Pernikahan Rahasia Murid Dan Guru

Pernikahan Rahasia Murid Dan Guru
Cemburu lagi


__ADS_3

Alea sudah berada di ruang UGD sedang di periksa oleh dokter, sedangkan Ardi, Indah dan Rehan menunggu di luar. Mereka duduk di kursi tunggu yang telah disediakan.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Alea, Ar?" Tanya Rehan.


"Dia jatuh ke jurang." Jawab Ardi pelan sambil menunduk.


"Bagaimana bisa?" Tanya Rehan terkejut.


"Aku juga tidak tahu." Jawab Ardi sedih masih dalam posisi yang sama.


"Jangan sedih, Alea pasti akan baik-baik saja." Kata Indah sambil menepuk-nepuk pelan pundak Ardi.


Ardi hanya mengangguk-anggukan kepalanya menanggapi perkataan Indah.


Tak lama kemudian dokter yang memeriksa Alea keluar dari ruang UGD. Mendengar pintu terbuka, Ardi segera berdiri dan menghampiri dokter tersebut.


"Bagaimana keadaannya Alea, Dok?" Tanya Ardi.


"Lukanya tidak terlalu parah, dia juga sudah sadarkan diri dan sudah di pindahkan ke ruang rawat inap." Jawab dokter tersebut.


"Terima kasih, Dokter." Ucap Ardi merasa lega setelah mendengar kabar bahwa Alea baik-baik saja.


"Sama-sama. Kalau begitu saya permisi dulu." Kata dokter tersebut kemudian pergi dari sana.


Setelah itu Ardi, Rehan dan Indah segera pergi ke ruangan dimana Alea di rawat, untuk melihat bagaimana keadaannya.


.....


Alea berbaring sambil menatap langit-langit mengingat kejadian yang telah menimpanya tadi.


"Sebenarnya siapa orang itu, suaranya begitu familiar. Dan kenapa dia ingin mencelakaiku." Kata Alea sambil berfikir.


"Hah entahlah, kepalaku pusing memikirkannya." Kata Alea lagi.


Ceklek


Suara pintu terbuka.


"Alea, bagaimana keadaanmu? Apakah sudah lebih baik? Atau masih ada yang sakit, dimana yang sakit? Katakan! Alea, jangan hanya diam saja, katakan sesuatu!" Kata Ardi memberi pertanyaan bertubi-tubi kepada Alea.


Alea pun hanya bengong melihat reaksi Ardi seperti itu. Sedangkan Indah dan Rehan hanya saling pandang saja, karena heran.


"Tanyanya satu-satu dong, Om." Kata Alea.


"Sudah terlanjur." Kata Ardi.


"Iya, aku sudah lebih baik." Kata Alea.


"Kamu ini memang bandel ya, membuatku hawatir saja. Bagaimana kamu bisa jatuh kesana? Untung saja jurangnya dangkal jika dalam, entah apa yang akan terjadi padamu." Kata Ardi lagi.


"Ardi!" Kata Rehan memanggil Ardi karena sangat cerewet.


"Kenapa, tidak pernah melihat orang panik?" Tanya Ardi datar sambil menoleh kearah Rehan.


"Bagaimana dia bisa berubah secepat itu?" Batin Rehan heran.


"Aku baik-baik saja, Om." Kata Alea.


"Baik-baik apanya, lihat ini banyak luka, dahimu saja di beri plester dan kamu baru saja sadar. Itukah yang dikatakan baik." Kata Ardi sudah seperti emak-emak yang lagi mengomeli anaknya.


"Dia terlalu berlebihan, aku baru tahu seorang Ardi bisa begini." Batin Rehan sambil menggeleng-gelengkan kepala.


Sedangkan Indah hanya tersenyum lucu melihatnya.


"Iya iya, maaf. Lagi pula siapa yang mau masuk jurang." Kata Alea.


"Lalu bagaimana kamu bisa masuk kesana?" Tanya Ardi.


"Emmm, aku tidak ingat." Jawab Alea sambil pura-pura berfikir.

__ADS_1


"Ya sudah, yang penting kamu selamat. Sekarang istirahatlah, biar cepat sembuh." Kata Ardi.


"Iya, Om." Kata Alea.


"Ya sudah, Ar. Karena Alea sudah membaik, kami akan kembali ke camp." Kata Rehan berpamitan.


"Iya, terima kasih karena sudah membantuku." Kata Ardi.


"Iya, sama-sama." Kata Rehan.


"Ya sudah, kami pamit dulu ya." Kata Indah berpamitan.


"Iya, Ndah. Terima kasih ya." Kata Ardi sambil tersenyum.


"Iya, sama-sama." Kata Indah sambil membalas senyuman dari Ardi, kemudian pergi dari sana bersama Rehan.


"Ehem, ngapain senyum-senyum begitu." Kata Alea.


"Kenapa?" Tanya Ardi.


"Pake nanya lagi." Jawab Alea ketus.


"Hah." Kata Ardi heran.


"Masih sakit sempat-sempatnya cemburu." Kata Ardi.


"Ya-kan aku punya hati, gimana sih." Protes Alea.


"Hehehe, iya iya. Jangan marah, cuma kamu kok yang ada di hatiku." Kata Ardi sambil tersenyum.


"Bohong." Kata Alea kesal.


"Aku serius, Al." Kata Ardi.


"Terserah." Kata Alea sambil memiringkan badannya, membelakangi Ardi.


Ardi hanya tersenyum menanggapinya dan membiarkannya saja, sudah tidak ingin berdebat lagi.


.....


"Kenapa senyum-senyum sendiri, teringat Ardi ya?" Tanya Rehan melihat Indah sedang melamun sambil tersenyum.


"Apa? Tidak." Jawab Indah.


"Jangan bohong, aku tahu kalau sebenarnya kalian itu saling menyukai." Kata Rehan sambil fokus menyetir.


"Sok tahu deh." Kata Indah.


"Aku memang tahu, bukannya sok tahu." Kata Rehan.


"Tahu dari mana coba." Kata Indah tidak percaya.


"Aku sangat mengenal Ardi, selama ini kamu satu-satunya wanita yang paling akrab dengannya. Dia tidak akan seakrab itu, jika tidak menyukainya." Jelas Rehan.


"Benarkah begitu? Tapi, akhir-akhir ini dia sedikit berubah. Semenjak Alea datang, dia hanya fokus memerhatikannya. Apaan sih aku ini, masa cemburu sama keponakannya sendiri." Batin Indah sambil menatap ke luar jendela mobil.


Setelah itu tidak ada percakapan lagi diantara mereka, hanya suara deruan mobil yang menemani perjalanan mereka. Akhirnya mereka pun sampai di camp, dan ternyata teman-teman Alea menunggu mereka.


"Ini sudah malam, kenapa kalian belum tidur?" Tanya Indah.


"Kami masih menunggu kabar dari Alea, Bu." Jawab Mico.


"Iya, bagaimana keadaan Alea sekarang?" Tanya Fani.


"Kalian jangan hawatir, Alea baik-baik saja. Lukanya tidak parah, hanya perlu istirahat saja." Jawab Indah.


"Syukurlah kalau begitu." Kata Rita.


"Ya sudah, cepat tidur sana. Ini sudah malam." Kata Rehan.

__ADS_1


"Iya, Pak." Kata Mico, Fani dan Rita bersama.


"Sial, ternyata dia masih bisa selamat. Aku yang salah pilih lokasi, jurangnya terlalu dangkal. Kali ini kamu beruntung tapi, tunggu saja nanti aku pastikan kamu akan tiada." Batin orang yang berusaha mencelakai Alea, menguping pembicaraan mereka.


.....


Kegiatan camping telah usai, semua peserta camping pulang kerumah mereka masing-masing. Sedangkan teman-teman Alea pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Alea lebih dulu sebelum pulang ke rumah. Indah juga ikut bersama mereka membawa makanan untuk Ardi dan Alea.


"Alea, bagaimana keadaanmu?" Tanya Rita.


"Sudah lebih baik." Jawab Alea.


"Syukurlah kalau begitu." Kata Rita.


"Mas Ardi, ini aku bawain makanan buat kamu sama Alea." Kata Indah sambil memberikan kantong kresek yang berisi makanan.


"Tidak usah repot-repot, Ndah. Aku sudah makan tadi." Kata Ardi menolaknya.


"Ya di makan nanti, ini." Kata Indah memaksa.


"Iya sudah kalau begitu, terima kasih ya." Kata Ardi menerima kantong kresek dari Indah.


"Ngapain sih bu Indah datang kesini lagi." Batin Alea kesal.


"Oh iya, Al. Bagaimana kamu bisa jatuh ke jurang?" Tanya Mico.


"Waktu itu ketika aku berlari mengejar kalian, kakiku tersandung batu dan jatuh. Lalu ada seseorang yang bemakai hoodie berwarna hitam dan memakai masker warna hitam juga, sedang berdiri di hadapanku. Dia memegang japitanku dan pergi membawanya, entah kapan dia mengambilnya. Lalu aku mengejarnya, setelah berhenti dia menjebakku dan mendorongku ke jurang." Jelas Alea.


"Jadi dugaanku memang benar, ada yang ingin mencelakaimu." Kata Toni.


"Siapa orang itu?" Tanya Mico.


"Aku tidak tahu, dari suaranya sih sepertinya perempuan." Jawab Alea.


"Apa Natasya, atau Cantika?" Tanya Fani.


"Bukan, suaranya sih familiar tapi, aku lupa." Jawab Alea.


"Selama aku sekolah di sini, aku tidak pernah ada masalah dengan selain Natasya dan Cantika. Tapi aku yakin dia juga satu sekolah dengan kita." Lanjut Alea.


"Tenang saja, kita akan mencari tahu. Yang penting kamu sembuh dulu." Kata Mico.


"Terima kasih ya." Ucap Alea sambil tersenyum.


"Iya, kitakan friends." Kata Fani.


"Ya udah, Al. Kami pamit pulang dulu ya. Semoga cepat sembuh." Kata Rita berpamitan.


"Iya, terima kasih ya." Ucap Alea.


"Sampai jumpa di sekolah." Kata Fani.


"Om kemana sih? Pasti lagi ngobrol sama bu Indah. Nyebelin baget sih." Gerutu Alea.


"Kenapa lama sekali, pergi kemana dia." Kata Alea sudah menunggu Ardi lama.


"Teman-temanmu sudah pulang ya." Kata Ardi ketika membuka pintu.


"Udah dari tadi." Kata Alea ketus.


"Kemana aja sih, lama banget?" Tanya Alea kesal.


"Kenapa, kangen ya?" Tanya Ardi.


"Gak." Jawab Alea.


"Tadi mengangkat telfon dari ibu." Jelas Ardi.


"Heleh, alasan. Pasti lagi ngobrol sama bu Indahkan." Kata Alea kesal sambil mengalihkan pandangannya.

__ADS_1


"Ternyata dia cemburu lagi." Batin Ardi.


Bersmabung....


__ADS_2