Pernikahan Rahasia Murid Dan Guru

Pernikahan Rahasia Murid Dan Guru
Adu akting


__ADS_3

"Tunggu! Vita!" Kata Alea melihat siapa yang ia tabrak.


"Sial, dia mengenaliku." Kata perempuam tersebut.


"Vita! Ayo kita ke kelas!" Teriak salah satu temannya.


"Iya!" Sahut Vita.


"Aku di panggil teman-temanku, permisi." Kata Vita kepada Alea, kemudian pergi menghampiri teman-temannya.


"Hei, Tunggu!" Teriak Alea ingin menghentikan Vita, namun tidak di respon sama sekali.


"Siapa dia, Al?" Tanya Mico.


"Orang yang kita cari." Jawab Alea.


"Maksudnya, dia adalah pelakunya." Kata Fani.


"Iya." Kata Alea.


"Beruntung sekali kita bertemu dengannya secepat ini." Kata Toni.


"Iya benar, hanya perlu mencari bukti." Lanjut Diki.


"Bagaimana kamu bisa tahu kalau dia adalah pelakunya?" Tanya Rita.


"Ayo kita ke kelas dulu, akan aku ceritakan di kelas." Jawab Alea.


Mereka pun bergegas pergi ke kelas karena tidak sabar menunggu cerita dari Alea.


"Jadi bagaimana ceritanya kamu bisa tahu kalau dia pelakunya?" Tanya Fani penasaran.


"Jadi begini, Vita itu adalah teman sekelasku dulu dan dia sangat membenciku. Dulu juga dia pernah ingin mencelakaiku dan sepertinya dia masih menyimpan dendam kepadaku, karena di keluarkan dari sekolah." Jelas Alea.


"Parah tuh cewek." Kata Fani.


"Segitu bencinya ke kamu, Al. Sampai ingin kamu mati." Kata Rita heran.


"Aku juga tidak tahu." Kata Alea.


"Kenapa kamu tidak bilang saja kemarin, tadi bisa langsung aku cekik tuh cewek." Kata Toni geregetan.


"Apaan sih kamu, Ton." Kata Rita.


"Ya, aku gak terimalah temenku ingin di bunuh olehnya. Apa salahnya coba?" Kata Toni.


"Tapi jangan main cekik-cekik ajalah, apa bedanya kamu sama dia." Kata Rita.


"Lalu bagaimana kita akan mendapatkan buktinya?" Tanya Arga.


"Itulah yang harus kita fikirkan." Kata Fani.


"Santay ajalah, dia gak akan pergi kemana-mana. Cepat atau lambat kejahatan pasti akan terbongkar." Kata Alea.


"Alea benar, jangan terburu-buru." Kata Mico.


"Vita itu siapa, kamu kenal, Can?" Tanya Natasya yang mendengar pembicaraan Alea dan teman-temannya.


"Tidak, kenapa?" Jawab Cantika dan kembali bertanya.


"Aku penasaran." Jawab Natasya.


"Apa kamu ingin bekerja sama dengan cewek sadis itu?" Tanya Cantika.


"Jika memang perlu, kenapa tidak." Jawab Natasya.


"Hati-hati, kamu belum mengenalnya. Bagaimana jika nanti dia memanfaatkanmu?" Kata Cantika.


"Tentu saja aku akan mencari tahunya dulu." Kata Natasya.


"Terserah kamu saja, tapi ingat dia itu cewek yang sadis." Kata Cantika.

__ADS_1


"Iya-iya." Kata Natasya.


.....


Kini waktunya semua murid untuk beristirahat, Alea dan teman-temannya ingin pergi ke kantin. Di tengah perjalanan mereka tidak sengaja melihat Vita, Alea dan teman-temannya segera menghampirinya.


"Vita!" Teriak Alea memanggil Vita.


"Mau apa dia." Batin Vita melihat Alea dan teman-temannya menghampirinya, ia pun segera pergi menghindarinya.


"Vita, Tunggu! Aku ingin bicara denganmu!" Teriak Alea sambil mengejar Vita.


"Vita, berhenti!" Kata Alea sambil menarik tangan Vita untuk menghentikannya.


"Ada apa, kenapa kalian mengejarku?" Tanya Vita polos.


"Aku ingin bertanya, kamu kan yang menjebakku dan mendorongku kejurang." Kata Alea.


"Apa, kenapa kamu menuduhku? Aku tidak tahu apa-apa." Tanya Vita terkejut.


"Jangan bohong, aku sangat mengenali suaramu." Kata Alea lagi.


"Bukan aku, sungguh aku tidak tahu apa-apa." Kata Vita.


"Halah ngaku aja deh, kamu dendamkan sama Alea." Kata Fani.


"Tidak, aku tidak melakukan apapun." Kata Vita sambil melangkah mundur karena takut.


"Udah, gak usah akting. Mana ada penjahat ngaku." Kata Toni.


"Ada apa ini?" Tanya salah satu teman Vita yang bernama Cika datang menghampirinya.


"Vita kamu kenapa?" Tanya teman Vita yang satunya, yang bernama Mila melihat Vita menunduk ketakutan.


"Apa yang kalian lakukan padanya?" Tanya Cika.


"Temanmu ini berusaha mencelakaiku." Jawab Alea sambil menunjuk Vita.


"Iya, tidak mungkin dia melakukan itu padamu." Kata Cika.


"Kalian berdua tidak tahu apa pun, jadi sebaiknya diam." Kata Fani.


"Memang apa yang kalian tahu?" Tanya Mila.


"Orang ini sudah menipu kalian, dia itu adalah penjahat." Kata Alea sambil menunjuk Vita.


"Oh iya, kalian itu yang penjahat. Lihat saja, kalian sudah membuatnya ketakutan." Kata Mila.


"Dia hanya berakting, aku sudah sangat hafal dengan sifatnya. Dulu aku satu sekolah dengannya." Kata Alea.


"Vita apa dia orangnya?" Tanya Cika.


Vita hanya mengangguk pelan menjawabnya.


"Oh, jadi kamu tukang buli itu, yang membuat Vita pindah kesini. Sekarang kamu pindah kesini juga untuk apa? Masih belum puas membuli Vita." Kata Mila.


"Apa, kamu salah faham. Dialah yang sudah menipu kalian." Kata Alea membela diri.


"Sudah cukup, tidak usah bersandiwara. Jangan mengganggu Vita lagi." Kata Mila.


"Vita yang sudah mengganggu Alea, bahkan mencelakainya." Kata Toni.


"Tahu apa kamu, jangan menuduh tanpa bukti." Kata Mila.


"Kami tidak menuduh, memang dia pelakunya." Kata Fani.


"Terserah apa kata kalian, jika masih menganggu Vita lagi kalian akan aku laporkan." Kata Mila.


"Ayo Vit, kita pergi dari sini!" Ajak Mila.


"Kedua temanku ternyata sangat berguna juga, mereka bisa menjadi perisaiku." Batin Vita sambil tersenyum.

__ADS_1


"Vita!" Kata Mila memanggil Vita yang sedang melamun.


"Vit!" Panggilnya lagi.


"Vita!" Kata Mila lagi dengan nada sedikit keras.


"Apa sih, menggangu orang menghayal aja." Protes Vita.


"Menghayal terus kerjaannya, ke kantin gak." Kata Cika.


"Iya." kata Vita.


"Ya udah, ayo!" Ajak Cika.


Vita dan kedua temannya pun segera pergi ke kantin, belum sampai di kantin, mereka bertemu Alea dan teman-temannya.


"Vita!" Kata Alea memanggil Vita.


"Kebetulan sekali." Batin Vita.


"Aku ingin bicara denganmu." Kata Alea.


Vita pun menghindari Alea dengan bersembunyi di belakang kedua temannya.


"Kenapa, Vit?" Tanya Cika.


"Ada perlu apa dengan Vita?" Tanya Mila.


"Aku hanya ingin bicara berdua saja dengannya." Jawab Alea.


"Tunggu sebentar, kamu ini siapa? Kenapa membuat takut Vita?" Tanya Cika.


"Dia siapa, Vit?" Tanya Mila.


"Dia orang yang aku ceritakan pada kalian. Dia yang selalu merundungku." Jawab Vita pelan sambil menunduk.


"Kebiasaan lamanya ternyata tidak berubah, dia masih suka berakting. Baiklah kalau begitu, kita akan adu akting." Batin Alea.


"Oh jadi kamu yang suka merundung Vita hingga pindah kesini. Kamu mau apa lagi, ingin merundungnya lagi?" Tanya Mila.


"Tidak, aku ingin minta maaf padanya. Aku sangat menyesal karena selalu mengganggunya. Sekarang aku tahu bagaimana di posisinya, rasanya sangat menyakitkan. Aku sangat menyesal dan ingin meminta maaf, itu saja." Jawab Alea pura-pura sedih dengan penuh penyesalan sambil menunduk.


"Apa, dia bicara apa?" Batin Vita heran.


"Memang kamu pikir hanya kamu saja yang jago akting, aku juga bisa." Batin Alea masih menunduk, sambil tersenyum.


Sedangkan teman-temannya Alea hanya saling pandang karena bingung.


"Kamu serius sudah menyesal." Kata Mila.


"Iya, aku sangat menyesal. Vita, maafkan aku." Kata Alea sambil mengatupkan kedua tangannya.


"Tidak, aku tidak percaya padamu. Kamu pasti bohong." Kata Vita masih bersembunyi di belakang kedua temannya.


"Aku tidak bohong, Vit. Tolong maafkan aku, hidupku tidak tenang. Aku benar-benar menyesal." Kata Alea sedih dan hampir menangis.


"Aku mohon, tolong maafkan aku. Aku sudah menyesal, hidupku tidak akan tenang jika kamu masih tidak mau memaafkan aku." Kata Alea lagi.


"Alea apa yang kamu lakukan?" Kata Fani berbisik.


"Vita, sepertinya dia memang sudah menyesal. Maafkan saja dia." Kata Cika.


"Tapi, Cik. Dia itu." Kata Vita menggantungkan katanya.


"Iya aku tahu, tidak usah takut. Dia sudah menyesal." Kata Cika meyakinkan Vita.


"Iya, Vit. Maafkan saja dia, tidak baik menyimpan dendam." Kata Mila.


"Sial, Alea berhasil meyakinkan Cika dan Mila. Jika begini aku tidak bisa berbuat apa-apa. Ternyata dia jago akting juga." Batin Vita kesal.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2