Pernikahan Rahasia Murid Dan Guru

Pernikahan Rahasia Murid Dan Guru
Kamu tidak tahu yang sebenarnya


__ADS_3

Natasya dan Cantika sedang beristirahat di bangku bawah pohon yang ada di halaman sekolah setelah selesai membersihkan halaman tersebut.


"Akhirnya selesai juga." Kata Natasya sambil bersandar.


"Iya, capek panget, panas lagi." Kata Cantika ikut bersandar di samping Natasya.


"Haus nih, Can. Beliin minuman dong." Kata Natasya.


"Gak mau, emangnya aku asisten kamu apa." Kata Cantika.


"Nih buat kalian." Kata Alea tiba-tiba ada di depan mereka berdua sambil menyodorkan sebotol air mineral dingin.


"Mau apa kamu?" Tanya Natasya.


"Aku hanya menawarkan air meneral kepada kalian." Jawab Alea.


"Gak usah sok peduli deh." Kata Cantika.


"Ya sudah jika tidak mau." Kata Alea sambil membuka tutup botol air mineral yang ia pegang.


Glek glek glek


Alea meminun air mineral tersebut di depan Natasya dan Cantika hingga habis. Sedangkan Natasya dan Cantika hanya melihat Alea meminum air mineral tersebut sambil ngiler karena haus.


"Segernya." Kata Alea setelah selesai minum, kemudian langsung pergi begitu saja tanpa memperdulikan Natasya dan Cantika.


"Dia ngerjai kita nih ceritanya." Kata Natasya kesal.


"Nyebelin banget sih Alea, awas aja nanti akan aku hajar dia saat ekskul nanti." Kata Cantika kesal.


"Ke kantin yuk, aku lapar dan haus!" Ajak Natasya.


"Iya, aku juga." Kata Cantika setuju dengan ajakan Natasya.


.....


Alea sedang berjalan bersama Fani dan Rita menuju perpustakaan, di sepanjang jalan masih saja ada yang berbisik-bisik tentang Alea walau sudah tahu jika foto-foto yang menyebar itu hanya berita palsu. Mereka menganggap jika Ardi memang terlalu berlebihan kepada Alea, dan Alea juga sering terlihat cemburu jika Ardi dekat dengan wanita lain yang membuat tanda tanya besar terhadap banyak orang. Seperti saat ini Alea melihat Ardi membantu Indah membawa beperapa buku ke perpustakaan sambil asik mengobrol.


"Kenapa sih, bu Indah selalu saja dekat dengan ayang. Huh nyebelin deh, kenapa sih aku cemburuan banget. Iyalah orang namanya cinta, gak salahkan. Gak tahu lah." Batin Alea kesal sambil komat-kamit sendiri gak jelas.


Sedangkan Fani dan Rita berbisik-bisik melihat tingkah Alea.


"Rit, kenapa tuh si Alea?" Tanya Fani.


"Gak tahu." Jawab Rita.


"Kayanya dia gak suka kalau pak Ardi dekat dengan bu Indah." Kata Fani melihat ke arah pandangan Alea.

__ADS_1


"Iya, juga sih. Apa mungkin Alea suka sama pak Ardi?" Tanya Rita.


"Mungkin saja, karena pak Ardi yang terlalu memanjakannya. Atau memang mereka saling menyukai." Kata Fani.


"Hus, kamu itu ngomong apa sih. Kamu gak percaya sama Alea." Kata Rita.


"Bukannya gak percaya, tapi membuatku bertanya-tanya." Kata Fani.


"Iya juga sih." Kata Rita.


"Kalian ngapain bisik-bisik,ngomongin aku ya?" Tanya Alea kesal.


"Enggak kok." Jawab Fani.


"Kamu kenapa, Al. Kok kelihatan sebel gitu?" Tanya Rita.


"Gak apa-apa." Jawab Alea.


"Sulit banget sih ngendaliin perasaanku." Batin Alea.


"Al, kamu mau kemana? Gak jadi ke perpustakaan." Tanya Fani melihat Alea mengubah arah perjalanannnya.


"Gak, males. Aku mau main basket aja di lapangan." Jawab Alea tanpa menoleh.


"Sebenarnya dia kenapa sih?" Tanya Rita.


......


Alea menghabiskan waktu istirahatnya bermain basket sendirian di lapangan sambil melampiaskan segala emosi yang ia rasakan, takut jika rahasianya terbongkar, kesal karena Ardi masih akrab dengan indah, dan bingung bagaimana caranya menyembunyikan perasaannya. Terasa begitu berat beban yang ia pikul, beberapa hari dia bisa merasakan kebahagiaan kini perasaannya mulai di adu lagi. Setelah Alea mulai lelah, dengan perasaan kesal ia melempar bola basket ke sembarangan arah dan tanpa sengaja mengenai seseorang.


"Aduh." Kata orang tersebut sambil memegangi kepalanya yang terkena bola.


"Eh, Mico. Maaf, aku gak tahu kalau kamu ada di situ." Kata Alea sambil berjalan menghampiri Mico.


"Kamu kenapa, apa masih kepikiran soal tadi pagi?" Tanya Mico sambil menggosok-gosok kepalanya yang terkena bola tadi.


"Hmm." Jawab Alea sambil berjalan menuju bangku di pinggir lapangan dan di ikuti Mico kemudian duduk di sampingnya.


"Kenapa?" Tanya Mico namun Alea hanya diam pandangannya lurus ke depan.


"Apakah memang sebenarnya kamu menyimpan perasaan pada pak Ardi?" Tanya Mico lagi, tetapi yang di tanya hanya diam saja.


"Kamu takut di benci semua orang karena itukan." Kata Mico lagi, tetap saja tidak di respon oleh Alea.


"Diammu berarti, iya." Kata Mico setelah sekian lama menunggu jawaban dari Alea yang hanya diam.


"Tapi tenang saja, aku tidak akan membencimu." Kata Mico.

__ADS_1


"Kenapa kamu berkata begitu?" Tanya Alea sambil menoleh ke arah Mico.


"Aku tahu tanpa kamu mengatakannya, karena aku selalu memperhatikanmu. Aku bisa mengerti perasaanmu, perasaan itu bisa muncul begitu saja tanpa alasan, jadi kenapa aku harus membencimu karena itu." Jelas Mico.


"Terima kasih." Ucap Alea sambil tersenyum seakan beban hidupnya berkurang.


"Sama-sama, kitakan teman." Ucap Mico sambil membalas senyuman dari Alea.


"Sekarang aku semakin yakin, jika kamu itu sebenarnya bukan keponakannya pak Ardi." Batin Mico sambil memandang Alea sebentar.


"Kamu tidak tahu yang sebenarnya, Mic. Kenyataannya lebih dari apa yang kamu bayangkan, dan mungkin saja kamu bisa berubah karena itu." Batin Alea sambil memandang lurus ke depan.


"Dulu begitu banyak orang yang membenciku dan aku baik-baik saja, tapi entah mengapa aku begitu takut kali ini." Batin Alea lagi dalam posisi yang sama.


"Ya sudah, ayo kita ke kelas! Sebentar lagi bel akan berbunyi." Ajak Mico.


"Iya."


......


Para murid yang ikut ekstra kurikuler pencak silat sudah perkumpul dengan memakai seragam khas pencak silat Merpati Putih dengan atasan berwarna putih dan bawahan berwarna hitam dengan sabuk yang berbeda-beda sesuai dengan tingkatannya. Termasuk Alea, Toni, Arga dan Cantika, mereka semua memakai sabuk yang sama yang berarti memiliki tingkatan yang sama, kecuali Alea yang tingkatannya dua kali lebih tinggi dari pada mereka, karena itu dulu Toni kalah saat berkelahi dengan Alea. Seperti yang dikatakan tadi jika Cantika ingin menghajar Alea untuk membalas Alea karena sudah mengejeknya tadi, sedangkan Alea kali ini tidak terlalu bersemangat. Sebenarnya tadi ia ingin absen saja namun, karena pasti bosan di rumah jadi mau tidak mau Alea harus ikut ekstra.


"Alea, kali ini aku pasti akan mengalahkanmu." Kata Cantika percaya diri.


"Terserah kau saja jika memang bisa." Kata Alea malas.


Mereka berdua sudah berada di posisi masing-masing dan wasit pun sudah diap di posisinya akan memberi aba-aba.


"Bersiap, mulai!"


Cantika yang melakukan serangan lebih dulu dengan pukulannya, sedangkan Alea menghindarinya lebih dulu baru menyerang balik. Dengan gerakan yang cepat mereka saling melakukan serangan hingga akhirnya Cantika menendang perut Alea hingga membuatnya hampir tersungkur.


"Kali ini aku pasti bisa mengalahkanmu." Batin Cantika sambil tersenyum.


"Ada apa dengan Alea, dia terlihat tidak bersemangat seperti biasanya?" Tanya Arga.


"Mungkin karena masalah tadi pagi." Jawab Toni.


"Ayo semangat, Al!" Teriak Toni menyemangati Alea.


Alea pun segera bangkit dan kembali bersiap. Kali ini Alealah yang melakukan serangan lebih dulu dan menanggapinya dengan serius. Kali ini gilirang Cantika yang hampir tersungkur, ia pun segera bangkit dan melanjutkan pertandingannya. Suara sorakan dari teman-temannya yang menyaksikan terdengar begitu ramai menyemangati jagoan mereka masing-masing, sudah seperti di pertandiangan sungguhan. Setelah pertarungan sengit itu akhirnya Cantika kalah karena berhasil di banting oleh Alea.


"Belajar lebih giat lagi agar bisa mengalahkan aku." Kata Alea sambi mengulurkan tangannya untuk membantu Cantika berdiri.


"Aku tidak butuh bantuanmu." Kata Cantika sambil menepis tangan Alea dan berusaha bangkit sendiri.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2