Pernikahan Rahasia Murid Dan Guru

Pernikahan Rahasia Murid Dan Guru
Ternyata sayang


__ADS_3

"Alea!" Kata Yuli sambil berdiri memanggil putrinya dengan tersenyum.


"Ibu!" Kata Alea terkejut melihat ibunya ada disana.


"Kamu sudah pulang, Nak. Bagaimana kabarmu?" Tanya Yuli sambil berjalan menghampiri Alea.


"Eh, wajahmu kenapa, kok banyak bekas luka begini?" Tanya Yuli sambil memegang kedua pipinya Alea.


Alea hanya diam kemudian melihat ibu mertuanya seakan bertanya, sedangkan Tantri tersenyum sambil mengangguk menanggapinya.


"Tidak apa-apa, Bu. Kemarin saat camping, jatuh ke semak-semak." Jawab Alea.


"Lain kali cobalah untuk berhati-hati." Kata Yuli sambil tersenyum ramah.


"Nak Ardi, bagaimana kabarnya?" Tanya Yuli ramah.


"Alhamdulilah baik, Bu. Bagaimana dengan, Ibu?" Jawab Ardi kemudian kembali bertanya.


"Alhamdulilah, ibu juga baik." Jawab Yuli ramah.


"Kenapa ibu datang kemari dan bersikap sangat baik, jangan-jangan ada maunya." Batin Alea.


"Ya sudah, ayo kita makan bersama! Kalian pasti sudah lapar, tadi kami memasak beberapa makanan untuk kalian." Ajak Yuli sambil berjalan ke dapur lebih dulu bersama Tantri.


Alea menatap Ardi seakan-akan bertanya.


"Semoga saja pertanda baik." Kata Ardi sambil tersenyum.


Setelah itu mereka menyusul Yuli dan Tantri ke dapur.


"Sini, Nak! Duduk disamping ibu." Kata Yuli sambil menepuk-nepuk kursi disampingnya.


"Iya, Bu." Kata Alea setuju.


"Tadi ibu buatin martabak manis, dengan toping cokelat kacang kesukaanmu." Kata Yuli sambil mengambil sepotong martabak.


"Ibu tahu itu makanan kesukaanku." Batin Alea.


"Ini cobain, ibu suapin ya. Buka mulutnya, Aa." Kata Yuli.


Alea menurut saja di suapi ibunya, tanpa ingin menolaknya meski ada sedikit keraguan dihatinya.


"Bagaimana rasanya?" Tanya Yuli.


"Emm, enak." Jawab Alea sambil mengunyah martabak dan mengambil martabak yang di pegang ibunya kemudian memakannya lagi. Sedangkan Yuli tersenyum bahagia melihat putrinya begitu lahap memakan martabak buatannya.


"Mau lagi." Kata Yuli.


Alea mengangguk menjawabnya karena mulutnya masih penuh dengan martabak.


"Pelan-pelan makannya, Al." Kata Yuli.


"Enak, Al." Kata Ardi.


"Hmm." Kata Alea sambil mengangguk.


"Mau." Kata Alea menawarkanya kepada Ardi.


Ardi menggigit setengah martabak yang Alea sodorkan kepadanya.

__ADS_1


"Hah, kok tinggal setengah." Kata Alea sambil melihat martabak yang ia pegang.


"Hm, enak, Al." Kata Ardi sambil mengambil setengah martabak yang Alea pegang.


"Heh, kok diambil lagi. Itukan punyaku." Kata Alea.


"Tadikan ditawarin." Kata Ardi.


"Ya tapi gak semua." Kata Alea.


Tantri dan Yuli terkekeh melihat tingkah Alea dan Ardi.


"Biarkan saja, ini masih banyak, Al." Kata Yuli sambil menunjuk beberapa potong martabak di depan Alea.


"Punya makanan enak itu dibagi-bagi, aku juga ingin mencoba masakan ibu mertua. Jangan pelit-pelit sama suaminya sendiri." Kata Ardi sambil mengambil sepotong martabak di depannya Alea kemudian memakannya. Sedangkan Alea hanya memperhatikannya Ardi memakan martabak tersebut.


"Hihihi." Alea tertawa kecil.


"Kenapa tertawa?" Tanya Ardi.


"Giginya Om banyak cokelatnya." Jawab Alea.


"Masa sih." Kata Ardi kemudian mengambil ponselnya untuk bercermin.


"Hahaha." Alea tertawa melihat Ardi malu karena banyak cokelat yang menampel pada giginya.


"Tidak usah tertawa, gigimu juga tuh." Kata Ardi sambil menunjuk gigi Alea.


Alea pun melakukan hal yang sama yaitu, mengambil ponselnya untuk bercermin. Bedanya jika Ardi tadi merasa malu, Alea malah tertawa lucu melihat banyak cokelat yang menempel digiginya.


Yuli sangat bahagia hingga menitikkan air mata melihat Alea tertawa lepas seperti itu.


"Ibu tidak menangis, tapi bahagia melihatmu bahagia. Ibu minta maaf tidak bisa membuatmu bahagia, tapi setidaknya ibu menyerahkanmu pada orang yang tepat untuk membuatmu bahagia. Ibu sangat bersyukur." Kata Yuli sambil tersenyum meski meneteskan air mata.


"Ibu." Kata Alea terharu kemudian memeluk ibunya.


Ardi dan Tantri pun ikut terharu melihat ibu dan anak yang saling menuangkan rasa kasih sayang mereka satu sama lain.


"Ternyata ibu selama ini begitu menyayangiku." Batin Alea masih didalam pelukan ibunya.


Setelah makan siang selesai, Alea menghabiskan waktunya bersama ibunya di kamar yang sebelumnya ia tempati sendiri. Ia bercerita panjang kali lebar kepada ibunya, layaknya seorang anak kecil yang punya banyak cerita. Alea sangat bahagia bisa berbicara kepada ibunya seperti yang seharusnya, begitu juga sebaliknya. Yuli juga sangat bahagia melihat putri bungsunya lebih ceria dan menjalani kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Meski terjebak dalam sebuah ikatan yang tak seharusnya ia jalani di usianya yang masih sangat muda.


"Alea, ini sudah sore. Ibu akan pulang sekarang." Kata Yuli.


"Kenapa pulang? Menginap saja, Bu." Kata Alea.


"Lain kali saja ibu menginap. Ibu harus pulang sekarang." Kata Yuli.


"Karena ayah ya." Kata Alea.


Yuli hanya tersenyum menanggapi ucapan Alea.


"Ya sudah kalau begitu, pulanglah nanti ayah marah. Kapan-kapan kalau libur, giliran Alea yang akan mengunjungi, Ibu." Kata Alea sambil memegang kedua tangan ibunya.


"Terima kasih, sayang." Ucap Yuli sambil mengusap-usap kepala Alea kemudian mencium dahinya sebentar.


"Ya sudah, ibu pamit pulang ya. Jaga diri baik-baik." Kata Yuli sambil memeluk Alea.


"Iya, Bu. Ibu juga, jaga diri baik-baik ya." Kata Alea masih dipelukan ibunya.

__ADS_1


Setelah melepaskan pelukan dari putrinya, Yuli segera menemui Tantri dan Ardi di ruang tamu untuk berpamitan dan di ikuti oleh Alea.


"Karena ini sudah sore, aku pamit pulang dulu, Tan." Kata Yuli kepada Tantri.


"Kenapa tidak menginap di sini saja?" Tanya Tantri.


"Terima kasih, lain kali saja aku menginap di sini." Jawab Yuli.


"Ardi, tolong jaga Alea ya." Kata Yuli kepada Ardi.


"Iya, Bu. Aku akan menjaganya dengan baik." Kata Ardi.


"Ibu!" Kata Alea kembali memeluk ibunya, rasanya tidak rela jika harus berpisah dengan ibunya.


"Ibu, terima kasih sudah meluangkan waktu untuk mengunjungiku." Kata Alea masih memeluk ibunya.


"Iya, sama-sama." Kata Yuli masih memeluk Alea.


"Hati-hati di jalan, Bu. Nanti kalau sudah sampai di rumah, kabari Alea ya." Kata Alea sambil melepaskan pelukannya.


"Iya, nanti akan ibu kabari." Kata Yuli.


"Ya sudah aku pamit dulu, assalamualaikum." Ucap Yuli kemudian pergi.


"Waalaikumsalam." Ucap Tantri, Ardi dan Alea bersama.


Alea terus saja berdiri di teras melihat kepergian ibunya, hingga taxi yang ia naiki tidak terlihat lagi.


"Alea, ayo masuk!" Ajak Ardi.


"Iya."


"Aku baru menyadari kalau ibu ternyata menyayangiku, hanya saja ibu tidak berani menunjukkanya didepan ayah dan kakak." Kata Alea pelan sambil berjalan memasuki rumah bersama Ardi.


"Tidak apa-apa, setidaknya kamu sekarang sudah tahukan." Kata Ardi menghibur Alea.


"Iya."


"Jangan sedih, saat libur nanti kita akan mengunjungi ibu." Kata Ardi.


"Benarkah." Kata Alea memastikan.


"Iya, tentu saja." Kata Ardi.


"Terima kasih." Ucap Alea sambil memeluk Ardi.


"Sama-sama." Ucap Ardi sambil membalas pelukan Alea.


"Ke kamar yuk!" Ajak Ardi.


"Ngapain?" Tanya Alea.


"Berpelukan." Jawab Ardi.


"Memangnya teletubis berpelukan. Lagian kitakan juga sedang berpelukan." Kata Alea.


"Hehe, iya ya." Kata Ardi sambil tertawa kecil.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2