
Keesokan harinya Alea bangun pagi-pagi sekali, ia ingin membantu ibunya membersihkan rumah serta memasak untuk sarapan. Jika hanya membersihkan rumah Alea sudah terlatih dari kecil, karena ayahnya dulu selalu menyuruhnya untuk membantu ibunya, sedangkan memasak ibunya tidak mengizinkannya untuk membantunya karena merasa kasihan jika harus memasak juga, maka dari itu ia tidak bisa memasak, ia sekarang bisa memasak karena belajar dengan ibu mertuanya Tantri. Ia ingin memasak makanan kesukaan ayahnya yaitu ayam geprek serta makanan kesukaan kakaknya yaitu spageti, ia sengaja untuk membuatnya sendiri tanpa di bantu oleh ibunya karena untuk menarik perhatian ayahnya. Karena hari ini hari minggu jadi Eko dan Erika tidak bekerja, karena itu mereka bangun agak siang. Sedangkan Ardi membersihkan kamar yang ia tempati bersama Alea, karena bingung mau apa jadi memilih untuk membantu pekerjaan istrinya, kerena ia terbiasa bangun pagi jika ingin bangun agak siang pun malu karena sedang di rumah mertuanya.
Setelah begitu lama di dapur akhirnya makanan sudah siap Eko dan Erika juga sudah bangun, mereka semua sudah berkumpul di meja makan.
"Wah, ada ayam geprek. Kelihatannya enak." Kata Eko sambil menelan ludah melihat ayam geprek yang menggugah selera di depannya.
"Iya, Mas. Itu tadi Alea yang masak untuk, Mas." Kata Yuli.
"Hah, Alea bisa masak." Kata Erika.
"Bisa dong, ini aku juga buatin spageti untuk Kakak." Kata Alea sambil meletakkan sepiring spageti di depan Erika.
"Diakan sudah menikah, jadi istri harus bisa masak." Kata Eko sambil menikmati ayam geprek.
"Bagaimana Yah, ayam gepreknya?" Tanya Alea melihat ayahnya begitu lahap memakan ayam geprek.
"Hmm enak, apa lagi sambelnya manpol." Jawab Eko sambil lahap menyantap ayam geprek dengan nasi hangat, hingga lupa jika dirinya membenci siapa yang memasak ayam geprek itu seakan ia terhipnotis olehnya.
"Apaan manpol, Yah?" Tanya Alea.
"Mantap pol." Jawab Eko sambil mengacungkan jempol.
Alea pun tersenyum bahagia mendapatkan pujian dari ayahnya, usahanya membuahkan hasil seperti yang ia harapkan, Yuli dan Ardi pun ikut senang melihatnya.
"Tunggu sebentar, ada apa ini? Kenapa kamu tiba-tiba menjadi baik seperti ini, jangan-jangan ada maunya." Kata Erika curiga.
"Tidak, Kak. Aku tidak ingin apa-apa, aku memang ingin menjadi orang yang lebih baik. Apa itu salah?" Kata Alea dengan lembut.
"Bagaimana aku bisa percaya padamu, siapa tahu kamu memasukkan racun ke dalam makananku." Kata Erika.
"Astaghfirulloh, Kak. Kenapa Kakak punya pemikiran seperti itu, lagi pula untuk apa aku melakukan itu? Jika aku ingin melakukannya, sudah pasti aku lakukan sejak dulu. Aku dulu memang nakal, tapi bukan berarti aku sejahat itu hingga tega mencelakai kakaknya sendiri." Kata Alea panjang lebar dengan nada
lembut.
"Sok bijak deh." Kata Erika sambil memutar bola matanya.
"Ya sudah jika Kakak tidak mau, aku ambil lagi." Kata Alea hendak mengambil spageti yang ada di hadapan Erika.
"Eh, sesuatu yang sudah di kasih gak boleh di ambil lagi." Kata Erika menahan piring berisi spageti yang hendak di ambil oleh Alea.
__ADS_1
"Gak enak begini di bilang bisa masak." Kata Erika setelah mencicipi spageti buatan Alea.
"Kalau gak enak kenapa di makan, Kak?" Tanya Alea.
"Keburu laper." Jawab Erika sambil lahap memakan spageti tersebut.
Alea, Yuli dan Ardi tersenyum sambil menahan tawa melihat tingkah Erika yang gengsi mengakui spageti itu sebenarnya rasanya enak, sedangkan Eko tidak peduli dengan apa yang terjadi, ia hanya fokus dengan ayam gepreknya.
.....
Alea dan Ardi memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar komplek untuk menghabiskan waktu disana, mereka berjalan-jalan sambil bergandengan tangan tidak peduli jika ada orang yang melihatnya, kerena sudah pasti para tetangganya tahu kalau Alea sudah menikah jadi tidak perlu merahasiakan hubungan mereka seperti di tempat tinggal Ardi.
"Bagaimana perasaanmu sekarang?" Tanya Ardi.
"Hm, aku bahagia sekali. Usahaku tadi tidak sia-sia, ayah begitu menyukai ayam geprek buatanku hingga lupa segalanya." Kata Aleasambil terkekeh mengingat bagaimana ayahnya begitu menikmati masakannya.
"Iya, aku penasaran bagaimana rasanya, sampai-sampai menghipnotis ayahmu." Kata Ardi.
"Kapan-kapan aku biatin deh." Kata Alea.
"Eh, tapikan kamu gak suka pedas, sambalnya gimana?" Tanya Alea.
"Ganti aja pakai kecap." Jawab Ardi.
"Yang pentingkan ayamnya sudah di geprek, anggap saja itu menu baru." Kata Ardi.
"Hm, aku udah seperti chef aja nih. Hahaha." Kata Alea kemudian tertawa.
Di saat asik mengobrol mereka tidak sengaja berpapasan dengan dua orang perempuan seusia Alea.
"Ehem, ehem. Siapa nih, pengantin baru lewat." Kata salah satu perempuan itu yang bernama Leni.
"Widih, ini suaminya ganteng banget, pantes aja di sosor sama dia. Anak haram ini ternyata sama seperti ibunya, penggoda." Kata perempuan yang satunya bernama Sela, yang merupakan anak dari Laras.
"Kenapa? Iri bilang aja." Kata Alea santai.
"Wah, makin sombong ya sekarang. Mentang-mentang nikah sama cogan." Kata Leni.
"Kenapa Masnya juga mau nikahi cewek kaya dia, coba aja nikahnya cewek yang baik, cantik, cerdas, seperti aku contohnya." Kata Sela sambil tersenyum manis dan mengedip-mengedipkan kedua matanya.
__ADS_1
"Hm, tipe pelakor plus penggoda, sama juga kaya ibunya." Kata Alea kepada Sela.
"Sembarangan kalau ngomong, kamu tuh yang penggoda. Masih sma udah berani menggoda seorang guru, tidak tahu malu." Protes Sela.
"Tidak sadar diri, tante Laraskan suka godain ayah dan sifatnya nurun ke kamu. Amit-amit deh." Kata Alea tidak mau kalah.
"Jangan sok tahu jadi orang, sebaiknya lihatlah dirimu sendiri kamu itu sudah seperti kupu-kupu malam, sering masuk keluar klub malamkan." Kata Sela.
"Bener banget, jangan-jangan kamu juga bermain di belakang." Kata Leni.
"Jaga bicara kalian, jangan menuduh sembarang. Itu namanya fitnah dan fitnah itu lebih kejam dari pada pembunuhan." Kata Alea marah.
"Kami hanya membicarakan fakta." Kata Sela.
"Sudah cukup jangan di teruskan! Kalian ini masih muda, lebih baik perbanyak belajar ilmu pengetahuan bukan ilmu memfitnah orang lain. Apa yang akan kalian dapatkan dari itu, mau jadi apa kalian dimasa depan nanti? Saya mengenal baik istri saya, dia orang yang baik. Jika kalian masih terus menyebar fitnah, maka saya tidak segan-segan membawa masalah ini ke ranah hukum sebagai pencemaran nama baik." Kata Ardi membela Alea dengan penuh penekanan di akhir kalimat.
Seketika itu Leni dan Sela menunduk tidak berani berkata-kata apa lagi kerena takut dengan ancaman dari Ardi.
"Ayo Al, kita pergi!" Ajak Ardi sambil merangkul Alea.
"Terima kasih karena sudah percaya padaku." Ucap Alea sambil tersenyum.
"Tentu saja, mana mungkin kamu itu pergi ke klub malam." Kata Ardi.
"Sebenarnya aku memang pernah pergi kesana." Kata Alea ragu-ragu.
"Apa?" Tanya Ardi sambil menatap tajam Alea.
"Tapi aku kesana untuk menghajar seseorang, jangan salah paham." Jelas Alea.
"Sungguh aku tidak berbohong." Kata Alea sambil memegang kedua telinganya. Namun Ardi hanya diam tidak mengatakan sepatah kata pun dan menatapnya tajam, membuat Alea hawatir dan menunduk pasrah menerima apa yang akan terjadi pada dirinya.
"Iya, aku percaya padamu." Kata Ardi lembut sambil mengusap-usap kepala Alea.
"Hah, aku pikir kamu akan menghajarku." Kata Alea bernapas lega.
"Hahaha, takut ya." Kata Ardi sambil tertawa karena berhasil mengerjai Alea.
"Hmm, jika suatu saat nanti aku berada dalam posisi yang di alami ibu, apa kamu juga akan percaya padaku?" Tanya Alea serius.
__ADS_1
"Kenapa bicara begitu, jangan sampai itu terjadi padamu, setiap ucapan itu adalah doa, jadi bicara yang baik-baik saja, aku sangat percaya padamu." Jawab Ardi.
Bersambung.....