ponselnya sambil menunggu Alea kembali, tiba-tiba Erika datang.
"Eh, Ardi. Kamu sudah kembali, Alea mana?" Tanya Erika sambil duduk di samping Ardi.
"Iya sudah, Kak. Alea pergi ke dapur." Jawab Ardi sambil menggeser dirinya menjauhi Erika yang duduknya terlalu dekat dengannya.
"Kalian pergi kemana tadi?" Tanya Erika.
"Keliling komplek, Kak." Jawab Ardi sambil fokus memainkan ponselnya.
"Oh iya, kalian kapan baliknya?" Tanya Erika.
"Nanti sore, Kak." Jawab Ardi tetap fokus memainkan ponselnya.
"Cuek banget sih." Batin Erika.
"Kenapa hanya sebentar? Tinggalah lebih lama." Tanya Erika lagi.
"Besok Alea harus sekolah dan aku harus mengajar." Jawab Ardi tetap pada posisinya.
"Wah, Alea benar di biarkan sekolah, beruntung sekali dia." Batin Erika.
"Oh begitu, nanti kalau libur sering-sering datang kesini." Kata Erika.
"Insyaallah, Kak." Kata Ardi.
"Bagaimana Alea bisa meluluhkan Ardi cuek ini, aku ajak bicara saja sambil fokus main ponsel tanpa menoleh sedikit pun." Batin Erika heran.
"Ngomong-ngomong, bagaimana Alea masih bisa sekolah? Apa tidak ada yang tahu kalau kalian sudah menikah? Em, apa kalian beda sekolah?" Tanya Erika penasaran namun sebelum Ardi jawab, Alea datang mengampiri mereka.
"Ini dia, minuman segar datang." Kata Alea datang membawa satu gelas besar berisi sirup yang ia buat tadi dan langsung duduk di samping Ardi.
"Wah kelihatannya seger tuh, tapi kenapa besar baget gelasnya?" Tanya Ardi.
"Buat kita berdua, ini aku bawa dua sedotan." Jawab Alea sambil memperlihatkan dua sedotang yang ia bawa.
"Terima kasih, Sayang." Ucap Ardi sambil mengambil satu sedotan di tangn Alea.
"Sama-sama, Sayang." Ucap Alea sambil tersenyum manis.
Erika menjulurkan lidahnya seperti orang muntah sambil memutar bola matanya mendengar ucapan sayang dari sepasang suami istri itu.
__ADS_1
"Pamer mulu kerjaannya, nyebelin banget deh." Batin Erika kemudian pergi meninggalkan Alea dan Ardi.
"Pergi juga tuh orang." Kata Alea melihat kakaknya pergi dari sana.
"Kakak, bicara apa padamu?" Tanya Alea.
"Hanya pertanyaan biasa." Jawab Ardi setelah minum sirup rasa melon yang Alea bawa tadi.
"Sepertinya kak Erika naksir kamu deh." Kata Alea.
"Biarkan saja, aku tidak peduli." Kata Ardi kembali menikmati minuman tersebut.
"Eh, jangan di habisin dong, aku belum minum." Kata Alea melihat sirup melon itu tinggal setengah.
"Makanya jangan ngomong mulu." Kata Ardi.
"Oh, nantangin nih ceritanya. Oke." Kata Alea kemudian langsung saja menyedot sirup melon itu, begitu pun dengan Ardi ikut menyedot sirup melon itu tanpa berhenti. Mata mereka saling menatap sambil menyedot sirup melon itu tanpa berhenti seakan-akan mereka sedang berlomba, namun tiba-tiba saja Alea mengambil sedotan milik Ardi dan mengunakannya sekaligus, jadi ia minum dengan dua sedotan.
"Heh, kenapa sedotanku di ambil? Curang." Protes Ardi tidak terima kemudian mengambil gelasnya dan meneguknya hingga tersisa es batunya saja.
"Ih, kenapa gelasnya di ambil?" Tanya Alea sambil melihat Ardi menghabiskan minuman itu. Alea tidak kesal Ardi menghabiskan minuman itu, justru ia tersenyum bahagia melihatnya.
"Biar adil. Nih, masih banyak kok es batunya." Kata Ardi sambil menyodorkan gelas dengan tersenyum.
"Masa aku kebagian es batunya doang." Kata Alea sambil mengambil gelas yang di sodorkan Ardi.
Kriak kriak kriak
"Eh, itu es batu beneran kamu makan. Gak ngilu gigimu." Kata Ardi tidak habis pikir.
"Gak." Kata Alea kemudian melanjutkan memakan es batunya, sedangkan Ardi hanya melihatnya ngeri sambil memegang pipinya.
"Hahaha. Gak pernah lihat orang makan es batu ya." Kata Alea terkekeh melihat ekspresi Ardi.
"Kamu ini terbuat dari apa sih, Al. Kuat banget, gak giginya, hatinya, fisiknya seperti baja saja." Kata Ardi kagum.
"Emangnya aku robot." Kata Alea masih asik makan es batu.
"Oh iya, nanti kita kembali jam berapa?" Tanya Ardi.
"Jam tiga mungkin, aku ingin bicara dengan ayah dulu." Jawab Alea.
"Bicara apa?" Tanya Ardi penasaran.
"Adadeh, penting pokoknya. Tapi harus hanya berdua saja, jangan sampai ada kakak bisa kacau." Jawab Alea.
"Aku akan membantumu, tenang saja. Kak Erika biar aku yang urus, kamu bicaralah dengan ayahmu." Kata Ardi.
"Kamu mau apa?" Tanya Alea curiga.
"Jangan salah paham, aku akan
mengajaknya ngobrol nanti." Jawab Ardi.
__ADS_1
"Iya, baiklah." Kata Alea.
.....
Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang, Eko sedang duduk sendiri di ruang tamu sedang menonton tv sambil makan cemilan. Ini adalah kesempatan bagi Alea untuk bicara dengan ayahnya, mengetahui itu ia pun segera menemui ayahnya sambil membawa segelas jus jeruk untuk di berikan kepada ayahnya.
"Ibu pergi kemana, Yah?" Tanya Alea.
"Tidak tahu." Jawab Eko datar sambil fokus menonton tv.
"Ini Alea bawaain jus jeruk buat Ayah." Kata Alea sambil meletakkan segelas jus jeruk di depan ayahnya.
"Hmm." Kata Eko tetap fokus menonton tv.
"Ayah!"
"Ada apa, apa yang kamu inginkan dariku?" Tanya Eko datar sambil tetap fokus menonton tv.
"Tidak ada, aku tidak ingin apa-apa dari Ayah. Aku hanya ingin minta maaf karena perilakuku selama ini." Jawab Alea.
"Sedang apa Alea dengan ayah, apa yang dia bicarakan? Apa dia mencoba memprovokasinya?" Kata Erika melihat dari kejauhan dan hendak menghampirinya.
"Kak Erika!" Kata Ardi memanggil Erika untuk menghentikan langkahnya agar tidak memui Alea dan ayahnya.
"Eh iya, Ar. Ada apa?" Tanya Erika sambil tersenyum.
"Dan aku juga berterima kasih karena Ayah mau menerimaku tinggal disini, di besarkan disini dan Ayah juga mau membiayai sekolahku, aku sangat berterima kasih untuk itu. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu hingga Ayah membenciku. Tidak apa jika Ayah tidak mau menganggapku sebagai putrimu tapi, aku mohon kepada Ayah tolong maafkanlah ibu. Aku merasa jika ibu tidak bersalah, aku sangat mengenalnya ibu adalah orang yang jujur tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Selama aku bersamanya aku sering melihatnya menangis, tolong percayalah kepada ibu. Aku sudah menikah dan ikut tinggal bersama suamiku, aku tidak bisa menjaga ibu lagi, Kak Erika tidak bisa di andalkan kalau bukan Ayah yang menjaga ibu lalu siapa?" Kata Alea panjang lebar dengan nada sedih, namun ayahnya tidak peduli dengan ucapan Alea, ia hanya fokus menonton tv.
"Sore nanti aku akan kembali, aku minta tolong kepada Ayah, tolong jaga ibu dengan baik selagi aku tidak ada." Lanjut Alea kemudian pergi dari sana karena tidak mendapat respon dari Ayahnya.
Setelah memastikan Alea benar-benar pergi dari sana Eko langsung mematikan tvnya.
"Huft." Eko menghela nafas sambil menyandarkan dirinya di sofa.
"Bagaimana anak itu bisa bicara seperti itu? Usianya baru 18 tahun tapi cara bicaranya sudah seperti orang dewasa bahkan jauh dari Erika. Dia sangat mirip dengan ibunya, jika dipikir-pikir yang di katakan Alea ada benarnya juga." Batin Eko sambil mengingat kata-kata yang di ucapkan Alea, meski tadi terlihat tidak peduli sebenarnya ia mendengarkannya dengan serius.
"Apa aku yang terlalu egois? Hah, entahlah aku tidak tahu."
Alea masih berada di dekat sana untuk melihat reaksi dari ayahnya secara diam-diam.
"Baguslah, kata-kataku tadi sepertinya sedikit menyentuh hati ayah." Batin Alea sambil tersenyum.
"Ada apa, Sayang?" Tanya Ardi berbisik.
"Hah, ngagetin aja." Kata Alea terkejut.
"Sepertinya rencanaku berhasil." Jawab Alea.
"Memang kamu ngomong apa sama ayah?" Tanya Ardi penasaran.
"Nanti aku ceritakan." Jawab Alea.
Bersambung.....
__ADS_1