
Kepala sekolah memanggil kedua orang tua Vita lebih dulu sebelum memutuskan hukuman untuknya, sedangkan Natasya hanya di beri poin negatif. Dan tentu saja ayahnya Vita kembali marah hingga ingin memukulnya, karena putrinya kembali berulah hingga ingin melenyapkan teman sekolahnya.
"Apa ini, kamu aku sekolahkan untuk menuntut ilmu bukan untuk membunuh temanmu." Kata Ayahnya Vita dengan nada tinggi.
"Kenapa kamu selalu mempermalukan orang tuamu? Aku bekerja keras mencari uang untuk menyekolahkanmu tapi ini hasilnya. Untuk apa kamu sekolah?" Tanya Ayahnya Vita dengan nada tinggi.
"Sudahlah, mungkin lebih baik ayah mengirimmu ke penjara saja biar kamu sadar." Kata Ayahnya Vita kesal karena sudah muak dengan tingkah laku putrinya itu.
"Jangan, Ayah! Aku tidak mau masuk penjara, maafkan aku. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi." Kata Vita memohon kepada Ayahnya.
"Apa-apaan kamu ini, Mas? Dia itu putri kita, kamu tega memasukkannya ke penjara." Kata Ibunya Vita.
"Bela saja terus putrimu itu, ini akibatnya jika kamu memanjakannya terus." Kata Ayahnya Vita.
"Bapak, Ibu. Tolong tenang dulu. Kita akan selesaikan masalah ini secara baik-baik." Kata kepala sekolah.
"Jadi begini, karena Vita sudah melakukan tindakan kriminal, sekolah kami tidak bisa menerimanya lagi. Dalam kata lain saya mengeluarkannya dari sekolah ini." Jelas kepala sekolah.
"Hah, dikeluarkan lagi." Kata Ayahnya Vita kesal.
"Itu sesuai dengan aturan yang kami buat, Pak." Kata kepala sekolah.
"Iya, saya mengerti. Tapi sekolah mana yang mau menerima penjahat seperti dia." Kata Ayahnya Vita.
"Saya sarankan sebaiknya Vita di sekolahkan di asrama atau pondok pesantren yang lebih ketat aturannya. Dari sana Vita bisa banyak belajar kebaikan." Kata kepala sekolah.
"Hmm, baiklah. Semoga mereka mau menerima si penjahat ini." Kata Ayahnya Vita.
"Tapi, Ayah. Aku tidak mau masuk ke pondok pesantren." Kata Vita.
"Sudah cukup, ayah sudah muak dengan tingkah lakumu itu. Mau tidak mau kamu harus masuk ke pondok pesantren." Kata Ayahnya Vita.
"Tapi, Ayah." Kata Vita.
"Tidak ada tapi-tapi. Pilih masuk penjara atau pondok pesantren." Kata Ayahnya Vita.
"Pondok pesantren." Kata Vita pasrah.
"Baiklah kalau begitu, kami sebagai orang tua Vita memohon maaf atas tindakan putri kami kepada Alea karena sudah membuatnya hampir kehilangan nyawa. Sekali lagi kami mohon maaf." Kata Ayahnya Vita sambil mengatupkan tangan, memohon maaf kepada Ardi.
"Iya, Pak. Kami sudah memaafkan putri, Bapak." Kata Ardi.
"Kalau begitu kami permisi dulu." Kata Ayahnya Vita berpamitan.
"Iya, Pak. Silahkan." Kata Kepala sekolah.
"Ayo kita pulang!" Ajak Ayahnya Vita datar.
Vita dan kedua orangtuanya pergi keluar dari ruangan kepala sekolah. Sedangkan Diki, Toni dan Natasya sudah keluar lebih dulu, setelah memberikan bukti tersebut kepada ayahnya Vita.
.....
Cantika masih setia menunggu sahabatnya yang terkena hukuman karena bekerja sama dengan Vita.
"Gara-gara Vita aku diberi banyak poin negatif." Kata Natasya setelah kembali dari ruang kepala sekolah.
"Sudahku bilangkan, jangan bekerja sama dengannya. Lihat sendiri akibatnya, masih beruntung hanya di beri poin negatif." Kata Cantika.
"Iya. Vita pasti akan di keluarkan dari sekolah ini." Kata Natasya.
__ADS_1
"Baguslah, aku tidak perlu melihatnya lagi. Sudahlah, ayo kita pulang!" Kata Cantika.
....
Fani dan Rita juga masih menunggu teman-temannya dari ruang kepala sekolah, karena penasaran apa yang terjadi.
"Itu Toni sudah kembali." Kata Rita sambil menunjuk Toni berjalan menghampirinya.
"Diki dan Alea mana, Ton?" Tanya Fani.
"Diki kembali ke kelas sedangkan Alea masih di dalam bersama pak Ardi." Jawab Toni.
"Jadi bagaimana dengan Vita?" Tanya Fani.
"Sudah pasti Vita akan di keluarkan dari sekolah. Dia di marahi habis-habisan oleh ayahnya." Kata Toni.
"Bagus kalau begitu. Dia memang pantas mendapatkannya." Kata Fani.
"Ya sudah, ayo kita pulang!" Ajak Rita.
.....
"Karena masalahnya sudah selesai, kami pamit pulang dulu, Pak." Kata Ardi berpamitan kepada kepala sekolah.
"Iya, Ar. Sampaikan salamku pada ayahmu ya." Kata kepala sekolah.
"Iya, Pak. Nanti akan saya sampaikan. Kalau begitu kami pulang dulu, Pak. Assalamualaikum." Kata Ardi.
"Iya, Ar. Waalaikumsalam." Ucap kepala sekolah.
"Ayo, Al. Kita pulang!" Ajak Ardi sambil merangkul Alea.
"Iya." Kata Alea sambil tersenyum melihat Ardi.
"Semoga saja Vita bisa berubah menjadi orang yang lebih baik." Kata Alea sambil berjalan beriringan dengan Ardi.
"Dia sudah mencelakai dan memfitnahmu tapi kamu malah mendoakannya, apa kamu tidak dendam kepadanya?" Tanya Ardi.
"Tidak, untuk apa menyimpan dendam. Tidak ada gunanya, hanya memperbanyak masalah saja." Jawab Alea.
"Pinter." Kata Ardi sambil mengacak-ngacak rambutnya.
"U uh, rambutku jangan diacak-acak." Kata Alea kesal.
Ardi hanya tersenyum melihat Alea kesal sambil merapikan rambutnya.
....
Tantri sedang sibuk menyiapkan bahan makanan untuk di masak.
Ting tong
Suara bel rumah berbunyi.
"Siapa yang datang?" Kata Tantri kemudian pergi melihatnya.
"Yuli." Kata Tantri setelah melihat siapa yang bertamu ke rumahnya.
Yuli tersenyum melihat sahabat lamanya itu.
__ADS_1
"Ayo masuk!" Ajak Tantri.
"Ada apa, kenapa tiba-tiba datang kemari?" Tanya Tantri.
"Tidak apa-apa, aku hanya merindukan Alea. Beberapa hari ini aku merasa gelisah memikirkannya. Apa dia baik-baik saja?" Jawab Yuli kemudian bertanya kembali.
"Alea baik-baik saja, dia pergi ke sekolah hari ini." Jawab Tantri.
"Syukurlah kalau begitu." Kata Yuli.
"Kenapa kamu sendiri saja kemari?" Tanya Tantri.
"Biasalah, mas Eko dan Erika sibuk bekerja. Itu pun tanpa sepengetahuan mereka aku datang kemari." Jawab Yuli.
"Segitu bencinya mereka kepada Alea." Kata Tantri.
"Begitulah, mas Eko masih belum percaya kalau Alea itu putrinya." Kata Yuli.
"Sabar, Yul. Suatu saat nanti pasti akan terungkap kebenarannya." Kata Tantri sambil mengusap punggung Yuli.
"Oh iya, aku membawa beberapa makanan untuk Alea." Kata Yuli sambil menunjukkan kantong kresek yang ia bawa.
"Iya, aku juga mau memasak untuk makan siang nanti." Kata Tantri.
"Kalau begitu aku bantu ya." Kata Yuli.
"Boleh." Kata Tantri.
Yuli pun membantu Tantri memasak di dapur, hingga ia melihat ada dua cangkir kopi yang menarik perhatiannya dan pergi mengambilnya.
"Ini milik Ardi dan Alea." Kata Yuli sambil menunjukkan dua cangkir kopi.
"Iya." Kata Tantri sambil tersenyum.
"Jadi mereka sudah saling mencintai ya, syukurlah kalau begitu." Kata Yuli.
"Iya, Yul. Alhamdulillah." Kata Tantri.
"Aku merasa lega, meski awalnya menyakiti perasaannya setidaknya sekarang dia merasa bahagia." Kata Yuli sambil berkaca-kaca.
"Jangan bicara begitu, Alea belum tahu kalau sebenarnya kamu itu menyayanginya. Lagi pula Alea juga merindukanmu, dia sama sekali tidak membencimu." Kata Tantri.
"Iya." Kata Yuli sambil tersenyum.
"Baiklah sudah selesai, kita tinggal menunggu Alea dan Ardi pulang." Kata Tantri setelah selesai memasak.
"Kenapa mereka belum pulang?" Tanya Yuli setelah menunggu lama di ruang tamu.
"Mungkin sebentar lagi." Kata Tantri.
Ardi dan Alea sudah sampai di rumah, mereka memasuki rumah dengan bergandengan tangan.
"Assalamualaikum." Ucap Ardi dan Alea bersama.
"Waalaikumsalam." Ucap Tantri dan Yuli bersama.
"Nah itu mereka sudah pulang." Kata Tantri.
"Alea!" Kata Yuli sambil berdiri memanggil putrinya dengan tersenyum.
__ADS_1
"Ibu!" Kata Alea terkejut melihat ibunya ada disana.
Bersambung.....