
Alea dan Mico sudah sampai di tempat tujuan, tempat yang tak jauh dari camp dimana pemandangan di sana sangat bagus. Mereka bisa melihat bintang-bintang dengan luas di temani terangnya sinar bulan purnama.
"Wah, pemandangannya sangat indah." Kata Alea.
"Ayo kita duduk di sana!" Kata Mico sambil menunjuk sebuah batu besar yang tidak jauh dari sana.
"Bagaimana, baguskan pemandangannya?" Tanya Mico.
"Iya bagus, bagaimana kamu tahup tempat ini?" Jawab Alea kemudian kembali bertanya.
"Iya, saat aku mencarimu tadi." Jawab Mico.
"Apa kamu suka melihat bintang?" Tanya Mico.
"Iya, dulu aku sering melihat bintang saat menyendiri." Jawab Alea.
"Kamu suka menyendiri, kenapa?" Tanya Mico.
"Tidak apa-apa, hanya perlu waktu sendiri saja." Jawab Alea.
"Kenapa dia tidak mau menceritakan kehidupan masa lalunya." Batin Mico sambil memandangi Alea yang sedang fokus menatap langit.
"Apa kamu merindukan seseorang?" Tanya Mico.
"Iya, aku rindu orang tuaku. Terutama ibu." Jawab Alea.
"Orang tuamu masih lengkap ya, Al." Kata Mico.
"Iya masih, bagaimana denganmu?" Tanya Alea.
"Aku tidak punya Ibu. Ibuku meninggal saat aku masih sd. Aku tinggal bersama ayah, nenek dan kakekku." Jawab Mico.
Keadaan hening seketika, mereka sibuk dengan lamunanya masing-masing.
"Dingin ya, Al." Kata Mico melihat Alea duduk membungkuk sambil menggosok-gosok kedua lengannya.
"Iya." Kata Alea.
Mico pun melepaskan jaketnya.
"Ini pakai jaketku." Kata Mico sambil memakaikan jaket ke Alea.
"Eh, tidak usah. Nanti malah kamu yang kedinginan." Kata Alea.
"Tidak, aku sudah biasa kok." Kata Mico.
"Emm, Alea!" Kata Mico.
"Iya." Kata Alea.
"Sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu." Kata Mico.
"Iya katakan saja." Kata Alea.
"Sebenarnya." Kata Mico menggantungkan kata-katanya.
"Iya." Kata Alea.
"Aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu. Apa kamu mau jadi pacarku?" Kata Mico.
"Kamu serius, Mic." Kata Alea terkejut.
"Iya, Al. Aku serius." Kata Mico.
"Maaf, Mic. Aku tidak bisa." Kata Alea.
"Kenapa?" Tanya Mico.
"Karena sudah ada orang lain dihatiku." Jawab Alea.
__ADS_1
"Siapa?" Tanya Mico.
"Kamu tidak perlu tahu." Jawab Alea.
"Lalu bagaimana dengan hari-hari yang kita lalui bersama, dan tadi kamu juga terlihat bahagia bernyanyi denganku?" Tanya Mico.
"Aku hanya menganggapmu sebagai teman, tidak lebih." Jawab Alea.
"Jadi hanya teman ya." Kata Mico kecewa.
"Maaf, Mic. Aku tidak tahu jika itu akan menyakitimu." Kata Alea merasa bersalah.
"Tidak apa-apa." Kata Mico pelan.
"Ini jaketmu, aku kembalikan. Terima kasih." Kata Alea sambil memberikan jaket yang ia kenakan kepada pemiliknya.
"Ini sudah malam, sebaiknya kita kembali ke camp." Kata Alea lagi.
"Pergilah dulu, aku masih ingin disini." Kata Mico sambil fokus menatap langit.
"Aku benar-benar minta maaf." Kata Alea kemudian pergi meninggalkan Mico sendiri.
"Aku pikir selama ini dia juga menyukaiku, ternyata hanya sebatas teman. Padahal selama ini kaulah satu-satunya wanita yang bisa meluluhkan hatiku, Al." Batin Mico sambil fokus menatap langit.
"Huft, tak ku sangka rasanya sesesak ini saat di tolak." Kata Mico sambil menghela nafas.
.....
Alea kembali ke tenda dengan di penuhi perasaan bersalah, karena sering kali memanfaatkan Mico untuk membuat Ardi cemburu.
"Tasya, lihat itu Alea sudah kembali." Kata Cantika sambil menunjuk Alea.
"Oh iya, kemana aja tuh anak." Kata Natasya.
"Ehem ehem, kayaknya ada yang baru jadian nih." Kata Rita yang menunggunya di luar tenda bersama Fani.
"Apaan sih, jangan berfikiran yang macem-macem deh." Kata Alea.
"Ini bau parfumnya Mico, eh bentar. Ada parfum lain." Kata Fani meneliti bau parfum yang ada di baju Alea.
"Ya mungkin kecampur sama parfumku." Kata Alea.
"Kalian berpelukan ya." Kata Rita menebak.
"Sembarangan, enggak ya. Tadi Mico menjemin jaketnya buat aku." Kata Alea.
"Cie cie." Ucap Fani dan Rita bersama.
"Alea, apa kamu tadi di tembak Mico?" Tanya Fani.
"Jika di tembak, sudah pasti aku mati." Jawab Alea.
"Maksudku bukan di tembak pakai pistol." Kata Fani kesal.
"Alea, jangan bercanda. Kami sangat penasaran, bagaimana, iya atau tidak?" Tanya Rita.
"Iya." Jawab Alea.
"Waah." Ucap Fani dan Rita bersama.
"Tapi aku tolak." Lanjut Alea.
"Heh, kenapa?" Tanya Fani dan Rita bersama.
"Tidak apa-apa. Sudahlah aku mengantuk." Jawab Alea kemudian pergi memasuki tenda.
"Tapi, Al." Kata Fani ingin menghentikan langkah Alea namun tidak di respon.
"Kenapa Alea menolaknya, dia juga nampak sedih?" Tanya Fani.
__ADS_1
"Pasti karena pak Ardi." Jawab Rita.
"Hah, maksudnya?" Tanya Fani lagi.
"Kamu tahu sendirikan, kalau pak Ardi itu sangat protektif kepada Alea." Jawab Rita.
"Jadi pak Ardi tidak merestui mereka begitu. Menyebalkan sekali." Kata Fani.
"Ya begitulah." Kata Rita.
"Ya sudah, aku mau tidur." Lanjut Rita kemudian pergi memasuki tenda.
"Mico nembak Alea dan di tolak, Kenapa? Bukankah selama ini mereka sangat dekat." Kata Cantika menguping pembicaraan Alea dan kedua temannya.
"Kasihan Mico, dia pasti sedih. Resek tuh cewek. Jadi selama ini dia cuma memanfaatin Mico aja, gitu. Keterlaluan, awas saja nanti." Kata Natasya kesal sendiri.
"Apa yang membuat Alea menolak Mico? Aku penasaran." Kata Cantika sambil berfikir.
"Pasti karena pak Ardi." Kata Natasya menebak.
"Maksudnya?" Tanya Cantika.
"Kamu ingatkan waktu Mico dan pak Ardi menyanyi tadi, mungkin memang benar pak Ardi marah karena cemburu." Jawab Natasya.
"Jadi kesimpulannya, pak Ardi dan Alea itu punya hubungan sepesial begitu." Kata Cantika.
"Mungkin saja dan itulah yang harus kita cari tahu." Kata Natasya.
"Iya kamu benar." Kata Cantika.
Alea sudah berbaring dan menyelimuti dirinya, namun matanya masih terbuka. Ia belum bisa tidur karena di selimuti rasa bersalah, ia sama sekali tidak menyadari bahwa, apa yang dia lakukan itu salah. Tanpa sengaja ia menyakiti perasaan orang lain, padahal orang itu sangat baik kepadanya.
"Maafkan aku Mico, aku benar-benar minta maaf." Batin
.....
Malam yang dingin pun telah berlalu, giliran sang mentari yang memberikan kehangatan untuk makhluk hidup di bumi termasuk para peserta camp tersebut. Mereka menikmati suasana pagi sambil mengantri untuk mandi.
Alea yang biasanya bangun dengan penuh keceriaan, tidak untuk pagi ini ia terlihat lesu dan mengantuk.
"Kenapa antriannya lama sekali, tau begini aku tidur dulu." Kata Alea.
"Apa semalam kamu tidak tidur, Al?" Tanya Rita.
"Entahlah." Jawab Alea.
"Jangan sedih, Al. Aku tahu bagaimana perasaanmu, kalau perlu aku siap membantu." Kata Fani.
"Membantu apa?" Tanya Alea.
"Menyatukanmu dengan Mico, aku akan bicara dengan pak Ardi agar hubungan kalian di restui." Jawab Fani.
"Apa maksudmu?" Tanya Alea bingung.
"Dari semalam kamu terlihat sedih, pasti karena pak Ardi tidak merestui hubunganmu dengan Micokan." Jawab Fani.
"Bukan begitu, aku merasa bersalah karena telah menyakiti hati Mico." Jelas Alea.
"Maksudnya gimana sih, aku gak paham?" Tanya Fani.
"Aku memang sengaja menolaknya karena aku sudah." Jawab Alea menggantungkan katanya.
"Sudah apa?" Tanya Fani.
"Sudah lupakan saja." Jawab Alea.
"Yang benar saja, aku menunggu jawabannya dengan penuh tenaga. Hanya begitu jawabannya." Kata Fani kesal.
Bersambung....
__ADS_1