
Dihari kedua kegiatan camping mereka adalah jelajah alam, jelajah pertama mereka akan dimulai dari kebun teh. Mereka akan diajari bagaimana caranya memanen daun teh. Setelah para guru menerangkannya para murid tersebut membantu para pemetik daun teh.
Kali ini Alea hanya di temani Fani dan Rita, tidak dengan Mico yang biasanya selalu di dekat Alea. Mico memilih untuk menghindari Alea ikut bergabung bersama dengan teman-temannya.
"Tumben kamu gak sama Alea." Kata Diki.
"Lagi malas." Jawab Mico datar.
"Hah, malas. Ada apa, tidak biasanya?" Tanya Diki heran.
"Tidak apa-apa." Jawab Mico datar.
"Apa yang terjadi dengannya?" Batin Diki.
"Alea, kenapa Mico tidak bergabung dengan kita?" Tanya Fani.
"Kamu sudah tahu alasannya, kenapa bertanya." Jawab Alea.
"Hehe." Ucap Fani sambil tersenyum nyengir.
"Alea!" Kata Fani memangil Alea.
"Hm." Jawab Alea.
"Sebenarnya kamu itu kenapa sih, hari ini terlihat lesu begitu?" Tanya Fani heran.
"Sudah ku katakan tadi pagi bukan, kenapa masih bertanya." Jawab Alea kesal.
"Aku belum puas dengan jawabanmu, sepertinya kamu itu menyembunyikan sesuatu. Jika ada masalah itu cerita, Al. Jangan di pendam sendiri, kami berdua siap mendengarkan dan membantumu. Iyakan, Rit." Kata Fani.
"Iya, Al. Tidak apa-apa cerita saja." Kata Rita.
"Terima kasih, tapi aku belum siap untuk menceritakannya." Kata Alea.
"Ya kalau begitu kami tidak akan memaksa, kami akan menunggumu sampai siap." Kata Fani.
"Terima kasih." Ucap Alea sambil tersenyum terharu.
"Sama-sama, kitakan best friend." Kata Fani sambil memeluk Alea.
"Sebenarnya apa yang di sembunyikan oleh Alea?" Tanya Natasya berbisik setelah menguping pembicaraan Alea dan Fani.
"Aku juga tidak tahu, tapi yang jelas saat ini Mico di buat kecewa olehnya." Jawab Cantika.
"Iya benar, ini kesempatan yang bagus untuk membuat Mico membenci Alea." Kata Natasya.
"Ya, itu benar, tapi apa kamu sudah punya rencana?" Tanya Cantika.
"Belum." Jawab Natasya.
"Tadi terlihat serius, ternyata belum." Kata Cantika.
"Ya, kan aku baru tahu informasinya." Kata Natasya.
"Rita, kamu ini lambat sekali memetiknya. Lihat ini begini caranya." Kata Toni mengejek Rita.
"Sombong." Kata Rita.
"Biarku bantu, lihat ini dapat banyakkan." Kata Toni sambil memberikan segenggam daun teh yang baru saja ia petik.
"Gak usah repot-repot, terima kasih." Kata Rita menolaknya.
__ADS_1
"Ya sudah, kalau gitu ini saja." Kata Toni memberikan sesuatu ke tangan Rita.
"Aaaa! Ulat!" Teriak Rita melihat ulat di tangnnya.
"Hahaha." Tawa Toni karena telah berhasil mengerjai Rita.
"Sama ulat aja takut." Kata Toni mengejek.
"Jail banget sih jadi orang." Kata Rita kesal.
"Hmm, Toni sekarang jadi sering menjahillimu. Mungkin saja dia mulai menyukaimu." Kata Fani.
"Dih, amit-amit." Kata Rita.
Alea yang biasanya bersemangat menggoda Rita dia hanya diam sambil fokus memetik daun teh.
"Alea kenapa ya, dia terlihat tidak bersemangat. Apa dia sakit?" Batin Ardi sambil memperhatikan dari jauh.
.....
Setelah selesai memetik daun teh mereka kembali berjelajah, dan jelajah kedua mereka akan di ajak ke area persawahan untuk belajar bagaimana cara menanam padi. Namun kebanyakan dari mereka bukanya menanam padi tapi malah bermain lumpur, namun para guru membiarkannya saja.
Lagi-lagi Toni selalu saja asik mengerjai Rita, ia mendorong Rita masuk ke dalam lumpur.
"Aaa!" Tetiak Rita jatuh ke lumpur.
"Hahaha." Tawa Toni.
"Toni!!" Teriak Rita kesal.
"Coba lihat kerbaunya main lumpur, hahaha." Kata Toni mengejek Rita sambil tertawa.
"Aku jadi mandi lumpur." Kata Rita melihat seluruh tubuhnya di penuhi lumpur.
"Luluran gratis, Rit. Biar glowing. Hahaha." Kata Fani kemudian tertawa.
"Biar glowing, biar glowing. Suka ngetawaain aku ya." Kata Rita kesal.
"Ih, masa kita harus masuk lumpur." Kata Natasya.
"Kenapa emangnya?" Tanya Cantika.
"Jijik tahu." Jawab Natasya.
"Hayo sini." Kata Cantika sambil menarik Natasya ke dalam lumpur.
"Cantika!" Teriak Natasya.
"Hahaha." Tawa Cantika.
"Aaaaa.. aku jadi kotor." Kata Natasya.
"Usil banget sih kamu, Can." Kata Natasya kesal
"Gak gaul kalau gak masuk lumpur. Hahaha." Kata Cantika sambil tertawa.
"Alea, kenapa tidak ikut?" Tanya Ardi menghampiri Alea yang sedang berdiri di tepi sawah, sambil melihat teman-temannya asik bermain lumpur.
"Malas." Jawab Alea.
"Apa kamu sakit?" Tanya Ardi sambil mengecek dahinya.
__ADS_1
"Tidak." Jawab Alea.
"Kalau begitu ikut sana, lihat itu teman-temannmu sudah asik bermain lumpur." Kata Ardi sambil menunjuk teman-teman Alea.
"Ada apa?" Tanya Ardi melihat Alea hanya diam saja sejak tadi.
"Tidak ada apa-apa." Jawab Alea.
"Eh, coba lihat, ada apa itu disana?" Kata Ardi sambil menunjuk ke lumpur yang berada di depan Alea.
"Mana? Gak ada apa-apa." Kata Alea melihat apa yang di tunjuk Ardi.
"Aaa!" Teriak Alea jatuh ke lumpur karena di dorong oleh Ardi.
"Coba lihat, ada anak kerbau sedang main lumpur." Kata Ardi mengejek Alea sambil berjongkok.
"Enak aja ngatain aku kerbau. Sini." Kata Alea tidak terima kemudian menarik Ardi masuk ke lumpur juga.
"Eeh!" Kata Ardi terkejut karena di tarik oleh Alea.
"La ini ada bapak kerbau main lumpur. Hahaha." Kata Alea mengejek Ardi dan tertawa.
Ardi pun tersenyum karena berhasil menghibur Alea.
"Main lumpur tuh begini." Kata Ardi mengoleskan Lumpur ke pipi Alea.
"Eh, kok." Kata Alea terjejut karena Ardi mengoleskan Lumpur di pipinya.
"Awas ya, sini akan aku balas kau." Kata Alea lagi.
Mereka berdua pun asik bermain lumpur dengan riang gembira, dan menjadi pusat perhatian karena tak ada yang pernah melihat seorang Ardi tertawa lepas seperti saat ini.
"Itu benar pak Ardi."
"Pak Ardi pinter banget sih menghibur keponakannya, suami idaman."
"Beruntung banget deh jadi Alea, bisa main sama pak Ardi."
"Iya, bikin iri aja."
Kata beberapa guru wanita dan siswi penggemar Ardi.
"Selama aku bersama Alea, hanya pak Ardi laki-laki yang paling dekat dengannya. Itu pun karena dia omnya, lalu siapa yang sudah mengisi hati Alea. Apa memang mereka itu pacaran, tapi itu tidak mungkin. Tapi kenapa aku selalu cemburu ketika Alea bersama pak Ardi." Batin Mico sambil memperhatikan Alea dan Ardi.
"Lihat itu, aku semakin yakin jika mereka memang punya hubungan sepesial." Kata Natasya.
"Jika memang benar, aku tidak akan membiarkan Alea begitu saja. Aku tidak rela jika pak Ardi bersama Alea." Kata Cantika.
Setelah puas bermain lumpur mereka kembali berjelajah, mereka dibebaskan bermain di sungai sekaligus membersihkan diri dari lumpur dan mencuci pakaian mereka. Sudah seperti hidup di jaman dulu, mandi dan mencuci di sungai. Dan tentu saja laki-laki dan perempuan di pisah, masing-masing di tempatkan di sungai yang berbeda.
"Alea! Jangan jauh-jauh!" Teriak Rita kepada Alea yang sedang asik berenang, namun tidak di gubris oleh Alea.
"Itu apa?." Kata Rita melihat ada sesuatu yang mengambang di dekat Alea.
"Jangan-jangan buaya." Kata Fani.
"Alea, kembali! Ada buaya!" Teriak Fani dan Rita panik.
"Hah, buaya." Kata orang-orang yang mendengar teriakan Fani dan Rita.
Bersambung.....
__ADS_1