Pernikahan Rahasia Murid Dan Guru

Pernikahan Rahasia Murid Dan Guru
Rencana Alea


__ADS_3

Yuli berjalan sejajar dengan Alea sambil menggandeng tangannya, sedangkan Ardi mengikutinya di belakang.


"Kenapa kalian makan duluan?" Tanya Yuli kepada suaminya dan putri sulungnya yang sedang lahap menyantap makanan mereka, namun mereka tidak menjawab pertanyaan Yuli, hanya fokus pada makanannya masing-masing.


"Alea! Ardi! Ayo sini duduk, kita makan!" Kata Yuli mempersilahkan anak dan menantunya duduk.


"Jadi begitu ya, ibu sekarang begitu perhatian pada bocah ingusan itu." Batin Erika kesal.


"Ayah! Kak Erika! Bagaimana kabar kalian?" Tanya Alea ramah.


"Tidak usah sok akrab deh." Kata Erika ketus.


"Ternyata kamu masih ingat pada keluargamu, aku pikir sudah lupa." Kata Eko tetap fokus pada makanannya.


"Tentu saja aku ingat, aku lahir dan tumbuh di sini." Kata Alea lembut.


"Baguslah kalau begitu. Nada bicaramu juga sudah berubah, sepertinya menikahkanmu dengan Ardi memang keputusan yang tepat." Kata Eko melihat Alea sebentar.


"Iya, Ayah. Terima kasih." Ucap Alea sambil tersenyum.


"Wah, sepertinya Ardi mendidiknya terlalu baik." Batin Eko terkejut dengan sikap Alea.


"Kamu kenapa, demam ya?" Tanya Erika sambil memegang dahi Alea.


"Tidak, Kak. Aku sehat, terima kasih sudah memperhatikanku." Jawab Alea sambil tersenyum ramah.


"Bagaimana dia bisa berubah menjadi seperti ini?" Batin Erika heran.


"Ya sudah, ngobrolnya di lanjut nanti sekarang makan dulu." Kata Yuli.


"Iya, Bu." Kata Alea.


"Sini piringnya, biarku ambilkan." Kata Alea kepada Ardi.


"Kamu mau lauk apa?" Tanya Alea sambil mengambil nasi untuk Ardi.


"Apa saja boleh." Jawab Ardi.


"Hm kalau di lihat-lihat ternyata Ardi itu sangat tampan, beruntung sekali bocah ingusan itu mendapatkan suami setampan dia. Kenapa dulu aku langsung mengompori ayah untuk menikahkan mereka berdua, jika aku lebih memperhatikannya lebih dulu aku yang menikah dengannya." Batin Erika yang sedang memperhatikan Ardi sejak tadi.


"Segini cukup." Kata Alea sambil memperlihatkan piring yang ia pegang.

__ADS_1


"Iya, sudah cukup. Terima kasih, Sayang." Kata Ardi tersenyum sambil menerima piring yang berisi nasi, lauk dan sayur dari Alea.


"Sama-sama, Sayang." Ucap Alea sambil tersenyum.


"Ternyata Alea sudah besar sekarang, dia sudah pandai melayani suaminya. Baru berapa lama ibu memelukmu dengan kasih sayang, Nak. Ibu terlambat memberikannya." Batin Yuli dengan perasaan sedih dan bahagia.


Sedangkan Eko dan Erika yang memperhatikan mereka memiliki perasaan yang berbeda, Eko teringat kembali saat hubungan rumah tangganya masih harmonis sebelum kejadian itu menimpanya, dirinya dan Yuli dulu juga sama persis seperti Alea dan Ardi terlihat manis dan romantis, sayangnya itu sudah tidak berlaku lagi hanya tinggal kenangan. Semenjak kejadian itu Eko berubah menjadi dingin kepada Yuli, meski dirinya di perlakukan baik oleh istrinya lantaran sakit hati yang ia rasakan. Sedangkan Erika merasa kesal kepada adiknya itu yang memamerkan kemesraan dengan suaminya di depan dirinya.


"Dasar bocah ingusan, sok jadi istri yang baik. Pamer lagi, nyebelin banget sih. Awas aja aku akan merebut suamimu nanti." Batin Erika sambil menatap tajam ke arah Alea.


"Hmm, sudahku duga masakan ibu memang enak sejak dulu, tidak berubah." Kata Alea.


"Iya kamu benar, terima kasih, Bu. Sudah menyiapkan ini semua untuk menyambut kedatangan kami." Kata Ardi.


"Iya, sama-sama. Yang banyak makannya tidak usah sungkan, ini juga rumahmu." Kata Yuli.


"Iya, Bu." Kata Ardi.


Erika memutar bola matanya malas mendengar percakapan manis mereka, samahalnya dengan Eko juga merasa tidak nyaman, ia pun segera pergi dari sana tanpa permisi setelah menghabiskan makanannya kemudian di susul oleh Erika.


"Kalian sudah selesai." Kata Yuli kepada Eko dan Erika yang beranjak pergi meninggalkan meja makan namun tidak di respon oleh mereka.


"Iya, Bu. Tidak apa-apa, saya mengerti." Kata Ardi.


"Sebenarnya apa yang terjadi di antara mereka." Batin Ardi penasaran.


Setelah selesai makan Alea membantu ibunya membereskan piring yang kotor dan menyimpan makanan yang masih tersisa. Sedangkan Ardi menunggunya di kamar sambil melihat-lihat sekeliling kamar Alea yang tetlihat bersih dan rapi, kemudian ia melihat ke luar jendela, terlihat begitu jelas indahnya hamparan bintang di langit. Setelah itu ia berjalan menuju ke arah rak buku kecil yang ada di sana, lalu mengambil album foto yang isinya hanya ada foto Alea dari bayi sampai sekarang.


"Dia sangat manis saat masih kecil." Kata Ardi sambil melihat foto Alea.


"Om Ardi, sedang apa?" Tanya Alea setelah masuk ke kamar dan berjalan menghampiri Ardi.


"Melihat fotomu." Jawab Ardi.


"Ternyata masih ada, aku pikir sudah di buang oleh Kakak." Kata Alea.


"Ngomong-ngomong kenapa kakak dan ayahmu bersikap begitu padamu?" Tanya Ardi.


"Panjang ceritanya." Kata Alea sambil duduk di atas tempat tidur.


"Ceritakan saja secara singkat." Kata Ardi sambil duduk di samping Alea.

__ADS_1


"Mulai dari mana aku menceritakannya ya. Ayah pikir aku ini bukan anak kandungnya tapi anak haram dari tetangga yang bernama om Didik." Kata Alea.


"Hah, kok bisa." Kata Ardi terkejut.


"Katanya dulu ibu berselingkuh dengan om Didik, tapi ibu tetap saja mengelaknya bahwa mereka hanya di jebak." Jelas Alea.


"Lalu bagaimana, apa tidak mencari tahu kebenarannya?" Tanya Ardi.


"Aku tidak tahu soal itu, mungkin karena tidak ada petunjuk untuk mencari bukti jadi ibu menerimanya saja dengan ikhlas." Jawab Alea.


"Kasihan ibu, dia pasti kesulitan menjalani hidupnya selama ini." Kata Alea sedih.


"Lalu kenapa tidak di tes DNA saja?" Tanya Ardi.


"Ayah tidak mau, dulu pernah sih ibu mencoba tes DNA secara diam-diam tapi, hasilnya tidak tahu hilang kemana." Jawab Alea.


"Yang sabar ya, mungkin memang belum saatnya terungkap." Kata Ardi.


"Iya, aku akan mencoba mengembalikan keadaan. Setidaknya mengurangi sedikit beban ibu." Kata Alea.


"Aku tidak menyangka kamu punya pemikiran seperti itu, aku bangga padamu." Kata Ardi memuji Alea.


Alea hanya tersenyum menanggapinya.


"Mumpung aku di sini, kira-kira apa yang harus ku lakukan." Kata Alea sambil berfikir.


"Kalau saranku, kamu harus bisa meluluhkan hati ayahmu meski hanya sedikit." Kata Ardi.


"Benar juga, tapi bagaimana caranya?" Tanya Alea sambil berfikir, begitu juga dengan Ardi ikut memikirkan solusi untuk istri kecilnya itu.


.....


Erika berada di kamarnya sedang kesal sendiri tidak jelas.


"Kenapa anak haram itu harus datang kemari, dia juga sudah mengambil hati ibu. Apa memang itu tujuannya, dia ingin mengambil kasih sayang ibu dan ayah dariku."


"Jika dipikir-pikir, sebenarnya dari awal ibu itu memang sayang pada Alea, buktinya dulu ibu sering membelanya. Jangan sampai dia mengambil kasih sayang dari ayah. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, anak haram itu tidak seharusnya mendapat kasih sayang dari ayah atau pun ibu, seharusnya dia tidak hadir ke dunia hanya membawa masah saja. Tadi dia bicara manis dan sopan, lalu besok apa yang akan dia lakukan. Aku jadi bingung bagaimana Alea dan Ardi bisa seharmonis itu, apa mereka sudah saling mencintai? Tapi bagaimana bisa, mereka menikah karena terpaksa, dan bagaimana Ardi bisa menerima


bocah ingusan seperti dia, Alea juga begitu banyak berubah. Bagaimana kehidupannya di sana, sepertinya dia terlihat bahagia? Aku jadi penasaran." Kata Erika bicara sendiri sambil mondar-mandir tidak jelas.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2