
Kerena hanya mengalami luka ringan, sore harinya Alea sudah di perbolehkan untuk pulang. Ia pulang bersama Ardi naik taxi online yang sudah di pesan sebelumnya.
"Om, gendong." Kata Alea masih duduk di ranjang sambil mengangkat kedua tangannya minta di gendong.
"Kamu sudah bisa jalan sendirikan, masa minta gendong. Berat tahu." Kata Ardi.
"Gak mau, pokoknya gendong." Kata Alea dengan nada manja seperti anak kecil yang minta gendong kepada ayahnya.
Ardi pun tersenyum melihat tingkah Alea, kemudian menggendongnya hingga ke mobil. Di sepanjang perjalanan pulang, Alea hanya memeluk lengan Ardi dan menyandarkan kepalanya di bahu Ardi. Entah apa yang membuatnya begitu manja kepada Ardi, bahkan setelah sampai di rumah ia minta di gendong lagi hingga ke kamar.
"Sudah sampai, Tuan Putri." Kata Ardi setelah menurunkan Alea.
"Terima kasih." Ucap Alea sambil tersenyum manis.
"Sama-sama." Ucap Ardi sambil tersenyum juga.
"Aku rindu dengan kasur ini." Kata Alea sambil berbaring di atas kasur.
"Rindu kasurnya apa gulingnya?" Tanya Ardi sambil berbaring di samping Alea.
"Kok guling." Kata Alea binggung.
"Iya, guling hidup. Tiap malamkan kamu selalu memelukku seperti guling." Jelas Ardi.
"Apaan sih." Kata Alea memiringkan badannya memunggungi Ardi sambil tersenyum malu.
"Iyakan. Hayo ngaku." Kata Ardi.
"Gak." Kata Alea masih dalam posisi yang sama.
"Menghadap kesini dong, masa aku di punggungi begini. Gak sopan tahu." Kata Ardi sambil menggoyang-goyangkan badan Alea pelan, namun tidak di respon.
"Hei, kok diam." Kata Ardi setelah beberapa saat tida ada respon dari Alea.
"Lapar." Kata Alea.
"Kamu mau makan apa?" Tanya Ardi.
"Bakmi goreng pedas, tapi Om yang masakin ya." Jawab Alea.
"Siap, Nyonya." Kata Ardi kemudian pergi ke dapur.
"Ternyata es batu itu sangat perhatian." Batin Alea sambil tersenyum.
Tak lama kemudian Ardi kembali sambil membawa sepiring bakmi goreng yang di minta Alea.
"Ini Nyonya, bakmi gorengnya sudah siap." Kata Ardi sambil menyerahkan sepiring bakmi goreng.
"Suapin." Kata Alea.
"Manjanya." Kata Ardi sambil mencubit hidung Alea.
"Biarin, akukan istri kamu." Kata Alea.
"Iya deh istriku yang manja." Kata Ardi sambil mencubit pipinya Alea.
"Jangan keras-keras nyubitnya, sakit tahu." Kata Alea sambil memanyunkan bibirnya.
"Abis kamu tuh, gemesiiin banget." Kata Ardi sambil mencubit kedua pipi Alea.
"Ya udah, ini bakminya cepet dimakan nanti keburu dingin." Kata Ardi kemudian menyuapi Alea.
"Ini kurang pedes, Om." Kata Alea.
"Hah, seperti ini kurang pedas." Kata Ardi heran, karena menurutnya bakmi itu sudah pedas. Itu karena Ardi tidak suka makan pedas, jadi pedas sedikit saja sudah merasa kepedasan. Sedangkan Alea sendiri sangat suka dengan makanan pedas.
__ADS_1
"Iya, kurang. Tolong ambilkan saos dong!" Kata Alea.
"Iya baiklah." Jawab Ardi kemudian pergi mengambil saos ke dapur.
"Ini saosnya." Kata Ardi sambil menyodorkan sebotol saos.
"Alea, kenapa banyak sekali nanti kamu bisa sakit perut." Kata Ardi melihat Alea menuangkan saos begitu banyak.
"Tidak akan, aku sudah biasa makan seperti ini." Jawab Alea.
Ardi ngeri melihat Alea makan begitu lahap dengan saos sebanyak itu.
"Om, mau." Kata Alea menawarkan Ardi bakmi goreng yang penuh saos.
Ardi hanya menggelengkan kepala menjawabnya.
Hari sudah malam, Ardi dan Alea sedang bersandar di headboard tempat tidur, sambil menyibukkan diri masing-masing. Alea sibuk dengan ponselnya, sedangkan Ardi sibuk dengan laptopnya.
"Om!" Kata Alea memanggil Ardi.
"Iya." Sahut Ardi sambil fokus pada laptopnya.
"Sudah selesai apa belum?" Tanya Alea.
"Sebentar lagi." Jawab Ardi masih fokus dengan laptopnya.
"Oke, sudah selesai. Ada apa?" Tanya Ardi sambil menutup laptopnya.
"Lihat ini, aku pengen beli ini untuk kita berdua. Dua cangkir kopi cauple, boleh gak." Jawab Alea sambil memperlihatkan foto dua cangkir kopi di ponselnya.
"Tentu saja boleh." Kata Ardi.
"Tapi yang mana?" Tanya Alea.
"Coba lihat." Kata Ardi sambil mengambil ponsel Alea.
"Itu bagus, tapi aku pengennya tulisannya bikin sendiri." Kata Alea.
"Lalu bagaimana?" Tanya Ardi.
"Bagaimana kalau kita beli gelasnya yang seperti punya, Om. Terus tulisannya kita buat sendiri pakai alat pengukir khusus." Jawab Alea.
"Hm, ide bagus. Jadi karena udah ada satu, tinggal beli satu lagi aja cangkirnya." Kata Ardi.
"Tapi mau kamu beri tulisan apa?" Tanya Ardi.
"Nama kita." Jawab Alea.
Ardi tersenyum senang mendengarnya.
"Tapi jangan panggil aku om terus." Kata Ardi.
"Terus di panggil apa?" Tanya Alea.
"Sayang." Jawab Ardi.
"Hihihi." Tawa Alea.
"Kok tertawa." Kata Ardi heran.
"Aneh." Kata Alea.
"Apanya yang aneh?" Tanya Ardi bingung.
"Nanti kalau ada yang dengar bagaimana?" Kata Alea kembali bertanya.
__ADS_1
"Kalau sedang di dalam rumah saja." Jawab Ardi.
"Coba aku ingin dengar kamu memanggilku sayang." Kata Ardi namun Alea hanya tersenyum malu.
"Kenapa hanya tersenyum?" Tanya Ardi heran.
"Lain kali saja." Jawab Alea kemudian membaringkan badannya dan menyelimuti dirinya. Sedangkan Ardi hanya tersenyum lucu melihat tingkah Alea.
.......
"Om, akan mengajar hari ini." Kata Alea melihat Ardi sudah rapi dengan seragam gurunya.
"Iya." Kata Ardi.
"Kenapa aku belum boleh sekolah?" Tanya Alea.
"Biar sembuh dulu." Jawab Ardi sambil duduk di samping Alea.
"Tapi aku sudah sembuh, Om." Kata Alea sambil memeluk lengan Ardi.
"Tidak, hari ini kamu belum boleh sekolah. Besok saja." Kata Ardi sambil merapikan rambut Alea yang menutupi wajahnya karena baru bangun tidur.
"Tapi aku sendiri di rumah." Kata Alea sambil menyandarkan kepalanya di bahu Ardi.
"Ibukan ada di rumah." Kata Ardi.
"Sepi tahu. Bosan." Kata Alea masih dalam posisi yang sama.
"Ayo kita sarapan bersama! Aku suapin." Ajak Ardi namun tidak ada respon dari Alea.
"Kok manyun sih." Kata Ardi melihat Alea cemberut.
"Kamu ini lucu deh, aku cuma pergi sebentar. Hanya beberapa jam, tidak sampai sehari." Kata Ardi mengerti jika Alea tidak ingin berpisah darinya. Seperti akan di tinggal pergi jauh dan lama, padahal hanya mengajar saja seperti biasa.
"Ayo kita sarapan! Nanti aku telat." Kata Ardi membujuk Alea.
"Ayo, istri kecilku yang cantik, manis dan imut-imut." Kata Ardi lagi.
Alea melepaskan pelukannya sambil tersenyum kerena Ardi menyebutnya begitu.
"Sini, rapiin dulu rambutnya!" Kata Ardi mengambil sisir dan ikat rambut, kemudian menyisir rambut Alea dan mengucirnya seperti biasa.
Setelah itu mereka pergi ke ruang makan untuk sarapan, mereka makan dalam satu piring. Ardi makan sendiri sambil menyuapi Alea yang sedang manja-manjanya dengan Ardi. Rama dan Tantri begitu bahagia melihat keharmonisan dari anak dan menantunya itu.
Setelah sarapan selesai Ardi ingin segera pergi karena takut terlambat nantinya namun, Alea masih saja tidak rela jika harus di tinggal oleh Ardi, seperti anak kecil yang tidak mau di tinggal ayahnya.
"Alea, aku berangkat sekarang ya, nanti bisa telat." Kata Ardi.
"Sebantar lagi." Kata Alea sambil memeluk lengan Ardi.
"Ayolah, Al. Nanti aku terlambat." Kata Ardi masih berusaha membujuk Alea.
"Hah, ya sudah. Tapi ingat ya jangan dekat-dekat sama bu Indah." Kata Alea sambil melepaskan pelukannya.
"Iya, sayang." Kata Ardi sambil mencubit hidung Alea.
Alea tersenyum mendengar Ardi memanggilnya sayang.
"Ya sudah, aku berangkat ya." Kata Ardi kemudian mengecup dahi Alea.
"Assalamualaikum." Ucap Ardi kemudian pergi.
"Waalaikumsam, sayang." Ucap Alea.
Ardi tersenyum bahagia mendengar Alea memanggilnya sayang.
__ADS_1
Bersambung.....