Pernikahan Rahasia Murid Dan Guru

Pernikahan Rahasia Murid Dan Guru
Tiba-tiba berubah


__ADS_3

Pemandangan senja dengan warna jingganya telah memancar menampakkan keindahannya, menemani perjalanan Alea dan Ardi dari kota Melati menuju kota Cempaka.


"Sepertinya kamu sangat bahagia." Kata Ardi melihat Alea terus saja tersenyum.


"Iya. Kali ini kebahagian perlahan datang menghampiriku setelah sekian lama aku menghadapi tantangan dan rintangan." Kata Alea.


"Iya, ini saatnya kamu bahagia. Nikmati kebahagiaanmu." Kata Ardi.


"Oh iya, martabaknya tadi, hampir lupa." Kata Alea teringat jika ia membawa martabak yang di buat ibunya tadi.


"Hmm, aromanya enak, rasanya juga pasti enak." Kata Alea membuka kotak yang berisi martabak tersebut.


"Ini, ambil." Kata Alea sambil menyodorkan martabak tersebut kepada Ardi.


"Pak sopir mau juga, ini silahkan ambil!" Kata Alea sambil berdiri mencondongkan badannya ke depan dengan menyodorkan martabak kepada sopir taxi.


"Tidak usah neng, buat neng sama masnya aja." Tolak sopir tersebut.


"Tidak apa-apa, Pak. Ambil saja, gak baik loh nolak rezeki." Kata Alea memaksa.


"Ya sudah kalau neng memaksa, ini sudah saya ambil satu." Kata sopir tersebut menggambil satu potong martabak.


Alea pun tersenyum senang sopir taxi itu mau menggambil martabak yang ia tawarkan, kemudian ia kembali duduk lagi sambil menikmati martabak tersebut. Ardi pun ikut tersenyum bahagia melihat istri kecilnya itu ternyata murah hati, meski sedikit jahil dan tingkahnya kadang masih kekanak-kanakan tapi Alea memiliki hati yang baik, begitu beruntungnya Ardi mendapatkan istri seperti Alea.


"Mau lagi gak." Kata Alea kepada Ardi.


"Maulah, memangnya kamu habis makan martabak sebanyak itu sendiri." Kata Ardi.


"Kan aku bagi sama pak sopir." Kata Alea.


"Iya, bagi aja sama pak sopir, aku gak usah di kasih." Kata Ardi pura-pura kesal.


"Hahaha, bercanda kok." Kata Alea sambil tertawa.


"Pak sopir mau lagi." Kata Alea menawari sopir taxi tersebut.


"Gak neng, saya sudah kenyang, beneran." Tolak sopir tersebut.


"Ya sudah kalau begitu. Ini ambil lagi." Kata Alea sambil menyodorkan martabak yang ia pegang kepada Ardi.


"Eeiittt." Kata Alea menarik martabak itu lagi saat Ardi ingin mengambilnya.


"Mulainih jahilnya." Kata Ardi.


"Hihihi, aku suapin aja deh. Aaa, buka mulutnya." Kata Alea tertawa kecil, kemudian ingin menyuapi Ardi namun setelah hampir sampai di mulutnya Ardi, malah di tarik lagi dan ia makan sendiri. Sedangkan Ardi hanya tersenyum melihat kejahilan istrinya itu, tanpa perasaan kesal sama sekali.

__ADS_1


"Emm martabak buatan ibu memang enak." Kata Alea sambil menikmati martabak tersebut.


"Enak sih enak, tapi pelan-pelan makannya jadi belepotan nih." Kata Ardi sambil mengusap cokelat di bibir Alea dengan jarinya. Sedangkan Alea tersenyum malu mendapat perlakuan begitu, namun tiba-tiba saja Ardi malah mengoleskan cokelat tersebut ke hidung Alea.


"Kenapa malah di olesin ke hidung, padahal tadi udah romantis-romantisnya." Kata Alea kesal.


"Hihihi, emang cuma kamu doang yang jahil, aku juga bisa." Kata Ardi terkekeh melihat ekspresi Alea.


"Awas kamu ya." Kata Alea sambil membalas mengoleskan coklat ke wajah Ardi. Begitu juga sebaliknya Ardi membalas Alea juga, jadi mereka saling mengoleskan cokelat kewajah satu sama lain serasa dunia milik mereka berdua, bahkan mereka tidak peduli jika ada sopir di depan mereka. Sedangkan sang sopir yang menjadi baigon hanya santay saja sambil mengemudi, sesekali tersenyum mendengar candaan dari pasangan muda di belakangnya.


.....


Seperti biasa Erika sedang menggerutu sendiri di kamarnya karena Alea.


"Huh, nyebelin banget sih tuh anak. Makin lama makin pinter aja dia, ayah sudah terpengaruh olehnya apa lagi ibu. Sekarang ibu lebih peduli kepada Alea dari pada aku."


"Bagaimana caranya aku bisa membalasnya? Aku pikir aku bisa menyingkirkannya dengan dia menikah, ternyata malah sebaliknya."


"Oh iya, ayah bilang jika ayah mertuanya Alea punya perusahaan, itu berarti orang kaya dong, rumahnya pasti besar dan mewah. Wah enak banget hidup Alea."


"Eh tapi kenapa Ardi malah jadi guru, seharusnyakan jadi CEO, aneh. Aku jadi penasaran, tapi bagaimana aku bisa pergi kesana." Kata Erika sambil berfikir.


"Oh iya, aku bisa ikut ibu jika berkunjung kesana. Aku benar-benar penasaran bagaimana kehidupan Alea disana." Kata Erika setelah mendapatkan jawaban.


.....


"Tidak apa jika Ayah tidak mau menganggapku sebagai putrimu tapi, aku mohon kepada Ayah tolong maafkanlah ibu. Aku merasa jika ibu tidak bersalah, aku sangat mengenalnya ibu adalah orang yang jujur tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Selama aku bersamanya aku sering melihatnya menangis, tolong percayalah kepada ibu. Aku sudah menikah dan ikut tinggal bersama suamiku, aku tidak bisa menjaga ibu lagi, Kak Erika tidak bisa di andalkan kalau bukan Ayah yang menjaga ibu lalu siapa lagi?"


"Selama ini Yuli tidak pernah membantah sama sekali, ia begitu menurut. Seperti yang di katakan Alea dia memang orang yang jujur, apa mungkin dia berani bermain di belakangku?" Batin Eko sambil berfikir.


"Tapi jika dia mencintai Didik seharusnya dia bersamanya, bukan memilihku. Jika karena harta Didik lebih kaya dariku, tapi banyak saksi yang melihatnya waktu itu. Apa mungkin mereka memang di jebak, atau Didik yang nekat karena dia masih mencintai Yuli, jika begitu Yuli hanyalah korban."


"Astaghfirulloh, kenapa aku tidak menyadarinya sejak awal. Tidak mungkin Yuli melakukan itu dan aku memperlakukannya begitu buruk selama 19 tahun terakhir ini. Aku sering membentaknya, acuh kepadanya dan waktu kejadian itu karena tersulut emosi aku menampar dan menyeretnya." Batin Eko menyadari kesalahannya.


"Maafkan aku, Yul. Aku terlambat menyadarinya." Batin Eko sambil menangis dalam diam.


Ceklek


Suara pintu terbuka.


Yulilah yang membuka pintu, mengetahui itu Eko langsung menghapus air matanya dan mangalihkan pandangannya.


"Mas, makanannya sudah siap. Mas, mau makan sekarang atau nanti." Kata Yuli sambil berdiri di ambang pintu.


"Sebentar lagi." Kata Eko datar.

__ADS_1


"Ya sudah, aku tunggu di meja makan." Kata Yuli kemudian pergi.


Eko mencoba menetralkan perasaannya sebelum menyusul istrinya untuk makan malam.


Yuli, Eko dan Erika sudah berkumpul di meja makan, tidak ada suara diantara mereka hanya dentingan sendok yang terdengar hingga makan malam selesai.


"Erika, kamu mau kemana? Bantu ibumu dulu untuk membereskan piring dan gelas yang kotor." Tanya Eko kepada Erika yang beranjak pergi.


"Aku masih punya pekerjaan yang harus di kerjakan untuk besok." Jawab Erika kemudian pergi begitu saja.


"Kenapa sikapnya begitu, sangat berbeda dengan Alea, mungkin karena aku terlalu memanjakannya." Batin Eko.


Prakk


Suara piring jatuh dan pecah.


"Ada apa?" Tanya Eko.


"Maaf Mas, tanganku licin jadi piringnya jatuh." Jawab Yuli pelan karena takut di marahi.


"Berhenti!" Kata Eko menghentikan Yuli yang akan mengambil pecahan piring tersebut.


"Kamu duduk sana, biar aku yang membereskan." Kata Eko sambil mengambil sapu dan pengki.


"Tapi, Mas." Kata Yuli ragu.


"Sudah sana, duduk!" Kata Eko lagi.


"Ee, iya." Kata Yuli menuruti kata suaminya.


"Ini pasti karena kelelahan, biasanya ada Alea yang membantu. Mungkin sebaiknya aku cari tukang bersih-bersih saja untuk meringankan pekerjaannya." Batin Eko sambil membereskan pecahan piring tersebut.


Setelah selesai membereskan pecahan piring itu, Eko melanjutkan mencuci piring yang belum di selesaikan Yuli.


"Mas, biar aku saja yang melanjutkan." Kata Yuli melihat suaminya melanjutkan pekerjaanya.


"Duduk saja di situ!" Kata Eko sambil fokus mencuci piring.


"Mulai besok aku akan mencari orang untuk bersih-bersih di rumah ini, sedangkan kamu hanya memasak saja." Kata Eko masih mencuci piring.


"Kenapa, Mas?" Tanya Yuli heran.


"Biar kamu tidak kelelahan, lagi pula Erika sudah bekerja dan Alea kebutuhannya sudah ada yang memenuhi di sana. Gajiku cukup untuk makan setiap hari dan membayar tukang bersih-bersih." Jawab Eko.


"Ada apa ini, kenapa mas Eko tiba-tiba berubah?" Batin Yuli binggung.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2